
Di dalam trem yang membawanya kembali pulang ke apartemen, Aurora hampir saja tenggelam dalam kenangannya tentang Awan. Saras yang tak henti-hentinya berbicara mampu menahan Aurora untuk tetap sadar.
“Kak Awan berarti 3 tahun lebih tua dari aku ya, Au. Hmmmm … cocok tuh, ngepas.” Saras yang bermata besar menaikkan alisnya sambil tersenyum-senyum senang, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah es krim. Aurora berusaha tersenyum tipis mengiyakan.
“Saras, jangan suka sama Kak Awan dong ... please ….” Aurora berkomat-kamit dalam hatinya.
“Kak Awan cakep ya, Au … pasti dulu di kampus dia banyak yang suka ya?” Saras masih tak menyadari bagaimana sikap Aurora mendengar ucapannya.
“Iya, banyak,” jawab Aurora pelan.
“Dduh Saras, kamu tertarik sama Kak Awan? Jangan, Ras … cuma kamu temen aku di sini.” Aurora merasa jantungnya seperti diremas membayangkan Saras yang akan bersama Awan dan dirinya yang terpinggirkan.
“Gak nyangka ya, Au … jauh-jauh di sini kita bisa ketemu senior, cowok, cakep pula. Lagi Ph.D., pasti dia pintar kan ya? Asyik nih, ntar kalau ada yang gak ngerti bisa nanya-nanya. Ada apa-apa juga bisa minta tolong berarti. Kita bakalan punya malaikat pelindung nih Au ….” Saras berbicara panjang dengan senyuman yang semakin lebar sambil menggoncang tangan Aurora yang memeluk kantong belanja di pangkuannya.
“Kamu ah, malaikat pelindung segala … kayak apaan aja.” Aurora meredam rasa sakit yang terasa dengan menarik sebelah ujung bibirnya.
“Iiiiih … bener kan. Dia perfect kayak malaikat.” Saras masih tersenyum, bola matanya mengarah ke atas, sepertinya sedang membayangkan Awan dengan sayap malaikat.
Aurora semakin merasa takut. Ia benar-benar tak siap andaikan Saras mendekati Awan. Kalau ini terjadi di kampusnya dulu, Aurora tak akan khawatir seperti saat ini. Tapi ini terjadi di tempat yang masih sangat asing baginya, dan satu-satunya temannya hanyalah Saras.
Aurora sadar, Saras bukanlah gadis yang dapat dipandang sebelah mata. Tubuhnya yang tinggi semampai, kulitnya yang putih bersih, mata besar berbinar, wajah oval dibingkai rambut hitam panjang, ditambah dengan kepribadiannya yang supel dan ramah, siapa saja sangat mungkin untuk tertarik pada Saras.
“Yuk, turun.” Suara Saras terdengar lembut di telinganya.
“Tuh kan, suaranya aja enak banget didenger. Kurang apa lagi?” Aurora masih melanjutkan pikirannya tentang Saras yang mungkin akan menjadi saingannya.
“Hah? Saingan? Aduh enggak….” Aurora menggelengkan kepalanya cepat berusaha menghilangkan pikiran yang sepertinya mulai tak sehat.
__ADS_1
Trem yang mereka naiki telah berhenti sempurna di stasiun tujuan terakhir. Dari tempat ini Aurora dan Saras harus berjalan kaki sekitar lima menit untuk sampai di apartemen mereka. Mendekati pintu apartemen, Aurora melambatkan langkahnya ketika tiba-tiba teringat.
”Duh, bagaimana kalau di depan lift ketemu Kak Awan?”
Ia membiarkan Saras lebih dulu masuk untuk memastikan kondisi aman. Meski demikian Aurora tetap gelisah. “Apa aku bisa ya menghindari Kak Awan? Kami tinggal satu gedung. Kuliah juga satu gedung. Mau lari ke mana?”
Pintu lift terbuka, dua orang laki-laki keluar dari sana. Aurora mengenali salah satunya sebagai Edgar yang berasal dari Polandia. “Hi.” Edgar menganggukkan kepala ke arah Aurora dan Saras yang dijawab dengan sapaan yang sama oleh mereka berdua sambil tersenyum memasuki lift.
“Itu Edgar, kan?” tanya Saras.
“Iya, yang orang Polandia,” jawab Aurora.
“Satunya siapa ya? Aku belum hapal.”
“Sama, aku juga gak tau. Tapi dari Polandia cuma Edgar, kan? Mungkin roommate-nya.” Aurora mencoba menerka.
--
Hari Sabtu pagi, Aurora, Saras, Iqbal, Lukas, dan Singgih sudah berada di stasiun kereta. Hari ini mereka akan pergi ke kedutaan di Den Haag untuk mendaftarkan diri. Dalam waktu lima menit kereta menuju Den Haag akan tiba dan bersama-sama calon penumpang lainnya mereka telah siap menunggu di peron yang bertuliskan ‘Spoor 2’.
Sambil menunggu kereta datang mereka membahas tentang kata-kata bahasa Indonesia, atau bahkan Jawa dan Sunda, yang merupakan serapan dari bahasa Belanda. Salah satunya adalah spoor, yang di Jawa dikenal dengan sepur berarti kereta api, sementara arti sebenarnya adalah jalur kereta.
Selesai dengan urusan pendaftaran diri di kedutaan, kelima orang Indonesia yang baru sepuluh hari berada di Belanda ini sepakat melanjutkan perjalanan hari itu untuk berkelana di tempat wisata di sekitar Den Haag. Berbekal informasi yang diperoleh dari internet, hari ini mereka merancang kunjungan pertama ke Madurodam yang bisa ditempuh berjalan kaki sekitar dua puluh menit dari kantor kedutaan.
