AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Cinta dan Komitmen (2)


__ADS_3

Pendengaran Aurora menangkap suara alarm yang keluar dari HP-nya, tetapi masih sulit membuka mata karena kantuk masih terasa menggantung memberatkan kelopak matanya. Tangannya menggapai-gapai mencari HP yang biasa disimpannya di lantai di bawah tempat tidur. Mengintip sedikit untuk mematikan alarm, Aurora kembali terbaring dengan mata terpejam.


Kesadarannya mulai terkumpul dan ingatan yang pertama kali masuk dalam pikirannya adalah PR yang diberikan Awan tadi malam. Bibirnya lalu tertarik melengkung ke bawah.


“Huh! Kenapa sih Mas Awan ngasih PR segala? Dasar dosen!”


Aurora mengembuskan napas panjang.


“Cinta … komitmen … cinta … komitmen …” Demikian berulang kali kedua kata tersebut bergantian hadir di kepalanya, tetapi dia nampaknya belum mampu untuk berpikir.


Rasa lapar terasa di perutnya, Aurora memutuskan untuk sarapan dan mandi terlebih dahulu sebelum lanjut memikirkan PR dari Awan. Setelah merapikan tempat tidurnya Aurora keluar dari kamar langsung menuju dapur. Saras ternyata sudah ada di dapur, sedang mengiris bawang di meja makan.


“Pagi, Ras,” sapa Aurora sambil mengambil gelas dan membuka keran air lalu mengambil tempat duduk di seberang Saras dan mulai minum.


“Pagi, Au.” Sambil tetap fokus pada kegiatannya, Saras melanjutkan, “Kita bikin nasi goreng ya … masih ada nasi soalnya.”


“Boleh,” jawab Au singkat memperhatikan Saras yang sudah mulai mengiris wortel. Tak lama dia pun menambahkan, “Polos atau pakai kecap, Ras?”


“Polos aja ya …,” balas Saras. Aurora pun mengangguk-angguk pelan menunjukkan persetujuannya, lalu bangkit berdiri ke arah kulkas, mengambil telur, dan mulai menyiapkan peralatan.


Aurora duduk berdua Saras menikmati sarapan dengan pintu balkon yang terbuka membawa udara segar sekaligus suara kereta yang melintas di belakang apartemen.


“May mana?” tanya Aurora karena tidak melihat May di dalam unit.


Dengan setengah mulut yang terisi Saras menjawab singkat, “Nyuci.”


“Oooh ….”

__ADS_1


“Hari ini ada rencana ke mana, Au?”


“Enggak … gak ada. Memang mau ke mana?”


“Kirain … siapa tau ada rencana mau ke mana sama Mas Awan.”


“Oh, enggak kok … tapi nanti kayaknya mau ke tempat Mas Awan.” Aurora teringat pada PR yang diberikan Awan.


“Hmm …,“ Saras hanya menjawab dengan bergumam sambil sedikit manggut-manggut.


Obrolan mereka berlanjut dengan membahas kemajuan thesis yang sudah semakin dekat harus diselesaikan. Dalam waktu satu bulan ke depan sidang akan dilakukan, semua mahasiswa harus mampu menjelaskan proses dan hasil penelitian yang tertuang dalam thesis yang sudah disusun berbulan-bulan. Tidak terasa memang sudah hampir satu tahun mereka tinggal bersama dalam satu unit, yang setelah wisuda nanti harus bersiap-siap berpisah.


Setelah mandi dan merasa segar, Aurora duduk bersila di atas kasur sambil menyenderkan punggung dan kepala pada dinding putih di belakangnya. Tangannya menggenggam HP, tetapi pikirannya menerawang.


“Cinta … atau komitmen?” Dua kata yang sering dia dengar, tapi tatkala kini dia pikirkan sepertinya dia tak benar-benar paham akan arti kedua kata itu. Aurora memejamkan matanya, berharap pikiran dan perasaannya dapat bersatu memberikan jawaban.


Cukup lama Aurora diam berpikir tanpa mengubah posisinya sampai mendengar Saras memanggil.


Aurora pun membalas dengan setengah berteriak agar Saras yang di luar kamar bisa mendengarnya, “Iya ….”


