
Hari kedua di Paris mereka awali dengan langsung menuju Museum Louvre yang tersohor itu. Sebenarnya mereka cukup penasaran untuk bisa masuk dan melihat-lihat koleksi museum, terutama lukisan Monalisa yang senyumnya dikenal penuh misteri. Namun, menimbang-nimbang mereka semua bukanlah penikmat seni dan harga tiket masuk yang cukup mahal, maka rencana untuk masuk ke dalam museum pun batal.
Mereka cukup mendapatkan cerita saja dari Awan, apa saja yang kira-kira bisa dinikmati di dalam sana. Awan beruntung karena dia bersama teman-temannya dulu sengaja pergi ke Louvre di awal bulan, saat tiket masuk museum diberikan gratis kepada pengunjung.
Meskipun tidak masuk ke dalam museum, tapi mereka menghabiskan waktu cukup lama di sekitar Museum Louvre. Berbagai pose mereka coba supaya punya foto dengan pose paling unik di depan piramida kaca yang terletak di tengah-tengah area. Ada pose memegang ujung piramida, melompat, melayang, tiduran, bahkan Singgih pun berpose sambil bergaya sedang menari Bali. Tak habis-habisnya mereka tertawa sampai perut keram, melihat kekonyolan masing-masing.
Awan tak lupa mengajak Aurora untuk foto bersama yang sempat digoda Singgih dengan mengatakan mereka sedang foto pre-wedding. Aurora ingin rasanya mencubit Singgih yang mampu membuat wajahnya merah karena malu dan perutnya mulas karena bahagia mendengar kata ‘pre-wedding’. Saat itu pula Aurora teringat pada perkataan Saras sebelum mereka tidur tadi malam. “Apa iya ya, foto aku ada banyak di HP Mas Awan?”
Dari Louvre mereka berencana berjalan kaki menuju Arc de Triomphe, sebuah gapura kemenangan yang terletak di tengah persimpangan jalan berbentuk bintang lima. Dalam perjalanan itu mereka melewati Place de la Concorde - yang bisa disebut sebagai alun-alun Kota Paris -, lalu menyusuri Champs Elysees yang terkenal dengan deretan toko barang mewah dan cafénya. Area pejalan kaki yang sangat lebar memang membuat siapa pun akan merasa nyaman berjalan pelan sambil mencuci mata menikmati barang-barang yang dipajang. Champs Elysees menjadi jalan aksis yang menghubungkan Concorde dalam satu garis lurus dengan Arc de Triomphe.
Hari sudah beranjak siang, dengan menggunakan metro yang hanya berjarak tiga stasiun mereka pun menuju Trocadero. Tujuannya tentu saja agar bisa berfoto dengan latar belakang Menara Eiffel secara utuh. Trocadero memang letaknya berseberangan dengan Menara Eiffel atau The Iron Lady, tetapi dipisahkan oleh Sungai Seine yang lebar. Sama seperti tempat-tempat sebelumnya, waktu yang ada pun mereka habiskan untuk mengambil foto dari berbagai sudut dan pose sampai puas.
Kali ini, sebelum Awan mengajak Aurora untuk foto bersama, Saras yang terlebih dahulu mengajukan diri.
“Mas Awan, sini aku fotoin berdua Saras,” katanya mengambil HP dari tangan Aurora sambil tersenyum penuh arti pada Aurora yang dibalas dengan mata Aurora yang membesar.
Melihat respon Aurora, Saras malah menjadi semakin jahil dan meminta mereka berdua bergeser agar posisinya menjadi lebih rapat. Singgih yang juga melihat pun ikut-ikutan. “Kurang mesra itu…,” katanya sambil cengar cengir menggoda.
Aurora cuma bisa pasrah pada ulah teman-temannya, dan semakin tak bisa berkata apa-apa ketika Awan merangkul bahunya seperti saat mereka foto berdua di Sacre Coeur sebelumnya. Dalam hatinya Awan tertawa. “Pasrah gini dia digodain… lucu banget.”
Awan merasa puas melihat foto yang diambil Saras. Dengan tersenyum lebar dia menunjukkan foto itu kepada Aurora. “Bagus ya, Au. Aku suka….”
“He eh.” Hanya itu yang sanggup Aurora keluarkan dari tenggorokannya sambil menerima HP dari tangan Awan.
