
Libur akhir tahun sudah di depan mata, Aurora memilih untuk kembali ke Surabaya menikmati pergantian tahun bersama keluarga. Suasana menjelang tahun yang baru ini sungguh berbeda dengan tahun lalu saat dia merayakannya bersama teman-teman di basement apartemen.
Kenangan perayaan tahun baru itu membuat Aurora tertawa geli karena mengingatkannya pada kecemburuan yang sempat melandanya melihat keakraban Awan dan Samantha. “Kalau dipikir-pikir sekarang, aneh banget ya aku waktu itu.” Aurora pun menertawai dirinya sendiri.
Tak banyak yang dilakukan Aurora selain membantu pekerjaan mamanya yang bahkan pada hari pertama di tahun baru pun mendapat pesanan katering seorang bos besar yang menggelar acara ramah tamah. Di hari lain Aurora memilih jalan-jalan ke mall sambil mentraktir sepupunya, Karin dan Angga. Mereka tidak hanya makan dan nonton, tetapi Aurora juga membelikan mereka sesuatu yang mereka inginkan. Om Heru adalah satu-satunya keluarga mamanya sehingga tak heran kalau Aurora memang sangat dekat dengan Karin dan Angga meski usia mereka terpaut jauh.
Di minggu terakhir bulan Januari, Aurora kembali berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Iqbal. Kali ini dia memilih menginap di kamar kost Saras. Singgih pun secara khusus datang dari Bali karena tidak ingin melewatkan momen pernikahan Iqbal sekaligus bertemu dengan teman-temannya. Singgih juga menginap di tempat Lukas sehingga mereka semua bisa mengobrol sampai malam, bernostalgia akan pengalaman-pengalaman selama di Belanda.
“Gimana kabar kamu sama Awan, Au?” Singgih ingin tahu perkembangan terakhir hubungan Awan dan Aurora yang tak terungkap detilnya di grup mereka.
Aurora tersenyum mendengar nama Awan disebut. “Baik … lancar,” katanya dengan nada riang.
“Jadi gak nanti nikah pas Awan pulang?” Kali ini Lukas yang menginterogasi.
Saras hanya tersenyum simpul karena sebelumnya sudah sempat berbagi cerita dengan Aurora, sementara Aurora malah jadi tersenyum geli melihat teman-temannya mulai menyelidik.
“Yah … lihat nanti deh,” katanya bermisteri.
Mendengar Aurora tidak mau mengungkapkan informasi yang lebih pasti, Singgih pun lantas membalas dengan nada menggoda. “Wah, kalau begitu aku duluan yang menikah, nih.”
Ketiga temannya langsung mengarahkan pandangan ke arah Singgih dengan mimik penuh tanya. Singgih tergelak melihat ekspresi teman-temannya.
“Nanti …,” katanya menggantung kalimat agar teman-temannya penasaran, “kalau pacarku beres koas.”
Singgih cengar-cengir yang dibalas seruan tak puas dari yang lain.
Saras langsung menyambar, “Yey, kelamaan!”
Tak mau kalah, Singgih pun membalas, “Idih, yang mau nikah kan Au, kok yang sewot kamu, Ras?”
Suara tawa riang pun kembali terdengar, dan terus berulang terdengar sepanjang pertemuan mereka.
--
Hari demi hari berlalu, Aurora yang sibuk dengan pekerjaannya dan Awan di Belanda yang berkutat dengan disertasinya. Pada jam makan siang, notifikasi dari grup Aurora dan teman-temannya tiba-tiba terdengar bersahutan. Aurora membuka grupnya yang sudah berisi beberapa pesan dan tersenyum geli saat mulai membacanya.
Awan: Goedemorgen allemaal! (selamat pagi semuanya)
Lukas: Hoi! (hai dalam bahasa Belanda) Udah siang di sini Wan.
Awan: 😁
Lukas: Apa kabar? Sibuk ya? Jarang nongol.
Singgih: Hei, Wan. Apa kabar?
Awan: Kabar baik. Iya, harus masukkan draft.
__ADS_1
Lukas: Kirain lagi pergi jalan-jalan sama anak-anak master.
Singgih: Jalan ke mana lagi sama anak master memangnya, Wan?
Awan: Hahaha, aku jarang kumpul sama mereka. Paling ikut jalan kalau sekitar Rotterdam aja.
Siggih: Pantes. Kalau dulu kan ada maunya sama Au 😀😀
Awan: Iya dong 😉
Lukas: Tapi kudu berterima kasih loe Nggih. kalau gak ada Au kan Awan gak akan bantuin tugas kita dan kasih “contekan” mau ujian. Ha..ha..ha..ha..
