AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
13 FAKTA PERJALANAN “AKHIR KISAH KITA”


__ADS_3

(satu)


Niat awal saat menulis cerita ini sebenarnya hanya 20-an episode saja, sesuai syarat kontrak di noveltoon/mangatoon, dengan 1000-an kata per episode.


Nyatanya? Ehm, berkembang jadi 42 episode dan tiap episodenya cukup panjang (mungkin bisa dibagi 2, tapi bingung motongnya di mana).


Sejujurnya sebagai pembaca lebih milih yang jumlah episodenya sedikit karena aku tak sanggup harus membaca lebih dari ratusan bahkan ribuan episode. (Daya tahan dan kesabaranku tak sepanjang itu.. huhuhuu…) Makanya milih bikin cerita yang tanpa konflik, lurus-lurus aja, cepat selesai.


Adakah yang bisa menebak episode mana yang jumlah katanya paling banyak, dan mana yang paling sedikit? (pertanyaan quiz inih!)


(dua)


Cerita ini merupakan cerita fiksi tapi dibalut dengan kondisi nyata. Karena niatnya dari awal memang semacam cerita berbau wisata dan ada unsur informasi tentang bagaimana kehidupan (mahasiswa) di Belanda, maka … ada banyak nama tempat di cerita ini.


Apakah semuanya bisa ditemukan di dunia nyata?


Iya, kecuali ada 2 tempat (mmm, mungkin yang satunya bukan tempat sih) yang disamarkan namanya. (kalo ada yg niat jadi detektif, kayaknya bisa ketemu nama aslinya … *apa jadi pertanyaan quiz aja?)


(tiga)


Selain tempat, ada banyak nama orang juga nih … Apakah mereka tokoh nyata?


Iyap, ada 4 orang tokoh nyata sesuai pekerjaan mereka masing-masing; tapi hanya 1 orang yang tetap dengan nama aslinya, tokoh ini hanya disebutkan 2 x sepanjang cerita. Siapakah dia? (pertanyaan quiz lagi)


(empat)


Dengan niat bikin cerita semi reportase wisata, butuh waktu cukup (atau mungkin sangat?) lama untuk berselancar bersama Mbah Google untuk nyusun itinerary perjalanan dengan informasi yang cukup terkini.


Sampai-sampai harus buka google maps untuk membayangkan rute perjalanan. Udah bikin rute yang masuk akal, masih harus ngulik informasi tentang tiap tempat yang diceritakan.


Akibatnya … tetiba banyak iklan masuk di medsos pribadi soal Red Light District (hahahahaha…. sokooor!).


(lima)


Karena sadar punya banyak kekurangan dalam berbahasa dan menulis, memaksa diri untuk bolak-balik buka KBBI dan kamus sinonim (beruntunglah hidup di masa kini ditemani si Mbah G).


Niatnya sih gak mau bikin pembaca mundur karena banyak penulisan yang salah dan berantakan … (tapi kayaknya banyak pembaca yang gak terlalu peduli juga sih, yang penting ide & jalan ceritanya *manyun di pojokan)


Tapi sebenarnya sangat bersyukur sih, karena lewat menulis ini menemukan kalau selama ini banyak sekali menggunakan istilah atau penulisan yang salah tanpa sadar!


Etapi, tetep sih ada satu kata yang aku pakai, dengan arti yg umum digunakan orang, tapi kalau baca di KBBI sebenarnya artinya sedikit (atau banyak?) berbeda. (ada yg mau menebak kata apa? *pertanyaan quiz juga bisa)


(enam)

__ADS_1


Berselancar dengan Mbah G yang lain adalah memastikan suhu di setiap musim dan waktu terbit/terbenam matahari, terutama saat musim panas (karena mau memasukkan info soal berpuasa di musim itu).


Waktu nyusun ceritanya juga sengaja bikin garis waktu (timeline) tahun dan bahkan bulan supaya semua waktu kejadian bisa masuk akal.


(tujuh)


Setiap kali selesai menulis satu naskah, itu bisa dibaca berulang kali, edit lagi … udah diserahkan ke tim review, eh edit lagi …


Tetap saja setelah UP dan ikut membaca, barulah itu kelihatan yg typo atau salah tanda baca, atau malah merasa kalimatnya gak enak dibaca.


Cuma membatin: hellow… kenapa kemaren ini gak kelihatan??? Matanya di mana??? (eh, gak seekstrim itu juga)


Meski sudah ketemu penulisan kata yang benar lewat KBBI, masih saja banyak penulisan yang kalau dilihat-lihat lagi (setelah publish), gak sesuai EYD.. hahaha..


Memang, manusia tak sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah *uhuk –sungguh bijak.


(delapan)


Ada banyak hal-hal detil yang akhirnya tidak diceritakan (kepanjangan? malas nulisnya?)


