
Aurora berdiri mematung di depan pintu lift yang terbuka dan tak memercayai pandangannya. “Kak Awan?” Aurora menatap lurus ke depan dan tidak berani menolehkan kepalanya ke arah orang-orang yang baru keluar dari lift. Tarikan di tangannya menyadarkan Aurora untuk melangkah ke dalam lift mengikuti beberapa teman lain yang lebih dulu masuk.
“Kenapa Au?” tanya Saras di sebelahnya.
“He? Enggak … gak ada apa-apa.” Aurora berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Aurora sungguh tak pernah menyangka akan kembali melihat Awan, di tempat yang ribuan kilometer jaraknya dari kampus mereka dulu.
Hari ini hari kelima Aurora dan Saras memulai kehidupan baru di kampus ini. Minggu pertama lebih banyak diisi dengan perkenalan dengan sesama teman, fasilitas dan pelayanan kampus, serta pengenalan pada beberapa isu dan topik yang akan mereka terima selama setahun kuliah.
Aurora dan Saras adalah dua dari lima orang Indonesia yang diterima di sekolah ini lewat jalur beasiswa untuk jenjang master. Mereka berkenalan pada saat orientasi sekaligus pelepasan keberangkatan penerima beasiswa di Jakarta. Selain mereka berdua, tiga orang lainnya adalah laki-laki. Iqbal dan Lukas yang berasal dari Jakarta, serta Singgih dari Bali. Aurora dan Saras sama-sama berasal dari kampus di Bandung, tetapi mereka tak pernah kenal sebelumnya karena beda kampus dan beda angkatan.
Jurusan yang mereka pilih merupakan jurusan yang berkonsentrasi pada isu-isu pembangunan di negara berkembang. Tak heran apabila peserta kuliahnya lebih banyak berasal dari berbagai negara berkembang di dunia, termasuk negara-negara di benua Eropa.
Gedung jurusan mereka terpisah dari gedung utama di lingkungan sekolah ini. Menempati sebuah gedung 12 lantai tetapi jurusan mereka ada di 4 lantai terakhir yang berisikan ruang kelas, ruang dosen, dan fasilitas lainnya termasuk perpustakaan. Aurora dan beberapa teman lainnya harus keluar dari gedung mereka bila ingin pergi ke kantin yang letaknya di tengah-tengah gedung utama. Pada saat jam makan siang seperti ini mereka harus berbaur dengan mahasiswa/i jenjang sarjana atau master lainnya yang memang menggunakan kelas dan fasilitas di gedung utama.
Dalam perjalanan menuju kantin, Aurora masih memikirkan apa yang dilihatnya tadi saat akan memasuki lift.
“Kenapa Kak Awan ada di sini ya? Apa dia mahasiswa juga? Kok kemarin itu waktu perkenalan, dia gak ada? Apa dia terlambat datang, beda beasiswa?
Aduh gimana nanti ya kalau ketemu? Musti ngomong apa ya? Apa dia masih kenal? Ah, gak mungkin Kak Awan masih ingat aku. Udah enam tahunan, paling dia gak kenal lagi.”
Beragam pertanyaan dan dugaan bermunculan di kepala Aurora membuatnya tanpa sadar mengernyitkan dahi dan mengeluarkan suara mengeluh pelan.
Saras merangkul bahunya sambil bertanya, “Kenapa Au? Mikirin apa sih? Kayak yang berat banget.”
Aurora yang sudah tersadar dari lamunannya menolehkan kepala melihat Saras dan menjawab sambil tertawa kecil berusaha mengelak.
__ADS_1
“Lagi mikirin mau makan apa hari ini. Lapar.”
Saras tertawa lalu menurunkan tangannya dari bahu Aurora, berpindah posisi menggandeng lengan Aurora.
“Tinggal makan aja kok pusing. Paling kita makan roti minum susu lagi. Emang mau makan apa?”
Aurora pun ikut tertawa mendengar jawaban Saras. Mereka pernah membahas hal ini saat hari ketiga makan di kantin. Setelah hari pertama dan kedua mereka mencari-cari makanan berat seperti kentang, pasta, atau mungkin nasi, hari ketiga mereka mulai ikut-ikutan makan siang dengan roti dan susu sebagaimana warga Belanda umumnya. Saat itu sambil bercanda mereka sepakat kalau makan siang di Belanda adalah sarapan kedua bagi orang Indonesia.
Sekembalinya ke gedung kampus, Aurora dan Saras segera menuju loker mengambil tas mereka. Kuliah perkenalan akan dimulai 10 menit lagi dan mereka bergegas menuju ruangan kelas, memilih tempat duduk yang tersisa di bagian tengah.
Pikiran Aurora mulai melayang mengingat Awan kembali. Pertemuan terakhir mereka adalah pada saat Awan wisuda. Setelah itu mereka tidak pernah bertemu sama sekali selama sekitar lima tahun. Rasa sukanya pada Awan sudah ia pendam sejak lama dan hari ini terbukti kalau ia sebenarnya terus merindukan sosok Awan. Lamunan Aurora terhenti ketika dosen hari ini memasuki pintu sambil berkata, “Hallo. How are you, everyone? My name is Pieter.”
--
Awan memasuki ruang komputer yang terlihat sepi tanpa seorang pun di dalamnya. Ia memilih meja kosong paling ujung yang terdekat dengan meja printer. Meja kosong ini disediakan untuk mahasiswa yang memilih menggunakan laptop sendiri untuk tersambung langsung dengan printer.