Singgih: Bener juga. Makasihnya ke Au berarti. Makasih ya Au….
Lukas: Mana nih si Au?
Aurora: Hadiiiir 🙋
Saras: Aku nggak dicari ya? Gitu ya kalian, pilih kasih 😢😢😢
Singgih: Kalau ga bawa tupperware ga ada yang nyari Ras! Wkwkwkwkkkk…
Saras: 😠😠😠😆😆😆
Lukas: Eh btw, Iqbal mana ya?
Singgih: Paling sibuk sama istrinya.
Singgih: Eits, yg lagi jomblo siapa ya?
Singgih: 😈
Saras: 👊😠
Au: 😅
Notifikasi lain masuk ke HP Aurora, sebuah pesan dari Awan.
Awan: Can't wait to see you again ❤
Aurora tersenyum bercampur dengan haru kerinduan yang terasa dalam hatinya.
--
Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba. Menjelang akhir bulan Maret Awan bertolak dari Belanda menuju Indonesia dengan semangat yang menggebu-gebu tak bisa ditahannya. Aurora sejak pagi sudah gelisah, membayangkan Awan akan tiba di Indonesia meski mereka tak bisa langsung bertemu karena Awan harus bertemu keluarganya dulu di Jakarta.
Aurora sempat berniat menjemput Awan di bandara, tapi sungguh sayang di hari yang bersamaan dia harus bertemu klien penting yang tidak bisa digeser lagi waktunya.
__ADS_1
Sempat Aurora menangis saat mereka sedang melakukan panggilan video, tapi Awan membujuk dengan mengingatkan kalau jarak Jakarta – Bandung jauh lebih dekat ketimbang jarak ke Rotterdam. “Yah, setidaknya kami menghirup udara yang sama di Pulau Jawa,” hibur Aurora pada dirinya sendiri.
Hanya menghabiskan waktu sebentar bersama keluarganya, di hari ke-tiga Awan sudah terlihat sosoknya bersama Aurora di Kota Bandung. Menunggu akhir minggu hingga Aurora bebas dari pekerjaannya, Awan pun menginap sekaligus menyempatkan diri singgah ke kampus untuk melapor dan bertemu dengan koleganya.
Aurora akhirnya mengajak Awan untuk bertemu Naya, yang masih diingat Awan sebagai orang yang paling sering terlihat bersama Aurora di kampus dulu.
Mereka berjanji bertemu di sebuah tempat makan yang saat itu sedang terkenal karena kelezatan makanannya dan juga suasananya yang nyaman untuk tempat berkumpul. Awan dan Aurora tiba terlebih dahulu dan mulai melihat-lihat menu ketika Naya tiba dan melihat mereka.
Tatkala mata Naya menangkap sosok yang duduk di sebelah Aurora dan terlihat tangannya berada di sandaran kursi Aurora serta mencondongkan badannya sangat dekat dengan Aurora ketika membaca menu, Naya terkesiap. Langkahnya terhenti dan mencoba mengedipkan mata untuk memastikan apakah itu khayalan atau memang nyata.
Semakin mendekati meja tempat Awan dan Aurora, Naya semakin yakin penglihatannya tidak bermasalah. Dengan berbagai pertanyaan di benaknya, Naya memanggil dengan nada terkejut dan tak percaya, “Au …? Kak Awan …?”
Kedua orang yang dipanggil namanya sama-sama mengangkat kepala mereka dari buku menu dan melihat Naya yang mulutnya terbuka dengan mimik wajah tercengang. Awan tersenyum tipis, sementara Aurora tertawa geli. Aurora tahu benar kenapa Naya bereaksi seperti itu.
Awan segera menyampaikan salam dan mengulurkan tangannya pada Naya yang dibalas dengan jabatan tangan dengan jawaban yang terbata dari Naya karena rasa tak percaya yang belum hilang. Begitu duduk, sebuah pertanyaan langsung meluncur dari mulut Naya, “Kok bisa?”
Pandangannya mengarah pada Aurora dan mimiknya terlihat masih penuh tanya.
“Surprise …,” kata Aurora dengan nada terdengar sangat riang, lalu tertawa.
Setelah menyelesaikan tawanya, Aurora pun mulai menceritakan secara singkat bagaimana dirinya dan Awan bertemu di Belanda dan kisah yang mereka rajut bersama. Mendengar kisah Aurora, Naya pun ikut tertawa bahagia bercampur haru karena tahu benar bagaimana perjuangan Aurora dulu menyimpan perasaannya pada Awan.
