AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Masih Belum Bisa Lega


__ADS_3

Bayangan Awan dan Sam yang sedang berbincang di dekat mesin kopi tadi pagi masih mengganggu Aurora. Untungnya kuliah hari ini diisi dengan diskusi kelompok. Andaikan dia harus mendengarkan ceramah dosen, sudah barang tentu tak akan ada satu kata pun yang masuk ke telinganya.


Aurora melangkahkan kakinya keluar kelas dan berjalan mengarah ke Social Room. Ia sudah janjian dengan Saras akan makan siang di sana.


Tiba di pintu Social Room yang terbuka lebar, langkah Aurora terhenti. “Ya Allah, apa-apaan ini??”


Ini bukanlah pemandangan yang ingin dilihatnya, bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya harus menyiapkan diri untuk kondisi seperti ini.


Badannya serta-merta menjadi kaku, kakinya terasa berat, dan perasaannya luluh lantak. Tepat di depan matanya, Awan terlihat sedang tertawa lebar dan bercengkerama sangat akrab dengan Sam.


“Au….” Sebuah suara terdengar dari belakangnya. Meski suara tersebut sebenarnya pelan saja, Aurora terkejut dan kesadarannya kembali.


Singgih mencondongkan badannya ke arah Aurora di depannya. Masih dengan suara pelan dia pun berkata, ”Udah, jangan diliatin terus… malah sakit nanti.”


Aurora terkesiap dan membalikkan badannya. “Maksudnya?”


“Kenapa nih Singgih, apa dia tau sesuatu ya?” Aurora mencoba menebak di dalam pikirannya sambil menunggu jawaban Singgih.


Singgih tersenyum menggoda.


“Itu… yang berduaan di depan. Jangan cuma diliatin aja, Au… gerak dooong. Entar keburu disamber sama yang di depannya lho….”


Semburat merah tanpa permisi hadir mewarnai pipi Aurora. Menutupi rasa canggungnya, tangannya mendorong lengan Singgih pelan. “Apa sih!”


Kepalanya langsung menunduk karena sadar senyum malu-malu masih tersungging di bibirnya tak mampu disembunyikan.


Singgih malah semakin bersemangat menggoda Aurora melihat reaksinya.


“Gak usah malu-malu, Au. Harus gercep…,” sambil berbisik dan memasang wajah serius dia menambahkan, ”cowok kalau disuguhi yang seksi gitu, lama-lama bisa luluh.”


Senyum bangga terukir di bibir Singgih seolah-olah apa yang dia sampaikan adalah rahasia besar abad ini.


“Udah, ah!” Aurora cepat-cepat membalikkan badan supaya Singgih tak lagi menggodanya.


Mendengar suara Singgih yang tertawa di belakangnya, Aurora semakin mempercepat langkahnya menuju meja terjauh dari Awan. “Duuuh, si Singgih apa-apaan sih? Kok dia bisa tau ya aku suka Mas Awan? Apa selama ini kelihatan? Kalau kelihatan, masak Singgih tau tapi Mas Awan enggak?”

__ADS_1


Dengan ekor matanya Aurora melirik ke arah meja Awan dan Sam. “Iya juga sih… Singgih ada benarnya. Trus aku musti ngapain? Masak aku duluan yang bilang suka ke Mas Awan?” Aurora menimbang-nimbang ‘gerak cepat’ yang kira-kira dimaksud Singgih tadi.


--


Selesai makan yang berhasil dilakukannya dengan susah payah, Aurora kembali ke kelas bersama Saras. Kuliah siang ini masih dilanjutkan dengan diskusi kelompok tadi pagi. Masing-masing kelompok sudah mendapat tugas yang harus dipresentasikan esok hari.


Aurora dan Saras terpisah dalam kelompok tugas yang berbeda. Saat makan tadi Saras mengungkapkan rasa senangnya karena dia bisa satu kelompok dengan Nelu, cowok Rumania yang berambut pirang kecoklatan dan selalu terlihat ‘cool’ itu.


Menjelang malam barulah Aurora dan Saras bisa kembali ke rumah karena diskusi kelompok mereka masing-masing sudah selesai. Tugas sudah dialihkan kepada salah satu anggota untuk merapikan presentasi sehingga diputuskan untuk membubarkan diri. Berbeda dengan kelompok Singgih, Lukas, dan Iqbal yang memilih tetap di kampus sampai bahan presentasi benar-benar rampung dan rapi.


Tiba di apartemen, Aurora merasa penat karena seharian diskusi –ditambah hatinya yang masih terasa tercubit melihat kedekatan Awan dan Sam-, sementara Saras terlihat jelas masih penuh energi.


Senyum sumringah tak henti-henti lepas dari wajahnya, bahkan selama mereka harus mengayuh sepeda di tengah udara yang semakin dingin.


Baru saja masuk ke dalam lift, Saras langsung membuka suara sambil merangkul bahu Aurora. “Au, si Kasep (tampan dalam bahasa Sunda) itu cool banget yaa…”


Aurora menoleh melihat ke arah Saras. “Si Kasep? Siapa?”


