AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Tak Rela Berpisah


__ADS_3

Hari terakhir sebelum Aurora terbang jauh menuju Indonesia menjadi hari yang berat bagi Awan dan Aurora. Keinginan hati untuk melewati setiap detik bersama tak dapat dihindari. Rasa berat hati seolah melumpuhkan tubuh membuat gerak menjadi terbatas, sementara persiapan pulang harus segera diselesaikan.


Sejak pagi hingga siang hari Aurora dan Saras sibuk membersihkan unit mereka dengan dibantu Awan. Sebelum menyerahkan kunci dan mendapatkan kembali uang deposit kamar, setiap sudut bagian unit harus dipastikan bersih tanpa noda. Ruang dapur, kamar mandi, ruang toilet yang memang terpisah dari kamar mandi, balkon, dan tentunya kamar tidur, semuanya harus kembali pada kondisi seperti semula, rapi dan mengkilat dari lantai sampai dinding bahkan langit-langit.


Setelah memastikan semuanya selesai dengan sempurna, tiba saatnya mereka memanggil Judy, si penanggung jawab apartemen, untuk melakukan pemeriksaan. Mata elang Judy menyelidik setiap sudut dan bagian tersembunyi yang membuat Aurora dan Saras tetap was-was. Ketika akhirnya Judy selesai dan memberikan pujian akan kebersihan dan kondisi yang masih terjaga apik, mereka pun lega. Uang deposit bisa kembali ke tangan, jumlahnya memang lumayan bila dirupiahkan.


Mengganti energi yang keluar sejak pagi, mereka bertiga memutuskan beristirahat sebentar di dapur yang sudah kosong dari bahan makanan dan peralatan serta perabotan ekstra yang pernah ada di sana. Puas mengobrol, Saras memilih masuk ke kamar untuk meluruskan badan barang sejenak, sementara Aurora bersiap-siap mandi dan berbenah diri karena berencana akan menghabiskan waktu bersama Awan.


Kalau sebelumnya Awan yang harus menunggui Aurora mandi, kali ini gantian Aurora yang menonton televisi sambil menunggu Awan selesai menyegarkan dirinya. Meski itu bukan kali pertama Aurora melihat Awan dengan rambut basahnya yang belum tersisir rapi, entah mengapa hati Aurora selalu berdebar dan pikirannya sering tidak bisa dikontrol karena melayang kemana-mana. Aurora sampai-sampai harus mengalihkan pandangannya ke berbagai arah kecuali ke arah Awan.


Sempat mengobrol sebentar di sofa, ketika langit mulai terlihat gelap mereka pun bersiap-siap keluar untuk mencari makan malam. Berharap waktu bisa berjalan lebih lambat, tetapi detik-detik ternyata tetap berlalu normal. Tidak mau terlalu lama menikmati makan malam, Awan dan Aurora memilih untuk berjalan kaki menyusuri jalanan yang sudah mulai berkurang keramaiannya. Aurora ingin merasakan untuk terakhir kalinya suasana malam hari Kota Rotterdam karena tak tahu kapan lagi dia akan punya kesempatan datang kembali.


Kaki mereka membawa langkah menyusuri Sungai Nieuwe Maas yang di malam hari terlihat sepi. Berjalan bergandengan tangan tanpa bicara, mencoba meresapi tautan jari yang membawa kehangatan di hati. Tatkala ingin merasa lebih dekat, Awan melepaskan genggamannya dan berjalan merangkul bahu Aurora yang dibalas Aurora dengan rangkulannya pada pinggang Awan. Langit malam yang cerah dengan semilir angin yang segar tak mampu menutupi suasana hati yang gelisah hingga mereka tiba di Jembatan Erasmus yang terlihat indah dengan lampu warna-warni menyorotnya.


“Mas, fotoin aku dong, latarnya jembatan,” pinta Aurora.


“Coba ya, mudah-mudahan kelihatan,” kata Awan sambil mengatur settingan kamera lalu mengarahkan HP-nya untuk mengambil foto Aurora.


“Bagus nih, kelihatan lampunya.” Awan menunjukkan hasil fotonya pada Aurora dan melanjutkan, “Yok, kita foto bareng.” Tangannya merangkul Aurora.


