AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Merayakan Salju


__ADS_3

Hari terakhir di bulan Desember, dalam beberapa jam saja tahun akan segera berganti. Suasana pergantian tahun sudah terasa sejak beberapa hari terakhir, melanjutkan atmosfer perayaan Natal yang sudah dimulai sejak awal bulan.


Aurora sudah berkumpul di ruang basement dengan teman-teman kuliahnya yang tinggal di apartemen untuk bersama-sama merayakan datangnya tahun yang baru. Teman-teman yang berasal dari Eropa Timur seluruhnya memilih kembali ke rumah masing-masing pada liburan akhir tahun. Yang tertinggal di apartemen hanyalah mereka yang tidak mungkin mudik seperti Aurora. Kebanyakan dari mereka adalah teman-teman yang berasal dari Asia dan Afrika, meski ada juga yang tidak terlihat di apartemen karena pergi berlibur ke negara tetangga.


Awan pun terlihat ikut bergabung bersama Aurora dan teman-temannya. Semula mereka berenam memang berencana akan merayakan tahun baru bersama di kamar Awan. Namun, undangan dari teman-teman lain yang tinggal di gedung yang sama ini sepertinya kurang tepat kalau diabaikan. Mereka pun akhirnya bersepakat bergabung dan ikut memeriahkan acara di ruang basement. “Buat pengalaman,” kata Lukas waktu itu.


Suara alunan musik terdengar memenuhi ruang basement diiringi suara obrolan dan juga tawa serta teriakan seru, terutama di sekitar sepak bola meja. Seperti biasa, yang menonton justru lebih heboh ketimbang mereka yang bermain. Di atas meja terlihat berbagai jenis makanan ringan dan minuman yang sudah terhidang, termasuk bir dan anggur (wine). Makanan dan minuman itu disiapkan oleh siapa saja yang ingin menyediakannya.


Aurora dan Saras mewakili teman-teman Indonesia memilih menyiapkan cemilan sederhana untuk acara ini. Mereka membuat bakwan tanpa udang, kentang goreng, dan tak lupa bumbu sate sebagai pelengkap. Kentang goreng yang disebut patat adalah jajanan yang paling mudah ditemukan di Belanda, mungkin semacam penjual gorengan di Indonesia. Kentang bisa dinikmati dengan saos dan mayones saja atau ditambah dengan cacahan bawang bombay, tapi yang termahal adalah dengan guyuran bumbu satay (sate). Awan juga ikut membawa beberapa kotak juice kemasan sebagai tambahan.


Beberapa teman terlihat mulai menggoyangkan badan mengikuti ritme musik yang semakin mendekati tengah malam justru bertempo semakin cepat. Aurora dan Saras memilih berbincang-bincang saja sambil menikmati makanan dan minuman yang ada, bersama dengan beberapa teman lainnya. Sementara keempat pria Indonesia lainnya sedang asyik di sekitar sepak bola meja. Terlihat Iqbal dan Singgih berpasangan melawan Nguyen dan Bryan yang berasal dari Ghana.


Saras sempat mengeluh kepada Aurora karena dia tidak bisa bersama-sama Nelu di acara ini, karena Nelu sedang kembali ke negara asalnya, Rumania. Aurora sendiri belum berani untuk terang-terangan mengumumkan hubungannya dengan Awan di depan teman-teman kuliahnya. Dia belum merasa nyaman, berbeda kalau hanya di depan Saras, Singgih, Iqbal, dan Lukas, karena mereka berempat memang punya andil pada hubungan Aurora dan Awan.


Di antara kemeriahan suasana di ruang basement ini, Aurora sempat menangkap dengan matanya kedekatan antara Samantha dan Awan. Mereka terlihat asyik berbincang, berdiri sedikit jauh dari kumpulan teman-teman yang masih terus riuh bermain bola. Sesekali Samantha terlihat mendekatkan tubuhnya condong ke arah Awan dan berbicara mendekati telinga Awan. Aurora merasa tidak nyaman, hatinya pun gundah.


“Itu si Sam kenapa sih? Harus banget ya nempel-nempel gitu?” Aurora merasa geram dalam hatinya.


