AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Pantasnya Menikah


__ADS_3

Pergantian musim dari musim dingin menjadi musim semi memang layak memberikan kebahagiaan bagi siapa saja, kecuali bagi mereka yang memiliki bawaan alergi pada serbuk bunga.


Mengapa tidak, pohon yang terlihat kering kecoklatan tanpa daun di musim dingin perlahan menunjukkan tunas-tunas daun yang baru berwarna hijau terang dan menyegarkan pandangan. Belum lagi bunga berwarna yang sebelumnya enggan mengeluarkan kelopak indahnya, kini mulai berani unjuk diri memamerkan kecantikannya.


Sebagai penggemar bunga, sejak sebelum berangkat ke Belanda Saras sudah memantapkan niatnya untuk mengunjungi Keukenhof, sebuah taman bunga besar yang bahkan dapat dikatakan terbesar se-dunia.


Aurora juga ikut tertarik untuk bisa menikmati Keukenhof karena kesohorannya dan karena taman ini hanya dibuka saat musim semi tiba dari akhir Maret hingga awal Mei, yang artinya taman ini adalah tempat spesial.


Keukenhof, yang kalau diartikan secara sederhana berarti ‘Dapur Kebun’, berlokasi di Kota Lisse yang kira-kira terletak di antara Amsterdam dan Den Haag. Kota Lisse adalah kota yang sangat kecil dengan jumlah penduduk bahkan tidak sampai 30 ribu jiwa! Namun, di sanalah taman bunga terbesar yang sangat indah itu berada.


Tak heran memang kalau taman ini dikatakan sebagai taman bunga terindah karena setidaknya ada 7 juta bunga tulip yang ditanam setiap tahunnya di Keukenhof pada bulan Oktober, agar dapat bermekaran memenuhi setiap sudut taman pada musim semi.



Aurora mengajak Awan untuk ikut menemaninya berkunjung ke Keukenhof yang tentu saja tidak ditolaknya. Selain karena dia memang ingin menemani Aurora, tetapi juga karena dia belum pernah ke Keukenhof sebelumnya.


Waktu kedatangannya pertama dulu ke Belanda, teman-temannya tidak ada yang tertarik pergi sehingga dia pun memilih tempat kunjungan lain di musim semi seperti ini.


Sementara musim semi tahun lalu, Awan tak terpikir untuk mengunjungi Keukenhof karena saat itu dia sibuk dengan proposal penelitiannya.


Karena tidak mau jadi pengganggu atau obat nyamuk bagi Awan dan Aurora, Saras mengajak Singgih –dengan sedikit paksaan– untuk ikut bersama-sama mereka mengunjungi Keukenhof. Lukas dan Iqbal sudah menolak lebih dulu karena lebih memilih berwisata ke tempat lain ketimbang melihat-lihat bunga tulip dan berbagai varietasnya.


Setelah memasuki taman, barulah Singgih paham mengapa Saras bersikeras ingin menikmati keindahan bunga-bunga di Keukenhof. Sejauh mata memandang, hamparan bunga berwarna-warni dengan aneka bentuk benar-benar mampu memanjakan mata dan membuat hati terpesona.


Taman seluas 32 hektar, yang artinya lebih dari 45 kali luas lapangan sepak bola, ditata sedemikian rupa dengan perpaduan antara bunga dan pepohonan, unsur tanah dan air, serta karya seni, yang tak henti-hentinya membuat hati berdecak kagum dan tertawan oleh keindahannya yang luar biasa.


Aurora yang biasanya tidak terlalu tertarik untuk mengambil foto diri, kali ini sangat antusias untuk menyimpan memori dirinya bersama bunga-bunga dengan berbagai jenis dan keunikan itu.


Tak terhitung sudah berapa banyak foto dan video yang mereka ambil karena semua sudut dan bagian terlihat menarik.


Bahkan Awan dan Singgih pun tak mau ketinggalan ikut mengabadikan pemandangan yang memang tak biasa ini.


“Au, di sini bagus nih … fotonya dari situ,” usul Saras sambil menunjuk lokasi yang ia maksud.


