
Kembali ke gedung, mereka pun berpisah. Awan kembali ke perpustakaan sementara Aurora dan teman-temannya menuju ruang kelas untuk mengikuti kuliah. Awan tak berlama-lama di perpustakaan karena melihat langit yang mulai mendung. Hari ini ia kebetulan tidak bawa jas hujan, harus segera tiba di apartemen. Benar saja, setibanya Awan di kamarnya, hujan pun turun.
Duduk di pinggir tempat tidur dengan bertopang pada kedua tangan di kiri dan kanannya, Awan memandang ke luar dari jendela besar di kamarnya. Melihat hujan rintik-rintik yang turun saat ini, Awan teringat pada Aurora.
“Hmmm, hujan gini asyik juga kalo bisa sepayung berdua Aurora. Apalagi kalo dia mau dirangkul. Aish, romantis kayaknya.”
Awan mulai mengkhayal membayangkan dirinya dan Aurora yang berjalan di tengah rintik hujan sambil berlindung di bawah payung, saling merangkul.
Pyaar!
Tiba-tiba Awan tersadarkan kalau di tempat ini benda bernama payung bukanlah sesuatu yang dianjurkan untuk digunakan. Tidak ada gunanya menggunakan payung karena angin biasanya bertiup kencang dan tubuh tetap saja basah, atau payungnya malah jadi terbalik karena tak mampu menahan terpaan angin. Payung rusak teronggok di tempat sampah sudah menjadi pemandangan yang normal.
Awan mengembuskan napas panjang, mengeluarkan suara keluhan karena lamunan romantisnya gagal.
“Cuma ngelamun aja bisa gagal. Mengenaskan.” Awan pun bangkit dari duduknya, menyalakan TV untuk menghentikannya mengasihani diri.
--
Pulang dari kampus menembus hujan dan kedinginan, Aurora dan Saras memutuskan malam ini makan malam dengan mie instan. Aroma mie instan yang menggelitik hidung dan kuah panas yang mengepul memang sangat menggoda di kala cuaca dingin seperti ini.
Makan sambil mengobrol di dapur, lalu muncul May yang ikut bergabung sambil terlihat menikmati apel di tangannya. May yang berasal dari Thailand sudah berkeluarga. Ia harus meninggalkan anaknya yang masih berusia 3 tahun bersama suaminya di Chiang Mai. May orangnya ramah, santun, dan dewasa. Satu bulan tinggal bersama di unit yang sama, mereka sudah merasa cocok satu sama lain, meski beda budaya dan usia.
May bergabung karena ingin menanyakan progres tugas yang harus mereka kerjakan. Aurora pun menjelaskan panjang lebar idenya tentang tugas tersebut, hasil dari diskusi sebelumnya bersama Awan. Saras takjub karena Aurora sudah siap sejauh itu, padahal tadi pagi saat berangkat ke kampus mereka berdua sama-sama belum punya ide. Sedikit malu-malu Aurora mengakui kalau ia berdiskusi dengan Awan saat di perpustakaan.
Dengan nada merajuk dan memajukan bibirnya Saras berucap,”Huuuu… I envy you, Au.”
May tertawa melihat Saras, sementara Aurora menjawab pelan dan tersenyum kecut,”Sorry….”
Di dalam hatinya, tebersit sedikit rasa takut. “Apa jadinya kalau Saras hanya berduaan dengan Kak Awan seperti aku tadi pagi?”
--
Sabtu pagi seperti ini biasanya dimanfaatkan penghuni apartemen untuk mencuci pakaian. Mesin cuci dan mesin pengering yang terpisah disediakan di lantai basement. Karena masing-masing mesin hanya ada satu buah, Aurora dan Saras sepakat berbagi mesin cuci. Sambil menunggu cucian, mereka memilih ngobrol di lantai basement sambil menonton TV. Ruang tempat mesin cuci berada paling belakang, sementara di bagian depan terdapat ruang yang luas berisikan seperangkat sofa, TV, meja pingpong, dan sepak bola meja.