Untuk mengalihkan perhatiannya Aurora pun pergi mengambil tambahan minuman lalu duduk di sebelah May, mencoba ikut mengobrol dengan teman-temannya. Sayangnya matanya seperti tak mau diajak kompromi, selalu mencoba berulang kali melirik ke arah Awan ingin memastikan apa yang sedang terjadi. Lirikannya baru terhenti dan perasaannya menjadi lega setelah tak lagi menemukan Samantha di sebelah Awan. “Kok aku jadi posesif ya?” batinnya bertanya-tanya.


Beberapa detik menjelang pukul 00.00, semua aktivitas terhenti, berganti fokus pada acara TV yang menayangkan hitungan mundur pergantian tahun. Semua yang ada di ruangan basement terlihat berdiri memegang gelas kertas di tangan dengan pilihan minuman masing-masing, termasuk beberapa yang memilih bir, bersiap-siap berhitung mengikuti hitungan di dalam tayangan.


“Lima… empat… tiga… dua… satu… Cheers!!”


Gelas kertas dan kaleng bir bersentuhan, genggaman tangan yang mengucapkan selamat, serta rangkulan bersahabat terlihat di antara mereka, ditingkahi oleh bunyi kembang api yang riuh memekakkan telinga di luar apartemen. Semua yang hadir memasang wajah riang sekaligus penuh harap akan hari-hari baik yang menanti mereka selanjutnya.


Suasana gembira masih terasa hingga waktu menunjukkan pukul 01.00 di ruang basement dan satu persatu mulai kembali ke kamar masing-masing, termasuk Aurora dan Saras. Aurora mendekati Awan yang masih berbincang dengan Lukas. “Mas Awan… Lukas… kami duluan ya.” Matanya sudah terlihat memerah yang dengan jelas menunjukkan kalau dia sedang menahan kantuk.

__ADS_1


Melihat kondisi Aurora, Awan refleks mengusap-usap punggung Aurora sambil berkata, “Sana gih, tidur. Udah kelihatan ngantuk banget. Hati-hati ya….” Aurora hanya menganggukkan kepala menjawab Awan.


Lukas yang berdiri di samping Awan menimpali dengan canda, “Jangan jalan sambil tidur ya Au. Entar nyasar… ke kamar Awan.” Dia pun terkekeh sementara Aurora yang digoda hanya membuka mulutnya lebar berusaha tertawa tapi sudah terasa berat.


Bangun ketika hari sudah terang, Aurora dan Saras memilih bersantai malas di unit mereka. Makan siang pun dimasak seadanya, hanya memastikan perut bisa terisi dan tidak protes berbunyi. Ketika hari menjelang sore, Awan datang mengunjungi Aurora di unitnya. Bersama Saras mereka memilih duduk-duduk sambil ngobrol di dapur.


“Ini tahun baru ke berapa di Belanda, Mas?” tanya Saras.


“Mmm, yang pertama dulu sih gak di Belanda. Waktu itu aku sama teman-teman jalan-jalan keliling Italia selama liburan.”


“Waaah, enak banget itu ke Italia.” Aurora menyela. “Terus, tahun lalu di mana?”


“Tahun lalu aku ke Jerman, bareng temenku. Itu Au, si James… dia punya saudara tinggal di Stuttgart. Jadi sebenarnya ini yang pertama sih aku tahun baruan di Belanda.” Awan lalu cepat menambahkan, “Dan yang pasti sih ini yang pertama sama Aurora.” Matanya mengerling menggoda.


“Adeeeuuuu….” Saras ikut-ikutan menggoda Aurora.


Obrolan pun berlanjut dengan Awan yang mengisahkan pengalamannya menikmati tahun baru di tempat yang berbeda, termasuk kenangan tentang salju yang juga tidak sama.


“Waktu pertama dulu winter di sini sih saljunya cuma tipis-tipis aja, tapi itu juga udah bikin kami excited. Maklum lah, pertama kali lihat salju,” jelas Awan sambil tersenyum mengingat memori pertama kali bertemu salju. Dia pun melanjutkan, “Tapi tahun lalu saljunya lumayan banyak pas awal Januari gini. Mungkin aja tahun ini juga sama.”


“Pingin ih kebagian salju yang agak tebal. Seru kayaknya ya…,” kata Saras sambil menatap Aurora meminta persetujuan.


Aurora menjawab Saras dengan canda, “Kenapa, Ras… mau bikin es serut pakai sirop Marjan, ya?” Suara tawa pun terdengar memenuhi ruang dapur.