Awan dan Aurora beberapa kali melakukan pengambilan foto dengan berbagai pose untuk mendapatkan hasil terbaik, sebagai kenang-kenangan yang nantinya diharap bisa mengobati kerinduan. Sambil tetap berdiri bersisian saling merangkul, mereka memperhatikan lampu jembatan yang terus menyorot berganti warna. Bentuk jembatan yang dipertegas dengan sinar lampu membuatnya benar-benar terlihat seperti seekor angsa. Tak heran kalau jembatan itu juga diberi nama ‘The Swan’.


“Hmm … mulai besok aku gak bisa lihat ini lagi, Mas,” ucap Aurora dengan sedih.


Awan tidak menjawab, dia memilih diam karena kalimat dan nada yang terdengar membuat hatinya semakin bersedih.


Mereka sama-sama terpaku dalam diam, namun perlahan Aurora menengadahkan kepalanya ke arah Awan, ingin melihat wajah Awan yang dalam hitungan jam tak lagi bisa disentuhnya. Menyadari gerakan Aurora, Awan pun memalingkan kepalanya dengan pandangan ke bawah terarah pada Aurora. Mata mereka bertemu dengan kerinduan sekaligus kecemasan yang tersirat di dalamnya.

__ADS_1


Awan menundukkan kepalanya lebih rendah sampai bibirnya dapat mengecup bibir Aurora. Hanya sekilas, tetapi mampu membuat Aurora tersentak kaget mengingat mereka saat ini sedang berada di tempat umum dan terbuka.


“Mas …?” katanya sambil celingak-celinguk memastikan keberadaan orang lain di sekitar mereka. Untungnya area pejalan kaki di jembatan itu sedang sepi, hanya terlihat mobil yang melintas, itu pun hanya satu dua.


Meskipun berciuman di tempat umum biasa terlihat di Belanda, tetap saja Aurora merasa malu. Dia mencubit pelan pinggang Awan ingin menghukum Awan karena ulahnya barusan.


Awan tertawa menerima perlakuan Aurora. Dia tahu kalau kelakuannya barusan memang tergolong nekat.


“Sorry … naluri,” katanya masih sambil terkekeh. Aurora pun mencibir mendengar alasan Awan.


Cibiran Aurora mendorong Awan langsung mendekap Aurora erat, bahkan sangat erat.


“Kapan aku bisa memeluknya lagi saat ia menggemaskan seperti ini? Enam bulan, terasa lama meski bisa juga dikatakan singkat,” pikir Awan sambil tangannya terus menekan punggung dan belakang kepala Aurora, membagi kehangatan tubuh di antara mereka. Walaupun belum terasa puas, Awan melepaskan dekapannya karena tak mungkin mereka seterusnya berada di sana.


“Yuk, kita pulang,” kata Awan pelan.


Aurora menyelipkan tangannya memeluk lengan Awan dan mereka pun berjalan lambat meninggalkan Jembatan Erasmus dengan segala keindahannya.


Awan menyalakan televisi dengan volume rendah, seperti biasa hanya sekadar ada suara latar yang menemani mereka. Duduk berdampingan di sofa, tangan Awan merangkul Aurora di bahunya sementara Aurora menjangkau memeluk Awan di pinggangnya. Mereka hanya diam, meresapi rapatnya tubuh mereka yang tak rela bila harus terlepas. Perlahan terdengar suara pelan isak tangis, Aurora sudah sesenggukan di dada Awan. Hati Awan tersayat, pilu mendengar dan merasakan Aurora yang tak sanggup menahan air matanya.


“Ya udah, nangis dulu aja,” kata Awan berusaha menenangkan Aurora sambil membelai lembut kepala Aurora yang bersender di dadanya.


Suara isak tangis berhenti dan tubuh Aurora tak lagi bergetar, menandakan dia sudah selesai dengan tangisnya. Awan tak menghentikan belaiannya karena dengan itu dia pun bisa lebih menguatkan hatinya.


Tak lama kemudian Aurora menengadahkan kepalanya melihat ke arah Awan, dengan sisa air mata yang mengalir di pipinya dan setitik genangan masih menggantung di sudut matanya. Dengan lembut Awan menghapus air mata Aurora, tetapi hatinya kembali lemah melihat air muka Aurora yang sangat bersedih. Awan sadar saat-saat ini memang saat yang sangat berat bagi mereka berdua.


