AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Bimbang di Paris


__ADS_3

Aurora termenung sambil memilah pakaian dan barang lainnya yang akan dia bawa dalam ranselnya. Duduk bersila di lantai berkarpet di sisi tempat tidur, Aurora masih memikirkan semua makna di balik perlakuan dan kata-kata Awan. Genggaman Awan tiga hari yang lalu seperti masih terasa hangat di tangannya.


“Mas Awan masih aja gak ngomong apa-apa, tapi kalau dilihat dari sikap dan kelakuannya, kok kayaknya Mas Awan ngasih harapan lebih buat aku? Apa Mas Awan memang biasa pegangan tangan ama perempuan? Tapi aku juga gak pernah lihat sebelumnya.


"Kalau memang dia gak pegang sembarangan perempuan, kok gak pake ngomong-ngomong dulu? Atau Mas Awan juga udah yakin kalau aku sebenarnya suka dia? Waktu ada Bang James, kayaknya Mas Awan kelihatan cemburu deh… tapi ya tetep aja gak bilang apa-apa.”


Aurora bingung dan malah menjadi kesal karena tak bisa menyimpulkan maunya Awan. Sambil memegang baju yang sudah digulung rapi dalam genggamannya, Aurora menutup mata. Menarik napas dalam kemudian mengembuskannya perlahan, berusaha mengisi tubuhnya dengan oksigen sebanyak-banyaknya, Aurora berusaha menenangkan dirinya.


Mulai malam ini hingga setidaknya dua hari ke depan, mereka akan bersama-sama. Aurora tidak ingin liburan yang dinanti-nantinya ini rusak karena perasaannya yang gundah meraba hati Awan.


Dalam bus malam yang membawa mereka ke Kota Paris, Aurora tak menyangka kalau Saras akan memilih duduk berdua dengan Singgih. Perasaan antara dagdidug senang tetapi sekaligus cemas menghantui Aurora, sementara Awan terlihat biasa-biasa saja saat tubuhnya mengambil tempat di sisi Aurora.


Sesungguhnya Aurora hanya takut kalau dia terlalu berlebihan menganggap Awan punya perasaan padanya. Cinta bertepuk sebelah tangan tentu tak enak rasanya.


Karena perjalanan dilakukan malam hari, tidak banyak penumpang yang berbicara, termasuk Awan dan Aurora. Mereka hanya berbincang sebentar dan kantuk pun mulai datang.


“Bisa tidur gak Au kalau lagi di jalan gini?” tanya Awan.


“Bisa Mas… aku gampang tidur di mana-mana,” jawab Aurora sambil tersenyum.


“Bagus, kalau gitu tidur aja sekarang. Besok pagi kita langsung jalan, soalnya….”


“Iya, Mas.” Aurora pun mengambil posisi dan menutup matanya membiarkan kantuk menguasai hingga tertidur.


Saat Aurora terbangun dan pelan-pelan membuka matanya, dia langsung terkejut dan menegakkan badannya.


“Kok aku bisa nyender ke Mas Awan? Astaga Au… kamu kok bisa gak sadar!?” Aurora memarahi dirinya sendiri.


“Udah bangun?” Suara khas Awan masuk ke telinga Aurora menyadarkannya.


“Eh, i-iya Mas, udah.”


Aurora melanjutkan dengan wajah memelas meminta maaf. “Maaf ya Mas, tadi aku tidurnya malah nyender.”


Awan terkekeh ringan. “Gakpapa… aku kok yang geser kepala kamu supaya nyender. Soalnya tadi kasihan, kayaknya lelap banget sampe ngangguk-angguk gitu,” ujar Awan sambil mencontohkan kepalanya yang terangguk keras ke depan.


“Mumpung yang punya bahu juga rela kan gak ada salahnya. Lain kali kan bisa gantian… ya, kan?” Awan tersenyum dengan kerlingan menggoda.


Aurora merasa wajahnya panas dan hanya tersenyum malu sambil mengalihkan pandangannya ke jendela.


“Tuh kaaan… gitu lagi deh,” batin Aurora.


