
Biasanya di akhir minggu Aurora menggunakan waktu yang ada untuk membereskan kamar dan mencuci bersama Saras. Tapi hari ini berbeda. Sejak tadi malam Saras sudah memohon supaya mereka mencuci esok hari saja, karena dia sudah punya janji dengan Nelu untuk kencan sejak pagi hari. Mereka berdua memang punya rencana jalan-jalan ke Amsterdam.
Jadi hari ini Aurora hanya bersantai di kamar sambil berselancar di laptopnya. Lewat pembicaraan di grup, Aurora tahu kalau Awan sakit sejak kemarin sore. Berpikir sejenak, akhirnya Aurora memutuskan keluar dari kamar dan menuju dapur.
Selesai dengan urusan di dapur, menjelang waktunya makan siang Aurora turun ke lantai dasar. Kedua tangannya memegang sebuah mangkok dengan penutup berupa piring. Sampai di depan pintu kamar Awan, Aurora menarik napas dalam sebelum memencet bel. “Semoga lancar,” doa Aurora dalam hatinya.
Awan yang sedang berbaring malas di sofa dikagetkan oleh deringan bel di kamarnya. “Siapa nih yang datang… tumben,” pikirnya. Mengintip lewat lubang kecil di pintunya, Awan tersentak. “Aurora?!”
Cepat ia membuka pintu dan melihat Aurora yang berdiri di sana dengan senyum manis di bibirnya. Awan terkesima, tak pernah menyangka Aurora akan datang ke kamarnya dan matanya melihat Aurora membawa sesuatu di tangannya.
“Siang, Mas.” Suara lembut Aurora masuk ke pendengaran Awan membuatnya sadar.
“E-eh iya, Au… a-ada apa?”
“Astaga, kenapa jadi gagu gini?” Awan merutuk dalam hatinya. Buru-buru dia melanjutkan sebelum Aurora menjawab, ”Ayo masuk, Au.”
Aurora masih bergeming di depan Awan, hanya tangannya yang bergerak menyodorkan mangkok yang dibawanya.
“Ini Mas, aku tadi bikin bubur, mungkin Mas Awan mau buat makan siang.”
Suaranya pelan, sedikit malu-malu.
Awan menerima mangkok bubur dari Aurora dengan wajah bercahaya. Sakitnya mendadak sembuh.
“Ooooh, makasih ya Au. Kamu tau aja aku malas masak hari ini.”
Sambil tersenyum Awan melanjutkan, ”Tapi temenin aku makan ya, Au. Yuk, masuk. Kamarku berantakan gakpapa ya….”
Awan menggeser tubuhnya memberi jalan pada Aurora.
Sejenak Aurora terlihat ragu, tapi kemudian ia pun melangkahkan kakinya masuk ke kamar Awan. Karena kamar Awan adalah kamar studio, di dalam ruangan besar ini terlihat dapur dan ruang tidur yang menyatu, dipisahkan oleh tinggi lantai yang berbeda serta satu buah sofa dan meja TV di depannya.
Aurora memilih duduk di kursi yang ada di area dapur. Awan meletakkan mangkok di meja lalu duduk di seberang Aurora. Membuka piring penutup dengan hati-hati, tampaklah bubur nasi dengan pelengkapnya yang langsung menggugah selera Awan. Terlebih lagi ini buatan Aurora.
“Kamu udah makan siang?” tanya Awan sebelum ia memulai suapan pertama.
“Belum, Mas. Nanti aja.” Aurora menjawab jujur.
Sendok Awan terhenti sebelum masuk ke mulutnya. “Eh, jadi gak enak nih. Udah dikasih makanan malah makan sendiri.”
Aurora tersenyum. “Gakpapa kok, Mas. Aku bisa makan nanti, belum lapar juga.”
“Lain kali bawa yang banyak, jadi kita bisa makan berdua,” ujar Awan tanpa menyadari kalimatnya membuat Aurora agak tersipu.
Selesai menelan suapan pertamanya, Awan langsung berkomentar, “Ini enak banget, Au… Kamu kayaknya pinter masak ya?”
Pipi Aurora merona mendengar pujian Awan. Tersenyum malu dia menjawab, ”Ah enggak, Mas. Gak pinter, cuma bisa.”
__ADS_1
“Alaaah, kamu merendah nih. Ini beneran enak banget, aku suka.”
Dalam hatinya Awan menyambung, ”Suka orangnya juga.” Tanpa sadar bibirnya jadi tersenyum.
“Kalo lain kali aku minta masakin lagi, kamu mau nggak?”
Awan memiringkan kepalanya sambil menatap intens pada Aurora.
Aurora menurunkan pandangannya. Dia tak berani lama-lama beradu mata dengan Awan. “Iya, Mas… boleh. Bilang aja kalau besok-besok mau lagi.”
Jari-jari tangannya saling meremas di bawah meja, sedikit gelisah karena hatinya terlalu gembira. Awan pun berteriak senang di dalam hatinya mendengar jawaban Aurora.
“Hmmmm, makan siang terenak nih!”
Awan menyenderkan badannya ke belakang sambil menunjukkan ekspresi sangat puas. Di atas meja tampak mangkok bubur yang sudah tandas. “Makasih ya, Au.”
“Iya, Mas.” Aurora tersenyum tipis.
Tangannya mengarah ke depan Awan dan memindahkan mangkok kosong dan piring penutup ke depannya.
Awan mengulurkan tangannya mencegah,”Eh sini, biar aku cuci dulu.”