Aurora kini sendirian di dalam unitnya dan memilih lanjut memikirkan PR yang diterimanya dari Awan. Kali ini dia mengubah posisinya, duduk memeluk kedua kaki dengan dagu yang bertumpu pada lutut, matanya kembali dipejamkan. Aurora sedang berusaha menstrukturkan pemikiran-pemikiran yang bersliweran di benaknya agar nanti dia bisa dengan mudah memberikan jawaban pada Awan.


Sore hari Aurora menerima pesan dari Awan.


Awan: Sudah selesai PR-nya? 😉


Aurora membaca pesan itu dengan perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba hadir. Dia seperti merasa enggan dan tidak siap ketika sadar tiba waktunya untuk memberikan jawaban pada Awan. Sempat terdiam sebentar, Aurora pun akhirnya membalas.

__ADS_1


Aurora: Sudah Mas..


Tidak ada balasan dari Awan. Aurora mulai gelisah. “Kok gak dibalas? Ah mungkin lagi ngapain, kali ya,” pikirnya.


Baru saja dia bangkit dari duduknya, terdengar suara bel unit berbunyi. Aurora melangkah keluar kamar menuju pintu karena Saras tadi kembali pamit ke tempat Lukas karena ada masalah dengan laptopnya.


Begitu pintu dibuka, tampak Awan yang tersenyum cerah, membuat Aurora sempat terkejut dan di dalam hati memberikan nilai tambah pada ketampanan pria di hadapannya. Aurora ikut tersenyum menatap Awan.


“Kok ke sini, Mas?”


Awan langsung bersedekap dan berpura-pura memasang wajah masam dan bersuara ketus. “Gak senang?”


Aurora tertawa sambil menarik tangan Awan turun agar tidak lagi terlihat seperti sedang marah. “Senang … tapi aku tadinya yang mau ke kamar Mas Awan.”


“Iya, aku mau jemput, kok,” balas Awan sambil kembali tersenyum secerah sebelumnya.


Entah mengapa Aurora menjadi sedikit tersipu. “Oooh, bentar kalau gitu. Aku ambil kunci,” katanya sambil berbalik badan menuju kamar meninggalkan Awan yang masih berdiri di depan pintu.


Di dalam lift hingga menuju kamar Awan mereka hanya berbincang tentang laptop Saras yang bermasalah dan sama-sama berharap Lukas mampu memperbaikinya. Seluruh data dan file thesis Saras ada di sana, yang artinya dunia akan runtuh baginya bila laptopnya ternyata tak terselamatkan.


Setibanya di kamar Awan, Aurora langsung menyibukkan diri dengan menyiapkan teh bercita rasa buah peach untuk mereka berdua. Aurora sengaja menawarkan pada Awan untuk membuat teh agar bisa mengulur waktu dan menghilangkan perasaan grogi yang menderanya saat langkah kakinya mulai melangkah keluar dari lift tadi.


Melihat Aurora sudah menyelesaikan kegiatannya Awan pun memanggil Aurora agar mendekat dan duduk bersamanya di sofa. “Sini,” katanya sambil menepuk tempat di sebelahnya.


Memaksakan dirinya tersenyum yang dia harap tak terlihat kikuk, Aurora pun menghampiri Awan dan memberikan satu gelas di tangannya berpindah ke tangan Awan.


Awan menggeser posisinya dengan mengangkat sebelah kakinya menyiku dan memiringkan badan sehingga sisi kanannya menyender pada sandaran sofa. Aurora duduk manis menatap ke arah depan dengan gelas yang berada dalam genggamannya, belum berani berkata apa-apa atau pun menambah gerakan.

__ADS_1


Awan hanya diam tersenyum, tetapi matanya menatap intens melihat Aurora dari samping, memperhatikan profil Aurora yang sempurna di matanya.


Meski tak melihat, Aurora tahu Awan sedang menatap tajam ke arahnya. Perasaan tegang kembali menghampiri dan dia mulai merasakan suhu di kamar Awan meningkat. “Dduuh, bener-bener kayak sidang deh!” Aurora menyesap tehnya pelan-pelan berupaya menurunkan tekanan ketegangan yang dirasakannya.


__ADS_2