Mereka tiba di Kota Paris saat langit masih gelap di akhir bulan Desember meskipun waktu sebenarnya sudah menunjukkan hampir pukul 7. Setelah masuk penginapan, membersihkan diri, beristirahat sebentar meluruskan kaki, dan tentunya sarapan singkat, mereka pun memulai perjalanan sesuai rencana yang sudah disusun. Peta perjalanan sudah disiapkan, termasuk peta jalur metro (kereta bawah tanah) di Paris yang terlihat berwarna-warni.

__ADS_1


Meskipun hanya punya waktu dua hari di Paris, mereka berusaha bisa mengunjungi semua tempat terkenal yang ada.


Perjalanan hari pertama mereka awali dari Pantheon, lalu diteruskan ke Notre Dame, sebuah gereja berarsitektur Gothik yang lokasinya berada di sebuah pulau kecil di tengah-tengah Sungai Seine.


Mereka menghabiskan waktu cukup lama di area ini karena banyak hal yang memang bisa dinikmati di sana. Tidak hanya sekadar menikmati bangunan-bangunan yang ada di sekitar gereja dan melihat-lihat pemandangan dari luar, tapi mereka juga masuk ke dalam gereja untuk melihat bagaimana isinya dan menebak-nebak bagaimana dulu mereka bisa membangun hingga ornamennya tampak sangat detil.



Setelah puas menikmati Notre Dame dan Conciergerie, mereka lanjut berjalan kaki melewati Saint Jacques Tower dan sempat singgah di gerai cepat saji untuk membeli makan siang.


Dari sana mereka mengunjungi The Centre Pampidou, sebuah bangunan modern yang tetap bisa berdampingan dengan indah di antara bangunan-bangunan klasik.


Sambil beristirahat dan menikmati makan siang, keenam mahasiswa asal Indonesia itu bersantai di tepi Stravinsky Fountain yang terlihat sangat unik dengan patung-patung modern berwarna-warni representasi dari karya musik gubahan Stravinsky.



Selama dalam perjalanan Awan selalu berusaha mendampingi Aurora. Saat ini pun di waktu istirahat, Awan tak melewatkan kesempatan untuk bisa berdua dengan Aurora.


Perhatian-perhatian kecil dia berikan, dari mulai hal-hal sederhana seperti membuka botol minum sampai membersihkan tempat yang akan diduduki Aurora.


Tak ayal tanda tanya yang penuh sesak dalam pikiran Aurora mendesak membutuhkan jawaban. Namun, dia tak berani untuk mengkonfirmasi Awan dan akhirnya hanya pasrah menikmati semua perlakuan manis Awan padanya.


Dengan menggunakan kereta bawah tanah (metro), mereka melanjutkan perjalanan menuju Basilica Sacre Coeur, sebuah gereja putih dengan atap kubah yang berlokasi di atas Bukit Montmartre.


Sudah terlihat banyak orang yang duduk-duduk di anak tangga sambil menikmati pemandangan dari atas, sementara mereka berenam sibuk mencari spot terbaik untuk mengambil foto.



Dengan santai Awan melingkarkan lengannya pada bahu Aurora agar mereka berdua bisa berada dalam satu frame dengan latar belakang Basilica Sacre Coeur yang terlihat megah. Aurora tak tahu, apakah senyumnya terlihat natural atau justru kikuk karena dirangkul Awan.


“Bagus nih!” kata Awan sambil menunjukkan hasil foto pada HP-nya kepada Aurora.


Aurora tersenyum dan mengangguk mengiyakan Awan. “Untung gak kelihatan salting,” batin Aurora.


Di atas bukit mereka masih berkeliling menikmati banyaknya ‘pelukis jalanan’ yang sedang beraksi. Terlihat beberapa wisatawan yang sedang dilukis, ada yang memang sangat mirip dengan wajah aslinya, ada pula yang berupa karikatur. Lukisan cat air bergambar tempat-tempat terkenal di Paris terlihat hampir di setiap kios pelukis, dengan harga yang sebenarnya cukup murah bila dibanding karya yang dihasilkan.


Saras dan Iqbal asyik memperhatikan pelukis yang sedang melukis seorang wisatawan perempuan, sementara Lukas dan Singgih terlihat sedang membahas mengapa aktivitas dan suasana yang ada terasa sangat menarik dan berbeda, padahal sebenarnya tempat wisata di Indonesia juga bisa menyuguhkan hal yang sama.


