AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Boleh Cemburu


__ADS_3

Kuliah telah kembali dimulai dan menjadi lebih berat dari waktu sebelumnya, karena mereka sudah harus masuk penjurusan sesuai dengan fokus thesis masing-masing. Kali ini tidak seluruh mata kuliah harus diikuti bersama, karena ada beberapa mata kuliah yang sudah dibagi sesuai dengan penjurusan yang dipilih. Aurora memilih penjurusan yang sama dengan Singgih karena topik thesis mereka memang dalam satu tema yang sama. Saras ada di penjurusan yang sama dengan Lukas dan Iqbal, serta tentu saja bersama Nelu.


Karena sudah harus mulai mengerjakan thesisnya, Aurora sering mengisi obrolannya bersama Awan di perpustakaan dengan berdiskusi mengenai kemajuan thesisnya. Awan menempatkan diri sebagai teman diskusi yang bisa memberikan masukan, tetapi membiarkan Aurora mencari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya, mengingat thesis adalah tanggung jawab pribadi Aurora. Awan berusaha menjadi penyemangat yang setia mendampingi dan siap menampung apapun keluh kesah Aurora.


Ketika sedang berdua membaca buku di sudut perpustakaan, kadang kala Awan tidak sadar kalau dia membaca sambil tangannya tidak pernah diam. Entah jarinya yang memainkan rambut hitam Aurora yang tergerai atau sesekali dia juga menempatkan tangannya di kepala Aurora, merentangkan jari-jarinya seolah mencengkeram mengalirkan energi bagi otak Aurora agar semakin cepat memahami apa yang dia baca. Aurora membiarkan saja Awan dengan segala aktivitasnya, karena dia memang menyukai apa pun yang dilakukan Awan. Semua itu selalu membuat hatinya hangat. Bagi Aurora, tingkah laku Awan adalah bentuk perhatian Awan padanya.


Hani yang memperhatikan kalau Awan dan Aurora terlihat semakin dekat, iseng bertanya pada Awan ketika melihat Awan hanya sendirian di perpustakaan. “Aurora mana, Wan?”


“Lagi kuliah, Mbak.” Awan menjawab dengan senyuman tersungging di bibirnya.


“Kalian itu cocok loh berdua.”


Senyuman Awan semakin lebar. “Bisa aja nih Mbak Hani.”


“Beneran lho… eh kalian udah pacaran, kan?” Hani langsung menebak.


Awan akhirnya tertawa. “Iya, Mbak... udah.”


“Semoga langgeng ya, nanti aku harus dengar kabar bahagianya. Happy for you both,” kata Hani menyampaikan harapannya.


Mendengar perkataan Hani, Awan segera merasakan hatinya diliputi rasa senang karena artinya dia tidak salah telah memilih Aurora. “Dank u wel, Mbak Hani.” Bibir Awan kembali membentuk senyuman.


Pulang dari kampus bersama, Awan dan Aurora masih menggunakan trem karena cuaca belum bersahabat untuk kembali naik sepeda. Duduk berdampingan di dalam trem, terlihat jemari mereka saling berpaut.


Aurora tenggelam dalam lamunannya. “Begini ya ternyata rasanya punya pacar, tiap hari jadi lebih bersemangat… ada tempat untuk bersandar. Mas Awan juga bisa diajak diskusi apa aja, lagi. Kalau ngasih nasehat dan masukan, Mas Awan gak pernah menggurui… malah kayak sharing pengalaman pribadi dan lebih ke ngasih contoh. Cara Mas Awan ngasih perhatian sama perlindungan juga beda.” Ingatan Aurora pun terbang ke belakang, teringat dulu Saras pernah mengatakan kalau Awan itu malaikat pelindung. Ternyata benar, Awan kini sudah jadi malaikat pelindung bagi Aurora.


--


Hari ini Aurora sudah punya janji dengan Awan akan bertemu di Social Room selesai kuliah. Baru sampai di pintu, Aurora seperti mengalami deja vu ketika melihat Samantha yang sedang berbincang akrab dengan Awan.


“Iya sih, Mas Awan tuh selalu ramah ke siapa saja, tapi kok sepertinya mereka berdua dekat sekali sih? Seperti bukan ngobrol seadanya.”


