
Awan mulai merasa was-was mendengar cerita ibunya kalau ternyata dulu ibunya memohon pada ayahnya untuk menikahi Asih, mama Aurora, untuk mengurangi beban Asih yang terpaksa mengandung karena perbuatan orang yang tidak bertanggung-jawab.
“Tapi … ayahmu menolak, Wan. Hanya saja ayahmu janji mau bantu dek Asih sampai lahiran, malah kalau perlu sampai anaknya besar. Buat nebus rasa bersalah Ibu, Wan. Ibu akhirnya setuju.”
Awan merasakan kelegaan perlahan mengisi hatinya.
“Akhirnya dek Asih dibawa ke Surabaya karena adiknya waktu itu tinggal di sana. Kebetulan juga ayahmu lagi ngawal pembukaan kantor cabang di Surabaya, jadi ayahmu kadang berdua Ibu bisa sering-sering ke sana. Makanya pas dek Asih mau lahiran dan harus operasi, kami ada di sana juga mendampingi. Itu dia foto yang kamu lihat.”
Ratih menyentuh tangan Awan dan memandang Awan dengan penuh kelembutan.
“Jadi ayahmu ndak ada hubungan apa-apa sama dek Asih. Murni hanya membantu, itupun karena Ibu yang minta. Kamu harus minta maaf sama ayahmu lho Wan karena sudah berprasangka buruk.”
“Iya, Bu.” Awan menjawab ibunya dengan sedikit cengiran terlihat di bibirnya.
Kini kelegaan itu sudah sepenuhnya mengisi hati Awan. Adrenalinnya yang sempat meningkat sudah menurun, terasa lewat detak jantungnya yang berangsur normal. Pancaran kebahagiaan mulai terlihat di matanya, mengetahui fakta bahwa Aurora memang bukan adiknya!
Sambil terlihat agak menerawang, Ratih kembali memperdengarkan suaranya.
“Dek Asih itu hebat dan kuat! Setelah Aurora lahir dia betul-betul mandiri, bikin usaha bisa sampai seperti sekarang. Dia juga bisa mendidik nak Aurora dengan baik meskipun sendirian. Meski sudah tahu ceritanya, kamu itu harus tetap hormat dan semakin bangga sama nak Aurora dan mamanya ya, Wan,” pinta Ratih.
Belum sempat Awan menjawab, di ujung kalimatnya Ratih seperti tiba-tiba ingat sesuatu.
“Eh ayahmu mana ya kok belum pulang? Ibu ndak sabar mau sampaikan berita gembira ke ayah.” Rona wajahnya kembali terlihat sangat bahagia.
Baru saja Awan hendak merespon ibunya, terdengar suara gerbang rumah dibuka. Ratih cepat-cepat berdiri dan berlalu meninggalkan Awan, tidak sabar untuk ke luar menjemput suaminya.
Awan menunggu ayah dan ibunya di ruang tengah dan kemudian melihat ayahnya masuk rumah setengah diseret oleh ibunya.
“Sabar, Bu. Ada apa sih?” tanya Hendra, ayah Awan, dengan nada heran.
“Iih … ini Ibu memang sudah ndak sabar, Yah,” balas Ratih terburu-buru lalu segera mengambil duduk di seberang Awan yang kemudian diikuti oleh Hendra.
“Ayo, Wan … ngomong ke Ayah,” perintah Ratih pada anaknya.
Awan hanya tersenyum melihat ibunya yang begitu tidak sabar. Melihat Awan masih diam belum ada tanda-tanda akan bicara, kesabaran Ratih pun habis.
“Ah … lama, Wan!” Ratih menoleh ke arah Hendra.
“Ini lho, Yah … Awan itu, sudah punya calon istri!” Terdengar nada antusias dalam ucapan Ratih.
“Oh ya?” Hendra langsung menoleh ke arah Awan yang ditanggapi dengan senyum lebar Awan saat menjawab ayahnya, “Iya, Yah.”
Ratih kembali urun bicara. “Tau gak, Yah … siapa calon istrinya?”
“Enggak,” jawab Hendra polos.
__ADS_1
Bibir Ratih cemberut. “Aaah, Ayah nih. Calonnya itu nak Aurora, Yah. Aurora anaknya dek Asih.” Ratih terlihat bergairah menyampaikan info penting itu.