Selain mereka berdua ada Singgih dan Nguyen yang berasal dari Vietnam sedang bersiap-siap mulai bermain tenis meja. Baru dua poin, menyusul Iqbal muncul di basement dan di belakangnya ada Edgar dan temannya waktu itu yang sempat bertemu dengan Aurora dan Saras di depan lift. Dia ternyata bernama Nelu dari Rumania.
Selesai satu set dengan kemenangan Nguyen, pemain berganti menjadi Iqbal melawan Edgar. Nelu sendiri mengambil posisi sebagai wasit. Aurora dan Saras akhirnya pun ikut menjadi penonton sekaligus tim sorak. Siapapun yang berhasil mendapatkan angka pasti mendapatkan tepukan dan teriakan dari mereka. Suasana basement yang biasanya sepi terdengar meriah.
Tak terasa satu jam berlalu, Aurora dan Saras sudah selesai mencuci dan mengeringkan pakaian, lalu berpamitan pada yang lain untuk duluan kembali ke kamar. Tiba di lantai dasar mereka berpapasan dengan Awan yang sedang membawa rak buku kecil di tangannya.
__ADS_1
“Aduh, Kak Awan! Pakaian santai aja kelihatan gantengnya,” batin Aurora.
“Wah, ada si cantik.” Awan tersenyum lebar memamerkan deretan giginya.
“Eh Mas, dari mana?” tanya Saras.
“Itu, dari tempat pembuangan. Lumayan dapat ini.”
Awan menolehkan kepalanya berusaha menunjukkan tempat pembuangan sampah besar yang ada di luar. Aurora dan Saras baru tau kalau di bagian luar lantai dasar ternyata ada tempat pembuangan sampah dengan beberapa perabotan rumah tangga yang terlihat di sana.
Melihat wajah bingung Aurora dan Saras, Awan mencoba menjelaskan,”Itu tempat pembuangan sampah barang bekas dari apartemen yang di depan. Hari pembuangan sampah biasanya Selasa ama Sabtu. Jadi kalau pagi gini pasti ada isinya. Kadang-kadang suka ada perabotan yang masih bagus siiih… bisa buat nambah-nambah isi kamar.”
Awan melanjutkan,”Kadang ada TV juga. Udah rusak tapi masih bisa diperbaiki. Mereka malas servis, jadi langsung dibuang. Nah kita orang Indonesia yang biasanya rajin ngoprek ngebenerin. Udah biasa tuh kamar orang Indonesia masing-masing punya TV.”
Awan terkekeh kalau ingat bagaimana orang Indonesia dari tahun ke tahun selalu jadi tempat servis bagi teman-teman dari negara lain. Mulai dari memperbaiki sepeda, barang elektronik, sampai mengutak-atik laptop yang berulah.
Aurora dan Saras mengangguk-angguk. “Ooooh… gitu.” Saras berkomentar lalu tiba-tiba teringat. “Mas Awan, aku mau dong dibantuin tugas sistem. Mau diskusi kayak Au.”
Aurora mulai merasa tak nyaman.
“Asyiiiiik…“ Ada nada gembira terdengar di sana. “Makasih lho, Mas Awan.”
Sambil dengan nada bergurau Saras melanjutkan,”Etapi malam minggu tuh harusnya kita bikin janji kencan Mas, bukannya diskusi.”
Saras dan Awan sama-sama tergelak. Aurora berpura-pura ikut tertawa sambil memalingkan mukanya, takut kepura-puraannya terbaca.
--
Sore hari di unit Aurora dan Saras, mereka bertiga sudah duduk berkumpul mengelilingi meja dapur. Tak selang berapa lama, Singgih, Iqbal, dan Lukas pun bergabung. Saras menyampaikan pengumuman di grup kalau dia mengajak Awan untuk mendiskusikan tugas mereka. Tentu saja yang lain tidak mau ketinggalan.
Diskusi tidak berlangsung lama karena Awan hanya menjelaskan arah tugas mereka. Setiap orang harus menggali sendiri lebih rinci, karena tugas ini tugas pribadi dan kasusnya adalah kota tempat tinggal masing-masing.
Baru selesai diskusi, Lukas berpamitan lebih dulu yang langsung disambar dengan godaan dari Singgih.