Aurora merasa hatinya porak poranda, tetapi berusaha menguasai diri untuk tenang dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum sambil mulai melangkah. Awan yang melihat Aurora spontan tersenyum lebar dan melambaikan tangan memanggil agar Aurora mendekat. Hanya bertegur sapa dan sedikit berbasa-basi, tak lama pun Samantha pamit hendak ke kantin, meninggalkan Awan dan Aurora yang duduk berhadapan di sisi jendela.


Aurora ingin menyampaikan kegundahan hatinya pada Awan, tetapi akhirnya dia memilih menahan diri. Pasalnya, saat ini moodnya sedang tidak mendukung dan terlebih mereka sedang berada di kampus. Kalau Aurora nanti menangis di sini, kan repot.


Awan menyadari ada yang tidak biasa pada raut wajah Aurora siang ini. Sambil mengajak Aurora berbicara, Awan mencoba menebak-nebak apa yang terjadi pada Aurora. “Kenapa ya Aurora? Aku ada bikin salah? Atau dia lagi pusing sama kuliahnya? Kalau aku tanya sekarang dengan kondisinya lagi seperti ini, pasti dia ngelak.” Awan memilih mengabaikan rona gelisah di wajah Aurora, menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.

__ADS_1


Pulang dari kampus mereka singgah untuk berbelanja di supermarket yang biasa mereka lewati dalam perjalanan pulang. Sambil memilih-milih barang yang akan dibeli akhirnya Aurora mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi ditahannya.


“Tadi sama Sam ngobrol apa aja, Mas? Kayaknya seru banget.”


“Aaah… ngobrol biasa aja. Masak sih kelihatan seru?” Awan menjawab sambil berkonsentrasi membaca label kemasan biskuit di tangannya untuk melihat daftar kandungan bahan baku, apakah ada kode bahan makanan yang tidak halal di sana.


“Yaah… asyik sih, mana nyadar kalo kelihatan seru banget.” Ada nada sinis terdengar di sana.


Awan terkesiap dan mengembalikan biskuit yang dipegangnya ke dalam rak. Dia mulai menangkap arah pembicaraan Aurora dan tertawa dalam hati. “Oooh, Aurora cemburu nih.”


“Kenapa, Au… gak suka ya lihat aku ngobrol sama Sam.”


Aurora menjawab cepat, bahkan sangat cepat. “Ha? Enggak… gakpapa kok. Kalau mau ngobrol ya ngobrol aja.” Nada suara Aurora sangat jelas tidak sinkron dengan isi ucapannya.


Awan pun langsung menembak tepat pada sasaran. “Cemburu ya?” Awan mencoba melihat ekspresi Aurora lebih jelas.


“Ih, apaan! Siapa yang cemburu?” Aurora cepat membantah.


Pandangannya dialihkan tak mau melihat Awan sementara di dalam hatinya dia menjerit, “Iya, cemburu!”


Hanya saja Aurora tak berani terus terang mengatakan kalau dia cemburu, takut dianggap kekanak-kanakan dan terlalu posesif oleh Awan. “Bagaimana kalau Mas Awan tidak suka?” pikirnya.


Aurora masih tidak mau terima Awan sudah menebak tepat kalau dia cemburu.


“Dih!” gumamnya kesal sambil mengalihkan pandangan ke samping.


Awan pun meletakkan tangannya di kedua pundak Aurora. Dengan suara lembut dia berusaha membujuk, “Aurora, lihat aku dong….”


Aurora merasa tak enak hati hingga perlahan akhirnya dia menggeser pandangannya ke arah Awan, tetapi bibirnya tetap mendatar.


Suara lembut Awan kembali terdengar. “Aku gakpapa kok kalo kamu memang cemburu, asal mau dengar penjelasanku.”


Awan pun melanjutkan, “Mungkin kamu sering lihat aku ngobrol dengan Sam. Mungkin memang terlihatnya kami akrab. Kenapa bisa seperti itu?” Awan mengambil napas dan menunggu reaksi Aurora.


“Karena temanku dulu si Albert yang juga dari Filipina, ternyata teman kerjanya Sam. Jadi… kami kenal orang yang sama, Au. Itu yang bikin kami jadi terlihat lebih dekat. Nah, paham kan sekarang?”


Aurora tidak segera menjawab, dia hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


“Senyum doong...,” kata Awan sambil tersenyum jahil menggoda.


