AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Siapa Dia


__ADS_3

Di bulan Februari kampus terlihat lebih ramai dari biasanya karena ada tambahan peserta training dari berbagai negara selama satu bulan ke depan. Aurora dan Singgih sedang berdiri antre di belakang mesin kopi sambil membicarakan tugas yang harus mereka selesaikan minggu ini. Terlalu asyik dengan obrolannya mereka tidak terlalu memperhatikan siapa saja yang sedang membeli minuman di depan mereka.


Seorang pria yang sedang menunggu cangkirnya terisi kopi membuka telinganya lebar-lebar karena mendengar suara yang berbincang dalam bahasa yang sangat dipahaminya. Sedikit penasaran, bahkan suara itu pun seperti dikenalnya. Begitu cangkir terisi penuh dan ia membalikkan badan, matanya menangkap sosok yang sudah lama tak dilihatnya. Aurora! Spontan dari mulutnya terucap, “Eh, Aurora!”


Mendengar seseorang menyebut namanya, Aurora pun menoleh ke asal suara dan langsung terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya kini. “Eh, Mas Bima!”


“Wah ternyata ketemu kamu di sini, Au.” Bima menyodorkan tangannya bersalaman dengan Aurora. Terlihat jelas ekspresi senang dalam raut wajahnya dan ada setitik rindu dalam tatapannya.


“Ngapain di sini, Mas?”


“Ikut training. Kalau kamu kuliah?”


“Iya, Mas.” Aurora segera teringat pada Singgih yang masih berdiri di sebelahnya. “Oh iya, Mas… kenalin ini Singgih yang dari Indonesia juga.” Singgih dan Bima pun bersalaman saling memperkenalkan diri.


Bima meneruskan percakapan. “Hmm… ada banyak ya orang Indonesia-nya?”


“Teman kuliah sih ada lima, Mas… tapi ada yang lagi Ph.D. juga satu orang,” jelas Aurora.


Obrolan antara Bima dan Aurora pun terus berlanjut membahas tempat tinggal dan teman-teman yang mereka kenal di Indonesia. Mereka terlihat bersemangat dan antusias satu sama lain, seperti lupa kalau saat itu mereka tidak hanya berdua di sana. Singgih yang masih setia di samping Aurora melihat ada sepasang mata tajam yang sedang mengarah kepada mereka. Sepasang mata Awan.


Melihat tatapan tajam Awan, Singgih merasa dia harus bertindak dan kemudian menyela pembicaraan Aurora dan Bima. “Au, jadi beli tidak?”


Aurora tersadar, perhatiannya mulai beralih dari Bima. “Oh iya… jadi, Nggih.”


Aurora mulai memilih menu pada mesin kopi dan menunggu cangkirnya terisi. Bima masih berdiri di tempatnya, tidak menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan Aurora dan Singgih. Mata Singgih masih menangkap keberadaan Awan yang memperhatikan mereka.


“Au, minta nomer HP-nya ya… HP ku dulu rusak, semua data hilang,” kata Bima melanjutkan perbincangan setelah Aurora kembali ke hadapannya.


“Oh, boleh.” Aurora pun menyebutkan nomer teleponnya sambil Bima mengisi informasi itu ke dalam daftar kontaknya.


Mereka pun kemudian mulai berjalan karena Singgih juga sudah terlihat memegang cangkir kopinya. Singgih memilih berjalan lambat di belakang Bima dan Aurora sambil matanya mulai mencari-cari. Dia tak lagi menemukan Awan di sana. Di ujung lorong mereka berpisah karena Bima harus masuk kelas sementara Aurora dan Singgih akan ke ruang komputer. Singgih melihat Aurora dan Bima saling melambai menyatakan perpisahan yang diiringi dengan senyum lebar terulas di kedua wajah mereka. Singgih hanya mengangguk pelan ketika Bima pun berpamitan lewat lambaian tangannya.

__ADS_1


Baru saja duduk, Singgih langsung bertanya, “Itu tadi siapa, Au?”


