AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Rahasia Keluarga (4)


__ADS_3

Awan memejamkan matanya dan remasan tangannya pada pegangan kursi pun semakin kuat, mengambil ancang-ancang bersiap diri mendengar respon berikutnya dari ibunya yang sepertinya akan mengarah pada prahara.


Meski Awan menjawab dengan suara lirih dan anggukan pelan, mampu membuat Ratih langsung berdiri dari duduknya. Tindakan selanjutnya sungguh tak disangka, Ratih bertepuk tangan dan berbicara setengah berteriak.


“Ya ampun, Waaan … Ya ampun, Awan ….”


Nada suaranya terdengar sangat gembira yang membuat Awan terkejut heran dan bingung. Saat dia melihat ke arah ibunya, Ratih sedang dalam posisi tangan terangkat berdoa, memejamkan mata, tetapi mulutnya terbuka dengan pipi yang meninggi, menunjukkan bahwa ia sedang tersenyum lebar.


Awan masih duduk dalam diam, heran seheran-herannya. “Ibu kenapa, ya?”


Ratih membuka matanya dan segera kembali duduk dengan senyum sumringah yang tergambar di wajahnya. Tak perlu pembaca wajah untuk tahu bahwa hatinya sedang sangat bersukacita. Ratih cepat melihat ke arah Awan dan kembali memegang tangan Awan yang masih berada di sandaran kursi.


“Wan, maksud kamu calonmu itu nak Aurora?” nada suaranya kini terdengar berharap cemas.


“Loh, Ibu tahu Aurora, tapi kok senang?”


Awan sekarang malah bingung memahami reaksi ibunya. Sikap senang ibunya tidak masuk dalam daftar kemungkinan respon yang sempat Awan pikirkan sebelumnya.


“Apa jangan-jangan ada yang salah?” Awan masih tidak habis pikir dan membuatnya tidak bereaksi apa-apa.


“Heh! Diajak omong malah bengong,” sergah Ratih karena melihat Awan hanya diam saja.


Seruan Ratih membuat Awan tersentak dan setengah tersadar kembali ke alam nyata.


“Eh? I-i-ya Bu?”


“Itu, tadi katanya kamu sudah punya calon istri. Maksud kamu calonmu itu nak Aurora, anaknya dek Asih?”


“Eh? I-iya be-benar, Bu …” ujar Awan tersendat dan mengangguk kaku karena masih belum sadar sepenuhnya dan belum mampu menangkap maksud dari reaksi ibunya.


Ratih menangkup kedua tangannya di dada, mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum lebar, bahkan sangat lebar.


“Aaaah, Ibu senang banget, Wan. Ini ayahmu pasti juga senang banget,” kata Ratih dengan senyuman yang tak juga luntur dari wajahnya.


“Ayah?” Awan bertanya dengan nada heran.


“Ya iya lah.”


“Memangnya ayah punya hubungan apa dengan bu Asih?” Awan masih dengan dugaan awalnya, ada sesuatu yang terjalin antara ayahnya dengan mama Aurora.


Ratih tidak menyadari kalau Awan bertanya dengan sedikit kegusaran yang disamarkan. Dengan santai Ratih menjawab, “Ya itu tadi, sekretarisnya.”


“Cuma sekretaris? Gak ada hubungan lainnya?”


Kali ini Ratih menangkap nada gusar di ucapan Awan. Dengan mengernyitkan dahinya Ratih bertanya, “Hubungan apa lagi maksudnya, Wan?”

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Awan langsung melontarkan rasa penasarannya yang sudah terpendam bertahun-tahun dan kemarin muncul lagi ke permukaan setelah pertemuannya dengan mama Aurora.


“Awan pernah lihat foto ayah berdua bu Asih yang sedang hamil, Bu. Ayah sama bu Asih memang gak punya hubungan lain selain hubungan kerja?”


Kalimatnya meluncur cepat tanpa terkontrol. Ratih tiba-tiba tersadar ketika mencerna ucapan Awan.