“Nelu…” suara Saras menggantung, wajahnya tak bisa menyembunyikan binar-binar hatinya, “tadi pas diskusi dia emang lebih banyak diam. Tapi sekalinya ngomong, ya ampun Auuu… auranya itu! Gak kuaaaatt….“


Saras bergidik dan tanpa sadar mengetatkan rangkulannya membuat Aurora sempat terhimpit. “Pinginnya sih tadi masih lama diskusinya.”


“Sayang harus bubar,” lanjutnya dengan bibir pura-pura ditekuk menunjukkan kekecewaan.


Saat makan malam, Aurora berusaha memancing Saras karena penasaran.


“Kamu suka sama Nelu, Ras?”


Saras tersenyum sumringah.


“Iya… dari pertama ngeh pas kita ketemu di lift dulu itu aku udah ngincar dia.” Tawanya membahana mengisi ruang dapur.


“Oh ya? Masak sih? Kok aku gak nyadar ya?”


“Nyadar apa? Nyadar Nelu keren apa nyadar aku ngincar Nelu?” berondong Saras.

__ADS_1


“Yang terakhir, kamu ngincar dia,” jawab Aurora sambil tersenyum.


Saras terkikik. “Operasi senyap, dong….” Wajahnya menunjukkan ekspresi kemenangan.


“Huuuu… dasar!” Aurora bangkit dari tempat duduknya sambil membawa piring bekas makan ke bak cuci. Sambil mencuci ia mencoba mengorek lebih lanjut. Suaranya diusahakan sedatar mungkin. “Kirain selama ini kamu ngincar Mas Awan.”


“Ha? Mas Awan?” Saras lagi-lagi tergelak. “Enggak lah… dia itu agak-agak mirip kakakku soalnya. Jadi kalo sama Mas Awan tuh berasa kayak lagi sama kakakku. Makanya aku seneng kalo kita bareng-bareng dia,” jelas Saras.


Aurora merasa badannya kini seperti diguyur air dingin, terasa segar. Rasa penat dan lelah yang tadi dirasakannya berganti dengan rasa ringan yang membuatnya seperti melayang. Ternyata dugaannya selama ini salah besar! Saras tak punya perasaan suka pada Awan. Kesempatan baginya terbuka lebar. Aurora tersenyum manis, hatinya girang berbunga-bunga.


Saras melanjutkan penjelasannya, ”Aku tuh seneng sama cowok bule, Au. Gak tau kenapa kayaknya menarik aja. Makanya ini nyari beasiswa juga nyari kesempatan, kali-kali aja bisa dapet pacar bule. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui lah,” gelaknya.


“Ih, aku baru tau.” Aurora ikut tertawa sambil kembali ke tempat duduknya dan mengangkat kaki duduk santai bersila.


“Sekarang udah tau kan,” matanya mengedip sebelah, “apalagi yang dingin kayak Nelu gitu, Au… idaman lah!”


Saras senyam senyum membayangkan Nelu.


Di depannya Aurora juga ikut tersenyum simpul, tetapi yang dibayangkannya adalah Awan.


“Makasih, ya Allah… aku seneng banget ini. Ternyata selama ini aku cuma ketakutan aja sampe-sampe selalu mikir kalo Saras suka Mas Awan. Leganya, ya Allah….”


Aurora mengucap syukur dalam hatinya.


Tiba-tiba sekelebat bayangan hadir mengusik kedamaian hatinya. “Oh iya masih ada si Sam!” Ekspresinya berubah.


--


Selepas pembicaraan mereka di ruang dapur, Aurora mulai memperhatikan Saras dan Nelu di kampus. Ia baru sadar kalau selama ini sebenarnya Saras cukup sering berbincang-bincang dengan Nelu, meski kadang ada Edgar atau teman lainnya bersama mereka.


Aurora pun ingat kalau weekend lalu Saras pernah pamit mau bersantai di basement. Pulang dari sana Saras bercerita kalau ia menonton teman-temannya bermain tenis meja dan sepak bola meja, dan Nelu adalah salah seorang teman yang ikut serta.


Tugas kelompok yang cuma sehari itu ternyata mampu menambah kedekatan Saras dan Nelu. Sudah beberapa hari ini Saras tidak naik sepeda ke kampus. Alasannya karena udara bertambah dingin. Pada Aurora dia mengaku jujur kalau dia sebenarnya ingin naik trem bersama Nelu.


Di kelas pun mereka selalu terlihat duduk berdampingan. Aurora terpaksa harus makan sendiri di Social Room karena Saras memilih makan siang di kantin bersama Nelu.

__ADS_1


Saras mulai terlihat seperti perangko yang menempel terus pada Nelu. Yang mengejutkan, cowok dingin itu sama sekali tak keberatan. Dia justru terlihat menghangat saat bersama Saras. Mungkin esnya mencair karena api membara yang dikirimkan Saras?


Makin hari kedekatan Saras dan Nelu sudah jadi permakluman bagi teman-temannya. Aurora ikut senang melihat keberhasilan Saras mendekati Nelu, meski terlintas sedikit rasa iri di hatinya. Hubungan Saras dan Nelu berlangsung cepat. Besok Saras sudah bikin janji kencan akan nonton di bioskop, sementara dia dan Awan masih penuh tanda tanya.


__ADS_2