Dia menyimpan cangkirnya di atas meja dan pura-pura sibuk menyalakan komputer, padahal telinganya terbuka lebar ingin mendengar penjelasan Aurora.


“Oooh, aku dulu praktik kerja di kantornya Mas Bima. Terus setelah lulus juga sempat ikut bantuin… sekitar tiga bulan lah.”


Penjelasan Aurora ternyata tak berhenti di situ. Dia masih meneruskan, “Kami selalu satu tim, makanya jadi dekat. Setelah aku pindah kerja juga beberapa kali masih suka ketemu sih sama teman-teman lain.”


“Oooh… tapi dia gak tau kalau kamu kuliah?” Singgih masih terus memancing.


“Enggak, emang aku gak pernah bilang. Mungkin teman-teman lain gak ada yang cerita juga ke Mas Bima. Aku juga jarang kontak-kontakan sih sebenarnya.” Aurora menjawab santai tanpa menyadari kalau Singgih sedang menyelidikinya.


Dari jawaban-jawaban Aurora, Singgih berkesimpulan kalau Aurora sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Bima. Belum termasuk kategori kedekatan yang perlu diwaspadai. Minimal Aurora sepertinya tidak ada perasaan apa pun pada Bima, hanya menganggap Bima sebagai mantan senior di tempat kerja saja. Singgih pun memilih diam dan tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia pun tidak menyampaikan pada Aurora kalau tadi Awan memperhatikan saat Aurora sedang berbincang akrab dengan Bima.


Sepanjang hari itu hingga sore Aurora tidak bertemu Awan. Malam sebelumnya Awan memang sudah bilang kalau dia harus membereskan tulisannya dan di siang hari sudah ada janji diskusi dengan Prof. Arjan. Aurora pulang ke apartemen bersama Saras dan Singgih. Mereka bertiga sudah mulai naik sepeda lagi untuk pergi dan pulang dari kampus karena angin memang tidak sekencang hari-hari sebelumnya dan udara dingin sudah tidak lagi menghalangi.


Menjelang malam, Awan tiba-tiba muncul di unit Aurora. Ketika membuka pintu, Aurora heran karena tidak menyangka Awan yang datang. Biasanya Awan akan memberitahunya kalau akan berkunjung, tapi kali ini tidak. Di tangannya terlihat sekotak pizza.


“Eh, Mas Awan… kok gak bilang-bilang mau datang?” Aurora menerima kotak pizza yang diarahkan Awan padanya.


Aurora tertawa pelan dan segera menjawab, “Ya boleh dong….”


Saras yang kebetulan sedang berada di dapur langsung berkomentar sambil bertepuk tangan melihat Awan datang dengan sekotak pizza yang sudah di tangan Aurora. “Waaah, asyik… ada makanan nih!”


Awan dan Aurora sama-sama tersenyum melihat Saras yang girang. Ketika kotak pizza sudah terbuka, May muncul memasuki dapur berniat hendak mengambil gelas. Aurora pun mengajak May untuk menikmati pizza bersama, tetapi ditolak halus oleh May karena dia sudah punya makanan di kamarnya.


Sambil menikmati pizzanya, Aurora mulai bertanya pada Awan yang duduk di depannya. “Gimana hasil diskusinya, Mas?”


“Lumayan… ada beberapa bagian sih yang masih harus diperbaiki.” Awan menambahkan saos pada pizzanya.


Saras pun ikut bertanya sedikit penasaran. “Pusing gak Mas bikin disertasi?”

__ADS_1


Awan terkekeh. “Ya pasti pusing sih… soalnya kita kan harus banyak baca referensi dari sana sini. Terus harus bener-bener dibaca supaya bisa dapat inti sarinya. Udah gitu kan kita harus nyari, apa sih yang belum pernah diteliti orang lain.”


