AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Arti Tatapanmu


__ADS_3

Saat sedang berselancar di media sosial sambil tiduran menunggu kantuk datang, Aurora melihat notifikasi ada pesan yang masuk. Ia berpindah aplikasi dan segera melompat bangkit duduk bersila di tempat tidurnya, menegang. Ada pesan baru dari Awan.


“Aduh, kenapa kirim pesan? Aduuuuuhhhh … ada apa ini?” Bola mata Aurora bergerak ke kanan kiri, tak mampu menyembunyikan kegelisahannya.


Perlahan-lahan Aurora membalikkan HP, memencet tombol di samping, memasukkan kata kunci, dan memilih pesan terbaru dari Awan.


Awan: Selamat malam Aurora, besok kalian kuliah pukul berapa? Saya ingin kenalan dengan teman-teman lain dari Indonesia.


“Oooooh … ya ampun Aurora, ge-er amat sih kamu? Cuma nanya gitu doang kamu udah blingsatan.” Aurora menertawai dirinya sendiri.


Aurora menyentuh layar HP-nya dan mulai mengetik.


Aurora: Selamat malam, Kak Awan. Besok mulai pukul 10, Kak.


Aurora hanya menjawab singkat. Tak butuh lama, pesan balasan diterima.


Awan: OK. Bisa minta tolong ya sampaikan ke teman2, kita ketemu di Social Room pukul 9. Terima kasih ya Aurora…


Aurora tersenyum. Hanya membaca kalimat ‘terima kasih ya Aurora’, hatinya berbunga-bunga.


Aurora: Baik, Kak. Sama2.. Saya sampaikan ke teman2.

__ADS_1


Setelah mengirimkan jawaban, Aurora segera menulis pesan di ruang grup yang berisikan Saras, Singgih, Iqbal, Lukas, dan dirinya sendiri.


--


Aurora tidur sangat nyenyak tadi malam, bahkan dia bermimpi indah. Dalam mimpinya, Awan dan Aurora sedang ada di atas jembatan, dengan sungai kecil di bawahnya dan beberapa ekor angsa berenang pelan. Mereka tidak berdiri tetapi masing-masing masih berada di atas sadel sepeda bersebelahan. Aurora asyik memberi remahan roti pada angsa. Sesekali Awan menggoda Aurora dengan menggoyangkan sepeda Aurora agar Aurora sedikit limbung dan kemudian berpegangan pada tangan Awan.


Aurora tak tau apa arti mimpinya. Kata orang, mimpi sering berarti kebalikannya. Namun, Aurora kali ini tidak mau percaya apa kata orang. Sejujurnya dia tak ingin terbangun agar dapat terus menikmati mimpinya. Selesai berpakaian dan bersiap-siap berangkat ke kampus, Aurora masih merasakan kebahagiaan dari mimpinya yang menggelitik isi perutnya dan menjalar hingga bibirnya tertarik mengulaskan senyuman, menyembulkan lesung pipi samar di kedua pipinya.


Saras tidak menyadari ada yang berbeda dari Aurora. Dia hanya melihat Aurora hari ini lebih cerah dan ceria. Menurutnya itu wajar saja karena mereka semua sama-sama sedang bersemangat memulai minggu kedua di kota ini. Hari ini mereka berlima berangkat bersama-sama, berjalan kaki menuju stasiun dengan santai, dan melanjutkan perjalanan ke kampus dengan trem. Hari sangat cerah.


Setibanya di gedung kuliah, Singgih dan Lukas menuju mesin pembuat kopi, sementara yang lainnya langsung menuju 'Social Room'. Ruangan ini semacam hall kecil yang memiliki partisi sehingga bisa diperluas, berisikan beberapa meja panjang dan kursi-kursi, sofa berikut televisi besar, meja bar, dan sebuah sepak bola meja. Baik mahasiswa maupun dosen bisa menggunakan ruangan ini untuk makan atau bersantai.


Baru saja mereka duduk di kursi yang dekat dengan jendela, terlihat Awan masuk ke dalam ruangan, diikuti dengan Singgih dan Lukas di belakangnya, masing-masing memegang secangkir minuman. Awan melambaikan tangannya pelan dan tersenyum lebar ke arah Aurora dan Saras. Sesampainya di depan Saras, Awan berucap,”Hallo, ketemu lagi.”