“Eh, Wan … apa kamu mikirnya dek Asih itu hamil karena ayah?” Nada suaranya mulai meninggi.


Awan mulai merasakan perasaan tak nyaman di hatinya mendengar suara ibunya yang seperti tampak mulai marah. Tapi kepalang tanggung, Awan tak berhenti.


“Ngapain ayah nyimpan foto berdua bu Asih dalam kondisi hamil?” Awan memalingkan mukanya karena tak ingin ibunya bisa melihat wajahnya yang sudah panas dengan raut wajah kesal.


Awan dan ibunya sama-sama diam. Sempat hening sebentar, Ratih pun mulai kembali berbicara dengan suara yang lebih lembut dan sabar.


“Kamu lihatnya foto apa, Wan?”


Dengan kepala menunduk dan jemari tangan yang saling meremas, Awan yang masih gelisah pun menjawab, “Waktu itu Awan lihat foto ayah, tapi pakaian ayah bukan pakaian kerja. Di foto itu ayah sedang bersama bu Asih dan kelihatan sekali kalau bu Asih itu sedang hamil besar.”


Mendengar penjelasan Awan, Ratih mulai tersenyum memandang Awan yang tepekur, tetapi senyum itu tidak dilihat Awan.


“Kamu lihat berapa foto memangnya?”


“Ada dua, Bu.”


“Cuma dua?” Nada suara Ratih terdengar seperti sedang menggoda Awan.


Tiba-tiba senyum Ratih semakin melebar dan membingungkan Awan.


“Awan … Awan. Kamu itu ada-ada saja. Kapan kamu lihat foto itu?”


Awan mulai mengerutkan dahinya, apa hubungannya pikirnya. “Waktu SMA, Bu.”


Mendengar jawaban Awan, Ratih cepat membalas. “Huu … kamu itu sudah SMA kok ndak pikir panjang.”


“Loh, kok Ibu bilang gitu? Apa lagi ini?”


“Kamu cuma lihat dua foto itu terus kamu mikir apa? Ayahmu punya istri lagi, gitu? Atau malah kamu pikir ayah bikin hamil sekretarisnya? Iya?”


Awan diam saja tak menjawab pertanyaan ibunya. Perasaannya mulai tidak enak dirasuki rasa bersalah mendengar nada suara ibunya yang terdengar serius.


“Kalau kamu lanjutkan lihat foto lainnya, kamu ndak akan punya pemikiran kayak gitu, Wan. Waktu ayah berfoto, itu Ibu yang fotokan. Di foto lainnya ada kok foto Ibu. Ada foto berdua ayah, ada juga foto ibu sama dek Asih saja.”


Ratih mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan, “Itu foto waktu dek Asih siap-siap mau operasi waktu melahirkan Aurora. Ibu dan ayah ikut menemani dek Asih di Surabaya.”


Penjelasan ibunya malah mendatangkan keheranan yang lain di benak Awan. Dia tetap curiga pasti ada sesuatu yang terjadi.

__ADS_1


”Kenapa Ibu dan ayah harus temani bu Asih melahirkan di Surabaya?”


Ratih memperhatikan ekspresi Awan yang terlihat penasaran dan tahu kalau anaknya tidak tenang.


“Mmm, ceritanya panjang, Wan. Kalau diingat-ingat, Ibu jadi sedih.” Raut wajah Ratih mulai berubah dan terlihat sedih, dalam diam seperti merenung. “Apakah ini saatnya menyampaikan kisah yang tak pernah kami ungkapkan pada anak-anak?” batinnya bertanya.


Awan membiarkan ibunya terdiam meski hatinya tidak sabar. Dengan perlahan Awan mencoba bertanya, “Awan boleh tahu ceritanya, Bu?”


“Hmm?” Ratih seperti disadarkan dari lamunannya dan melihat ke arah Awan. Tampak dengan jelas raut wajah Awan menuntut penjelasan.