Mendengar penjelasan Awan, Saras segera berkomentar. “Duh, aku kayaknya udah deh cukup sampai sini aja. Berat kalau lanjut sekolah lagi. Otakku kayaknya belum mampu.” Dia pun tersenyum miris sambil menepuk-nepuk dahinya, seolah-olah merasa kasihan pada isi kepalanya yang dianggapnya tak sanggup kalau harus sekolah lebih lama lagi.


Suara tawa Aurora dan Awan terdengar sesaat setelah melihat ekspresi Saras. Masih dengan sisa tawanya Aurora pun ikut menambahkan, “Sama sih, aku juga. Kalau disuruh sekolah lagi, mungkin aku bakal ambil master lagi deh ketimbang S3.”


Saras mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui ucapan Aurora sementara Awan hanya tersenyum melihat ekspresi Aurora dan Saras di depannya.


Setelah menghabiskan pizza bagiannya dan mengobrol sebentar, Saras pun pamit masuk ke kamarnya. Tinggallah Aurora dan Awan berdua di dapur.


Suasana sempat hening sebentar sebelum Awan mengeluarkan pertanyaannya, “Gimana hari ini, Au? Ngapain aja?”


Aurora menjawab pertanyaan Awan dengan menceritakan aktivitasnya hari itu yang menurutnya hanya seperti hari-hari kuliah biasanya. “Sempat lama di ruang komputer sih, sama Singgih nyari bahan buat tugas.”


Awan sebenarnya ingin mengarahkan pertanyaannya mengenai pria yang dilihatnya tadi bersama Aurora, tetapi akhirnya memilih menunggu Aurora yang akan menyampaikan bagian itu dalam ceritanya. Ternyata tak sedikit pun Aurora menyinggung pertemuan dan perbincangannya di depan mesin kopi tadi pagi. Awan sempat bertanya-tanya kenapa, tapi kemudian dia mengabaikan rasa penasarannya. “Mungkin Aurora belum mau cerita sekarang. Nanti juga dia pasti akan cerita.”


Karena hari semakin larut, Awan pun pamit untuk kembali ke kamarnya. Awan lebih dulu berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Aurora dan kemudian membuka lebar kedua tangannya sambil menyunggingkan senyum, memberi tanda ingin dipeluk dan memeluk Aurora. Wajah Aurora terlihat memerah, ada rona malu-malu di sana.


Melihat tak ada siapa pun di ruang dapur selain mereka berdua, Aurora pun mendekat dan memasukkan tubuhnya di antara kedua tangan Awan. Mereka saling berpelukan, cukup lama hingga mampu menerbitkan keinginan di hati Aurora untuk tertidur dalam pelukan Awan. Aurora merasakan Awan mempererat pelukannya sebelum kemudian melepaskan tangannya dari punggung Aurora.


“Kenapa, Mas?” Aurora tak tahan untuk bertanya.


Awan malah tertawa mendengar pertanyaan Aurora. “Kalau pingin meluk emang harus ada alasannya ya?”


“Ya enggak juga siih….” Aurora pun ikut tertawa bersama Awan.


Sambil berdampingan keluar dari dapur, mereka berjalan ke arah pintu dengan Aurora yang sudah dirangkul Awan pada bahunya. “Ingin dapat transfer energi sih biar bisa ngelanjutin disertasi setelah tadi diskusi.” Awan memberikan alasan pada Aurora.


“Oooh, terus udah dapat?” Aurora mengerling melihat Awan. Senyum simpul terulas di bibirnya.


“Dikiiiitt…,” kata Awan sambil jari jempol dan telunjuknya membentuk gestur sedikit.

__ADS_1


“Ya lumayan, daripada enggak sama sekali, kan?” balas Aurora yang segera disambut suara tawa keduanya.


Sambil membelai lembut kepala Aurora, Awan pun berpamitan. “Aku turun ya. Slaap lekker (tidur nyenyak), Aurora….” Aurora menjawab dengan senyuman dan anggukan lalu menggeser badannya memberi ruang pada Awan untuk keluar dari unitnya.


__ADS_2