Mengalihkan pandangannya pada Iqbal, Awan memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya. “Hai … kenalkan, aku Awan. Lagi Ph.D. di sini, tahun kedua. Dulu masternya dari sini juga, tiga tahun lalu.”


Iqbal membalas uluran tangan Awan dan menjawab,”Oh, hai … aku Iqbal, dari Jakarta.”


Singgih dan Lukas pun mengikuti Iqbal memperkenalkan diri mereka pada Awan.


Waktu selama hampir 45 menit mereka gunakan untuk berbincang berbagai hal. Dari mulai yang serius seperti urusan perkuliahan, tugas, dan dosen, sampai yang santai seperti makan enak dan murah di mana serta harus pergi wisata ke mana saja.

__ADS_1


Meski lebih banyak diam, Aurora merasakan suntikan bagi kebahagiaannya yang tadi sedikit terenggut. Awan duduk di posisi diagonal darinya dan Aurora bisa dengan mudah memperhatikan Awan tanpa harus takut ada yang memergokinya. Saat itu Awan memang jadi pusat perhatian, semua mata memandang ke arahnya. Aurora memulai kuliah hari ini dengan sangat bahagia, energinya bertambah berkali lipat.


--


Berpisah dengan teman-teman barunya, Awan memilih perpustakaan sebagai tempat menyembunyikan diri. Memasuki ruang perpustakaan, Awan melihat Hani yang sedang sibuk memilah buku di depan meja kerjanya.


“Goedemorgen, Mbak Hani,” tegur Awan.


“Eih, goedemorgen, Wan. Alles goed (semua baik-baik saja)?” jawab Hani dengan nada yang terdengar gembira.


Awan langsung menanggapi Hani. “Goed. Kayaknya lagi senang nih, Mbak.”


Hani tertawa lalu berkata, “Iya dong, Wan. Setiap hari kita harus senang, biar umur panjang. Hati yang gembira katanya obat, Wan.”


Awan ikut tertawa bersama Hani. “Iya bener juga, Mbak. Resep umur panjang.” Awan melanjutkan sambil membungkukkan badan. “Dankuwel (terima kasih banyak) Mbak Hani untuk resepnya.” Awan pun melangkah meninggalkan Hani sambil tetap tesenyum dan melambaikan tangannya.


Duduk di tempat biasa, Awan meletakkan tas ransel di meja, membuka resleting tas, tapi terhenti setengah jalan. Gambaran Aurora dengan kemeja batik tangan panjang yang dikenakannya tadi, muncul tanpa permisi di kepala Awan. Dia pun tersenyum. “Kamu cantik hari ini, Aurora. Eh bukan, kamu cantik setiap hari.”


Awan belum melanjutkan membuka resleting tasnya, ia malah sudah jatuh dalam lamunan. Tadi dia senang sekali. Matanya dengan jelas menangkap tatapan Aurora yang terus menerus diarahkan padanya. “Iya sih, semuanya juga ngeliatin aku. Boleh dong, seneng dikit.” Awan menghibur diri.


Sambil berbicara panjang lebar tadi, Awan sebenarnya mencoba mengulik lebih dalam arti tatapan Aurora. Sekelebat Awan menangkap ada sinar bahagia di mata Aurora. Namun, dia tak berani berharap apa-apa. Mungkin saja Aurora berbinar mendengar apa yang bisa ia nikmati selama tinggal di kota ini, bukan karena sedang menatap Awan.

__ADS_1


Tadi malam, sebelum mengirimkan pesan pada Aurora, Awan mengambil satu keputusan penting bagi hidupnya.


Dulu, dia tak berani mendekati Aurora karena ingat keluarganya. Kini, dia memberanikan diri dengan mencoba menerima dalam pikirannya bahwa keluarganya baik-baik saja. Menyadari perasaannya pada Aurora tak pernah benar-benar sirna, dia berniat mengeluarkan Aurora dari sudut hatinya dan tidak hanya sekadar menyimpannya.


__ADS_2