
Hari Sabtu akhirnya tiba. Sesuai janji yang dibuat sebelumnya, hari ini saatnya Awan menemani teman-temannya mencari sepeda.
Awan menuju Blaak Markt menggunakan sepeda, sementara yang lain menggunakan trem. Mereka berjanji akan bertemu di dekat pintu masuk Stasiun Metro (kereta bawah tanah).
Seperti biasa setiap hari Sabtu, Blaak Markt atau bisa disebut Pasar Blaak selalu ramai. Pasar ini hanya ada dua kali seminggu, hari Selasa dan Sabtu. Pasar di Belanda umumnya hanya berlangsung satu hari dalam seminggu, kecuali di kota-kota besar seperti Rotterdam ini.
Khusus pada hari Sabtu biasanya lebih banyak barang-barang yang didagangkan, termasuk sepeda bekas. Area yang menjual sayur, buah, dan ikan terpisah dari area yang menjual barang bekas, pakaian, dan peralatan rumah tangga. Di luar hari pasar, lokasi ini hanyalah sebuah lapangan terbuka.
Setelah memilih, mencoba, dan membayar sepeda yang sesuai dengan kebutuhan dan selera masing-masing, mereka berencana langsung menjajal sepeda yang baru dibeli. Maklum saja, mereka bertiga bukan pengguna sepeda di Indonesia. Terakhir kali menggunakan sepeda mungkin saat masih anak-anak, paling jauh pas remaja.
Awan mengusulkan untuk naik sepeda ke Danau Kralingse, sebuah danau kota yang dikelilingi rimbunan pepohonan. “Paling 15 menitan ke sana,”bujuk Awan.
Awan bersepeda di depan sekaligus berperan sebagai penunjuk jalan. Ternyata tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyesuaikan diri bersepeda di jalur yang tersedia, tetapi masih perlu waktu menyesuaikan diri dengan sepedanya masing-masing.
Sesekali perjalanan mereka diiringi gelak tawa karena Singgih yang kadang-kadang oleng karena belum menguasai rem sepeda menggunakan kaki.
Memasuki Danau Kralingse dengan pepohonan yang terlihat rapat di sekitarnya, mereka langsung bisa melihat kincir angin besar di sisi danau. Pepohonan di sekeliling danau sebagian daunnya mulai berubah warna, pertanda saat ini mulai memasuki musim gugur. Awan menghentikan sepedanya yang diikuti ketiga teman-temannya.
“Itu tuh… kelihatan gak yang di sana? Bangunan yang modelnya rumah Minangkabau?” tanya Awan sambil merentangkan tangannya menunjuk ke arah depan di ujung danau di sisi tempat mereka berdiri.
Hampir bersamaan, Aurora, Saras, dan Singgih menjawab,”Eh iya… ada.”
“Itu apaan, Mas?” tanya Aurora. Mereka tidak pernah tau kalau di kota semodern Rotterdam bisa menemukan rumah tradisional Minangkabau.
“Restoran,” jawab Awan. “Nama restorannya Minang Kabau Baru,” lanjutnya.
“Ha? Restoran Padang?” Saras bertanya dengan nada penuh keterkejutan.
__ADS_1
Awan tergelak. “Enggak juga siiiih… menunya udah campur, menu Indonesia ama Eropa,” jelasnya.
“Ooh… kirain,” Saras pun tertawa bersama teman-temannya.
“Lucu juga ya bisa ada rumah khas kayak gitu di sini. Berasa di Taman Mini.” Singgih ikut mengomentari kehadiran rumah itu yang seperti tidak pada tempatnya.
“Ke sana, yuk,” ajak Aurora. Mereka pun mengayuh kembali sepeda mereka mendekati Restoran Minang Kabau Baru dan langsung terkagum-kagum melihat bangunan yang sangat persis dengan rumah di Sumatera Barat sana.
