AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Babak Baru


__ADS_3

Aurora menghabiskan waktunya hampir dua minggu di Surabaya bersama mamanya dan keluarga Om Heru. Hari-harinya diisi dengan kegiatan bermalas-malasan di rumah, membantu mamanya mengurus catering atau pesanan kue, dan sesekali keluar rumah untuk mencari hiburan. Meski komunikasi dengan Awan lewat pesan teks maupun video tak pernah terputus, namun malam-malam Aurora sering diisinya dengan mengalirkan air mata menahan kerinduannya pada Awan.


Suasana dan kondisi yang sangat berbeda dengan apa yang biasa dia alami dan lihat setiap hari selama setahun ternyata harus membuatnya segera beradaptasi. Tak terhitung berapa kali Aurora refleks membuka keran air sambil membawa gelas ketika dia ingin minum. Aurora lupa kalau air bersih yang ada belum lah setara kualitas air minum. Melihat jalanan yang padat dengan mobil dan motor lalu lalang juga mampu seketika membuat Aurora merindukan jalanan Rotterdam dengan jalur sepeda dan tremnya.


Karena memilih untuk bekerja kembali di kantor lamanya, Aurora pun harus kembali berpisah dengan keluarganya. Dengan diantar ke stasiun kereta api, Mirna, mamanya melepas Aurora dengan rela untuk pergi ke Bandung. Aurora menginap di rumah Naya, sahabatnya sejak SMA dan satu-satunya orang selama kuliah yang tahu Aurora menyukai Awan. Orang tua Naya sudah membeli sebuah rumah di Bandung karena Naya dan kedua adiknya akhirnya semua menempuh pendidikan di Kota Bandung. Aurora menumpang sementara di rumah Naya sambil mencari-cari kamar kost yang lebih dekat ke kantornya.


Perjumpaan Aurora dan Naya tentu diisi dengan cerita yang tak kunjung berhenti dari mulut Aurora. Naya pun tak membiarkan Aurora mengambil jeda karena terus melontarkan berbagai pertanyaan tentang kehidupan Aurora selama di Belanda dan pengalaman kuliahnya.


“Dduuuh, asyik banget ya, Au …,” kata Naya dengan sedikit iri yang bersifat positif.


Aurora hanya tertawa pelan. “Kamu sih, aku ajakin daftar beasiswa sama-sama, gak mau.” Aurora mengingatkan kalau dia sempat mengajak Naya agar bisa kuliah lagi bersamanya.


Naya pun tertawa tergelak karena itu mengingatkannya pada alasannya menolak ajakan Aurora. Alasannya memang bukanlah alasan keren yang patut dibanggakan. Naya saat itu menolak hanya karena tidak ingin berpisah lama-lama dengan pacarnya yang belum lama menjalin hubungan dengannya. Kini, sungguh dia sebenarnya sangat menyesali alasan bodohnya, karena hubungan itu tak berjalan lancar dan malah sudah berakhir.


“Teman-teman kamu di sana, gimana? Menyenangkan gak orangnya?” tanya Naya lagi karena dia tahu Aurora bukanlah orang yang mudah bergaul.


Aurora dengan bersemangat menceritakan Saras teman seunitnya, juga para pria yang kocak tapi bisa diandalkan, Singgih, Lukas, dan Iqbal. Aurora tidak menyinggung-nyinggung Awan dalam ceritanya, karena ingin menunggu hubungannya benar-benar resmi lebih dulu dengan Awan dan menjadi kejutan bagi Naya. Aurora sadar dia tak bisa memastikan apa yang akan terjadi selama enam bulan ke depan dan setelahnya.


Aurora menyempatkan diri berkunjung ke kantor lamanya yang segera disambut oleh teman-teman di kantor dengan penuh kegembiraan. Tak lupa Aurora memberikan oleh-oleh coklat yang bisa dinikmati teman-teman kantornya, sebagai tanda bahwa Aurora mengingat mereka selama kepergiannya.

__ADS_1


Atasan Aurora sangat senang melihat Aurora telah kembali dan berniat untuk melanjutkan bekerja di sana. Aurora memang salah seorang pekerja yang diandalkan oleh atasannya karena punya keinginan belajar yang tinggi dan etos kerja yang baik. Aurora sudah langsung diminta untuk mulai bekerja minggu depan karena kantornya memang sedang mengerjakan suatu proyek yang sesuai dengan kapasitas Aurora.


Hari-hari selanjutnya Aurora isi dengan pekerjaan dan rutinitas baru dalam hidupnya. Tak ada lagi bahan kuliah, dosen, perpustakaan, dan juga mesin kopi. Tak ada juga sepeda, trem, jaket tebal, dan kebiasaan mengecek kandungan bahan baku ketika berbelanja. Semua telah berganti dengan laporan pekerjaan, rapat, koordinasi, dan angkot, serta bisa berbelanja apa saja tanpa merasa was-was.


Aurora masih sering berbincang dengan Saras dan teman yang lainnya lewat pesan teks karena grup yang dulu dibuat untuk keperluan komunikasi di Belanda masih aktif sampai sekarang. Hampir dua bulan dari kepulangan mereka ke Indonesia, Aurora dan teman-temannya kecuali Singgih, kembali berjumpa dan berkumpul di Jakarta karena akan mengurus penyetaraan ijazah.