Aurora mendekati lokasi yang ditunjuk Saras, lalu berjongkok di depan bunga agar foto yang diambil dapat menunjukkan dengan jelas bentuk kelopak bunga tulip yang pinggirannya seperti rumbai-rumbai di ujung kain.


Belum sempat Saras menyentuh layar untuk mengambil foto, Awan datang terburu-buru ikut berjongkok di sebelah Aurora sambil sedikit berteriak, “Ikuuut ....”

__ADS_1


Aurora dan Saras hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Awan yang seperti anak kecil. Berjongkok merapat ke sisi Aurora, Awan merangkul bahu Aurora lalu mengembangkan senyumnya seperti para model. Wajah Awan dan Aurora sama-sama terlihat sangat berbahagia dengan latar bunga tulip berwarna gelap yang kontras dengan daunnya yang kehijauan.



Melihat kebahagiaan di wajah mereka membuat Saras tak tahan untuk berkomentar, “Kalian itu memang pantasnya nikah aja sekarang!”


Dia pun tertawa, karena mendengar kalimatnya sendiri dan juga karena melihat ekspresi Aurora yang bibirnya manyun, tetapi tak bisa menyembunyikan rautnya yang senang.


Singgih yang tiba-tiba datang langsung menyahut, “Siapa yang sekarang mau nikah?” Pandangannya bergantian ke arah Saras dan Awan yang terlihat masih senyam-senyum.


“Noh!” tunjuk Saras dengan dagunya sambil tersenyum masam.


“Bikin orang ngiri aja! Kamu gak kangen apa Nggih sama yang di Bali kalau lihat mereka?” Saras setengah menggerutu karena keki melihat kemesraan Awan dan Aurora, meski hanya dari gestur-gestur sederhana yang tak berlebihan.


Singgih tertawa lepas lalu di tengah tawanya dia pun menjawab Saras, “Sudah tau begitu, kenapa aku yang diajak bukannya mengajak Nelu?”


Mendengar kalimat Singgih, Aurora dan Awan yang sudah dalam posisi berdiri dan bergandengan tangan ikut tertawa menggoda Saras.


Yang digoda pun ikut tertawa, tetapi tertawa miris karena kalimat Singgih benar-benar tepat sasaran. Saras memang tidak bisa mengajak Nelu karena Nelu sudah punya janji menghadiri pernikahan temannya yang tinggal di Jerman.


“Tapi Saras benar sih, kalau lihat kalian berdua bawaannya memang pingin langsung terbang pulang ke Bali,” katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan bibir setengah mencibir.


Kembali teman-temannya mengeluarkan tawa tergelak melihat gerak-gerik dan ekspresi Singgih yang terlihat jenaka.


Meski lelah berjalan kaki mengitari taman, itu tak bisa dibandingkan dengan kepuasan di hati dan rasa terpesona yang sangat membekas. Awan dan teman-temannya akhirnya meninggalkan Keukenhof ketika hari sudah menjelang sore.


Dalam perjalanan pulang Aurora masih saja melihat-lihat hasil foto dalam gallery HP-nya. Zoom out – zoom in berkali-kali, memperhatikan bentuk bunga yang beraneka.


Setiap kali tiba pada foto yang menunjukkan dirinya berdua dengan Awan, hatinya terasa menghangat. Kalimat Saras yang menyuruh mereka segera menikah pun masih berkumandang di kepalanya membuatnya tersenyum malu.


--


Suasana kesegaran musim semi dengan suhu yang tidak terlalu dingin tetapi juga tidak panas mampu menambah semangat bagi Aurora dan teman-temannya yang semakin disibukkan dengan pengerjaan thesis. Hanya dalam hitungan bulan mereka akan lulus, wisuda, dan kemudian meninggalkan Negeri Belanda.


Awan dan Aurora semakin hari semakin menyatu dalam perasaan dan pikiran mereka, demikian pula Saras dan Nelu semakin dekat dengan segala perbedaan yang ada. Lukas masih sering terlihat bersama Svetlana, sementara Iqbal dan Singgih terus berusaha memupuk hubungan jarak jauh yang mereka jalani dengan pasangan masing-masing yang mereka tinggalkan di Indonesia.


