
Dengan berakhirnya sidang thesis yang menjadi kewajiban akhir bagi semua mahasiswa, artinya semakin dekat pula waktunya untuk sebuah perpisahan. Aurora sungguh berharap bumi berhenti berputar sehingga waktu bisa berhenti agar dirinya tak perlu berpisah dengan Awan. Tapi apa daya, itu adalah hal yang mustahil, sesuatu yang tak mungkin terjadi.
Sehari sebelum acara wisuda di kampus, penghuni apartemen berkumpul bersama di basement untuk merayakan hari terakhir rangkaian kuliah dan bersiap untuk kata perpisahan. Ada kegembiraan dan rasa puas karena mereka telah berhasil menyelesaikan kuliah dan esok hari secara resmi menyandang gelar baru di belakang namanya. Di sisi lain ada rasa sedih dan kehilangan ketika sadar mereka tak lagi bisa menikmati kebersamaan dan mengecap suasana dan aroma kampus serta apartemen tempat mereka tinggal setahun terakhir.
Malam itu mereka isi dengan makan bersama mencicipi menu makanan yang beragam dari berbagai negara juga memuaskan diri berbincang dengan teman yang dalam hitungan hari tak akan lagi bisa berjumpa. Sebagaimana acara di basement sebelumnya, Awan juga terlihat hadir bergabung dan berbaur di sana. Sam terlihat berbincang hangat dengan Awan, tapi itu tidak lagi membuat hati Aurora gundah.
Acara wisuda yang hikmat dan sederhana diselingi dengan kesan dan ucapan perpisahan dari dosen dan perwakilan mahasiwa membawa rasa haru bagi semua yang hadir di ruangan. Pencapaian setiap orang meski berbeda tetapi layak dirayakan karena waktu dan usaha yang sudah tercurah selama masa kuliah. Perayaan keberhasilan di Social Room dilakukan setelah wisuda yang diisi dengan kegiatan berfoto di sana-sini serta tentunya makan dan minum sambil menuntaskan tawa.
Setelah perayaan ini bisa dikatakan mereka tidak akan bertemu lagi satu dengan yang lain. Beberapa orang ada yang segera pulang kembali ke negeri masing-masing, tetapi ada yang memang masih bertahan sampai visa tinggal benar-benar berakhir. Aurora dan teman-temannya masih punya sisa waktu seminggu dan benar-benar memanfaatkan kesempatan menikmati Rotterdam hingga hari terakhir yang diperbolehkan.
Dua hari setelah wisuda, Aurora, Saras, dan Singgih ditemani Awan pergi membawa sepeda mereka ke Pasar Blaak untuk dijual kembali di tempat mereka membelinya. Hanya berbekal secarik kuitansi pembelian, proses penjualan sepeda bisa dengan mudah dilakukan. Dengan mengantongi uang hasil penjualan sepeda, mereka menghabiskan siang hari dengan berkeliling di pusat kota Rotterdam, menyusuri pertokoan di Lijnbaan lalu mengarah menuju Beursplein, sebuah area pertokoan pejalan kaki yang lokasinya di bawah tanah. Di sana mereka mencoba melihat-lihat mungkin saja ada sesuatu –terutama dengan label korting yang tertera– yang bisa mereka beli untuk dijadikan oleh-oleh bagi sanak keluarga dan teman.
Sepanjang perjalanan yang dilakukan dengan jalan kaki dalam tempo yang lambat, Awan hampir tak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Aurora. Keduanya benar-benar ingin menikmati hari-hari yang tersisa bagi mereka untuk bisa bersama. Setiap detik diresapi agar bisa memberi rasa dan berharap dapat tersimpan dalam memori selamanya.