Tak ingin membuat Aurora semakin tenggelam dalam kesedihannya, Awan berusaha mengumpulkan kekuatan dan mencoba menghibur Aurora. “Sabar ya … tunggu enam bulan lagi aku pulang.”

__ADS_1


Awan membelai pipi Aurora dan melanjutkan, “Kalau perlu kita video call tiap hari.”


Kalimat Awan bukannya menenangkan malah membuat Aurora kembali meneteskan air mata. Awan mempererat pelukannya, membawa kepala Aurora kembali ke dadanya, lalu mencium puncak kepala Aurora. Tak hanya berhenti di situ, Awan mulai turun mencium kening Aurora, dan mengambil jeda di sana.


Aurora kembali mengangkat kepalanya karena ingin melihat Awan yang baru saja mencium keningnya dalam. Gerakan Aurora dan pandangan mata yang terpaut membuat Awan terdorong untuk turun lebih ke bawah dengan tangannya yang telah menopang tengkuk Aurora, lalu mengecup bibir Aurora sekilas. Tak sampai sedetik, Awan mengulang tindakannya, tetapi kini membiarkan kecupan lembutnya bertahan lebih lama. Saat Aurora memberi celah pada bibirnya dan membalas perlakuan Awan, jantung Awan seketika berdebar menjadi lebih cepat dan suhu tubuhnya terasa meningkat.


Ketika hasrat yang hadir terasa semakin menuntut, kesadaran Awan menuntunnya melepaskan Aurora dengan pelan dan penuh kelembutan. Pandangan mereka kembali bertemu dengan kehangatan yang masih terasa dari bibir hingga menjalar ke seluruh tubuh mereka masing-masing. Aurora pun tersipu dan kembali masuk ke dalam pelukan Awan. Mereka sama-sama merasa tidak rela bila hari harus berganti dan perpisahan menjadi tak terelakkan.


Awan melirik jam tangannya dan melihat waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.


“Au, ini udah malam ... kamu besok pagi udah harus siap-siap berangkat. Kita istirahat dulu ya.”


Aurora diam tak menanggapi ajakan Awan.


Awan melepaskan pelukannya dan menggeser tangan Aurora dari pinggangnya lalu berdiri, sementara Aurora terlihat jelas dari wajah dan tubuhnya masih malas dan berat untuk bangkit. Aurora melirik tempat tidur Awan dan kata hatinya memilih untuk beristirahat di sana saja, tapi dia tau itu tidak lah mungkin. Perlu tiga kali suara ajakan Awan terdengar, barulah Aurora bangkit berdiri. Meski sudah berdiri, Aurora tidak menutupi keengganannya lewat postur tubuh yang lunglai dan gerak yang lambat.


Aurora akhirnya kembali ke unitnya dengan dihantar Awan. Tiba di depan pintu unit, Aurora menggeser posisinya berhadapan dengan Awan dan memegang kedua tangan Awan dengan kepala menunduk. Tubuh dan jiwanya masih tidak rela. Awan mencoba menghilangkan aura kesedihan di antara mereka dengan canda.


“Senyum dong … aku gak enak nih ditinggal dengan sedih.”


Aurora terpaksa tersenyum mendengar nada suara Awan yang berusaha mencairkan suasana. Awan menurunkan tubuhnya sedikit menunduk agar bisa sejajar dengan wajah Aurora, berusaha mengintip ingin melihat ekspresi Aurora dengan jelas. Tiba-tiba Awan merasakan bibirnya dikecup Aurora sekilas. Awan terperanjat, tak menyangka Aurora akan berinisiatif duluan.


Tindakan spontan Aurora malah membuatnya malu sendiri dan langsung menunduk lebih dalam. Awan tersenyum geli melihat tingkah Aurora yang kikuk lalu mengambil kepala Aurora ke arahnya dan mengecup kening Aurora.


“Masuklah. Kamu harus istirahat, besok perjalanan panjang,” kata Awan sambil tersenyum dan mendorong Aurora pelan memasuki unitnya.


Aurora tersenyum tipis membalas Awan, tetapi masih terlihat tak rela dan tetap berdiri di pintu yang sudah setengah tertutup, menatap nanar pada Awan yang melangkah meninggalkannya. Dari depan lift Awan melihat Aurora masih mengintip dari balik pintunya. Dia lalu tersenyum lebar sambil kedua tangannya bergerak-gerak memberikan gestur tanda menyuruh Aurora segera masuk ke dalam unitnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2