Setelah selesai dengan keperluan di gedung kementerian di area Senayan, mereka berkumpul melepas rindu sambil menikmati makan dan minum di mall terdekat. Karena Singgih tak bersama mereka, Saras pun melakukan panggilan video pada Singgih dengan maksud membuat Singgih iri melihat mereka sedang kumpul bersama.


Singgih yang menjawab panggilan video sangat senang melihat kembali wajah teman-temannya, begitu pula sebaliknya. Belum lama berpisah, tapi kerinduan itu tidak bisa disembunyikan. Saat menerima panggilan, kebetulan Singgih sedang bersama pacarnya sehingga dia pun mulai menggoda teman-temannya.


“Gantian ya sekarang … di Belanda aku yang jomblo, sekarang giliran kalian!”


Iqbal ikut tertawa dan menimpali, “Setuju, Nggih. Mereka yang rasakan sekarang, ya.”


Aurora, Saras, dan Lukas pun mau tak mau akhirnya ikut tertawa juga melihat Singgih dan Iqbal yang begitu senang karena merasa dalam posisi menang.


Iqbal kemudian menyampaikan pada teman-temannya kalau awal tahun depan dia akan segera menikah. Saras yang sudah pindah bekerja di Jakarta itu pun tak mau kalah menyatakan kalau dia masih melanjutkan hubungannya dengan Nelu. Kalau Aurora tak perlu mereka tanyakan karena Awan masih ada di dalam grup mereka dan mereka tahu hubungan Awan dan Aurora baik-baik saja.


“Kamu gimana, Kas? Masih sama Svetlana?” tanya Singgih dari seberang.

__ADS_1


“Ya enggak lah …,” Lukas tertawa tergelak yang membuat teman-temannya heran, “Svetlana itu kan punya pacar di Latvia sana,” kata Lukas dengan santai.


Teman-temannya sempat saling pandang dan langsung bersama-sama menyoraki Lukas, termasuk Singgih. “Wooo … dasar!”


Lukas cuma cengengesan disoraki teman-temannya. “Teman tapi mesra …,” alisnya terangkat dengan mata mengerling, “sepi kan kalau enggak.”


Kalimat Lukas membuat Saras spontan memukulnya sambil mendelik. “Heh! Enak aja!”


Lukas kembali tertawa di depan teman-temannya yang hanya geleng-geleng kepala mengetahui fakta yang disampaikan Lukas.


Waktu sehari memang tidak cukup bagi mereka untuk kembali bersenda gurau, mengulas pengalaman, dan juga menceritakan ulang kejadian konyol yang mereka alami. Lima orang perempuan dan laki-laki yang sebelumnya tak saling kenal, tetapi menjadi begitu akrab dan dekat karena selama setahun selalu bersama. Sebuah keluarga baru terbentuk karena saling mendampingi dalam suka dan duka di tempat yang asing.


Hubungan Aurora dan Awan sejauh ini masih berjalan lancar. Kecanggihan teknologi memungkinkan mereka saling berkirim pesan dan foto serta melaukan panggilan video, yang biasanya dilakukan malam hari sebelum Aurora bersiap tidur. Terkadang panggilan video memang tidak bisa dilakukan kalau sore hari Awan sedang ada keperluan. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Belanda sudah berubah menjadi enam jam sejak musim gugur dimulai.


Panggilan video dengan Awan sebenarnya membuat Aurora dilema, antara senang bisa melihat sosok Awan, tetapi juga sedih karena itu membuatnya merindukan kehadiran Awan secara nyata di sisinya. Melihat tangan Awan, Aurora teringat pada genggaman tangan Awan di tangannya juga rangkulannya. Melihat bahu dan dada Awan, Aurora teringat kenyamanan menyenderkan kepalanya di sana. Melihat wajah Awan, Aurora teringat kehangatan kecupan Awan di puncak kepala, kening, dan juga bibirnya.


Awan pun merasakan yang sama. Melihat Aurora hampir setiap malam tetapi tak dapat menyentuhnya membuat hatinya sering tak tenang. Awan berusaha dengan sekuat tenaga mengedepankan logikanya dan merapal diri dengan kata-kata ‘sabar’ dan ‘sebentar lagi’. Kegiatannya sepeninggal Aurora tidak berubah, dari apartemen ke kampus lalu kembali lagi dengan sesekali menyimpang untuk keperluan berbelanja. Suasana hatinya lah yang berubah, karena semua kegiatan itu kini dilakukannya sendirian tanpa Aurora. Setiap kali konsentrasinya terganggu, yang dia ingat adalah tujuannya berada di sana, untuk menyelesaikan studinya bukan untuk meratapi diri.


Perayaan satu tahun hari jadi peristiwa di Menara Eiffel dirayakan Awan dan Aurora dengan hati yang sarat dipenuhi kerinduan. Foto berdua dengan latar menara dan kalung sepatu klompen yang masih setia dipakai Aurora menjadi pengingat akan manisnya pernyataan sayang Awan pada Aurora saat itu. Menit demi menit terekam indah dalam ingatan bawah sadar Awan dan Aurora, menciptakan gelombang kehangatan yang masih bisa mereka rasakan, meski fisik tidak lagi bersama.

__ADS_1


__ADS_2