
Minggu ini adalah minggu terakhir sebelum ujian bagi Aurora dan teman-temannya. Tugas-tugas individu maupun kelompok harus diselesaikan disela-sela kuliah dan persiapan ujian.
Sadar kalau minggu ini akan menjadi minggu yang berat bagi Aurora, Awan tak pernah absen memberikan semangat setiap pagi melalui pesan teks. Tak cukup hanya dengan pesan teks, Awan selalu menemani Aurora berangkat bersama dengan trem ke kampus meski dia tidak punya keperluan apa pun di kampus.
Mereka kini sudah tak lagi menggunakan sepeda karena angin di musim dingin berembus cukup kencang dan suhu dingin sering menusuk tulang.
Dalam obrolannya bersama Aurora, Awan pasti selalu menanyakan bagaimana persiapan Aurora menghadapi ujian. Apakah dia sempat belajar, apakah dia sudah menyelesaikan tugas-tugasnya, apakah dia tidak melupakan makan, apakah dia tidur cukup, dan beragam pertanyaan khawatir lainnya.
Semuanya membuat Aurora berbunga-bunga tapi sekaligus geli karena Awan mengkhawatirkannya seolah-olah ujian kali ini menentukan hidup mati Aurora. Ini adalah ujian kedua bagi Aurora sehingga dia sebenarnya sudah paham dan bisa menyesuaikan diri dengan waktu persiapan yang memang terbatas.
Hari ketiga ujian, Aurora dan teman-temannya membuat janji untuk belajar bersama di unit yang ditempati Singgih, Lukas, dan Iqbal. Ujian esok hari berupa beberapa pertanyaan yang sudah dibagikan sebelumnya dan memang boleh didiskusikan bersama.
Untuk memudahkan, mereka sepakat akan berdiskusi terbatas pada orang Indonesia saja. Maksudnya supaya diskusi bisa berjalan lancar tanpa kendala bahasa. Sore hari mereka sudah berkumpul di kamar Singgih, duduk bersila melingkar di karpet, masing-masing siap dengan lembar pertanyaan di tangan.
Tidak hanya mereka berlima yang ada di sana, tapi termasuk pula Awan. Dia duduk terpisah dari teman-temannya, sudah bersiap dengan buku yang akan dia baca sambil mendengarkan Aurora dan teman-temannya berdiskusi.
Sesekali Awan ikut menimpali, memberikan pendapatnya atau membantu memahami pertanyaan yang ada. Dia hadir di sana sesungguhnya berniat menemani Aurora dan memastikan Aurora bisa menyelesaikan pertanyaan ujian. Kalau teman-teman lain juga ikut terbantu, itu bonus dari Awan untuk mereka.
Selesai diskusi, Awan mengantarkan Aurora dan Saras kembali ke unitnya. Saras sudah lebih dulu masuk kamar, sementara Aurora dan Awan masih berdiri di depan pintu unit.
“Masuklah,” kata Awan dengan suara lembut.
“Iya, Mas. Makasih ya tadi udah bantuin kami.”
“Bantuin kamu, kok.” Awan memasang senyum di wajahnya.
Aurora tertawa pelan. “Iya deh, apapun lah….”
“Ya udah, masuk sana,” tangan kanan Awan terangkat memegang bahu Aurora, “istirahatlah, kan udah beres semua.”
Tangannya turun sedikit kemudian mengusap-usap lembut lengan atas Aurora. Gerakannya perlahan, menyalurkan kehangatan bagi tubuh dan hati Aurora yang hanya sanggup dibalas Aurora dengan seulas senyum di bibirnya.
“Sampai besok ya,” sambung Awan.
Aurora mengangguk. “Makasih ya, Mas.”
Senyum lebar terkembang di wajah Aurora saat dia membuka pintu unit dan menghilang di baliknya.
Masih berdiri di depan pintu, suara hati Awan unjuk bicara.
“Awan… Awan… kamu tadi mau meluk dan nyium keningnya, kan?”
Awan pun cengar-cengir sambil berjalan menuju lift, mengingat bagaimana tadi pertahanannya hampir saja bobol.
__ADS_1
--
Hari ini menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi Aurora dan teman-temannya karena ujian akan berakhir dan menjadi pertanda libur akhir tahun dimulai. Sejak pagi mereka sudah bersemangat, meski udara di luar semakin terasa menggigit. Menjelang siang, Awan sudah bersiap-siap menunggu Aurora di Social Room. Ditemani secangkir teh, Awan sendirian di sana menonton TV.
Suara riuh rendah mulai terdengar, artinya Aurora sudah selesai ujian. Tak butuh waktu lama, Aurora beserta teman-teman Indonesianya sudah terlihat di pintu yang terbuka lebar.
Tampak raut muka lega di wajah mereka yang berangsur-angsur berubah menjadi raut ceria. Awan tersenyum lebar menyambut kehadiran Aurora. Tak sabar menunggu, dia berjalan mendekati Aurora.
“Gimana ujiannya, lancar?”
“Lancar, Mas,” jawab Aurora.
Singgih mendekat lalu menggoda mereka. “Aku gak ditanya, Wan?” Bibirnya cemberut, mimik mukanya berpura-pura kesal.