Sore hari Saras sudah punya janji dengan Nelu karena Nelu akan kembali ke negaranya esok siang. Sama seperti Aurora, Saras pun sangat berat hati dan gelisah memikirkan perpisahannya dengan Nelu. Saras tak tahu apakah hubungannya dengan Nelu akan tetap bertahan bila mereka nanti akan terpisah begitu jauh. Kecanggihan teknologi memang memungkinkan jarak seolah tak berarti, tetapi Saras tak memungkiri kalau kemungkinan hubungan mereka akan berakhir akibat perbedaan jarak, waktu, dan asal usul, tetap lah terbuka. Saras dan Nelu memang belum pernah bicara serius mengenai kelanjutan hubungan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga dia tak terlalu yakin apa yang mungkin akan terjadi.
Awan memilih untuk menemani Aurora yang hari itu memutuskan untuk mengemas barang-barangnya yang semakin bertambah banyak untuk dibawa pulang ke Indonesia. May teman se-unit Aurora dan Saras sudah lebih dulu pulang pagi harinya karena sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan anaknya. Suara musik dari laptop terdengar menemani Awan dan Aurora yang sibuk menata barang ke dalam kardus dan juga koper Aurora.
Sesungguhnya Awan merasa sangat sedih melihat Aurora sedang mengemasi barang-barangnya yang membuat kamarnya mulai terlihat kosong. Hatinya terasa tercabik karena teringat kalau sebentar lagi dia akan ditinggal pergi Aurora. Hari-hari selanjutnya tentu akan terasa sepi, kehilangan sosok Aurora yang biasanya hadir menemaninya menjalani hari. Dalam pemikiran Awan, kondisi perpisahan ini akan lebih mudah bagi Aurora karena dia akan menjalani suasana dan aktivitas baru di Indonesia, berbeda dengan dirinya yang harus tertinggal sendiri dengan suasana dan aktivitas seperti biasa.
Lelah mengemas barang, Aurora mengajak Awan untuk beristirahat menikmati makan malam di dapur. Sambil makan mereka mulai berbincang tentang rencana-rencana mereka ke depan.
“Kamu beneran mau kerja di Bandung lagi, Au? Gak di Surabaya?”
“Iya, Mas. Sementara sih sepertinya begitu. Aku mau lanjut kerja di kantor lama aja. Aku dapat referensi dari sana, kayaknya kurang nyaman kalau langsung ku tinggalkan.”
“Ooh ….” Awan manggut-manggut pelan.
Aurora kembali melanjutkan perkataannya, “Ingin juga sebenarnya temani mama di Surabaya, Mas. Tapi mungkin setahun nanti aku di Bandung dulu.” Jeda sebentar, lalu Aurora mulai tersenyum menggoda dan berkata, “Kecuali kalau aku diboyong Mas Awan.” Kalimat Aurora itu mampu memperdengarkan suara tawa mereka di ruangan.
“Hmmm … kira-kira mamamu bakal terima aku gak, Au?” tanya Awan sedikit penasaran.
__ADS_1
Aurora tersenyum. “Terima lah … mamaku gak neko-neko kok, Mas.”
Tangannya terulur menyentuh tangan Awan di atas meja, lalu melanjutkan, “Syarat dari mama, aku harus cari pasangan hidup yang bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup keluarganya. Aku udah lihat itu ada di Mas Awan. Jadi aman ….”
Awan mengulas senyum mendengar ucapan Aurora.
“Ditambah lagi Mas Awan itu pintar, sopan, sayang sama Au dan selalu dukung Au. Kalau Mas Awan cakep sih itu bonus aja ya ….” Aurora terkekeh membuat Awan menjawil hidung Aurora karena gemas.
“Eh ada satu lagi deng yang paling penting,” ujar Aurora cepat. Awan memandang dengan mimik bertanya.
“Mas Awan mau berkomitmen dengan Au.” Senyum Aurora langsung terkembang. Awan mengulurkan tangannya mengusap-usap pipi Aurora dengan lembut. Bibirnya menunjukkan senyuman meski matanya terlihat sedikit murung karena memikirkan perpisahan.