Di akhir musim semi ini Aurora kembali harus merelakan hari-harinya dilalui tanpa Awan. Tidak lama memang karena selama seminggu Awan melakukan perjalanan ke Vienna, Ibukota Austria, bersama James sambil singgah mengunjungi saudaranya yang tinggal di Stuttgart Jerman.

__ADS_1


Bulan lalu saat perayaan ulang tahun raja yang diperingati setiap akhir April di Belanda, Awan juga tidak bisa bersama-sama Aurora karena sudah merencanakan jauh-jauh hari pergi dengan James ke Barcelona.


Sebenarnya Aurora ingin sekali ke Bacelona melihat hasil karya arsitek Spanyol, Antoni Gaudi, seperti Sagrada Familia atau bangunan lainnya yang memiliki bentuk unik dan dilengkapi mozaik warna-warni.


Sayangnya jadwal kuliah Aurora sedang padat-padatnya dan di sisi lain dia ingin merasakan perayaan ulang tahun raja atau disebut koningsdag yang dirayakan setiap tahun di Belanda.



Perayaan ulang tahun ini ditetapkan sebagai hari libur nasional dan bisa dikatakan semua orang pada hari itu tumpah ruah di jalanan. Ada banyak atraksi yang menarik serta pasar bebas yang sengaja diadakan, dipadati dengan warga yang hampir seluruhnya menggunakan atribut berwarna oranye, warna kerajaan. Peristiwa menarik yang juga tak ingin dilewatkan Aurora.


Ketika Awan menyampaikan rencananya akan ke Vienna bersama James, Aurora merasa sangat iri, terlebih karena Awan mengatakan kalau mereka akan singgah di Salzburg dalam perjalanan ke Vienna.


Aurora sudah sejak lama ingin sekali merasakan tour 'The Sound of Music', film musik yang sangat terkenal yang adegannya berlangsung di Kota Salzburg itu. Tetapi apa daya, lagi-lagi kuliah tidak bisa ditinggalkan.


Dengan terpaksa Aurora menjalani hari-hari tanpa Awan, sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya, saat mereka hampir setiap hari menyempatkan bertemu.


“Hitung-hitung latihan sebelum nanti pulang ke Indonesia dan benar-benar harus berhubungan jarak jauh,” pikirnya menghibur diri.


Aurora sebenarnya tidak menyangka kalau dia bisa sangat merindukan Awan meskipun hanya ditinggal beberapa hari saja. Mungkin karena selama ini mereka terbiasa bersama, terutama saat harus melakukan tugas atau saat belajar berdua, entah di kamar Awan atau di kamar Aurora.


Kerinduannya yang sangat kuat mencengkeram membuatnya berpikir.


“Kalau nanti aku sudah harus pulang ke Indonesia, Mas Awan masih harus tinggal di sini setidaknya dua tahun lagi. Itu artinya kami harus berpisah selama itu? Memangnya sanggup? Iya sih, kami bisa berkomunikasi lewat panggilan video, tapi kan rasanya akan tetap berbeda.”


Keraguannya malah membangkitkan keinginan menggebu dalam hati.


“Kalau bisa sih inginnya nanti menikah dulu ya setelah pulang ke Indonesia, jadi selanjutnya bisa ikut temani Mas Awan di sini.”


Dorongan keinginannya itu akhirnya membuat Aurora tertawa geli karena dia malah memikirkan ingin buru-buru menikah dengan Awan. Pemikiran soal menikah pun mendorong suara hatinya mulai ikut berbicara.


“Kamu udah yakin mau menikah dengan Awan? Yakin mau menjadi istrinya Awan? Pernikahan itu jangka panjang lho, Au … Kamu udah benar-benar yakin?”


Lamunan Aurora terpecah saat suara pesan masuk terdengar dari HP yang sedang digenggamnya. Sebuah pesan dari Awan.


Terlihat foto Awan sedang berdiri di depan sebuah gedung berwarna kuning dengan tulisan ‘Mozarts Geburtshaus’ di bagian depan. Itu artinya Awan saat ini sudah berada di Salzburg.


Pesannya singkat: wish you were here –tapi membuat Aurora semakin merindukan Awan–.

__ADS_1


__ADS_2