Berkeliling memperhatikan rumah bear dari kayu ini, Aurora penasaran. “Ini restorannya mahal gak, Mas? Mas Awan pernah makan di sini?”
“Mahal sih kalau untuk ukuran kita mahasiswa. Ya tapi aku pernah makan di sini sama temen-temen dulu. Biar gak penasaran aja, pingin tau kayak apa makanannya,”jelas Awan.
“Enak?” Kali ini Saras yang bertanya.
Setelah berkeliling melihat-lihat dan puas mengambil foto, mereka memutuskan duduk beristirahat sambil memandang danau yang tenang.
Dari tasnya Awan mengeluarkan stroopwafel, sejenis kue wafel kering tipis dengan gula karamel, lalu menawarkan kue itu kepada yang lain. Masing-masing sudah mengeluarkan botol air minum berusaha menghapus dahaga akibat berlelah dengan sepeda hari ini.
Sambil menikmati stroopwafel yang renyah dan manis di mulut, Saras mengeluarkan suaranya yang terdengar manja.
“Mas Awan harus tanggung jawab niiiih…. Ngajakin kita ke sini, lumayan capek juga ternyata. Harus dipijetin nih, Mas,” kata Saras sambil memukul-mukul betisnya dengan sebelah tangan.
Aurora melirik Awan untuk melihat ekspresi Awan dan menunggu jawabannya.
Awan tertawa. Belum sempat Awan menjawab justru suara Singgih yang terdengar.
“Sini aku yang pijitin. Tapi ntar gantian ya mijit aku juga.”
__ADS_1
“Iya, abis itu pijitin aku lagi. Pegel soalnya mijitin kamu,” ujar Saras dengan bibir yang dimajukan beberapa senti sambil mimiknya berpura-pura kesal.
Singgih menanggapi, “Gakpapa… trus ntar aku dipijit lagi, tapi. Trus gantian. Trus gantian lagi. Ya gitu aja kita pijit-pijitan sampe taun depan!”
Lalu dia tergelak.
“Gak mau ah! Ntar aku disambit lagi sama yang di Bali. Mendingan pegel deh….” Saras menimpali Singgih dengan menaikkan bahunya seolah merinding dan memasang mimik wajah berpura-pura ketakutan.
Mereka semua sama-sama tertawa tergelak mendengar candaan antara Saras dan Singgih. Mereka berdua memang sama-sama supel dan senang bercanda.
“Ddddeuh, kenapa sih dia ini manis banget kalo lagi ketawa?” Awan tak bisa menahan pikirannya saat melihat Aurora tertawa lepas, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi melengkapi wajah berhiaskan lesung pipi.
Kalau saja dia sedang tak sadar, mungkin tangannya saat ini sudah bergerak mencubit gemas pipi Aurora. “Tahan, Wan… tahan. Sabar….” Awan mencoba menenangkan diri dari gejolak di dadanya.
Melihat matahari semakin tinggi mereka memutuskan cukup beristirahat dan kembali ke apartemen. Pengalaman pertama bersepeda cukup menyenangkan bagi Aurora, Saras, dan Singgih. Benar kata Awan, harus naik sepeda supaya benar-benar merasakan tinggal di Belanda.
Sesampainya di apartemen mereka menyimpan sepeda di tempat parkir sepeda yang tersedia tidak jauh dari pintu masuk.
“Ini aman gak, Wan?” tanya Singgih sambil mengunci gembok rantai yang mengikat roda depan sepedanya dengan sandaran parkir.
“Gak jamin 100% siih,” jawab Awan sambil tersenyum lebar.
“Bisa aja besok sisa roda depan aja sama rantainya atau malah yang hilang cuma sadelnya.”
Aurora tersentak. ”Ha??”
Mulutnya terbuka lebar membuat Awan terkekeh.
“Tapi aku dari dulu aman-aman aja sih…, “ujar Awan cepat berusaha menenangkan.
__ADS_1