Persis seperti komentar Aurora sebelumnya pada Awan, Naya pun mengucapkan hal yang sama.
“Kenapa dulu harus malu-malu ya … Kalau enggak kan dari dulu kalian udah pacaran.”
Ucapan Naya membuat Awan dan Aurora sama-sama tertawa, teringat kalau mereka memang pernah membahas itu di Belanda.
Dengan menggunakan kereta malam, Awan dan Aurora berangkat menuju Surabaya. Seperti rencana mereka sejak semula, Awan akan berkenalan secara langsung dengan Mama Aurora dan keluarganya. Awan memang tak ingin mengulur waktu dan ingin mempercepat persiapan sejak awal. Belum tahu bagaimana reaksi Mama Aurora dan keluarganya juga menjadi pertimbangan bagi Awan untuk mengantisipasi hal-hal di luar rencananya.
Berada di kereta malam seperti ini mengingatkan Awan dan Aurora pada hari-hari yang pernah mereka jalani di Belanda, juga menggunakan kereta. Menutup badannya dengan selimut yang disediakan, Aurora memilih tidur dengan menyender pada bahu Awan, mengharapkan kehangatan dari pria yang sangat dirindukannya itu. Awan pun merapatkan tubuhnya pada Aurora, menggenggam tangan Aurora dengan rasa bahagia karena kini dia bisa kembali merasakan kehadiran Aurora di sisinya.
Sore hari Awan berkunjung ke rumah Aurora dengan membawa oleh-oleh yang sudah disiapkannya dari Belanda. Awan terlihat berpenampilan sangat rapi dan menarik. Tubuhnya yang tinggi dengan dadanya yang bidang dibalut kemeja lengan panjang berwarna gelap yang digulung hingga siku dan celana berwarna senada membuatnya terlihat semakin mempesona di mata Aurora. Awan sengaja mempersiapkan diri untuk memberikan kesan terbaik bagi keluarga Aurora.
Ketika Mirna, Mama Aurora, melihat Awan duduk di ruang tamunya, perasaannya bergejolak. Sebisa mungkin Mirna berusaha menguasai mimik wajahnya agar tidak terlihat apa yang dirasakannya. Mirna menerima Awan dengan ramah dan perbincangan pun mengalir begitu saja dengan cair dan hangat di antara mereka.
Aurora sangat senang melihat bagaimana Awan dan mamanya terlihat dekat. Dari reaksi mamanya Aurora tahu kalau rencananya dan Awan sepertinya akan berjalan lancar. Setidaknya tidak ada penolakan yang ditunjukkan mamanya dan itu memberi harapan besar baginya.
Awan masih berada di rumah Aurora hingga makan malam tiba. Aurora sengaja mengusulkan pada mamanya agar mereka bisa makan malam bersama karena obrolan saat makan biasanya lebih santai dan mereka bisa menjadi lebih akrab.
Sebelum tiba waktunya makan, Heru dan Dyas beserta anak-anaknya terlihat masuk ke rumah Aurora. Mereka memang diundang untuk makan malam sekaligus berkenalan dengan Awan yang mereka dengar akan menjadi calon suami Aurora.
Aurora dengan riang memperkenalkan Awan pada keluarga Omnya dan sangat jelas terlihat kalau Aurora begitu bangga akan sosok Awan. Heru beserta keluarganya juga merasa senang karena meski sekilas melihat Awan tetapi mereka bisa menangkap niat baik Awan. Terlebih wajah sumringah Aurora dan keramahan serta kehangatan dari Mirna membuat mereka menduga kalau Mirna menerima Awan dengan tangan terbuka.
Sempat mengobrol sebentar sebelum makan malam, Heru yang selama berbincang memperhatikan Awan, mulai berpikir mengingat-ingat dan pertanyaan-pertanyaan pun hadir di pikirannya.
Saat bersama-sama menuju meja makan, Heru bertanya dengan sedikit berbisik pada Mirna, kakaknya, dengan mimik penasaran, “Mbak, itu tuh Awan yang ….”
__ADS_1
Belum sempat Heru menyelesaikan kalimatnya, Mirna sudah memotong menyuruh Heru diam, “Ssh!”
Heru pun terdiam dan tidak berani meneruskan pertanyaannya, tetapi sepanjang makan malam berusaha menelisik mencari sendiri jawaban akan dugaannya.