AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Namanya Awan


__ADS_3

Perjalanan menuju Bandara Schiphol terasa berlangsung cepat bagi Awan dan Aurora. Sesungguhnya Saras dan teman-teman yang lain juga merasakan suasana perasaan yang sama. Gembira karena akan kembali bertemu keluarga, tetapi sekaligus bersedih karena harus meninggalkan tempat yang telah mereka nikmati dalam waktu yang cukup lama. Hanya saja apa yang dirasakan Aurora menjadi sedikit berbeda karena dia juga harus meninggalkan Awan selain kenangan akan aktivitas kuliah dan tempat tinggal.


Sebelum benar-benar terpisah karena Aurora harus masuk ke ruang imigrasi bandara, Awan dan Aurora saling berpelukan erat.


“Baik-baik ya di Indonesia,” kata Awan pelan sambil melepaskan pelukannya. Sempat dia ingin mengecup kening Aurora, tetapi dibatalkannya.


Aurora hanya menjawab dengan anggukan kepala dan perlahan ikut melepaskan Awan. Teman-temannya hanya tersenyum saja sambil berbincang menunggu mereka berdua puas berpamitan, karena semuanya bisa membayangkan dan merasakan apa yang dirasakan Aurora dan Awan. Pelukan kehangatan persahabatan pun berlanjut antara Awan dengan Singgih, Lukas, Iqbal, dan juga Saras.


Sambil melangkahkan kaki mendorong koper dan memegang paspornya, Aurora berkali-kali melihat ke arah Awan yang masih berdiri di tempatnya hingga akhirnya dia harus memasuki antrian imigrasi dan sosok Awan hilang dari pandangan. Begitu matanya tak dapat lagi menangkap keberadaan Awan, hatinya berdesir dengan kesedihan yang meremas jantungnya. Aurora sadar itulah saatnya mereka benar-benar terpisah oleh jarak dan waktu.


“Semoga semua lancar, enam bulan lagi Mas Awan bisa pulang dan kami akan bertemu,” harap Aurora dalam hatinya untuk memberi kekuatan.


Di dalam pesawat yang membawanya kembali ke Indoneisa, Aurora melamun memikirkan semuanya. “Kenapa ya seberat ini berpisah dengan Mas Awan?”


Sejak pertama mereka bertemu lagi di tempat yang tidak pernah disangka Aurora, jujur saja kalau dia begitu berbahagia. Terlebih karena selanjutnya mereka menjadi lebih dekat, sesuatu yang juga tak pernah masuk dalam khayalannya. Dia memang sempat merasa takut dan gelisah karena melihat Saras dan Samantha yang dalam pikirannya juga sedang mendekati Awan. Tetapi toh ternyata itu tidak perlu berlangsung lama.


Kebahagiaannya terasa meningkat berkali-kali lipat setelah perjalanan mereka ke Paris dan Awan mengungkapkan isi hatinya. Aurora sesungguhnya tak pernah menyangka kalau ia akan menjadi seorang Aurora yang memiliki dorongan posesif, bila memiliki pasangan. Ia pun sadar kalau hatinya sangat menuntut pada kasih sayang dari Awan untuknya.


“Apa karena dari kecil aku memang gak pernah dekat sama laki-laki, ya?” Aurora mencoba menebak-nebak dan memikirkan alasannya. Dia memang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah dan hanya mengenal Om Heru sebagai laki-laki yang paling dekat dengannya. Itu pun hanya sampai usia masuk sekolah dasar karena setelah itu Om Heru tak lagi tinggal bersama mereka dan kemudian memiliki keluarga sendiri.


“Apa benar karena itu ya … jadi sekarang ada laki-laki seperti Mas Awan yang aku rasakan sayang banget samaku, perhatian, bisa banget ngemong, dan bikin aku gak lagi merasa sendirian, aku langsung luluh dan pasrah sekaligus ingin menyimpannya untuk ku saja?” Aurora menghela napasnya. “Normal, kah?”

__ADS_1


Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Aurora kembali menghadapi kenyataan harus terpisah dari teman-temannya yang sudah seperti keluarga itu. Aurora melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan Singgih ke Bali, sementara Lukas dan Iqbal bisa langsung menuju tempat tinggal mereka masing-masing. Saras juga sudah ditunggu keluarganya untuk bersama-sama menuju Bandung. Mereka kembali berpelukan hangat, terlebih Aurora dan Saras yang selama setahun menjadi begitu dekat satu sama lain.


Tiba di Bandara Juanda menjelang malam, Aurora dijemput oleh mamanya, Mirna, sendirian. Pertemuan antara seorang anak dengan orang tua yang telah berpisah selama setahun diekspresikan melalui pelukan erat dan kecupan di pipi menunjukkan kasih sayang dan kerinduan. Di rumah mereka sudah menunggu Om Heru dan istrinya Tante Dyas, juga anak mereka, sepupu Aurora, yang bernama Karin dan Angga.