Sore ini Awan memiliki janji dengan dosen pembimbingnya, Prof. Arjan, seorang Belanda yang nenek dari ibunya setengah Indonesia. Prof. Arjan pernah bercerita kalau neneknya lahir di perkebunan teh di Pangalengan, dekat Bandung. Secara berkelakar Awan dulu pernah menanggapi, mungkin orang tua neneknya adalah tuan tanah di perkebunan teh itu.
Awan sudah menambahkan beberapa referensi dalam disertasinya, dan kini saatnya ia menghadap dosen untuk berdiskusi tentang tambahan referensi yang ia masukkan. Setelah menilai cukup, Awan menyambungkan kabel printer ke laptopnya dan mulai mencetak tulisan yang akan diserahkan.
Bersamaan dengan selesainya Awan merapikan meja dan memasukkan laptop ke dalam tasnya, terdengar suara orang-orang berbincang menuju ruang komputer. Awan melihat beberapa orang mahasiswa memasuki ruang komputer dan refleks melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu pukul 14.50. Awan bergegas keluar dan menuju lift untuk naik ke lantai10 tempat ruang dosen berada.
Tanpa terasa sudah satu jam lebih Awan berdiskusi dengan Prof. Arjan. Tidak ada rasa lelah, Awan justru sedang bergembira karena diskusinya berjalan lancar dan membuatnya semakin bersemangat melanjutkan disertasinya. Awan ingin segera pulang dan berencana singgah belanja dalam perjalanan pulang. Ia perlu bahan makanan karena tadi pagi baru menyadari kalau stok bahan makanannya mulai menipis.
Sesampainya di lantai bawah, Awan menuju tempat parkir sepeda sambil mengeluarkan kunci rantai sepeda dari tasnya. Sebelum naik ke sepeda, Awan menaikkan resleting jaket dan memperbaiki posisi tas ranselnya. Meski angin terasa dingin menampar wajahnya, seulas senyum tipis masih terukir di bibir Awan karena kesuksesannya hari ini.
Setibanya di supermarket, Awan langsung mengambil keranjang dan menuju rak yang berisikan sayur-sayuran. Sambil memilih sayur yang kira-kira diperlukan seminggu ke depan, telinganya menangkap suara perempuan dalam bahasa yang dikenalnya.
__ADS_1
“Kita ambil apa aja, Au? Sambil buat seminggu apa gimana?”
Awan menolehkan kepalanya ke arah suara itu dan tercekat. Hanya berjarak dua langkah darinya, matanya menangkap sosok Aurora yang sedang melihat-lihat deretan bumbu di dalam rak. Perempuan lain yang merupakan sumber suara tadi berdiri membelakangi Aurora sambil memegang sebuah wortel di tangannya. Belum sempat Awan berpikir, Aurora telah berbalik menyamping dan kini menghadap ke arah Awan! Tak mampu mengelak, mata mereka bertemu.
Ada raut terkejut di wajah Aurora, pun Awan. Hening.
Saras menyadari ada yang salah dan dia pun berbalik, melihat Aurora dan seorang laki-laki Indonesia yang sama-sama terdiam seperti patung.
Awan berdehem mencoba memecah kesunyian. “Mmm … Aurora ya?” Awan memulai percakapan dan menyadari kalau suaranya seperti sedikit terhambat di tenggorokan. Aurora hanya bisa mengangguk dan menurunkan pandangannya.
Awan mengulurkan tangannya yang disambut Aurora perlahan. “Apa kabar? Kuliah lagi di sini?” tanya Awan sambil kemudian melepas jabatan tangan mereka dan tersenyum.
Aurora berusaha tetap memandang Awan yang menanyakan kabarnya, tapi dalam hatinya ia berjuang, “Mengapa harus bertemu sekarang?”
“Kabar baik, Kak. Iya, kuliah lagi.” Aurora mencoba menjawab setenang mungkin meski sibuk menata hatinya.
“Kakak kuliah juga?” Tanpa sadar Aurora melontarkan pertanyaan begitu saja, ingin mencari jawaban pertanyaan yang sedari siang dipikirkannya.
“Iya, ambil Ph.D. Kalian kuliah di mana?” Awan bertanya seolah-olah belum pernah melihat Aurora dan temannya ini di kampus sebelumnya.
“Erasmus, Kak. Jurusan HMDC.”
“Oh, sama dong ….” Awan memasukkan nada terkejut dalam ucapannya.
“Oh iya, Kak. Ini Saras, jurusan HMDC juga.” Aurora mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan Saras pada Awan yang disambut jabatan tangan dan senyuman di antara keduanya, sambil Awan menyebutkan namanya, “Awan.”
Perbincangan akhirnya berlanjut dengan pertanyaan mengenai kapan tiba di kota ini, tempat tinggal, berapa banyak mahasiswa Indonesia yang ada di jurusan yang sama, tempat belanja, dan seputar kebutuhan harian bila tinggal di Belanda.
__ADS_1
Awan dan Aurora ternyata tinggal dengan menempati gedung yang sama. Awan tinggal di lantai dasar mengisi ruang studio, sementara Aurora dan Saras tinggal di lantai 12. Mereka mengisi satu unit yang terdiri dari tiga kamar, satu kamar mandi, satu toilet, dan satu ruang dapur. Selain mereka berdua, satu orang lagi penghuni unit adalah perempuan asal Thailand bernama May. Gedung itu memang salah satu fasilitas yang disediakan oleh jurusan mereka untuk memudahkan mahasiswa yang berasal dari berbagai negara mendapat tempat tinggal sebelum memulai perkuliahan.