
Senyum yang terulas di bibir Awan tidak juga surut, bahkan semakin lebar melihat Aurora di depannya yang bisa dia duga sedang tegang karena terlihat kikuk, meski berusaha menyamarkan. Tak tega membiarkan Aurora seperti itu lebih lama, Awan pun akhirnya memulai pembicaraan.
“Sudah selesai memikirkan PR-nya kan, Au?”
Aurora hanya mengangguk pelan, kembali mengangkat gelasnya menyembunyikan kegugupan yang masih belum sirna seluruhnya.
“Jadi, apa jawabannya menurut kamu?”
Aurora menarik napas panjang mencari kekuatan lalu mengembuskannya sambil tersenyum dan menoleh ke arah Awan. Tampak di matanya Awan sempat tersenyum sebelum bibirnya hilang tertutup gelas. Awan menyesap tehnya sambil matanya terus melihat ke arah Aurora. Desiran halus terasa di dada Aurora melihat cara Awan menatapnya. “Kok aku grogi banget gini sih?” Aurora heran dengan apa yang dirasakannya.
“Mmmm,” Aurora manggut-manggut sambil tersenyum malu dan mengalihkan pandangannya dari Awan, “kalau menurut aku ya, Mas … menurut aku nih …,” kalimatnya masih menggantung, Aurora diam sebentar, “dalam pernikahan itu butuh cinta dan komitmen.” Aurora merasakan kelegaan setelah mulutnya berhasil mengucapkan kalimat itu.
“Keduanya?”
“Iya, keduanya.”
“Kalau disuruh pilih salah satu?”
Aurora tidak langsung menjawab, dari matanya terlihat dia sedang berpikir.
“Komitmen!” jawabnya mantap.
Selesai menyampaikan jawaban dengan cepat kepalanya menoleh ke arah Awan sambil tersenyum lebar. Lesung pipinya sangat kentara, membuat Awan tertunduk sambil tertawa malu mengalihkan pandangannya dari Aurora yang saat itu baginya sangat menggemaskan dan membuat pertahanannya sedikit goyah.
Melihat Awan tertawa, ekspresi Aurora berubah ciut. “Kok ketawa sih, Mas? Salah ya?”
Cepat Awan kembali memandang Aurora lalu tersenyum. “Enggak … gak ada salah benar, kok. Tapi apa alasannya?”
“Alasan yang pertama atau kedua?” Aurora sedikit beringsut, menggeser posisinya agar lebih mudah menghadap Awan.
“Dua-duanya ….”
Awan berdiri dari duduknya, mengambil gelas dari tangan Aurora, lalu melangkah ke arah dapur menyimpan gelas mereka di atas meja makan, memberi kesempatan berpikir pada Aurora. Kembali ke sofa, Awan mengulang posisinya duduk seperti semula.
__ADS_1
“Gimana, yang pertama cinta dan komitmen, alasannya ….”
“Mmmm, alasannya …,” Aurora mengambil jeda sebentar, “… karena cinta dan komitmen itu saling melengkapi. Cinta saja sudah pasti gak cukup, harus ada komitmen. Tapi kalau komitmen saja tanpa cinta, mungkin jadinya kering?”
Kalimat terakhir Aurora disampaikan dengan nada tanya, seolah tak begitu yakin, mengingat jawaban pilihannya yang kedua.
“Okey … udah segitu?” tanya Awan. Aurora hanya mengangguk. Awan lanjut bertanya lagi, “Kalau yang kedua, yang komitmen aja?”
Mendengar nada suara Awan yang seperti pertanyaan dalam sidang membuat Aurora merespon, “Dih! Dosen banget sih?” Senyumnya meringis, sementara Awan malah jadi tertawa sambil mencolek dagu Aurora. “Kamu, ah! Jadi malu,” kata Awan masih terus terkekeh.