Setelah mengembuskan napas panjang, Ratih pun menjawab Awan. “Iya, Wan … biar kamu juga ndak salah duga ke ayahmu. Ini memang belum pernah Ibu ceritakan pada kamu dan adikmu.”


“Kamu pernah dengar kan cerita waktu Dhisti lahir, ayahmu lagi perjalanan ke luar negeri? Gara-gara adikmu itu terlalu cepat lahir. Ibu waktu itu panik, ndak ada yang bisa temani Ibu. Kakekmu waktu itu sedang sakit harus ditungguin nenek, sementara eyangmu juga waktu itu masih di Semarang. Kamu waktu itu masih kecil terpaksa Ibu tinggal sama si Mbok di rumah.


“Jadi yang waktu itu Ibu mintai tolong temani Ibu ke rumah sakit, ya dek Asih. Dia temani Ibu dari malam sampai Ibu melahirkan Dhisti paginya. Sorenya dek Asih mampir lagi ke rumah sakit pulang dari kantor. Pulangnya sudah malam Ibu suruh naik taksi saja tapi dek Asih ndak mau.”


Ratih terdiam. Pikirannya menerawang kembali ke ingatan masa lalu. Awan berusaha bersabar, tidak mau menyela cerita ibunya.


Suara Ratih kembali terdengar.


“Entah gimana waktu pulang itu dek Asih ndak sengaja ketemu kenalannya. Katanya sih sebenarnya baru kenal, pernah kenalan di kereta. Rupanya kenalannya itu orangnya jahat. Dek Asih dikerjain!”


Raut wajah Ratih berubah geram.


“Karena takut, dek Asih sempat ndak mau cerita ke siapa-siapa. Taunya dek Asih hamil.” Kembali kesedihan hadir di wajah Ratih.


“Waktu itu dek Asih Ibu suruh ke rumah, temani Ibu karena si Mbok pulang kampung. Ibu lihat dek Asih kayak sakit, mukanya kelihatan pucat.”


Jeda sebentar, kemudian Ratih melanjutkan, “Setelah Ibu desak akhirnya dek Asih cerita kalau baru tahu dia hamil. Ibu waktu itu sedih sekali, Wan. Ibu merasa sangat bersalah karena waktu itu dek Asih kan habis pulang dari rumah sakit, Ibu yang minta. Ibu waktu itu nangis terus ndak bisa berhenti.


“Dek Asih ndak tahu mau cari orang itu ke mana. Soalnya dek Asih benar-benar ndak tahu alamat atau nomer teleponnya. Dulu kan belum ada HP, Wan.”


Ratih masih meneruskan, “Dek Asih juga ndak berani gugurkan kandungan, takut ngerasa bersalah terus-terusan. Dek Asih belum berani ngomong ke siapa-siapa, baru ke Ibu saja, itu. Dek Asih kan yatim piatu, cuma ada adiknya satu.”


Awan menahan napasnya mendengar cerita ibunya. “Apa Aurora tahu kisah ini? Atau ini tetap jadi rahasia keluarganya tanpa Aurora tahu?”


Cerita ibunya ternyata masih berlanjut.


“Waktu itu Ibu memohon ke ayahmu supaya nikahin dek Asih, Wan. Supaya ndak jadi omongan orang, dek Asih hamil gak ada suaminya. Soal–”


“Ibu??” Awan terkejut dan langsung memotong cerita ibunya .


“Sik toh, Wan … tunggu Ibu selesaikan cerita,” balas Ratih meminta Awan tenang.


“Ibu minta begitu, karena kalau itu Ibu yang jalani, mungkin Ibu cuma pingin segera mati! Gimana mau hidup? Kalau ada yang menikahi minimal kan ada beban yang berkurang. Itu yang Ibu pikir waktu itu.”

__ADS_1


Awan mulai was-was mendengar kelanjutan cerita ibunya.


“Apakah ini seperti yang aku pikirkan? Ayah memang menikahi mama Aurora? Ada rahasia lainnya lagi?”


__ADS_2