AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Mengaku Cemburu


__ADS_3

Menerima pesan dari Aurora kalau dia akan datang ke kamar Awan membuat Awan tersenyum dan seketika dia merasakan hatinya merindukan Aurora. Awan pun segera bangkit, merapikan kamarnya, dan bersiap-siap menunggu kedatangan Aurora.


Ketika Awan membuka pintu, matanya mendapati pemandangan yang sungguh mampu menyenangkan mata sekaligus hatinya. Aurora terlihat segar sehabis mandi, dengan rambutnya yang biasa tergerai kini terikat seperti buntut kuda. Lesung pipinya membayang menandakan dia sedang tersenyum lebar dan mata coklatnya bersinar mewakili hatinya yang girang.


Awan masih terdiam hingga terdengar suara Aurora, “Gak dikasih masuk, nih?”


Tawa terlepas dari mulut Awan ketika sadar ternyata dia sempat bengong karena terpesona, hingga lupa menyapa Aurora.


“Masuk, yuk!” ajaknya sambil meraih kepala Aurora dan mengecupnya sekilas. Hatinya yang merasa bersalah karena sebelumnya sempat kesal pada Aurora membuatnya tak bisa menahan diri untuk melakukan tindakannya barusan.


Begitu masuk ke kamar Awan, Aurora langsung memeriksa dapur dan membuka kulkas Awan.


“Mas Awan belum siapin makan malam?” Aurora bertanya karena tidak melihat ada makanan yang sudah disiapkan Awan.


Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Awan cengar-cengir menjawab, “Belum, Au.”


Tidak mau dianggap malas, Awan pun segera menambahkan memberi alasan, “Soalnya tadi kepikiran kamu terus sih, jadi aku lupa belum masak.” Awan nyengir hingga matanya terlihat segaris.


“Gombal!” respon Aurora yang langsung diikuti dengan tawa lepas Awan.


“Ya udah, aku bikinkan nasi goreng ya.” Usul Aurora karena melihat Awan masih punya nasi dalam rice cooker. Dia pun mulai menyiapkan peralatan dan bahan makanan yang diperlukan. Awan hanya berdiri bersedekap dengan bersender pada lemari dekat bak cuci, membiarkan Aurora sibuk dengan persiapannya.


Ketika Aurora mulai menyalakan kompor, Awan berusaha mengambil alih sendok penggorengan dari tangan Aurora. “Sini, aku yang terusin.”


Belum merelakan sendok dari tangannya, Aurora awalnya bersikeras agar dia yang memasak. Tapi akhirnya dia mengalah, membiarkan Awan yang berdiri di depan kompor sementara Aurora hanya memperhatikan dan sesekali memberikan instruksi, lalu ikut mencicipi memastikan rasanya telah sesuai.


Sambil memegang sepiring nasi goreng di tangannya dan berjalan ke arah meja makan, Awan mengeluarkan suaranya.


“Biarpun istriku pintar masak, aku juga harus bisa masak … kan belum tentu istriku bisa selalu masak buat aku tiap hari, mungkin saja ada waktunya harus siapkan makanan sendiri. Ya kan, Au?” Senyum Awan terlihat menggoda Aurora.


Kalimat panjang Awan sontak membuat wajah Aurora tersapu warna merah muda. Ketika mendengar kata ‘istriku’ dari mulut Awan, terasa kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya.


Aurora tidak menjawab pertanyaan Awan malah melemparkan pertanyaan kembali. “Kalau tiap hari istrinya gak pernah bisa masak, mau masakin buat istri, gak?” Aurora menyelidik memperhatikan raut muka Awan.


Dengan cepat Awan menjawab, “Mau dooong …,” lalu dia menambahkan, “tapi jangan tiap hari ya.” Suara tawa Awan dan Aurora sama-sama terdengar, menertawai Awan yang ternyata mencoba menawar.

__ADS_1


“Udah, dimakan dulu itu nasinya,” kata Aurora menyudahi.


“Kamu bener nih gak mau makan?” Awan sudah memasukkan suapan pertamanya.


Tangan Aurora bertumpu di atas meja dan sambil tersenyum memperhatikan Awan yang mulai makan. Dia menggelengkan kepalanya. “Enggak, Mas. Tadi aku sempat makan roti pulang dari kampus. Paling nyicip aja.”


Mendengar kalimat terakhir Aurora, Awan pun langsung menyodorkan sendoknya yang berisi nasi goreng ke arah mulut Aurora. “Nih, nyicip.”


Aurora tertawa tanpa suara lalu mencondongkan badannya ke depan dan membuka mulutnya menerima suapan dari Awan. Senyuman bahagia tergambar jelas di wajah Awan.


Sambil berbincang santai, nasi goreng pun akhirnya tandas dengan beberapa suap yang sempat ikut dinikmati Aurora.


Setelah menghabiskan minumannya dalam beberapa kali tegukan, sambil memutar-mutar gelas yang dipegangnya dan pandangan yang seperti fokus diarahkan pada gelas di tangannya, Awan pun berbicara. “Aurora, aku mau buat pengakuan.”


Matanya melirik ke arah atas melihat Aurora dan perlahan seyuman malu terbit di wajahnya.


“Hmm … pengakuan apa, Mas?” Aurora merasa curiga melihat ekspresi Awan.


Sedetik kemudian senyum Awan berubah menjadi senyuman meringis seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.


“Itu … tadi ...,” Awan berusaha memantapkan hatinya, “tadi siang waktu kita ketemu Bima, aku sebenarnya agak kesal.”


