
Aurora tak ingin merasakan apa pun selain menikmati debaran jantungnya dan rangkulan hangat Awan pada bahunya. Kalau saja saat ini dia ada di dalam kamarnya, mungkin dia sudah melompat-lompat dan berteriak kegirangan. Meski sempat menduga-duga, tetap saja dia terkejut sekaligus terharu ketika Awan dengan yakin menyatakan perasaan dan harapannya, hingga membuat hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang tak dapat dia deskripsikan dengan kata-kata.
“Mas Awan pinter banget bikin emosiku naik turun. Endingnya jadi kayak gini, ya ampuuunn… aku hampir nyerah padahal. Ngomongnya pas di sini lagi… uuuuh, kok dia romantis banget sih?” Aurora hanyut dalam pikirannya sambil jarinya memainkan liontin klompen yang kini tergantung indah di dadanya.
Awan pun tak bersuara, tetapi hatinya bungah diliputi kegembiraan sekaligus rasa lega. Ungkapan yang sudah ditahan-tahannya karena menunggu momen naik ke Menara Eiffel, akhirnya bisa keluar dari mulutnya dengan lancar dan dijawab tanpa penolakan pula. Bertahun-tahun memendam rasa, kini Aurora tak hanya tersimpan di sudut hatinya, tapi justru telah memenuhi seluruh jiwa dan raganya. “Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Awan?” bisik pikirannya.
Angin semilir yang bertiup di tengah rasa dingin menggerakkan Awan untuk semakin erat merangkul dan mengusap-usap lengan Aurora, mencoba mengalirkan kehangatan. Pemandangan yang memanjakan mata, atmosfer di sekitar yang sangat mendukung, serta kedekatan mereka membuat Awan dan Aurora semakin tenggelam menikmati waktu dalam diam.
“Gimana…,” sebuah suara berat terdengar mengagetkan Awan dan Aurora, membuat mereka sama-sama membalikkan badan ke arah datangnya suara, “happy ending kayaknya nih.”
Singgih dan Saras terlihat tersenyum penuh arti dengan mata penuh selidik memandang Awan dan Aurora.
Awan tertawa lepas sementara Aurora hanya tersenyum malu-malu di depan kedua temannya.
“Iya dong…,” kata Awan.
“Makasih ya,” lanjutnya lagi sambil menepuk pelan lengan Singgih.
Saras spontan berteriak. “Ha? Beneran? Waaaa… Au… senangnya!” Dia pun langsung memeluk Aurora dan menggoyang-goyangkan badan mereka berdua ke kanan dan ke kiri selayaknya sedang memeluk boneka.
Aurora gelagapan dan hanya bisa membalas pelukan Saras sambil tersenyum lebar.
“Congrats, Wan!” Singgih pun menyalam Awan memberi ucapan selamat atas keberhasilan Awan memenangkan hati Aurora.
“Waaa, ada apa ini ada apa ini.” Suara Iqbal terdengar dari belakang Awan, dengan logat Jawa yang dibuat-buat. “Ada yang lagi seneng nih kayaknya.”
Lukas pun ikut bersuara, “Berita bahagia, tokh?” Tangannya menumpang di bahu Awan sambil menantikan jawaban.
Belum sempat Awan menjawab, Saras langsung menyela, “Lihat aja tuh muka Mas Awan sama Au… yang lagi berbunga-bunga jatuh cinta. Ada motifnya tuh, love semua.”
__ADS_1
Saras tertawa menggoda Awan terutama Aurora, sampai-sampai Aurora menjadi tersipu malu dan mencubit pelan tangan Saras yang masih menggandeng lengannya. Awan dan ketiga teman lainnya pun ikut tertawa mendengar kalimat Saras yang penuh dengan daya imajinasi itu.
Ungkapan ‘kalau teman bahagia, kita ikut bahagia’ memang tampaknya berlaku di antara mereka. Keberhasilan misi Awan juga tidak lepas dari dukungan teman-temannya yang sengaja memberi Awan kesempatan untuk lebih lama berdua Aurora, khususnya di Menara Eiffel ini.
Aurora tak menyangka kalau teman-temannya ternyata sengaja dan sudah bersekongkol sebelumnya dengan Awan, merencanakan aksi romantis di tempat yang juga diakuinya memperkuat kesan manis dan romantis dari Awan. Sejak mereka sering usil menggoda Aurora karena kedekatannya dengan Awan, sebenarnya dia sudah mulai curiga. Tapi tetap saja dia tak pernah terpikir kalau Awan dan teman-temannya akan merancang momen seindah ini.
Saat turun di dalam lift, Aurora kembali memainkan liontin sepasang klompen dengan jemarinya sambil memperhatikan Awan yang berdiri di sampingnya. “Ini liontin yang waktu lihat di Delft, aku bilang suka. Bisa-bisanya Mas Awan diam-diam beli liontin ini. Ternyata dia waktu itu merhatiin, padahal aku ngomongnya selewat aja.”
Aurora pun memohon dalam hatinya, “Tetap perhatian sama aku ya, Mas… untuk seterusnya.” Aurora tersenyum, dekapan kehangatan bahagia itu masih terasa.