Setelah Awan menghentikan tawanya, Aurora pun melanjutkan. “Kalau disuruh pilih, aku pilih komitmen, Mas. Soalnya, menurutku cinta itu masih ada kemungkinan berubah dan bisa membuat pernikahan juga berubah kekuatannya, sementara kalau kita saling berkomitmen satu sama lain dalam pernikahan, ada tanggung jawab dalam komitmen itu untuk mempertahankan pernikahan.
“Tapi ya itu, Mas … cinta itu kan seperti suatu perasaan yang bikin kita excited ya, jadi ya mustinya kita perlukan juga selain komitmen.”
Ekspresi Aurora mulai terlihat bingung. Awan mengelus-elus lembut sisi kepala Aurora tetapi belum mengeluarkan suaranya. Aurora pun diam menatap Awan, menunggu pendapat Awan atas jawabannya.
Awan tersenyum lembut. “Aku memang gak salah ingin menua bersamamu, Au.”
Aurora mengernyit, raut wajahnya menuntut penjelasan.
"Kalau tadi istilah kamu, hubungan jadi kering, atau hambar lah ya ….”
Aurora memotong penjelasan Awan. “Nah itu, hambar maksudnya.”
Awan tersenyum, lalu kembali melanjutkan. “Komitmen … buatku itu juga sangat mendasar. Kalau harus memilih, aku juga akan pilih komitmen lebih dulu. Kalau kita sudah saling berkomitmen, kita pasti akan tetap menjadi diri sendiri tetapi berusaha untuk menyelaraskan perbedaan. Kita pasti akan berusaha saling melengkapi dan saling menghormati.
“Kita pasti akan berusaha bersama-sama mencari jalan keluar kalau ada masalah. Kita pasti akan berusaha untuk terus bergandengan menghadapi naik turunnya kehidupan pernikahan. Kita juga pasti akan berusaha menjaga kesetiaan.
“Intinya, kita pasti akan berusaha bersama-sama sedemikian rupa untuk mempertahankan hubungan, dan tentunya kalau hasrat cinta yang tadinya menggebu-gebu itu mulai berubah, kita akan terus berusaha juga untuk membuat hasrat cinta itu lestari.”
Sepanjang Awan berbicara, Aurora di dalam hatinya ikut membenarkan apa yang disampaikan Awan. Seperti itu juga lah yang ada dalam pikirannya. Komitmen untuk membangun pernikahan, yang dibuat secara sadar, tentu harus dipertanggungjawabkan.
Awan menarik napas panjang dan mengembuskannya sambil mengeluarkan suara, “Fiuuuuh … panjang ya.” Tangannya membentuk gestur seolah-olah sedang mengelap keringat di dahinya.
__ADS_1
Aurora tersenyum lebar, karena mengamini ucapan Awan dan juga karena melihat gerak-gerik Awan.
Tiba-tiba Awan berdiri menghadap Aurora dan mengulurkan tangannya memberikan tanda agar Aurora juga ikut berdiri. Dengan mimik wajah yang menunjukkan kebingungan, Aurora menyambut tangan Awan dan berdiri di hadapannya. Jarak mereka cukup dekat, Aurora bisa mencium dengan jelas aroma tubuh Awan yang berbaur dengan parfum beraroma pepohonan.
Awan memegang kedua tangan Aurora, menegakkan badannya, dan dengan suara tegas sambil menatap dalam pada manik mata Aurora, Awan pun menyampaikan isi hatinya.
“Aurora … seperti yang pernah aku katakan, aku ingin menua bersamamu. Ingiiiiin sekali. Aku sungguh berdoa dan berharap, cinta dan komitmen di antara kita bisa membawa kita sampai ke pernikahan, bahkan sampai kita sama-sama tua, sampai maut yang memisahkan.”
