
Dengan segelas cangkir kopi di tangan kiri dan dua buku di tangan kanan, Awan berjalan pelan menuju Social Room. Baru dua langkah kakinya berjalan, terdengar suara yang memanggil namanya.
“Wan!”
Awan membalikkan badannya dan melihat Singgih yang berjalan cepat menghampirinya.
“Kenapa Nggih?”
“Gimana, besok jadi gak kita ke Warung Java?”
Awan pun teringat pada janjinya minggu lalu. “Ayok aja. Kalau makan malam, paling hari Minggu. Yang lain gimana?”
“Lukas sama Iqbal sih oke. Au sama Saras nih yang belum ditanya.”
“Tanya di grup aja, Nggih.”
“Oh oke. Siap! Jam 6-an?”
“Iya boleh.”
Selesai Awan berbicara Singgih pun berbalik sambil sebelumnya membentuk gestur ‘OK’ dengan jarinya. Awan hanya membalas dengan anggukan dan raut yang sedemikian rupa bisa menunjukkan persetujuan karena tangannya sedang tidak bisa bergerak bebas.
Hari ini Awan memilih untuk sarapan sambil membaca buku dan mengerjakan disertasi di Social Room. Mumpung mahasiswa lain sedang ada kelas pikirnya. Alasan lainnya agar siang nanti dia tak perlu kemana-mana, cukup menunggu kehadiran Aurora dan teman-temannya yang akan makan siang di ruangan itu juga.
Sudah dua hari Awan tidak bertemu Aurora karena dia berubah jadi kepompong di dalam kamarnya, berusaha menulis. Hatinya sudah dibelit rasa rindu. “Baru dua hari, gimana kalo LDR-an bertahun?”
Awan tak sanggup membayangkan.
--
Minggu sore ini sesuai janji yang dibuat sebelumnya, mereka sudah berkumpul di lantai dasar dan akan bersama-sama menuju stasiun. Karena Iqbal dan Lukas tidak punya sepeda, kalau harus pergi berenam mau tak mau mereka harus menggunakan trem.
Tujuan rombongan ini adalah Warung Java, sebuah restoran kecil milik orang Suriname keturunan Jawa yang menjual soto ayam sebagai salah satu menu andalan. Rasa soto di tempat ini paling mendekati rasa soto di Indonesia. Itulah sebabnya Warung Java selalu menjadi langganan bagi mahasiswa Indonesia yang datang ke kota ini.
Hari sudah gelap saat mereka tiba di Warung Java. Restoran ini termasuk restoran kecil yang tidak terlalu luas dan tempat duduknya terbatas.
Selain soto ayam yang di dalam daftar menu disebut saoto, di restoran ini juga tersedia menu khas Indonesia lainnya seperti nasi rames, sate ayam, dan gado-gado serta penganan seperti rempeyek yang dibungkusnya tertulis: ‘Made in Suriname’.
Sebagai orang yang memiliki garis keturunan Jawa, tidak heran mereka pun berkomunikasi dalam bahasa Belanda bercampur Jawa.
Setelah melakukan pemesanan, Awan mengambil tempat duduk di sebelah Aurora, tapi sengaja mengobrol dengan Iqbal yang duduk di depannya. Maksudnya supaya tak terlalu kentara kalau dia sebenarnya sengaja ingin dekat-dekat Aurora.
Saat soto terhidang, Saras yang pertama memberikan komentar sambil wajahnya terlihat terkejut.
“Mas, gak salah nih togenya?”
Matanya terbuka lebar mengarah pada Awan yang duduk di seberangnya sambil tangannya mengangkat sendok yang berisikan beberapa toge di dalamnya.
Teman-teman yang lain pun ikut memperhatikan isi mangkok mereka.
__ADS_1
Lukas tertawa saat menyadari ukuran toge yang jauh berbeda dari yang biasa dimakan di Indonesia.
“Toge raksasa ini sih...,” ucap Lukas sambil tangannya masih mengaduk-aduk isi mangkoknya.
Sambil merendahkan kepalanya dan berbicara pelan, Saras kembali berkomentar.
“Ini kayaknya ngikutin badannya orang Belanda yang tinggi gede nih. Jangan-jangan mereka pada tinggi-tinggi bukan karna minum susu, tapi dicekokin toge ginian….” Saras mengikik.