Aurora menarik mangkok itu ke arahnya. “Gakpapa, Mas. Biar aku yang cuci. Mas Awan kan lagi kurang sehat.”
Matanya tadi sudah menangkap ada piring dan gelas kotor di bak cuci, pertanda Awan masih enggan mencuci karena masih kurang enak badan. Aurora pun bangkit berdiri lalu mulai mencuci piring dan bahkan sedikit membersihkan area dapur.
“Istri-able banget dia ini… Parah. Makin hari malah makin mempesona.”
Awan segera bangkit dari duduknya menuju area sofa dan mulai membereskan bukunya yang masih berserakan.
“Ngeliatin dia terus di situ aku malah jadi pingin yang aneh-aneh. Sadar, Wan… sadar!” Awan membatin.
“Mas…,” suara Aurora memecah keheningan di antara mereka, “aku balik dulu ya.”
“Eh, jangan dulu,” sergah Awan cepat.
“Duh masak udah mau balik aja sih?”
Melihat mangkok di tangan Aurora, Awan pun memberikan alasan.
“Tuh, airnya masih netes-netes. Ntar kamu malah ninggalin jejak dari sini ke tempatmu, lho. Apa mau pengumuman kalo kamu habis dari sini?”
Awan malah menemukan kesempatan menggoda Aurora.
“Ih enggak, Mas.” Aurora langsung membantah. Di pipinya muncul semburat merah. Sambil gugup malu-malu Aurora mengembalikan mangkok dan piring yang baru dicuci ke rak piring.
Awan pun duduk di sofa. “Yes! Berhasil,” soraknya dalam hati.
__ADS_1
“Duduk sini, Au.”
Tangannya menepuk sofa yang ia duduki.
Aurora melangkah mendekati sofa dan mendudukkan dirinya di sudut terjauh dari Awan.
Melihat itu Awan terkekeh. “Ya ampun Au, meuni nyudut gitu. Kita kayak lagi musuhan aja…. Enggak, gak kan diterkam, enggak….” Awan berusaha membujuk Aurora.
Kalimat Awan malah membuat Aurora merasa malu karena terlihat terlalu mengambil jarak dengan Awan. Ia pun akhirnya beringsut menggeser duduknya dengan jemari yang terpaut di pangkuannya. Kelihatan sekali dia sebenarnya tegang.
Awan mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Aurora berbincang tentang kuliahnya. Sebelah kakinya sudah ditekuk di atas sofa hingga dia bisa duduk menyamping ke arah Aurora. Tangan kanannya bersender di punggung sofa.
Aurora kembali menegang membayangkan tangan itu terulur cukup panjang hingga mungkin bisa menyentuhnya. “Tenang Aurora… tenang,” rapalnya dalam hati.
Lama kelamaan urat syaraf Aurora pun mengendur dan dia bisa duduk dengan rileks. Badannya mulai mengarah ke samping sambil punggungnya bersender pada sandaran tangan sofa. Obrolan mereka pun mulai merembet kemana-mana, dengan gelak tawa di antaranya.
Tanpa terasa sudah lebih dari satu jam Aurora ada di kamar Awan. Perutnya mulai melancarkan aksi protes minta diisi. Aurora pun sadar belum makan siang. “Duh, keasyikan ngobrol sampai aku lupa makan.”
Meski sebenarnya enggan berpamitan, tapi akhirnya Aurora meminta izin pada Awan untuk kembali ke kamarnya. Sama seperti Aurora, Awan pun sebenarnya tak ingin melepas Aurora kembali, kalau saja dia tidak ingat bahwa waktu sudah semakin siang dan Aurora tadi belum makan.
Sambil mengantarkan Aurora ke pintu, Awan mencoba peruntungannya.
“Sering-sering main ke sini ya, Au… aku seneng ngobrol sama kamu. Aku sering-sering main ke tempatmu juga boleh kan?”
Awan menatap Aurora dalam sambil tersenyum manis menunggu jawaban.
Ekspresi terkejut dan bingung terlihat di wajah Aurora. Dia tidak tau harus menjawab kalimat yang mana. Akhirnya dia hanya menjawab sambil mengangguk-angguk, ”He-eh… boleh, Mas.”
“Sering-sering main ke sini, mau nggak?” Awan terlihat jelas menggoda Aurora menuntut jawaban.
“He? I-iya, i-itu juga, Mas.”
Awan tertawa bahagia melihat Aurora yang tersipu-sipu dengan kegugupannya.
“Ya udah,” kata Awan menyudahi tawanya, ”makasih ya untuk siang ini. Udah bikinin aku makanan enak, bikin aku senang juga.”
Sebelah matanya sedikit mengedip dan senyum sumringah melengkapi. Aurora meleleh melihatnya hingga tak sanggup berkata-kata. Dia cuma menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan cepat-cepat berlalu dari depan Awan. Yang ditinggalkan malah kembali tertawa ringan karena melihat tingkah lucu Aurora yang buru-buru pergi.
Setelah berbelok ke arah lift Aurora langsung menyenderkan badannya pada dinding di belakangnya mencari tumpuan.
“Ya Allah, hari ini Mas Awan kenapa? Ngegemesin banget….”
Telapak kanannya menekan dada takut jantungnya melompat keluar.
“Mas Awan senang aku ke sana? Aku bikin Mas Awan senang? Apa itu maksudnya Mas Awan suka aku?”
Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir cepat di pikirannya secepat aliran darah yang memacu jantungnya.
__ADS_1
Aurora sudah melupakan rasa laparnya. Dia ingin cepat-cepat tiba di kamar dan segera malam supaya bisa menghadirkan Awan dalam mimpinya.