Aurora tak tahu apa yang sebenarnya Awan sukai dari foto itu saat dia mengatakan ‘aku suka’. “Mas Awan seneng banget sih pake kode-kode. Aduh Mas, otakku gak nyampe ke sana… yang pasti-pasti aja deh!”
Tapi suara lain membantah di dalam pikirannya. “Ah kamu aja yang sensi, Au. Itu sih bukan kode. Ya dia memang suka aja sama fotonya, kan bagus latarnya Menara Eiffel.”
Aurora menerima suara terakhir. Lebih baik bersiap menerima yang terburuk, pikirnya.
Sambil memperhatikan tingkah polah wisatawan yang ada di Trocadero, mereka pun mengambil waktu untuk beristirahat dan makan siang. Setelah ini mereka punya rencana untuk naik ke puncak Menara Eiffel yang tingginya sekitar 324 meter itu. Tanggung sudah sampai Eiffel, sekalian saja naik ke puncak. Itu ucapan Lukas yang diaminkan oleh semua teman-temannya. Meski tiket naik sampai ke puncak harganya lumayan, tapi semua sepakat itu akan sebanding dengan pengalaman yang akan mereka dapatkan.
__ADS_1
Dengan berjalan kaki menyeberangi Sungai Seine, mereka tiba di kaki menara yang sudah dibangun sejak tahun 1887 dan dikenal sebagai ikon tempat romantis bagi banyak orang. Cukup banyak wisatawan yang terlihat mengantre tiket naik, karena ini memang masa liburan akhir tahun. Mereka sendiri sudah membeli tiket secara online sehingga tidak perlu antre tiket lagi, cukup antre untuk naik lift saja.
Setibanya di puncak mereka langsung berkeliling melihat-lihat, mengagumi pemandangan Kota Paris yang terlihat sangat menarik dari atas. Beberapa tempat yang sudah mereka kunjungi sebelumnya juga dengan mudah bisa dikenali karena semuanya terlihat jelas dari tempat tertinggi di Kota Paris ini.
Karena punya tiket untuk naik sampai ke puncak, mereka juga bisa menikmati Menara Eiffel dari lantai-lantai di bawahnya. Kali ini mereka sudah mulai saling terpisah karena ketertarikan dan keinginan yang berbeda. Saras dan Singgih masih betah di puncak, sementara Lukas dan Iqbal memilih turun ke lantai satu.
“Mau aku fotoin gak, Au? Kamu di lantai dua, aku fotoin dari lantai satu. Bagus deh!” Awan memberikan usulan pada Aurora. “Nanti kelihatan puncaknya,” tambahnya lagi.
“Boleh, Mas… cobain.”
Mereka pun menuju lift, tetapi berpisah karena Awan terus hingga lantai satu.
Selesai Awan mengambil foto Aurora, dia pun kembali menemui Aurora di lantai dua. Melihat hasil foto Awan, Aurora sangat senang, terlihat dari senyumnya yang lebar dan lesung pipi yang membayang. “Iya ya Mas… bagus fotonya. Unik jadinya.”
“Ya soalnya yang difoto juga bagus sih…,” kata Awan menggoda Aurora.
Aurora cuma tersenyum simpul dan membalas dengan suara pelan, “Bisa aja, Mas.”
Dari lantai dua ini mereka pun kembali menikmati pemandangan Kota Paris dengan kotak-kotak bangunan dan jalan yang terstruktur rapi dan terlihat indah. Sama-sama bersandar pada pinggiran besi yang ada, mereka berdua diam tak bersuara, merasakan angin yang menerpa sambil larut dalam pikirannya masing-masing.
“Ini pertama kalinya kamu ke sini, Au?”
“Iya, Mas.”
“Kalau aku, ini yang kedua kali. Yang pertama dulu, aku ke sini sama teman-teman kuliah, cowok semua. Sekarang yang kedua, aku ke sini sama kalian.” Awan terdiam sebentar.
“Aku pingin sih bisa ketiga kalinya nanti ke sini…” Awan menarik napasnya, “sama pasangan atau malah istri.”
“Eh, kenapa nih Mas Awan tiba-tiba ngomongin istri? Siapa yang dia maksud?” Terlintas rasa cemburu di hati Aurora hingga jantungnya terasa diremas kuat yang segera menjalar menekan dadanya. Aurora sungguh takut mendengar kalimat Awan berikutnya. Andaikan bisa, ingin rasanya dia menutup telinganya rapat-rapat.
Suara Awan kemudian terdengar lagi.