“Kamu bisa tinggi makan toge gini juga, Ras?” Aurora menggoda Saras yang tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia.
Saras membalas cepat sambil menarik kedua ujung bibirnya datar, ”Yeeey, ya kali.”
Aurora tersenyum lebar karena berhasil menggoda Saras.
Di sebelahnya Awan ikut tersenyum, karena melihat Aurora tersenyum.
Iqbal menengahi dan mengingatkan mereka agar melanjutkan makan.
“Udah, dimakan aja. Yang penting rasanya enak. Gak kangen apa sama rasa makanan Indonesia?”
Nada bicaranya menunjukkan bahwa kerinduannya sedikit terobati dengan makan malam hari ini.
Lukas dan Singgih pun terlihat lahap dan merasa puas, ya puas di perut juga puas di hati.
Pulang ke apartemen, trem yang mereka naiki hanya berisi beberapa orang penumpang. Aurora naik lebih dulu diikuti Saras yang memilih duduk di depan Aurora yang langsung bersender pada jendela di sampingnya memandang ke luar.
“Untung si Saras gak duduk di sebelahnya. Ada kesempatan ini…” batin Awan sambil menikmati lengannya yang menempel rapat dengan lengan Aurora.
Awan tau dia tidak bisa buru-buru. Dia ingin memastikan terlebih dahulu bagaimana perasaan Aurora padanya. Dalam beberapa kesempatan Awan memang sempat menangkap sepertinya Aurora tidak suka kalau Saras menggoda Awan dan bermanja-manja dengannya. Namun, Awan belum yakin apakah itu pertanda Saras cemburu karena punya perasaan lebih padanya, atau ekspresi dengan makna yang lain.
Awan sudah berkeyakinan akan mendekati Aurora secara pelan tetapi pasti. Toh dia masih punya banyak waktu. Masih ada 9 bulan lagi sampai Aurora kembali ke Indonesia.
Sementara Awan tenggelam sebentar dalam lamunannya, Aurora justru gelisah di dalam pikirannya.
Setiap kali mengingat bagaimana Saras sering melontarkan pujian pada Awan sekaligus sering pula menggoda Awan, Aurora semakin yakin kalau Saras mungkin saja memang menyukai Awan seperti dirinya.
Dia memang tak dapat membaca bagaimana sebenarnya respon Awan pada Saras. Sejujurnya dia tak berani membayangkan dan menduga-duga. Sudah terbayang sakitnya hati kalau itu benar terjadi.
Karena pikirannya yang mengarah pada Saras dan Awan, kali ini pun dia berpikir terlalu jauh. “Jangan-jangan Mas Awan duduk di sebelahku biar gak terlalu kelihatan deketin Saras?”
--
Ruang dapur di unit Aurora terdengar ramai. Mereka kedatangan Samantha yang orang Filipina dan Xiau Lie dari Cina untuk makan malam bersama. Aurora dan Saras sebenarnya hanya menyiapkan nasi goreng, ditambah dengan salad yang dibuat May. Tidak mau datang dengan tangan hampa, Samantha dan Xiau Lie datang dengan membawa juice kemasan dan sekantong besar kripik kentang.
Sambil menghabiskan makan malam mereka asyik bertukar cerita, tentang perkuliahan dan kehidupan sehari-hari yang mereka jalani hingga kehidupan di tempat asal masing-masing.
Dari mereka berlima hanya Samantha yang berbicara dalam bahasa Inggris berdialek Amerika. Dia memang pernah tinggal di Amerika sampai remaja sebelum mengikuti orang tuanya kembali ke Filipina.
Sementara Xiau Lie sebenarnya mampu berbahasa Inggris dengan lancar, hanya saja dialeknya membuat beberapa kata yang dia ucapkan kadang membutuhkan pengulangan agar bisa dimengerti.
__ADS_1
Bagi Aurora dan Saras, ngobrol santai seperti ini jadi kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan berkomunikasi. Tidak perlu takut salah dan ragu, kalau lawan bicara kurang mengerti masih bisa dilengkapi dengan bahasa tubuh.