Kembali berada di kaki menara, rasa kagum sekaligus puas terlihat jelas di wajah mereka. Tak sia-sia memang merogoh kantong cukup dalam untuk menikmati Eiffel dari bawah hingga ke puncak. Terlebih bagi Awan dan Aurora, tempat ini menjadi saksi bersejarah momen spesial dalam hidup mereka. Di sini lah mereka mengukir kenangan yang tentunya tak akan bisa terhapuskan dari ingatan.
“Mas Awan, sini aku fotoin lagi, berdua Au.” Saras mengarahkan tangannya meminta HP Awan.
“Tadi kan before, sekarang after.” Alisnya naik turun menggoda Aurora.
Senyuman pun tersungging di bibir Awan mendengar ucapan Saras. “Yuk, Au… foto lagi.”
Berbeda dari foto mereka sebelumnya, kali ini Awan tidak merangkul Aurora di bahunya, melainkan di pinggangnya. Menghilangkan desiran dan rasa grogi yang dirasakan tubuhnya, Aurora memilih berpose dengan mengangkat tangannya dengan dua jari yang membentuk huruf V.
Saras tak mau berhenti menggoda Aurora. Setelah selesai mengambil satu foto, dia pun mengarahkan Awan dan Aurora untuk berganti gaya. “Sambil lihat-lihatan dong, biar makin kelihatan mesranya.”
Aurora langsung cemberut menekuk bibirnya. “Iiih, apaan sih? Udah ah, Mas!”
Dia pun berusaha melepaskan diri dari rangkulan Awan sambil membelalakkan mata pada Saras, sementara Saras hanya tertawa menang berhasil menggoda Aurora.
Awan pun ikut tertawa gemas melihat tingkah laku Aurora yang merajuk karena malu. “Au… Au… aku tuh sebenarnya geregetan lihat kamu malu-malu gitu. Bikin pengen meluk kamu sampe kamu megap-megap.” Dia pun akhirnya membiarkan Aurora bebas dari rangkulannya karena tak mau kelepasan merealisasikan apa yang diinginkan hatinya.
Dari Eiffel mereka berjalan kaki santai cukup jauh menuju Invalides, sebuah kompleks taman dan bangunan megah berkubah emas, termasuk makam Napoleon Bonaparte di dalamnya. Seperti di tempat-tempat lain, mereka pun tidak masuk ke dalam bagian gedung tetapi hanya melihat-lihat dan berfoto saja dari luar.
__ADS_1
Tujuan terakhir mereka setelah itu adalah Jembatan Alexander III yang terlihat gagah membelah Sungai Seine, dengan Grand Palais yang berdampingan dengan Petit Palais di ujungnya. Sore hari pun mereka habiskan bersantai menikmati suasana di tepi Sungai Seine, melihat langit yang semula terang berangsur gelap dan di kejauhan Menara Eiffel mulai bersinar. Waktu yang berlalu diresapi sepenuh hati karena tengah malam nanti mereka sudah harus meninggalkan Kota Paris.
Berada di dalam bus malam yang membawa mereka kembali, semua terlihat lelah dan memilih langsung beristirahat, setidaknya sekadar memejamkan mata. Seperti saat berangkat, Awan pun kini duduk di sebelah Aurora. Tanpa perlu diminta, Aurora sudah menyenderkan kepalanya di bahu Awan, mencari posisi paling nyaman agar dapat tidur pulas sepanjang perjalanan. Berusaha mengalirkan ketenangan dan rasa aman bagi Aurora, Awan pun membelai lembut kepala Aurora sampai kantuk dan letih membuatnya ikut tertidur.
“Au…,” panggil Awan pelan.
Aurora belum bergerak meski Awan sudah dua kali memanggil namanya. Pada panggilan ketiga, Awan membangunkan Aurora sambil menepuk-nepuk pipinya.
Aurora terbangun, berusaha membuka matanya yang masih ingin menutup rapat sambil bergumam, “Mmm… udah sampai, Mas?”
“Bentar lagi. Yuk, bangun.”
Aurora kembali menyenderkan kepalanya dan memejamkan mata. “Uuuuh, masih ngantuk.”
“Enak ya tidur di sebelah aku?” Nada suara Awan penuh godaan.
Aurora cepat menegakkan badannya, tapi masih memejamkan mata dengan bibir yang ditekuk. “Aduh, masih ngantuk sempat-sempatnya jahil!” Aurora sedikit sewot karena benar-benar masih ingin tertidur.
Awan tersenyum melihat Aurora yang terlihat kesal lalu menjawil pelan cuping hidung Aurora. “Ayo, bangun. Beneran udah dekat ini.”
Aurora malah semakin menekuk bibirnya menyudut ke bawah, seolah ingin menyatakan protesnya karena Awan masih terus menghalanginya mencuri waktu tidur barang semenit.
“Hmmm… sengaja ya biar aku gendong pulangnya,” goda Awan di telinga Aurora.
Embusan nafas Awan yang terasa menggelitik di daun telinganya serta kalimat tuduhan berbau rayuan itu akhirnya mampu membuat Aurora membuka matanya dan terjaga. Seulas senyum pun terukir di bibir Aurora kala bayangan Awan yang menggendongnya terlintas dalam daya khayalnya.
“Nah gitu dong, senyum… kan manis, penyemangat pagi.”
__ADS_1
Begitu kalimat itu selesai terucap, Aurora langsung mendorong bahu Awan dengan bahunya, berusaha menghilangkan jengah akibat rayuan maut Awan di pagi pertama setelah mereka resmi menjadi pasangan kekasih.