Misalnya, kenapa meski kuliah di tempat yang sama di Bandung, tapi orang tua mereka gak pernah memperkenalkan Awan dan Aurora? Kan bisa ya maksudnya “nitip” Aurora, gitu….


Atau, bagaimana mama Aurora menjelaskan pada Aurora tentang papanya?


Atau, mungkin ada yang bertanya, cetek amat cuma dibilang ketemu kenalan baru, langsung “dikerjain”?


Oya, termasuk gak jadi menyampaikan kalau nama Aurora ada “mentari”-nya karena dikasih ortunya Awan (dua anak mereka pun namanya berarti matahari … surya & adhisti –nyari nama ini pun nanya Mbah G dulu.. hahaha.. eh mustinya ini jadi pertanyaan quiz aja ya)


(sembilan)


Ide awal cerita sedikit berbelok ketika pertengahan menulis, terutama dengan cara apa Awan punya prasangka pada ayahnya (tadinya sih maunya bukan foto, tapi fotokopi buku nikah.. hehehehe..) dan hubungan apa antara ayahnya dengan mama Aurora (tadinya sih mau beneran nikah palsu, hanya untuk status mama Aurora, lalu bercerai).


Ide awal banget malah maunya ibunya gak tahu apa-apa, biar lebih dramatis dan ‘menggigit’.. hahahaha….


Tapi apa daya hidupku pun sudah banyak drama (meski memang jadinya ceritanya lemah dan kurang nendang *hadezig!)


(sepuluh)


Saat sedang menulis, aku pernah merasakan jatuh cinta pada tokoh Awan dan Aurora, karena memasukkan banyak hal baik dari karakter dan sifat beragam orang yang dikenal dalam satu tokoh. Seolah mereka sempurna, ya kan?


Adegan-adegan manis yang coba dihadirkan pun hasil dari menyaksikan apa yang dialami orang lain atau keinginanku yang gak kesampaian. *yg terakhir abaikan


(sebelas)

__ADS_1


Yang membaca pasti pada nyadar kalau menjelang akhir cerita terasa terburu-buru untuk selesai.


Iyeeessss…. bener banget!!!


Mengaku dengan jujur, memang terburu-buru diselesaikan, karena ternyata menulis cerita itu menyita waktu dan energi baaaanyak sekali.


Jadi pengen cepat-cepat selesai apalagi sebenarnya sampai pertengahan pun pembacanya sedikit (dengan statistik 1 digit).


Ditambah kerjaan kantor tensinya meningkat, jadi bener-bener kayak “Aaaarrrrghhh, kapan selesainya ini??”


Sambil episodenya nambah terus.. hahahaha..


Semakin ke akhir udah semakin letoy mau bikin dialog, lebih banyak cerita dari penulis aja *maap yeee


Salut, angkat topi – jempol tangan – jempol kaki, sama penulis-penulis yang bisa paralel nulis dua cerita malah lebih, episodenya panjang-panjang pula, jalan ceritanya pun ajib-ajib. Kalian luar biasa!! *salamhormat


(dua belas)


Selama menulis ini sebenarnya berulang kali patah arang saat melihat statistik jumlah pembaca tersipumalu.


Ada 2 hal yang membuat tidak berhenti: satu, karena ada seorang pembaca yang begitu setia hadir memberikan komentarnya, amat dan sangat jujur diakui kalau itu jadi api yang terus membakar semangat (biarpun gak berkobar2 –karena bukan markobar–, tapi tetap nyala);


kedua, karena ingin menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Baca cerita yang gantung kan nyebelin ya? Hehehe…


Mau promo cerita, tapi gagap mau promosi gimana. Merasa segan kalau spam promo di mana-mana trus jadi malah mengganggu pembaca lain. ehlulagilulagi


(tiga belas)


Biarpun statistiknya sempat bikin kecil hati (hiks), tapi sungguh-sungguh bersyukur dan senang karena lewat menulis ini aku bisa bernostalgia,


mengais-ais memori lama yang tersisa dan bisa dituangkan dalam cerita,


tambah juga pengetahuan berbahasa,


daaan … jadi arena bersyukur untuk semua hal yang pernah aku jalani selama hidup. *ciyeeee sok bijak lagi, bukannya kasih pertanyaan quiz ah!


(empat belas)


Bentar … kok 14? Katanya 13?!


Iya, 13 kok … soalnya yang ini cuma penutup aja. Digantung gak enak tokh …


Sebagai penutup, sekali lagi ingin berterima kasih kepada semua yang sudah memberi support, sudah setia membaca, baru saja selesai membaca, atau bahkan ada yang baca bagian ini dulu baru ke episode 1?

__ADS_1


Siapa pun kalian, di mana pun …


TERIMA KASIH untuk perjalanan yang sungguh indah *menjura


__ADS_2