Awan tertawa ringan melihat ulah Singgih. Sambil bersikap seolah-olah sedang merayu Singgih, Awan pun membalas candaan Singgih. ”Bli Singgiiiih… ujiannya lancar, kan?”
Aurora dan teman-temannya yang lain pun jadi ikut tertawa melihat tingkah Singgih dan Awan. Menyenangkan bisa tertawa setelah hampir dua minggu harus berlelah dengan tugas dan belajar.
Sambil berjalan bersisian menuju tempat duduk, Awan melingkarkan lengannya di bahu Aurora dan kemudian menepuk-nepuk pelan lengan Aurora, “Good job, Au.”
Tepukan pelan di lengannya membuat Aurora tersenyum dan hatinya tersentuh, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Ya ampuuuun, Mas Awan sweet banget… cuma beres ujian aja belum keluar nilainya udah muji ‘good job’.”
--
Hari sudah mendekati sore hari, Awan dan Aurora baru tiba di Stasiun Delft. Awan punya janji bertemu dengan temannya, James, yang sedang kuliah Ph.D. di tempat ini. Karena Aurora belum pernah mengunjungi Delft, maka dia tak menolak ketika Awan mengajaknya.
Aurora tak menyangka kalau sore ini udara terasa sangat dingin. Sarung tangan dan jaket tebal yang dikenakannya seolah tak mampu menahan dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang. Aurora berdiri sambil menggoyang-goyangkan kakinya, mencoba mendapatkan kehangatan lebih dari sana.
Melihat Aurora yang sibuk meniup-niup tangannya sambil kaki dan badannya tak berhenti bergoyang, Awan bergeser maju menghadap Aurora.
“Sini,” katanya sambil memasukkan tangan Aurora ke dalam genggamannya lalu menggosok-gosok pelan tangan Aurora dan meniupnya.
Genggaman tangan dan embusan nafas Awan yang hangat menembus sarung tangan dan mencapai kulit Aurora, terasa mengalirkan kehangatan.
Aurora menaikkan pandangannya, mencoba melirik Awan.
Di saat yang bersamaan Awan pun sedang menatap Aurora diikuti seulas senyum terukir di wajahnya.
Deg!
Aurora cepat-cepat menurunkan lagi pandangannya diiringi detak jantung yang berlomba semakin cepat.
__ADS_1
“Haduh, kelihatan banget ini saltingnya,” rutuk Aurora dalam hati.
Bus yang mereka tunggu sudah tiba, Aurora merasa lega. Itu artinya tangannya bisa bebas, dan jantungnya pun bisa kembali normal.
Tapi ternyata dia salah!
Awan belum memberi kesempatan bagi jantungnya untuk beristirahat. Awan hanya melepaskan satu tangan Aurora dan masih menggenggam tangan kanannya, menuntun dirinya naik ke dalam bus hingga mereka duduk.
Baru saja mereka duduk, suara getaran HP terdengar dari dalam kantong jaket Awan. Hanya dengan satu tangan, Awan membuka jaketnya dan merogoh kantong di bagian dalam jaketnya mengeluarkan HP. Nama “James PS” terlihat di layar.
Sambil menjawab telepon, Awan tak sadar kalau jari jempolnya yang sedang bersatu dengan jemari Aurora bergerak-gerak pelan mulai mengelus punggung tangan Aurora.
Aurora tegang dalam diam seperti kehabisan napas. “Ya Allah, ini masih pake sarung tangan aku udah mau pingsan.”
Tiba-tiba Aurora merasakan tangannya yang berada dalam genggaman Awan terangkat. Awan mencoba menggaruk rasa gatal di dahinya, tanpa melepaskan tangan Aurora.
“E-eh, apa-apaan ini? Astaga, Mas Awan ini kenapa??” Aurora menjerit dalam hatinya.
Diam-diam dia berusaha menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan oksigen ke dalam paru-parunya.
Awan masih bersikap santai tanpa merasa ada yang salah. Selesai mengembalikan HP ke dalam saku jaketnya, dia berkata, ”Itu si James. Nanyain kita udah nyampe apa belum.”
“Oooh.” Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Aurora.
Awan menyodorkan tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka ke arah Aurora.
“Apa lagi ini?” pikir Aurora. Wajah bingungnya mengarah pada Awan.
“Sini tangannya satu lagi. Masih dingin, kan?”
Seperti kerbau dicocok hidungnya, Aurora menyerahkan tangan kirinya ke atas telapak tangan Awan yang langsung dibawa Awan bersatu dengan tangan mereka yang lain.
Setelah kedua tangannya tergenggam, barulah Aurora sadar.
“Eh, aku kok nurut aja?”
Keinginan hatinya ternyata saat ini mendominasi mendahului pikirannya.
“Gawat!” Aurora memejamkan matanya, mencoba menyadarkan dirinya agar bisa berpikir sehat.
Namun, Aurora tak terlalu yakin karena rasa bahagia di hatinya ini seperti melompat-lompat ingin menguasai seluruh tubuhnya.
Beberapa jam ke depan di hari yang dingin ini dia masih akan bersama Awan.
__ADS_1
“Bakalan ada apa lagi ini dari Mas Awan? Tenang Aurora… tenang. Ayo kamu bisa Au, tenang…,” rapalnya dalam hati, padahal jantungnya masih terus berdetak cepat.