Hendra sempat sedikit tersentak, tetapi dia langsung mengontrol ekspresinya dan memandang Awan meminta konfirmasi. “Benar, Wan?”
“Ya bener tokh, Yah.” Ratih dengan cepat menjawab suaminya.
Hendra melirik Ratih. “Lah Ibu, saya kan nanya Awan, bukan Ibu.”
Ratih hanya tersenyum malu diperingatkan seperti itu oleh suaminya. Ratih sadar kalau dia memang terlalu bersemangat. Awan akan menikah adalah berita besar karena itu sesuatu yang sudah diidam-idamkannya sejak lama.
Awan tertawa melihat interaksi antara ayah dan ibunya. Dia pun akhirnya memberi penjelasan pada ayahnya.
“Iya yah, Awan sudah setahun lebih jalin hubungan dengan Aurora. Dia baru pulang dari Belanda bulan Agustus tahun lalu. Kebetulan dia sekolah di tempat Awan juga, jadi kami bertemu lagi di Belanda.”
Ratih merasa menang. “Tuh, Yah … bener kan.”
Ratih beringsut merapat dan meletakkan tangannya di atas paha Hendra. Dengan rasa bahagia yang meluap-luap, Ratih berucap, “Menantu kita Aurora, Yah … Ibu hampir ndak percaya.”
Hendra hanya tersenyum lebar menanggapi kebahagiaan istrinya.
“Eh Wan, tau ndak, padahal waktu dulu nak Aurora tamat SMA, Ibu ingin supaya dia dijodohkan sama kamu lho ... tapi Ayah ndak izinkan.” Matanya melirik dengan pandangan sinis pada suaminya.
“Alasan Ayah, bukan zaman Siti Nurbaya, Bu,” kata Ratih sambil menirukan nada bicara suaminya, lalu melanjutkan masih dengan nada bicara yang sama, “Biarkan alami saja. Kalau memang jodoh kan nanti kenalan sendiri.”
Hendra dan Awan tertawa melihat ekspresi Ratih dan suara yang dibuat menirukan Hendra. Hendra pun lalu merespon, “Lah bener toh?”
“Halah, anak cuma dua mau punya banyak cucu.” Hendra menjawab cepat sambil menggoda istrinya.
Kalimat ibunya membuat Awan teringat pembicaraannya dulu dengan Aurora, andaikan mereka pacaran sejak pertama kenal, mungkin sekarang sudah punya momongan seperti yang dikhayalkan ibunya.
Hendra kemudian menyambung ucapannya, “Yang penting kan sekarang Awan sudah mau menikah. Ibu tidak curiga lagi sama dia, kan?”
Hendra mengarahkan pandangannya pada Awan, lalu kembali berbicara. “Kamu tahu, Wan … Ibumu ini curiga kalau kamu itu–“
“Sudah! Tadi Ibu sudah ngomong ke Awan,” potong Ratih cepat dengan bibir yang masih saja menekuk, kesal karena digoda terus oleh suaminya.
Hendra pun tertawa melihat reaksi Ratih. “Ya kan, Bu … kata Ayah juga tidak perlu curiga, semua juga ada waktunya.”
Awan ikut tertawa geli melihat ibunya yang terus manyun walaupun Awan dan ayahnya tahu kalau ibunya sebenarnya menyetujui apa yang diucapkan ayahnya.
Hendra kembali mengarahkan pandangannya pada Awan dan berbicara dengan nada serius. “Terus rencana kamu bagaimana, Wan?”
“Kalau Ayah dan Ibu setuju, Awan ingin menikah sebelum kembali ke Belanda,” ujar Awan.
“Kamu rencana kapan kembali?”
__ADS_1
“Agustus, Yah.”
Hendra manggut-manggut pelan mendengar jawaban Awan, sambil agak berpikir.
Hendra kembali bertanya, “Kamu sudah menghadap mamanya Aurora?”
Awan mengembangkan senyumnya. “Sudah, Yah.”
Mendengar jawaban Awan, Hendra pun menjawab dengan yakin, “Kalau begitu direncanakan saja segera pernikahannya. Secepatnya kita lakukan acara lamaran.”
Awan tersenyum lebar mendengar ucapan ayahnya, hatinya diliputi rasa senang dan bahagia yang terpancar dari sinar wajahnya. Ratih pun menjadi semakin bersemangat mendengar saran suaminya.