Dengan bibir sedikit masam Awan berucap, “Ck, aku agak cemburu. Kamu kelihatan akrab banget sama dia, sementara aku gak tahu dia siapa. Ditambah lagi waktu kamu mau ke kelas, kamu cuma pamit sama dia, ke aku kamu gak ngomong apa-apa.”


“Ah, masak sih Mas … aku gak pamit ya?” Aurora menyentuh tangan Awan yang masih memeluk gelas. “Aduh, maaf ya Mas … aku gak nyadar. Beneran.” Wajahnya memelas memohon untuk dimaafkan.


Mata Awan menyipit membentuk garis dan bibirnya sedikit mencibir, ekspresinya dibuat seolah-olah sedang menimbang-nimbang untuk percaya atau tidak pada perkataan Aurora. Hanya sebentar, lalu tawanya pun terlepas.


“Iya … gak apa-apa, aku maklum. Kamu mungkin gak sadar karena lagi terpesona sama Bima,” ucap Awan dengan senyum jahil yang muncul di wajahnya.


Mendengar itu Aurora langsung mencubit tangan Awan hingga Awan refleks menarik tangannya dan mengaduh kesakitan. Tawanya pun terdengar memenuhi ruangan.


“Apa sih, Mas! Kok gitu ngomongnya ….” Gantian Aurora yang cemberut dengan bibir yang sudah maju beberapa centi dan raut wajah kesal.


Awan pun cepat mengulurkan kedua tangannya ke depan menggenggam tangan Aurora yang ada di atas meja. “Jangan ngambek dong, Au … Maafin kata-kataku tadi ya.” Jarinya meremas lembut tangan Aurora. Air mukanya jelas menunjukkan kalau dia merasa bersalah.

__ADS_1


Aurora yang sebenarnya tidak benar-benar marah pun langsung merasa tak tega. Dia pun segera menerbitkan senyuman ingin menenangkan Awan. “Iya, Mas … aku maafkan.” Awan pun ikut tersenyum lega. “Habis Mas Awan sih, jahil!” sambung Aurora lagi.


Awan tertawa lepas lalu mengacak-acak poni Aurora dengan gemas. Matanya menatap Aurora berbinar. “Kamu juga sih … kalau malu-malu atau ngambek tuh malah lucu. Jadi aku bawaannya pingin godain kamu terus.”


“Huuu ….” Bibir Aurora kembali merengut.


“Nah tuh kan … gemas!” balas Awan sambil sebelah tangannya mencubit lembut pipi Aurora. Tawa bahagia pun terdengar hadir di antara mereka.


Merasa masih ada yang mengganjal hatinya, Awan pun kembali bertanya menuntaskan rasa penasaran.


“Bima itu siapa sih, Au?”


Tangannya sudah kembali memegang tangan Aurora, tetapi kali ini jari-jari jempolnya ikut bergerak mengusap lembut punggung tangan Aurora. Tidak tahu apakah lewat gerakan itu Awan ingin memberikan ketenangan bagi Aurora atau justru ingin membuat dirinya sendiri menjadi tenang.


“Oooh … Mas Bima itu teman kantorku dulu, Mas. Waktu praktik dan setelah lulus, tapi sebentar.”


Sebelum Awan sempat merespon, Aurora sudah lebih dulu menyambung kalimatnya. “Mas Awan tenang aja, aku gak punya perasaan apa-apa ke Mas Bima.”


Kalimatnya diakhiri dengan senyuman yang telihat manis bersama lesung pipinya. Di dalam hatinya Aurora menambahkan, “Dari dulu aku sukanya sama Mas Awan.”


Awan merasa seperti pencuri tertangkap basah karena seolah dia tak percaya pada Aurora sampai-sampai Aurora harus menegaskan perasaannya. Awan pun mempererat genggamannya, membalas senyuman Aurora, dan menatap tepat di manik mata Aurora.


“Maaf ya kalau aku jadinya seperti posesif,” suaranya lembut terdengar, “gak ada maksud ingin seperti itu. Ini mungkin karena aku belum kenal saja dia siapa, aku jarang lihat kamu langsung akrab dengan orang lain, dan yang pasti karena aku sejujurnya gak siap kalau harus kehilangan kamu.”


Aurora merasakan kehangatan di hatinya ketika mendengar alasan terakhir Awan. Mereka sama-sama diam, tetapi saling tersenyum.


Tiba-tiba ekspresi Aurora berubah menjadi tersenyum geli. Awan mengerutkan dahinya, heran.


“Kita impas ya, Mas. Kemarin itu aku yang cemburu sama Sam, hari ini gantian Mas Awan yang cemburu ke Mas Bima.”


Mendengar kalimat Aurora, Awan pun tergelak. “Iya ya … impas.” Tapi segera dia melanjutkan, “Eh tapi beda lho … kalau aku kan langsung ngaku, kalau kamu kan gak mau ngaku. Ya, kan?”


Awan tertawa penuh kemenangan yang dibalas Aurora dengan cibiran.


“Iya, deh ….” Aurora pun mengalah dan ikut tersenyum lebar bersama Awan.

__ADS_1


Malam itu Aurora kembali ke kamarnya dengan dihantar kalimat yang membuatnya melayang. Sebelum berpisah, di depan pintu Awan menangkup wajah Aurora dengan kedua tangannya sambil berkata dengan suara lembut membelai, “Aku sayang kamu, Aurora.”


Kecupan singkat di keningnya melengkapi kebahagiaan di hati Aurora yang melahirkan kegugupan dan rona merah di wajahnya. Dengan malu-malu dia membalas bersuara pelan, “Aku juga sayang kamu, Mas.”


__ADS_2