
Dengan berat hati dan tubuh yang lemas, Awan yang merasa ingin hilang lenyap ditelan bumi akhirnya keluar dari ruang kerja ayahnya dan kembali ke kamarnya sendiri. Duduk di tepi tempat tidur, dengan ditopang kedua tangannya yang menyiku bertumpu pada pahanya, Awan memegang kepala dan mulai meremas-remas rambutnya. Matanya terpejam.
“Untuk apa kami bicara soal cinta dan komitmen kalau Aurora ternyata adiknya??”
Awan sungguh bingung dan kalut, tak tahu sebaiknya harus memikirkan apa. Perlahan bahunya terlihat terguncang, Awan menangis. Air matanya tak bisa ditahan, inilah pertama kalinya Awan menangis sejak usia remaja. Awan merasakan dadanya sangat sesak, tak bisa bernapas, oksigen terasa menipis, dan kamarnya terasa semakin sempit.
Butuh waktu cukup lama bagi Awan untuk bisa menghentikan tangisnya, menormalkan irama napasnya, sambil tetap menahan nyeri yang terasa di jantung dan seluruh tubuhnya.
Awan memutuskan pergi ke kamar mandi, menghapus sisa air matanya, dan berusaha mendapatkan kesegaran dari air yang jatuh membahasi serta aroma segar sabun di tubuhnya.
Ternyata usahanya tidak membuahkan hasil.
Awan tetap merasa kepalanya berat dan berkeliling, bahkan kini dia mulai merasa suhu di dalam tubuhnya meningkat, tetapi di luar justru merasa kedinginan.
Kondisinya membuat Awan memilih untuk berbaring di tempat tidurnya, berharap bisa mengurangi ketegangan yang dirasakan di kepala, leher, dan seluruh badannya. Awan sungguh gelisah. Sebentar telentang, sebentar menghadap ke kiri, berputar ke kanan, kembali menghadap langit-langit, tak satu pun posisi yang membuatnya nyaman.
Hari di luar semakin gelap, pun di kamar Awan. Dia tak berniat sedikit pun untuk menyalakan lampu di kamarnya karena berpikir cahaya lampu akan membuatnya semakin tak bisa diam.
Saat tiba waktunya untuk makan malam, Awan mendengar langkah kaki dan ketukan di pintu, menyusul kemudian suara ibunya yang memanggil-manggil namanya. Awan hanya diam tak ingin menjawab. Suara pintu terbuka membuat Awan segera memejamkan matanya dan baru membukanya kembali ketika telinganya sudah menangkap suara pintu yang ditutup pelan.
Malam itu Awan tak tahu apakah dia sempat tertidur atau tidak, karena yang dirasanya dia hampir tidak bisa terlelap meski sudah memejamkan matanya. Perut yang belum diisi sejak siang pun sudah tak lagi dirasakannya. Awan hanya ingin dia segera terbangun dan berharap menemukan semua ini hanyalah mimpi buruk yang hadir mengganggunya.
Ketika subuh akhirnya menjelang, Awan benar-benar terjaga dan memilih diam terbaring di tempat tidurnya. Dadanya masih terasa berat dan kesesakan masih mendera. Ternyata itu semua bukan mimpi.
Awan benar-benar tidak mampu berpikir. Pagi itu dia berdoa, tetapi tak bisa memilih kata untuk menaikkan doanya. Awan tak tahu apa yang sebaiknya diajukannya pada Sang Pencipta. Awan tak ingin memaksakan kehendaknya tetapi juga tak siap bila harapannya tak terkabul, hingga dia hanya mampu berkata lirih, “Jadilah sesuai kehendak-Mu, ya Allah.”
Awan melihat HP-nya yang ternyata sudah dalam keadaan mati. Sambil tersambung dengan kabel penambah daya, Awan menyalakan HP. Dia duduk di tepi tempat tidurnya, memandang ke arah lantai, dan menarik serta mengembuskan napas pelan berkali-kali.
__ADS_1
“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” pikirnya dalam benak yang sibuk.
Ada beberapa pesan masuk yang dilihatnya, juga sebuah panggilan video yang tak terjawab, dari Aurora. Dibukanya pesan Aurora, isinya mengatakan Aurora ingin melakukan panggilan video tapi sepertinya HP Awan dalam kondisi mati. Aurora juga menanyakan apa yang terjadi sehingga HP Awan mati, tidak seperti biasanya.
Awan menutup matanya dengan tangannya, berusaha menahan air mata yang sudah hampir tertumpah. “Bagaimana aku mampu melihat Aurora saat ini?”
Gelisah, kecewa, takut, marah, benci … Awan tak tahu mana yang paling kuat dirasakannya.