Madurodam adalah sebuah taman berupa kota miniatur yang terdiri dari bangunan-bangunan mini khas Belanda dan landmark yang terkenal di negara ini. Bangunan mini ditata sedemikian rupa menyerupai aslinya, termasuk miniatur bandara dengan pesawat maskapai Indonesia yang sedang parkir di sana. Kincir angin, kanal dan kapal, rel kereta api, istana, museum, dan banyak lagi kekhasan Belanda dengan mudah ditemui di Madurodam.
__ADS_1
Puas menikmati Negeri Kincir Angin dalam bentuk mini dan mengambil puluhan foto di Madurodam, mereka berlima melanjutkan langkah menuju pantai Scheveningen yang hanya berjarak sepuluh menit jalan kaki. Kalau di Indonesia mereka mungkin hampir tak pernah jalan kaki lebih dari lima menit, di Belanda mau tak mau harus dilakukan, dengan gembira.
Hamparan laut biru yang luas di depan mata dengan pasir laut berwarna coklat muda di tepi pantai terlihat menyegarkan diiringi angin yang berembus cukup kencang. Tujuan mereka ke pantai adalah berfoto dengan latar belakang 'Skyview The Pier', bianglala berwarna putih setinggi 45 meter yang didirikan di laut. Tak berniat untuk mencoba naik, cukup memiliki bukti bahwa mereka pernah hadir di sana untuk diposting ke akun media sosial masing-masing.
Layaknya wisatawan, langkah Aurora, Saras, Iqbal, Lukas, dan Singgih lebih banyak terhenti untuk sebentar-sebentar merekam banyak hal yang mereka temui sambil berjalan. Bangunan, taman, pepohonan, jalan, orang yang lalu lalang berjalan kaki atau bersepeda, semuanya terlihat menarik bagi mereka yang sama-sama baru kali ini menjejakkan kaki di Belanda.
Dengan usia yang hampir seumuran, belum satu pun di antara mereka yang telah berkeluarga. Iqbal memang sudah bertunangan sebelum berangkat, Singgih sudah punya pacar di Bali sana, sementara tiga orang lainnya belum punya pasangan. Mereka bisa bercanda dengan bebas tanpa ada kecanggungan di antara mereka. Bagaimanapun, mereka akan bersama selama setahun ke depan, di negeri orang.
--
Di ruang studionya Awan sedang sibuk membersihkan sayap ayam yang baru saja dia beli dari toko daging yang dimiliki orang Turki. Sesuai pesan turun temurun dari orang Indonesia yang sebelumnya sekolah di kota ini, untuk memastikan kehalalan ayam yang dikonsumsi, juga roti, lebih baik membelinya di toko daging milik orang Turki. Roti tawar tak bisa sembarangan dibeli di supermarket sebagaimana di Indonesia karena harus benar-benar memperhatikan kandungannya, apakah ada kandungan yang tak boleh dimakan.
Setelah energinya cukup terkuras selama beberapa hari mempersiapkan disertasinya, Awan memilih hari Sabtu ini sebagai hari istirahat. Ia sempat membereskan kamar dari buku-buku yang masih berserakan, keluar sebentar berjalan kaki ke toko daging, dan setelahnya berniat memasak untuk makan siang yang juga bisa dimakan hingga makan malam.
Setelah semua selesai Awan hanya berbaring santai di sofa sambil mendengarkan suara televisi. Ya, ia tak menontonnya. Awan menyalakan TV hanya agar tidak merasa kesepian di ruangan ini. Matanya menutup, wajah Aurora membayang di sana.
“Aurora masih seperti yang dulu, manis dan menggemaskan, tapi sekarang memang terlihat lebih dewasa.”
Tanpa sadar Awan menyunggingkan senyuman.
Awan teringat, dulu kalau dia melihat Aurora pergi ke perpustakaan, pasti Awan akan mengekor ke sana. Dia memilih tempat duduk yang paling strategis, agar tak terlalu mencolok tetap dapat mencuri lihat Aurora dan menikmati wajahnya.
Awan menyukai apapun ekspresi Aurora. Serius membaca buku atau saat ujian, tertawa senang, cemberut saat digoda, juga marah karena kesal. Awan juga ingat, kalau Aurora menemuinya untuk asistensi, dia akan dengan sengaja mengulur-ulur waktu agar bisa bersama Aurora lebih lama.
Setelah lulus kuliah, Awan melamar menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. Dua tahun mengajar, Awan melanjutkan kuliah di sini. Setahun setelah lulus ia kembali ke kota ini untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Sejak lulus kuliah, tak sekali pun Awan pernah bertemu dengan Aurora. Padahal mereka tinggal di kota yang sama. Seolah-olah kota tempat mereka tinggal menjadi begitu luas, tetapi jarak dengan Rotterdam begitu dekat. Tokh akhirnya dia justru bertemu Aurora di sini.
__ADS_1
Sejak berpisah dari Aurora dulu, Awan berusaha dengan sekuat tenaga mengubur kenangannya akan Aurora. Ia mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan, terlebih saat itu dia baru mulai mengajar. Usahanya cukup berhasil. Meski sesekali bayangan Aurora hadir mengisi hatinya, tetapi tidak membuatnya menjadi patah hati atau kemudian tenggelam dalam rasa rindu yang mencekam. Ia menempatkan Aurora di sudut hatinya yang terdalam, menyimpannya di sana, dan mengenangnya dengan bahagia.