Aurora pun akhirnya menyunggingkan senyum pada bibirnya dan buru-buru menunduk karena malu telah cemburu buta dan malu digoda Awan.


Melihat tingkah Aurora, Awan pun segera mendekap Aurora sambil mengusap-usap cepat punggung Aurora memberikan ketenangan. Hanya sebentar dia pun melepaskan pelukannya, tetapi tangannya masih berada di bahu Aurora.


“Udah tenang, kan? Yuk, kita lanjut belanja ya.”


Aurora pun kembali tersenyum dan menjawab dengan suara pelan, “Iya, Mas… yuk.” Tangannya memasukkan biskuit yang tadi dipegangnya ke dalam keranjang, lalu mereka pun bergandengan tangan melanjutkan langkah mencari kebutuhan lain.


Pulang dari belanja Aurora masih tinggal di kamar Awan karena seperti biasanya dia membantu Awan membereskan barang belanjaan. Setelah selesai beberes, Aurora kemudian membuat dua cangkir coklat panas untuk menghangatkan tubuh, satu untuknya dan satu untuk Awan. Ia lalu menghampiri Awan yang duduk santai di sofa menonton film yang ditayangkan di televisi. Duduk berdampingan, Awan merangkul bahu Aurora sementara Aurora menyandarkan kepalanya ke badan Awan sambil kedua tangannya memegang cangkir panas.


Tak ada seorang pun yang berbicara, mereka hanya melihat ke arah televisi dan menikmati kedekatan dan kehangatan tubuh mereka saat berdua. Aurora yang hatinya sudah tenang dari rasa cemburu merasakan kenyamanan yang membuatnya betah berada dalam rangkulan Awan. Dia merasa terlindungi.


Setelah menghabiskan coklat panas miliknya dan menikmati duduk diam bersama Awan, Aurora mengambil cangkir yang juga sudah kosong dari tangan Awan. Sebelum bangkit, Aurora merasakan puncak kepalanya dikecup lembut oleh Awan. Hatinya berdesir.


Selesai mencuci Aurora pun mengutarakan niatnya akan kembali ke kamar. “Mas Awan, aku balik ya.”


Awan mengalihkan pandangannya dari TV ke arah Aurora. “Oh, mau pulang?”


“Iya, Mas. Aku mau bikin tugas lagi.” Aurora mulai membereskan barang belanjaan miliknya.


“Oh, OK.” Awan pun bangkit berdiri dan menyusul Aurora melangkah ke arah pintu. Sebelum tangannya membukakan pintu bagi Aurora, Awan menyempatkan mengelus lembut punggung Aurora. “Terima kasih ya,” katanya lalu sekilas mengecup kening Aurora.


Aurora tersenyum menerima perlakuan Awan. Saat berada di dalam lift menuju ke kamarnya, terlintas pemikiran di kepala Aurora. “Bagaimana ya nanti kalau sudah kembali ke Indonesia, gak bisa ngerasain perlakuan-perlakuan Mas Awan yang bikin hati berdesir dan berbunga-bunga? Bakal kehilangan banget… hilang untuk sementara apa jangan-jangan seterusnya?” Aurora menggeleng cepat karena pikiran buruk yang tiba-tiba ikut masuk dalam pikirannya. “Ah, jangan dipikirin. Jalanin aja dulu,” ucap Aurora pelan menenangkan hatinya.


Malam itu Aurora menikmati makan malam sendirian karena Saras sebelumnya pamit untuk bertemu Nelu. Selesai makan barulah dia mulai bersiap diri tenggelam mengerjakan tugas kuliahnya. Ketika waktu sudah menunjukkan hampir pukul 22.00, ada pesan masuk dari Awan.


Awan: Udah selesai tugasnya?


Aurora: Belum Mas, dikit lagi.


Awan: Semangat ya, pasti bisa cepat selesai. Kalau udah selesai langsung tidur ya, istirahat cukup.


Aurora: Siap, laksanakan! Makasih Masku…


Awan tersenyum bahagia membaca kata ‘masku’ yang tertulis dalam pesan Aurora.

__ADS_1


Awan: ❤


Kali ini Aurora yang berbahagia dan bersemangat untuk secepatnya menyelesaikan tugas, agar bisa segera beristirahat dan membawa Awan dalam bunga tidurnya.


__ADS_2