
Awan dan Aurora hanya menginap satu malam di Surabaya karena Aurora masih harus masuk kerja di hari Senin. Sejak bertemu dan berkenalan dengan Mama Aurora, timbul rasa penasaran di benak Awan. Ketika mereka sudah di dalam kereta menuju Bandung, Awan mengungkapkan apa yang dipikirkannya.
“Au, aku kok seperti pernah bertemu dengan mama sebelumnya, ya?”
“Maksudnya, Mas?”
“Iya, waktu lihat mama kamu, aku seperti sudah pernah lihat mama sebelumnya.”
Aurora terkekeh. “Mungkin karena Mas Awan sering lihat aku, jadinya seperti pernah lihat mama. Banyak orang yang bilang kalau kami mirip seperti kakak adik,” papar Aurora mencoba membantu menebak.
“Enggak, Au … Aku seperti merasa pernah bertemu di tempat lain. Tapi aku benar-benar gak bisa ingat di mana.” Awan terlihat menerawang masih mencoba menggali ingatannya.
Karena tak juga menemukan jawaban, Awan berpikir mungkin saja benar apa yang dikatakan Aurora. Mungkin hanya perasaan Awan saja melihat kemiripan antara Aurora dan mamanya. Tapi rasa penasaran itu sesungguhnya masih ada.
Awan kembali ke Jakarta dan tiba di rumahnya sore hari, langsung memilih beristirahat di kamarnya meluruskan badan. Sambil berbaring, tiba-tiba bayangan Mirna, Mama Aurora, muncul di benaknya yang kembali membangkitkan rasa ingin tahu yang masih tersimpan. Awan mulai gelisah karena heran mengapa dia menjadi begitu penasaran. Mencoba menghalau kegelisahannya, Awan pun bangkit dan keluar dari kamarnya menuju kamar kerja ayahnya yang berada di lantai bawah.
Ruang kerja ayahnya ini merupakan salah satu ruang favorit bagi Awan di rumah mereka. Seluruh dinding terlihat tertutup dengan lemari yang penuh berisikan buku dalam berbagai ukuran. Awan senang sekali menghabiskan waktu di ruangan ini karena memang ditata sedemikian rupa agar sekaligus menjadi perpustakaan mini bagi keluarga mereka.
Buku-buku yang tersimpan sebagian besar adalah koleksi ayahnya, meski terdapat pula buku-buku pilihan Awan dan adiknya, juga ibunya. Dari judul buku yang ada bisa terlihat kalau temanya sangat beragam, mulai dari buku hobby hingga bahasan politik dan sastra.
Awan duduk di kursi kerja ayahnya, berputar-putar sambil melihat sekeliling. Hatinya yang tadi sempat gelisah berangsur normal karena merasakan atmosfer ketenangan berada di antara buku-buku yang berjejer dan mengingat kenangan indah menghabiskan waktu membaca buku di tempat ini. Mata Awan yang berkeliling kemudian turun memperhatikan meja kerja ayahnya. Sudah tidak banyak berkas-berkas kerja di atasnya karena ayahnya sebenarnya sudah pensiun, meski masih sering dimintai bantuan oleh kantornya.
__ADS_1
Ketika pandangannya terarah pada susunan laci di bagian kanan meja kerja ayahnya, Awan tersentak. Sebuah ingatan tiba-tiba hadir, menyeruak masuk dalam pikirannya dan terbuka seperti kotak bercahaya yang menerangi isi kepalanya. Awan mulai panik dan buru-buru membuka semua laci, dari atas hingga ke bawah, memerika semua isi laci dengan cepat dan penuh selidik, tetapi tak menemukan apa yang dicarinya. Sebuah kotak coklat yang berisikan amplop-amplop putih dan beberapa benda milik ayahnya ketika bekerja.
Awan mengempaskan tubuhnya ke sandaran kursi dan mengembuskan napas dengan kasar. Rasa penasaran yang menghantuinya selama beberapa hari, terjawab sudah!
Awan kini tahu mengapa dia merasa pernah melihat wajah Mama Aurora sebelumnya. Awan kini tahu mengapa dia begitu penasaran ingin menemukan jawabannya.
Awan memang pernah melihat wajah Mama Aurora, bertahun-tahun sebelum ini, di dalam kotak coklat yang dulu tersimpan di laci meja kerja ayahnya.
Awan merasa lemas. Seluruh tubuhnya seperti tak dialiri darah dan dia merasakan ketegangan dan kecemasan yang membuatnya menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya lalu perlahan memijat dahinya karena kepalanya mendadak terasa berat.
Saat itu Awan duduk di bangku SMA dan sudah berada di tahun terakhir. Awan tidak lagi ingat apa yang dia cari sebenarnya waktu itu, tapi yang dia ingat itu membuatnya membuka laci meja kerja ayahnya. Di sana dia menemukan sebuah kotak berwarna coklat, yang entah mengapa menarik hatinya sehingga ia membukanya. Di dalam kotak itu Awan melihat beberapa amplop putih dengan tulisan nama sebuah tempat, lengkap dengan bulan dan tahun di depan amplop, dan isi yang tebal berupa lembaran foto. Nama tempat yang tertulis dia kenali sebagai kota kecil tempat lokasi pabrik milik kantor ayahnya.