Awan memilih-milih beberapa lukisan cat air yang ada, lalu bertanya pada Aurora di sebelahnya yang juga sedang melihat-lihat.


“Au, ini kamu suka nggak?” Tangannya memegang lukisan bergambar Menara Eiffel.


“Suka,” jawab Aurora sambil ikut memegang lukisan tersebut dan memperhatikannya.

__ADS_1


“Kamu mau?”


Aurora menoleh pada Awan. “Kok aku? Kirain Mas Awan yang mau beli.”


“Iya, aku mau beli. Buat kamu.”


“Iiih, kenapa?” Aurora merasa aneh karena Awan tiba-tiba ingin membelikannya lukisan.


Awan malah tertawa. “Ya gakpapa… pengen beliin aja. Kenang-kenangan buat kamu.”


Tanpa memberikan kesempatan pada Aurora untuk menjawab, Awan melanjutkan, “Mau ya, aku belikan. Biar ingat pernah ke Paris sama aku.”


Awan segera berlalu membayar lukisan yang dibelinya, meninggalkan Aurora yang bengong di tempatnya.


“Mas Awan tegaan, ih! Maunya apa siiiih!” Aurora merasa kesal dan gemas dalam hatinya. Ingin sekali rasanya dia memborbardir Awan dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus mengganggu pikiran dan perasaannya sampai Awan menyerah. Tapi dia sadar keberaniannya tak sebesar itu.


Hari sudah menunjukkan tanda-tanda akan beranjak gelap ketika mereka memutuskan melanjutkan perjalanan. Sebelum kembali ke penginapan, mereka menyempatkan berjalan-jalan menikmati pemandangan hingga tiba di Moulin Rouge, sebuah gedung pertunjukan yang menjadi saksi lahirnya kabaret.


Kincir angin besar di bagian atas dan warna merah di seluruh dindingnya memang terlihat menyolok di antara bangunan-bangunan lainnya. Tentu saja mereka tidak masuk ke dalamnya, cukup mengambil foto-foto saja melengkapi koleksi wisata di Paris.



Hari pertama pun berlalu dan ditutup dengan istirahat setelah lelah hampir seharian berjalan kaki. Sebelum tidur Aurora dan Saras masih sempat membahas apa yang mereka nikmati sepanjang hari sambil bergantian melihat-lihat foto yang tersimpan di HP mereka.


“Dih, kok fotomu isinya banyakan objek semua, jarang ada kamunya sih Au? Ini kayaknya yang ada kamunya pasti yang ngambil Mas Awan ya.” Saras tak tahan berkomentar saat melihat-lihat gallery milik Aurora.


“Ya biarin… aku gak terlalu suka difoto, Ras. Lagian kan foto aku pasti ada di HP kalian.” Aurora membela diri.


“Yey, dasar.” Saras tersenyum mendengar jawaban Aurora sambil terus menggerakkan jarinya menggeser foto.


Sampai di foto terakhir, Saras mengembalikan HP Aurora sambil bertanya, “Gak ada foto berdua Mas Awan ya? Gak seru ih!”


Aurora terdiam. “Heh? Kok Saras ngomong gitu?”


Sambil tersenyum ragu dan masih berpikir, Aurora menjawab Saras, “Emang kenapa?”


“Yaelah, Au… jalan-jalan sama cowok ganteng masak gak ada buktinya. Harus ada kenangannya dong… besok-besok lihat-lihat foto sambil terkenang ‘Oh, ini waktu ke Paris sama Mas Awan’. Gitu dong ah!”


Aurora tertawa mendengar ucapan Saras. “Kamu ih, ada-ada aja!”


Saras pun kemudian ikut tertawa bersama Aurora.


“Loh kan bener, Au… itu nikmatnya lihat-lihat ulang foto. Memorinya bisa lengkap... pas lagi dilihat, berasa kayak masuk lagi ke dalam suasana di foto. Iya, kan?”

__ADS_1


Sambil menarik selimutnya dan mengambil posisi tidur, Saras pun melanjutkan, “Taruhan yok, fotomu pasti ada banyak di HP Mas Awan.”


Lalu dia menutup matanya membiarkan Aurora bingung memahami apa yang dia sampaikan.


__ADS_2