Dari mata Aurora terpancar sinar bangga dan terpesona yang bercampur haru bahagia ketika mendengar perkataan Awan yang bagaikan janji sekaligus harapan itu. Suasana perasaannya karena harapan di hatinya telah berbuah kebahagiaan, tak bisa ia gambarkan. Yang dia rasakan hanyalah kegembiraan yang memompa darahnya menjadi lebih cepat mengaliri seluruh tubuhnya.
Aurora tak mampu untuk membalas panjang, cukup dengan kalimat, “Iya, Mas … aku pun sama.” Suaranya terdengar tertahan.
Awan memindahkan satu tangan Aurora ke tangan kirinya, sementara tangan kanannya sudah terangkat menangkup sebelah wajah Aurora. Matanya tak terlepas dari menatap Aurora, yang dibalas Aurora dengan tatapan dalam yang sama. Tak ada yang bersuara, seolah cukup berkata-kata lewat tatapan mata saja.
Jari-jari panjang Awan perlahan turun masuk melewati helai-helai rambut Aurora dan kemudian berhenti di tengkuknya, menopang kepala Aurora sambil perlahan Awan mendekatkan wajahnya mendekati wajah Aurora.
Tak berani bergerak, Aurora hanya diam mematung tetapi pikirannya sibuk bertanya apa yang harus dia lakukan dan bagaimana dia harus bersikap. Aurora tak tahu apakah dia harus memejamkan mata atau membiarkan matanya tetap terpaut pada mata Awan.
Saat wajah Awan semakin dekat dan Aurora bisa merasakan embusan napasnya, akhirnya Aurora memilih memejamkan matanya. Melihat itu Awan tersenyum, kemudian dengan lembut dia mengecup bibir Aurora.
Hanya sebentar, tetapi cukup untuk mendorong Aurora berdoa, “Ya Allah, seperti ini rasanya … jangan biarkan aku pingsan di sini.” Beruntung Awan menopang kepalanya sehingga dia tidak terjatuh meski kakinya lemas dan seluruh tubuhnya gemetar karena aliran listrik di sepanjang tulang belakangnya.
Awan sendiri tidak menyangka kalau akhirnya pertahanannya akan bobol pada momen ini. Apa yang barusan dia lakukan sesungguhnya tidak ada dalam skenarionya. Namun, melihat reaksi Aurora, Awan tidak menyesalinya.
Aurora baru memiliki keberanian membuka matanya saat dia benar-benar yakin tak lagi merasakan embusan napas Awan. Perlahan dibukanya matanya, mengintip untuk melihat apa yang terjadi. Ketika cahaya masuk sempurna ke dalam matanya, Aurora bisa melihat Awan yang menatapnya dengan tersenyum. Hanya saja senyumannya terlihat jahil menggoda.
“Lama banget buka matanya, masih nungguin lagi, ya?”
Pertanyaan Awan yang diiringi kerlingan matanya membuat wajah Aurora memerah tersipu malu. Tangan kirinya yang semula masih digenggam Awan pun ditariknya hingga terlepas dan digunakannya untuk memukul dada Awan. Bibirnya cemberut.
Awan tertawa lepas. Dipeluknya Aurora untuk menenangkan dan menghilangkan wajah yang cemberut, sekaligus memintaa maaf akan kalimat isengnya. Aurora tenggelam dalam pelukan Awan ingin bersembunyi karena merasa malu dianggap ingin meminta lebih.
Teringat pada pembicaraan mereka tadi mengenai cinta dan komitmen, perlahan Aurora mengembangkan kedua tangannya dan membalas pelukan Awan, bahkan lebih erat. Merasakan perlakuan Aurora, Awan pun memejamkan matanya lalu berbicara dengan suara rendah,
__ADS_1
“Kita sama-sama berdoa ya, Au … Allah memberikan kelancaran pada harapan dan rencana kita dan memampukan kita untuk mewujudkannya.”
“Aamiin,” jawab Aurora sambil memperbaiki posisi kepalanya di dada Awan, semakin menikmati rasa nyaman.