Diturunkannya tangannya meraih jemari Aurora dan kemudian memberikan kecupan singkat di punggung tangan Aurora sebelum kemudian menggenggamnya. Awan seperti ingin menyampaikan terima kasih pada Aurora atas seluruh pujiannya tadi dan sekaligus berharap agar genggamannya dapat menahan Aurora pergi.
“Mmm … kalo orang tuanya Mas Awan gimana?” Gantian Aurora yang bertanya.
“Ya pasti terima, lah,” ucap Awan cepat.
“Aaaah … yang bener…,” goda Aurora dengan kerlingan di matanya.
Awan tersenyum lebar lalu melepaskan genggamannya dan menjawil dagu Aurora sambil berkata, “Iya, cantik luar dalam dan menggemaskan.” Dengan bertopang dagu dan menatap Aurora sambil tersenyum-senyum, Awan pun menambahkan, “Lagi senang bikin gemas, lagi marah ya bikin gemas juga.”
Aurora tertawa mendengar ungkapan Awan.
Kembali menggenggam tangan Aurora, Awan melanjutkan dengan suara yang terdengar yakin, “Kita merasakan yang sama, Aurora. Kamu juga selalu mendukung aku dan bisa melengkapi diriku.”
Mereka berdua saling tersenyum dan menatap dalam ke mata pasangannya.
Setelah sempat terjadi keheningan di antara mereka, Awan kembali bersuara. “Semoga gak ada halangan ya, Au. Nanti enam bulan lagi aku pulang ke Indonesia sambil mengambil data yang masih ku perlukan untuk penelitian. Paling tidak aku bisa tinggal di Indonesia sekitar enam bulan sebelum balik lagi ke sini.”
Awan berhenti sebentar, raut wajahnya menunjukkan dia sedang berpikir.
“Mmm … kira-kira cukup gak ya enam bulan itu kita rencanakan pernikahan kita, Au?”
__ADS_1
Aurora tersentak. Refleks kepalanya ia majukan ke depan dengan mimik tak percaya dan ingin memastikan ekspresi Awan serta kalimat yang keluar dari mulutnya.
Awan tersenyum geli melihat reaksi Aurora. Dengan nada menggoda dia bertanya, “Memangnya kamu gak ada rencana mau menikah denganku?”
Aurora malah tersipu malu sehingga segera menarik tangannya dari genggaman Awan dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Tingkah Aurora membuat senyum Awan berubah menjadi tawa.
Begitu tangannya ia turunkan, Aurora langsung bertanya memastikan, “Mas Awan ingin kita nikah tahun depan? Gak menunggu Mas Awan selesai disertasi?”
Awan tergelak sampai punggungnya terdorong ke belakang menyentuh sandaran kursi. Dengan wajah cemberut dan nada kesal dia menjawab Aurora, “Itu sih kelamaan!”
Aurora pun ikut tergelak lalu membalas, “Ya kirain ….”
“Kamu mau? Aku sih enggak.”
“Aku juga enggak sih, Mas.”
Lalu mereka pun kembali tertawa lepas mendengar jawaban masing-masing.
Setelah tawa mereka terhenti, Awan kembali melanjutkan diskusinya dengan Aurora. “Cukup kayaknya ya empat sampai enam bulan mulai dari dari pertemuan orang tua sampai hari pernikahannya. Semoga gak ada aral melintang,” harap Awan.
“Aamiin, Mas.”
“Kamu udah ada cerita ke mamamu?”
“Hmm … cuma bilang kalau di sini ada teman yang dekat. Aku belum berani bilang lebih jauh, Mas. Kayaknya lebih enak kalau disampaikan langsung.”
“Iya, aku juga. Nanti kalau sudah pulang ke Indonesia aku akan langsung kenalan dengan mamamu,” janji Awan sambil tersenyum yang dibalas Aurora dengan senyuman pula.
Hatinya seketika diliputi bahagia membayangkan Awan akan berkenalan dengan mamanya yang dilanjutkan dengan pernikahan. Bayangan pernikahan itu membuatnya menunduk malu dengan senyuman yang semakin lebar.
__ADS_1