“Besok Ibu mau telepon dek Asih, ah. Kok ndak ngomong ya sudah ketemu kamu, Wan. Kapan acara lamarannya, Yah?”
“Bicarakan saja dengan Asih. Sesuaikan juga dengan jadwal Awan dan Aurora,” kata Hendra yang terlihat mengulas senyum di bibirnya. Ratih dan Awan sama-sama mengangguk senang menjawab Hendra.
Hendra pun berdiri, dan ketika melewati Awan dia menepuk-nepuk pundak Awan memberikan semangat dan tanda persetujuannya sebagai seorang ayah. Awan tersenyum memandang ayahnya, yang selama ini menjadi sasaran prasangka buruknya.
Ratih mengikuti suaminya berdiri, tetapi sebelum pergi dia mengingatkan Awan untuk tidak lupa meminta maaf pada ayahnya.
Sepeninggal orang tuanya Awan segera pergi ke kamarnya karena sudah tidak sabar ingin memberi kabar pada Aurora.
Aurora yang seharian menunggu kabar dari Awan terlihat cemas ketika menerima panggilan video Awan. Hari ini dia sibuk sekali dari pagi dan tak punya jeda yang cukup untuk menanyakan kabar Awan. Aurora langsung memberondong Awan dengan pertanyaan-pertanyaan, memastikan kondisi Awan.
Orang yang dikhawatirkannya tidak menjawab dan hanya cengar cengir malu tapi bahagia. Aurora langsung berhenti bertanya, wajahnya menuntut penjelasan. Awan sebenarnya merasa bersalah karena tidak memberi kabar pada Aurora, tapi rasa bersalah itu kalah oleh kegembiraan dan ketidaksabarannya untuk menyampaikan berita bahagia yang baru saja diperolehnya.
“Au,” panggilnya dengan senyum lebar di wajahnya, “Doa kita sudah terkabul sebagian.”
Aurora di seberang masih bertampang bingung karena Awan yang disangka celaka tetapi ternyata terlihat sangat bahagia.
“Orang tuaku sudah tahu rencana kita, Au. Mereka setuju kalau kita menikah segera. Rencananya besok ibuku mau telepon mamamu, mau bicarakan lamaran.”
Aurora berusaha mencerna kalimat Awan. “Sebentar, Mas. Lamaran? Telepon mamaku?”
Awan terkekeh melihat Aurora yang belum paham.
“Iya, orang tua ku mau melamarmu segera. Dan ternyata …,” Awan menggantung kalimatnya, mengambil napas, lalu melanjutkan, “orang tuaku sudah kenal dengan mamamu.”
Kalimat terakhir itu mengejutkan Aurora. “Kok bisa?” tanyanya dengan mimik tak percaya.
Awan tertawa dan menjawab keheranan Aurora dengan misteri. “Coba aja tanya mamamu.”
Aurora berulang kali membujuk Awan untuk memberitahunya bagaimana orang tua mereka saling kenal, tapi Awan tetap bersikeras tidak mau memberi tahu. Awan ingin agar Aurora tahu secara langsung dari mamanya, karena mungkin ada rahasia yang tidak ingin diungkapkan mamanya.
Aurora segera menghubungi mamanya karena tak mendapatkan jawaban dari Awan. Mirna pun akhirnya mengaku jujur kalau dia sudah tahu kalau Awan adalah anak Pak Hendra, atasannya dulu, sejak Aurora memperlihatkan foto Awan. Mirna pun mengakui kalau dia sengaja diam karena ingin menunggu sampai Awan melapor pada orang tuanya. Aurora sempat merajuk pada mamanya karena merasa dibohongi, tapi perkataan mamanya membuat Aurora diliputi kebahagiaan.
__ADS_1
“Yang penting Mama kasih restu. Kalau kamu nikahnya sama Awan, Mama lega gak perlu khawatir dengan masa depanmu. Mama doakan kalian bahagia.”
Malam itu, baik Aurora maupun Awan berangkat tidur dengan hati berbunga-bunga dan tertidur pulas dengan mimpi indah. Awan yang malam sebelumnya hampir tidak bisa tidur mendapatkan bayaran yang sungguh indah. Ternyata kekalutannya yang sangat menekan itu hanya karena dia terburu-buru berprasangka buruk kepada ayahnya.