“Eh, sepertinya bahasa yang kalian pakai mirip ya dengan bahasa Tagalog di Filipina,” Sam mengangkat topik pembicaraan soal bahasa sambil mengarahkan pandangannya pada Aurora dan Saras.
“Oh ya?” Aurora tertarik ingin tahu lebih jauh.
“Iya, tapi sepertinya tidak hanya dengan bahasa Tagalog, tapi juga dengan bahasa lokal di tempat kami.”
Sam melanjutkan dengan menyampaikan alasan mengapa dia menduga ada kemiripan dalam bahasa Indonesia dengan bahasa yang mereka gunakan di Filipina.
”Kalau kalian orang Indonesia lagi kumpul dan bicara pakai bahasa kalian, aku bisa menangkap beberapa kata yang sama dengan bahasa kami. Bahkan sepertinya aku bisa menebak topik apa yang kira-kira kalian bicarakan.”
“Woow, betul kah?” Kali ini Saras yang keheranan.
Sam tertawa lalu melanjutkan, ”Mmmm, waktu kalian kumpul di kelas kemarin, kalian sedang membicarakan soal rencana belajar bersama, kan?”
Aurora dan Saras sempat bengong dengan mulut yang terbuka dan tak mampu mengeluarkan suara, tidak menyangka kalau omongan Sam benar adanya.
“Benar itu?” May pun ternyata ikut penasaran.
“I-Iya, benar sekali,” jawab Aurora sambil masih menyisakan raut heran dan tak percaya di wajahnya.
“See? Benar kan?” Sam tertawa senang karena tebakannya benar yang diikuti oleh derai tawa keempat orang lainnya.
May berkomentar, ”Waw, berarti kamu bisa menikah dengan orang Indonesia, Sam. Tidak ada masalah dalam berkomunikasi.” Komentar May ini pun cepat disetujui oleh yang lain.
Sam mengangkat jari telunjuknya mengarah pada May dan berkata dengan nada suara yang sangat bersemangat, ”Benar juga, May! Berarti aku coba cari pacar orang Indonesia ya…” matanya mengerling ke arah atas dan dahinya mengerut, dia terlihat sedang berpikir.
“Oh yea, I know! Ada satu orang Indonesia yang menarik, tapi bukan teman kita. Itu lho… teman kalian yang sedang kuliah Ph.D. Siapa namanya?”
“Dia? Yang lagi Ph.D.?” tanya Saras menegaskan.
“Iya, dia.”
“Ooooh, dia. Namanya Awan.” Saras pun kemudian tersenyum menggoda, ”Mau aku perkenalkan?”
Yang lain tertawa lepas kecuali Aurora yang terlihat tersenyum kecut. Di akhir tawa terdengar suara Xiau Lie, ”Tuh Sam, ada kesempatan.”
Mereka pun kembali tertawa sambil terus menggoda Sam yang berpeluang punya pacar orang Indonesia. Aurora berusaha menutupi rasa marahnya dengan berpura-pura ikut tertawa. Dalam hatinya dia justru menggerutu,”Urusan Saras aja belom beres, eeeh… nambah lagi nih satu si Sam. Saingan kok musti banyak amat siih!”
Pengakuan Sam kalau menurutnya Awan itu menarik, mampu membuat Aurora gundah. Samantha punya tampilan yang membuat orang tidak mungkin tidak mengeluarkan pujian. Tubuh tinggi semampai dengan bentuk badan yang terukir indah dan rambut bergelombang kecoklatan, ditambah dengan pakaiannya yang trendi dan selalu mampu memperkuat keindahan tubuhnya, Sam memang terlihat menonjol di antara mahasiswi yang ada.
--
Beberapa hari setelah perbincangan di unit mereka, Aurora menahan perih di mata dan hatinya ketika melihat Awan dan Sam sedang berbincang di dekat mesin kopi.
“Ya Allah, apa dosaku?” batinnya menjerit.
“Ampuuun, aku jadi senewen gini. Cinta belum kesampaian apa emang kayak gini ya? Belum kesampaian atau malah bakalan enggak sama sekali, ini?” Aurora merasa jantungnya seperti diremas dan buru-buru membalikkan badan menjauhi apa yang dilihatnya.
__ADS_1