Foto pertama yang dilihatnya menunjukkan foto ayahnya bersama beberapa orang yang sepertinya rekan kerja ayahnya dan ada seorang perempuan di sana. Foto kedua kembali memperlihatkan wajah perempuan sebelumnya, tapi suasananya lebih seperti acara jamuan makan. Awan menduga kalau perempuan itu mungkin rekan kerja ayahnya. Namun, dari penampilannya dan berkas yang terlihat di tangannya, Awan condong menilai kalau perempuan itu kemungkinan besar adalah sekretaris atau asisten ayahnya.
Saat melihat foto berikutnya, Awan sungguh terkejut. Napasnya sempat terhenti. Dalam foto itu ayahnya terlihat berpenampilan santai, bukan dengan pakaian yang biasa digunakan ke kantor, tetapi lagi-lagi dengan perempuan yang sama. Kali ini mereka dalam posisi duduk, tapi sangat jelas terlihat kalau perempuan itu dalam kondisi hamil besar. Dengan cepat Awan melihat foto berikutnya yang membuatnya semakin takut. Pada foto itu juga nampak ayahnya dengan perempuan yang kondisinya hamil itu, tetapi menggunakan baju yang berbeda, dengan posisi foto berdiri sepertinya di depan sebuah rumah.
Awan kembali ingat kalau saat itu dia tidak berani meneruskan melihat foto-foto lainnya karena dia terlalu gugup dan bingung. Awan terburu-buru memasukkan foto-foto itu lagi ke dalam amplop, mengembalikannya ke dalam kotak, dan segera menyimpannya ke dalam laci. Perasaan takut, bingung, kecewa, marah, semuanya campur aduk menjadi satu.
Apakah Ayahnya punya istri lain selain ibunya? Apakah ayahnya juga punya anak lain selain dirinya dan adiknya? Apakah istri lain itu sekretarisnya? Apakah sekretarisnya hamil duluan? Apakah ibu tahu? Berbagai pertanyaan itu lah yang dulu sempat menggelayuti pikiran Awan sejak dia melihat lembar-lembar foto yang seujung kuku pun tak pernah terbayangkan olehnya. Awan tidak berani bertanya pada siapa pun. Dia menyimpan sendiri berbagai pertanyaan itu dan hatinya sungguh marah pada ayahnya.
Meski punya banyak pertanyaan menuduh pada ayahnya, Awan masih melihat di depan matanya sendiri bagaimana ayah dan ibunya terlihat baik-baik saja. Mereka berdua masih terlihat mesra meskipun sudah cukup lama berumah tangga. Ibunya pun masih sering bermanja-manja pada ayahnya yang seperti biasa ditanggapi ayahnya dengan senang-senang saja. Meski sesekali beradu pendapat, tetapi ayah dan ibunya selalu dipuji sebagai pasangan yang rukun dan kompak.
__ADS_1
Awan sesungguhnya saat itu sangat bingung dengan semua hal yang dilihatnya. Di satu sisi dia berpendapat negatif tentang ayahnya dan merasa kasihan melihat ibunya, tapi di sisi lain seolah-olah pandangan Awan semuanya salah. Karena tak ingin terus-terusan merasa kacau, Awan bertekad dan berusaha keras akan kuliah di luar Jakarta, agar dia tak perlu setiap hari melihat orang tuanya, terutama ayahnya.
Itu juga lah salah satu penyebab mengapa selama kuliah Awan tidak berani mendekati perempuan mana pun, termasuk Aurora meski dia akui Aurora sangat menarik hatinya. Awan merasa bersalah pada perempuan, terutama ibunya dan perempuan yang dia lihat dalam foto bersama ayahnya itu. Mungkin seperti tak beralasan, tetapi entah mengapa saat kuliah dulu, itulah yang dirasakannya. Dia merasa ayahnya telah sangat salah dengan melukai sosok perempuan dan itu membuatnya takut dan lebih memilih menghindari potensi bisa melukai perempuan lain.
Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja barulah Awan bisa sedikit demi sedikit mengabaikan foto yang pernah ia lihat itu. Terlebih setelah Awan mengikuti pendidikan master di Belanda, kesibukan dan ambisi untuk menuntut ilmu semakin tinggi membuatnya mulai melupakan kemarahannya pada ayahnya dan kesedihannya akan nasib ibunya.
Ingatan Awan terhenti dan kembali ke saat ini. Wajahnya masih terlihat pucat dan kepanikan menjalar ke seluruh tubuhnya. “Mama Aurora sekretaris ayahnya? Mama Aurora istri ayahnya juga? Jadi Aurora itu anak ayahnya?”
Awan masih ingat tahun yang tertera di amplop putih itu karena hanya berjarak satu tahun setelah tahun lahir adiknya. “Aurora itu adikku juga? Ayah kami sama?”
Pertanyaan-pertanyaan itu menyerang pikirannya membuat kepalanya semakin terasa berat dan pusing.
“Aurora pernah bilang kalau dia belum pernah lihat papanya sejak kecil karena papanya pergi meninggalkan mamanya. Apa itu hanya alasan yang dibuat mamanya? Apakah Mama Aurora tidak resmi menikah dengan ayahnya? Atau itu hanya untuk menutupi saja? Atau ayahnya memang meninggalkan Mama Aurora?”
Pertanyaan lama pun ikut kembali ke benaknya. “Apakah ibu tahu kalau ayah punya anak yang lain?”
Awan merasakan dunianya seperti akan runtuh. Ingin rasanya ia tenggelam dan kemudian terhisap sehingga hilang lenyap ditelan ke dalam perut bumi.
__ADS_1