”Alaaaah… paling-paling mau nemuin Svetlana, kan? Pura-pura bantuin benerin laptop tuh, padahal pedekate.”
Singgih tertawa diikuti gelak tawa teman-teman yang lain.
__ADS_1
“Adeeeeuuu…,” timpal Saras ikut menggoda.
Di antara mereka memang hanya Lukas yang punya hobby mengutak-atik komputer dan laptop. Minatnya itu sangat bermanfaat di saat dan tempat seperti ini, karena pelayanan servis barang-barang adalah langka dan mahal. Itulah sebabnya Lukas sudah dikenal di kampus sebagai tempat berkonsultasi urusan laptop yang bermasalah.
Lukas menjawab godaan teman-temannya dengan memasang mimik jenaka,”Boleh doooong… sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Tsaaah…”
Ia lalu tertawa dan sambil melangkah keluar dari dapur berkata,”Duluan ya.”
Kelima orang lainnya masih tinggal di sana dan melanjutkan obrolan sambil makan kripik kentang dan minum teh yang disediakan Aurora dan Saras. Ketika hari sudah gelap mereka pun memutuskan kembali ke kamar masing-masing. Mengantar teman-temannya sampai pintu unit, Saras memberikan usulan,”Lain kali dinner bareng yok di sini.”
Singgih yang segera menjawab,”Iya boleh, tapi kalian yang masak ya.”
Iqbal tidak ikut menjawab tetapi menunjukkan persetujuannya dengan cara mengacungkan dua jempolnya.
Awan hanya tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya. Begitu juga lah dia dengan teman-temannya tiga tahun lalu. Berada jauh di negeri orang, sesama orang Indonesia terkenal selalu kompak. Teman-teman dari negara lain kadang iri melihat kekompakan orang Indonesia.
Selepas menutup pintu dan berbalik, Saras langsung berkomentar pada Aurora yang berdiri depan pintu kamarnya.
“Mas Awan tuh keren ya, Au. Enak banget tadi denger penjelasannya. Tapi… aku kalo kuliah trus dia dosennya, bisa konsen gak ya?”
Saras pun tertawa.
“Jangan-jangan cuma bengong doang lagi ya, Au… terpesona.”
Saras kembali tertawa membayangkan dirinya di dalam kelas hanya bertopang dagu memandang dosen tanpa mampu berpikir dan mendengar.
Berlalu ke kamarnya, Saras tak menyadari Aurora yang terlihat lemas dan merasakan kakinya goyah.
Dalam hati dia berdoa,”Ya Allah, jangan sampe kejadian yang diomongin Saras tadi. Semoga Saras cuma kagum aja dan gak lebih dari itu. Aku gak kuat kalau Saras juga suka Kak Awan.”
Berusaha menenangkan hati, Aurora memutuskan mengambil HP dan melakukan sambungan video dengan mamanya di Surabaya. Dua kali panggilan, tampak wajah yang terlihat mirip dengan Aurora, hanya saja berusia lebih tua. Aurora dan mamanya memang sering mendapat komentar kalau mereka seperti kakak beradik. Aurora tidak tahu harus senang atau tidak atas komentar itu. Apakah artinya mamanya awet muda atau dia yang berwajah tua?
Di belakang mamanya terlihat oven besar yang digunakan untuk memanggang kue. “Hai, Ma. Lagi ada pesanan kue?” tanya Aurora mengawali percakapan.
Wajah di seberang menjawab, “Iya, ada pesanan buat ulang tahun kantor. Kamu gimana kabarnya?”
Sambil tersenyum Aurora membalas, “Baik, Ma.” Aurora menceritakan hari-harinya selama seminggu terakhir. Sang Mama pun menceritakan kesibukan pesanan kue dan katering, juga menceritakan kabar keluarga Aurora yang lain.
Sejak kecil, setiap kali ada masalah Aurora membutuhkan wajah mamanya untuk membuatnya tenang. Wajah itu entah bagaimana memang selalu memberikan keteduhan sekaligus kekuatan bagi Aurora. Setelah menyelesaikan panggilannya, Aurora tersenyum lebar, wajahnya bercahaya. Ketakutan dan kekhawatiran yang sempat dirasakannya tadi, sirna.
__ADS_1