Perkataan Awan ternyata benar. Dua hari kemudian turun salju yang lebih tebal dari hari-hari sebelumnya. Kelima mahasiswa Indonesia yang seumur hidupnya belum pernah dihujani salju memilih keluar apartemen untuk menikmati salju di kaki, badan, dan kepala mereka. Meskipun salju yang ada belumlah setebal salju yang biasa terlihat di film-film sampai bisa membuat orang-orangan salju, mereka terlihat sangat girang bermain salju selayaknya anak kecil bermain hujan. Tentu saja mereka senang karena ini adalah pengalaman pertama dalam hidup mereka.


Awan memperhatikan keriangan teman-temannya sambil bersedekap dan bersandar pada dinding apartemen. Senyum lebar terulas di bibirnya, bahkan sesekali dia pun tertawa melihat tingkah polah teman-temannya.

__ADS_1


“Ternyata Au tingkahnya bisa kekanak-kanakan juga ya… Biasanya lihat dia sikapnya dewasa, hari ini beda.”


Bola mata Awan memandang lekat memperhatikan setiap gerak-gerik Aurora. “Tingkahmu manis sekali, Aurora…,” gumam Awan pelan. Hatinya diliputi bahagia bisa menjadi kekasih Aurora.


Setelah puas bermain salju dan mulai merasakan kedinginan, mereka pun pindah berkumpul di kamar Awan. Sesuai rencana, mereka akan makan siang bersama di hari terakhir liburan. Aurora dan Saras mulai sibuk di dapur dibantu Awan, sementara ketiga pria lainnya duduk santai menonton TV sambil bercengkerama.


Tak membutuhkan waktu lama, hidangan sederhana berupa sup ayam, ayam goreng, dan kroket sudah tersedia. Sebagai pelengkap, dari unit Singgih sudah dibawa sambal oelek, kerupuk udang, dan juice kemasan. Di siang hari yang dingin karena turunnya salju, lauk sederhana pun terasa nikmat dan memberi sensasi berbeda. Terlebih lagi karena mereka bisa makan bersama-sama dalam suasana riang dan penuh keakraban, meski jauh dari keluarga.


Selesai makan, giliran Lukas dan Iqbal yang mengambil alih untuk mencuci piring dan gelas kotor. Singgih berusaha membebaskan diri dengan alasan dapurnya akan terlalu sesak dengan hadirnya mereka bertiga dan tak ada yang bisa dia kerjakan karena sudah dikerjakan kedua temannya. “Alasan!” Lukas hanya menjawab singkat dengan mimik kesal tapi menyeringai jenaka.


Keriaan di kamar Awan masih terus berlanjut. Kali ini mereka memilih untuk bermain kartu remi yang sederhana berupa cangkulan, semata-mata untuk seru-seruan. Awan dan Iqbal tidak ikut bermain, mereka hanya ikut menonton dan menunggu sampai ada yang kalah dan harus keluar untuk mereka gantikan. Sesekali terlihat Awan menunjuk kartu yang dipegang Aurora memberi masukan kartu mana yang harus dimainkan.


“Mas Awan!” terdengar suara Saras melakukan protes, “Jangan bantuin Au, ih! Curang!”


Awan dan yang lainnya tertawa sementara Aurora cepat bersuara, “Enggaaak… gak ada dibantu kok!”


“Awas kalo masih nunjuk-nunjuk lagi!” Ancam Saras pada Awan sambil menekuk bibirnya berpura-pura marah.


Suara tawa dan candaan di antara mereka terus terdengar hingga hari menjelang sore. Makanan ringan yang disediakan Awan sudah terlihat tak bersisa, salah satu pertanda acara berkumpul itu harus disudahi. Singgih sadar diri, dia pun segera memungut gelas-gelas kotor dan bangkit menuju bak cuci piring. Kali ini memang sudah gilirannya. Setelah membereskan dan membersihkan kamar Awan, mereka pun bersiap-siap kembali ke unit masing-masing.


“Au, mau balik atau mau tinggal di sini dulu?” tanya Saras sambil mengancing resleting jaketnya.


Aurora menoleh pada Awan, mencoba mencari jawaban.


“Pulang aja, Ras,” katanya. Awan terlihat mengangguk mengerti.


Sambil berjalan ke arah pintu mengikuti yang lain, Awan merangkul bahu Aurora. Di depan pintu, dia menyempatkan diri mengelus sayang kepala Aurora sambil mengucapkan, “Istirahat ya, besok mulai kuliah.”

__ADS_1


__ADS_2