Butuh waktu sangat lama bagi Awan untuk menyelesaikan acara mandinya pagi hari ini. Awan berdiri sangat lama di bawah shower berharap pikirannya yang ruwet bisa terurai lewat tetesan air yang dirasakannya. Kepalanya memang sudah tak seberat tadi malam, tapi jantungnya terasa masih berdetak cepat dengan adrenalin yang masih di atas normal.
Dari tangga menuju lantai dasar, Awan melihat ibunya sedang mondar mandir dari ruang makan ke dapur, membereskan piring kotor bekas sarapan. Hati Awan melemah melihat ibunya, dia hanya diam saja menuju meja berniat mengisi perutnya.
“Pagi, Wan,” sapa Ratih, ibunya.
“Pagi, Bu,” jawab Awan sambil menyiapkan piring dan mulai mengambil nasi uduk yang tersedia di meja makan.
Awan hanya menjawab pelan, “Iya, Bu. Awan ketiduran.”
Ratih kembali ke dapur meninggalkan Awan makan sendirian. Tidak terlalu berselera, tapi Awan tahu dia harus makan. Hanya sebentar, Awan sudah bangkit dari duduknya dan mengantar piring kotor ke dapur.
Terdengar suara berisik dari pintu samping, ternyata itu adik perempuannya, Mega Adhisti Dwikaniya, yang biasa dipanggil Dhisti. Dalam gendongannya terlihat seorang anak perempuan imut berambut bergelombang yang terlihat secantik ibu yang menggendongnya.
Begitu masuk dan melihat Awan, Dhisti langsung berteriak dan berlari kecil menghampiri Awan, “Mas Awaaaannn … kangennya ….”
Dhisti menghambur memeluk Awan dengan putrinya, Shifa, yang masih dalam gendongannya. Awan tersenyum lebar melihat kedatangan adik dan keponakannya dan langsung membalas pelukan Dhisti sekaligus memeluk dan mencium kepala Shifa.
Dhisti memang sudah berkeluarga, tetapi tetap saja tidak bisa menghilangkan kemanjaannya pada Awan kakaknya.
__ADS_1
Dhisti belum sempat bertemu Awan ketika Awan tiba dari Belanda karena di minggu yang sama ia bersama keluarga kecilnya sedang pergi berlibur. Hari ini Dhisti menyempatkan diri mampir ke rumah orang tuanya demi bisa segera bertemu dengan Awan. Dhisti menurunkan Shifa dari gendongannya ketika melihat Ratih bergabung bersama mereka. Setelah memberi salam hormat pada ibunya, Dhisti langsung duduk merapat di sebelah Awan. Raut wajahnya terlihat sangat senang.
“Cakepan sekarang kamu, Mas,” kata Dhisti sambil memandangi Awan dari samping.
Awan tertawa, sengaja dibuat sinis, dan berkata, “Dari dulu juga cakep.”
Dhisti pura-pura tidak terpengaruh dengan tawa sinis Awan.
“Emang,” katanya dengan datar sambil tetap menatap Awan, tapi tak lama langsung tersenyum lebar.
“Kemarin ini Mas ke Surabaya? Ngapain?” tanya Dhisti sambil menyendok nasi uduk ke dalam piringnya.
Awan meringis miris diingatkan apa yang dilakukan dan siapa yang dia temui di Surabaya.
“Ada urusan sama teman,” jawab Awan singkat tak ingin menjelaskan.
“Ooh, kirain nemuin calon kakak ipar,” balas Dhisti santai dan menikmati nasi uduknya tanpa menyadari bagaimana reaksi Awan.
Mendengar kalimat Dhisti, Awan merasakan jantungnya kembali diremas yang membuatnya merinding. Sedapat mungkin Awan mengontrol tubuhnya agar Dhisti tak bisa mendeteksi ada sesuatu yang salah. Dia pun hanya tertawa pendek menjawab adiknya.
Obrolan di ruang makan lalu berpindah ke ruang keluarga supaya Shifa bisa lebih bebas bermain. Entah mengapa, setiap kali adiknya, Dhisti, bermanja-manja dengannya secara ucapan maupun tindakan, Awan teringat pada Aurora.
Awan menghalau ketidaknyamanannya dengan mengalihkan perhatiannya pada Shifa dan menemaninya bermain. Beruntung Shifa memang sedang lucu-lucunya dengan berbagai tingkah dan polah anak-anak yang menggemaskan, Awan pun bisa sedikit melupakan permasalahan yang ada di depan matanya.
Setelah menikmati makan siang bersama, Dhisti pun pamit pada ibu dan kakaknya. Di gendongannya terlihat Shifa yang sudah tertidur pulas. Awan menyempatkan mengecup pipi gembil Shifa lalu merangkul dan mengusap-usap lengan atas Dhisti sambil mengantar Dhisti ke mobilnya.
“Salam untuk Rama,” kata Awan menyebut nama adik iparnya.
__ADS_1