“Aurora…,” kepalanya menoleh ke arah Aurora, “kamu mau temenin aku ke sini untuk yang ketiga kalinya?”
__ADS_1
Aurora bergeming. Rasa sakit yang tadi dirasakannya berganti menjadi perasaan heran dan panik sehingga hati – pendengaran – pikirannya seperti sedang tidak sinkron satu sama lain.
“Heh, Mas Awan barusan bilang apa? Ke sini lagi sama dia? Tadi dia bilang ke sini lagi sama istrinya, terus maksudnya aku ini jadi istrinya? Itu maksudnya, atau aku salah dengar? Aduh aku gak ngerti… ini gimana?”
Aurora belum berani bergerak dan masih menutup rapat bibirnya. Pandangannya pun masih dia arahkan jauh ke depan, meski dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dia lihat. Tiba-tiba tangan Awan sudah terulur di depannya, sambil memegang sebuah kotak berwarna merah yang sudah dalam posisi terbuka. Di dalamnya terlihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk klompen, sepatu kayu khas Belanda. “Lho, ini kan kalung yang aku ingin waktu itu?”
Keterkejutannya kali ini membuatnya menoleh pada Awan, mencari jawaban.
“Apaan nih, Mas?”
Awan tersenyum, manis sekali. “Buat Aurora,” katanya lembut.
Detik berikutnya Awan sudah mengeluarkan kalung itu dari kotaknya dan langsung memasangkan kalung itu pada Aurora, setelah terlebih dahulu menyimpan kotak merah ke dalam saku jaketnya. Awan merapikan rambut Aurora di sekitar lehernya dan memperbaiki posisi kalung sehingga liontin klompen itu persis jatuh di bagian tengah. Aurora kembali dalam diam, mulutnya seperti terkunci sangat rapat.
Kedua tangan Awan kini sudah memegang bahu Aurora. Mau tak mau Aurora harus berhadap-hadapan dengan Awan, tapi dia tak berani menatap Awan.
“Aurora Mentari Putri,” Awan menyebut nama lengkap Aurora, “aku gak bisa janji apa-apa sama kamu, hanya ada satu hal yang aku yakini… aku ingin menua bersamamu, Au.”
Deg! Aurora merasa kakinya lemas seperti tak bertulang. “Aku gak salah dengar, kan?” Aurora menundukkan kepalanya semakin dalam sampai bisa melihat ujung sepatunya.
“Kamu mau menua bersamaku, Au?”
Pertanyaan Awan hampir tak terdengar di telinga Aurora karena pikirannya yang sedang sibuk menenangkan hatinya. Dia pun berusaha sekuat tenaga mengontrol kaki dan badannya agar tetap kuat berdiri.
Dirasakannya tangan Awan kini memegang dagunya dan perlahan mengangkat wajahnya agar melihat Awan. Bola mata Aurora bergerak, berusaha mencari arah lain selain mata Awan.
“Aurora…,” panggil Awan lembut, tapi Aurora tahu kalau Awan sedang memintanya untuk membalas tatapan Awan dan menjawab pertanyaannya tadi.
Aurora pun mengumpulkan segenap keberanian yang dia miliki untuk menatap langsung pada mata Awan. Terlihat binar bahagia di sana. Tangan Awan kini sudah kembali ke bahu Aurora.
Aurora pun tersenyum yang dia buat semanis mungkin, lalu menjawab dengan nada malu-malu, “Iya, Mas. Aku mau.”
Seketika itu dia pun langsung menundukkan kepalanya kembali dan tak melihat senyuman bahagia yang terukir indah di wajah Awan. Kedua tangan Awan pun sudah bergerak dan kini memeluk erat Aurora sampai Aurora tenggelam di dalam dadanya dan bisa mendengar jantung mereka yang sama-sama berdetak cepat.
__ADS_1
“Terima kasih ya, Au,” bisik Awan di telinga Aurora, “I love you,” sambungnya. Dia pun mengecup lembut puncak kepala Aurora sebelum melepaskan pelukannya.
Setitik air hadir tanpa permisi di sudut mata Aurora. Dia begitu bahagia hingga tak mampu menahan desakan air matanya. Sambil sama-sama tersenyum Awan membantunya menghapus air mata yang keluar. Aurora pun mengintip menatap Awan dan di dalam hatinya dia berdoa, “Terima kasih ya Allah untuk semua nikmat ini.”