Suasana riuh terdengar di ruang keluarga dengan Aurora yang tak hentinya menjawab berbagai pertanyaan ingin tahu dari keluarganya sambil membongkar koper membagikan oleh-oleh yang sudah dia siapkan satu per satu secara spesial. Makan malam pun masih terus diisi dengan celotehan Aurora menceritakan banyak hal yang sudah dijalaninya selama setahun terakhir. Kalau saja Karin dan Angga tidak harus pulang karena akan sekolah keesokan harinya, mungkin mereka masih akan berkumpul di rumah Aurora mendengarkan pengalaman menarik Aurora yang mampu membuat Karin juga bertekad pada waktunya nanti akan mencari beasiswa ke luar negeri.


Aurora memang merasa tubuhnya letih dan ingin beristirahat, tetapi di waktu yang sama biasanya di Belanda masih sore hari karena ada perbedaan waktu selama lima jam antara Indonesia dengan Belanda. Karena itu Aurora memilih untuk berbaring santai di kamar Mirna, sambil menunggu mamanya itu yang sedang bersiap-siap untuk tidur.


Sambil membersihkan wajahnya, Mirna memancing Aurora agar menceritakan sesuatu yang belum dia ceritakan tadi saat mereka berkumpul.


“Au … kata kamu waktu itu, kamu sudah punya teman dekat?”


“Hmmm?” Aurora melepaskan pandangan dari layar HP, menoleh ke arah Mirna. Dia lalu tesenyum dan menjawab, “Iya, Ma.” Bayangan Awan tergambar jelas di pikirannya.


Gerakan tangan Mirna sempat terhenti ketika mendengar Aurora menyebut nama ‘Awan’. “Kok namanya Awan? Kebetulan saja mungkin ya, atau itu nama panggilan,” batinnya menenangkan diri.


Suara Aurora kembali terdengar. “Rencananya sih enam bulan lagi mau pulang ke Indonesia, Ma. Mau ngambil data. Kalau bisa, kalau Allah mengizinkan nih, pas datang itu Mas Awan mau kenalan sama Mama.”


Aurora mengambil jeda, pandangannya terarah pada Mirna untuk melihat lebih jelas ekspresi yang tergambar di wajah mamanya. Hanya melirik sebentar dan sedikit tersenyum ke arah Aurora, raut wajah Mirna selebihnya terlihat masih biasa saja dan terus sibuk menyelesaikan ritual perawatan wajah.


Dengan suara lebih pelan dan tempo bicara yang lebih lambat, Aurora melanjutkan kalimatnya. “Kalau bisa nanti sewaktu Mas Awan datang itu, kita bisa perkenalan keluarga sampai menikah.” Cepat-cepat dia menambahkan, ”Boleh, Ma?”

__ADS_1


Mirna yang sudah selesai kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur. Dia pun duduk di sisi tempat tidur, terlihat sedang berpikir dengan kepala yang menunduk. Aurora terus menatap mamanya dan berharap-harap cemas menunggu. Setelah beberapa saat, Mirna mengangkat kepalanya lalu mengarahkan pandangan ke arah Aurora yang sudah mengubah posisi duduk bersila di sampingnya.


“Mmm … memang, orangnya bagaimana, Au?” tanya Mirna akhirnya dengan nada yang terdengar sedikit ragu.


Aurora membuka kunci password HP-nya dan di dalam layar terlihat latar belakang berupa foto Aurora berdua dengan Awan. Mirna yang bisa melihat jelas layar HP Aurora pun terkejut menahan napas. Beruntung Aurora tidak menyadarinya karena dia sedang membuka gallery mencari foto Awan yang lain yang lebih jelas.


Mirna berusaha mengontrol raut wajahnya agar terlihat biasa saja ketika Aurora menunjukkan padanya foto Awan yang sedang tersenyum cerah berlatar laut lepas di Volendam. Aurora juga menunjukkan foto lainnya yang memperlihatkan Awan yang merangkul Aurora ketika terakhir mereka berpisah di Bandara Schiphol.


Tidak mau Aurora menyadari kalau di dalam pikirannya ia sedang penuh tanya, Mirna hanya berkomentar singkat, “Kelihatannya orangnya baik.”


Aurora tertawa geli. “Masak sih Mama lihat fotonya aja langsung bisa nyimpulin gitu?”


Mirna menjawab pertanyaan anaknya dengan tawa dan menjawab, ”Insting”.


Sambil memeluk lengan Mirna dan bersender pada bahu mamanya, Aurora berkata dengan nada membujuk, “Pertimbangan Au sudah sesuai kriteria Mama, kok ... Mas Awan orangnya bertanggung jawab, dewasa, dan yang pasti sayang Aurora. Mama pasti nanti setuju sama penilaian Au kalau sudah kenal Mas Awan.”


Mirna tersenyum dan menepuk-nepuk tangan Aurora yang melingkar di lengannya. “Iya, kita lihat saja nanti ya bagaimana perkembangannya. Kamu jalani dulu, semoga nanti dia pulang Mama bisa langsung berkenalan. Dan seperti katamu tadi, Mama pasti akan setuju dengan penilaianmu. OK?” Aurora pun menggangguk.


Setelah itu Mirna melepaskan diri dari Aurora dan berdiri melangkah menuju ke kamar mandi diiringi tatapan Aurora yang terlihat bahagia.


 

__ADS_1


 


__ADS_2