
Aurora masih tak tenang hingga akhirnya mereka tiba di tujuan. Perjalanan ini sebenarnya tidak lama, tapi Aurora merasa waktu berjalan sangat lambat sementara jantungnya malah berdetak cepat.
Turun dari bus, Awan masih saja belum mau melepaskan genggamannya. Berjalan menuju tempat lokasi pertemuan, sebelah tangan Aurora masih terus dikuasai Awan.
Aurora sesungguhnya bingung menerjemahkan kalimat dan tindak tanduk Awan.
“Apa maksud Mas Awan memegang tanganku sedemikian rupa hingga belum berniat melepaskannya? Apa arti sentuhan-sentuhan Mas Awan selama ini? Apa arti kalimat-kalimat rayuan dan juga perhatian yang sudah sering ku terima? Apa itu artinya Mas Awan suka padaku? Tapi kenapa tidak ada ungkapan apa pun dari Mas Awan? Apa Mas Awan tipe orang yang lebih suka menyatakan lewat tindakan, bukan dengan kata-kata?”
Selama berjalan mereka hanya diam, Aurora larut dalam pikiran kalutnya. “Apa sekarang bisa dibilang kami sudah berpacaran? Atau belum?”
“Yuk, Au… masuk.” Suara Awan menyadarkan Aurora. Mereka ternyata sudah berhenti di depan pintu sebuah café.
Tiba di meja yang dipilih Awan, barulah Awan melepaskan tangan Aurora karena dia harus menggeser kursi memberikan tempat duduk bagi Aurora.
“Akhirnya…,” batin Aurora.
Persis ketika mereka selesai memesan minuman dan makanan ringan, James masuk ke dalam café dan menghampiri meja Awan dan Aurora. Awan langsung berdiri dan mereka berpelukan sambil menepuk-nepuk punggung hangat.
“Akhirnya ketemu juga sama loe!” Kalimat pertama meluncur dari bibir James yang ditutup dengan tawa ringan keduanya.
Begitu James mendudukkan dirinya di seberang Awan, pandangannya langsung terarah pada Aurora. Dia tersenyum.
“Hai… temennya Awan, ya? Kenalin aku James.”
Suaranya tebal tetapi terdengar ringan. Aurora menduga kalau James sepertinya tipe orang yang senang berkelakar.
“Iya, Mas. Aku Aurora,” jawab Aurora sambil menyambut uluran tangan James.
“Jangan panggil ‘Mas’,” sergah Awan, “kalau sama dia sih panggilnya ‘Bang James’.”
Aurora tertawa kecil. ”O-oh… iya, Bang James,” katanya sambil mengangguk-angguk.
James ikut tertawa tapi sambil telunjuknya terangkat terarah pada Aurora yang masih menyisakan tawa di wajahnya. Tanpa basa-basi James langsung bersuara seperti menemukan sesuatu yang menggugah hatinya.
”Eh, lucu banget dia, Wan… ada lesung pipinya.”
James terus melanjutkan senyumnya sambil memandang kagum dengan intens pada Aurora. Yang ditatap menunduk malu, sementara Awan matanya sudah melotot ke arah James.
“Idiiih, apa-apan nih si James? Dasar playboy!” Darahnya berdesir.
Awan langsung mengalihkan perhatian James dengan menanyakan bagaimana kabarnya selama ini. Awan dan James bersahabat sejak mereka SMA. Namun, setelah kuliah mereka berpisah kampus meski kuliah di kota yang sama. Begitu seterusnya hingga mereka sampai di program doktoral. Selalu kuliah di rentang waktu yang sama, dengan master dan doktoral di negara yang sama meski berbeda kota. Persahabatan mereka memang seperti lirik lagu, bagai kepompong. Meski punya perbedaan tak menghalangi mereka untuk selalu saling mendukung.
Perhatian James kembali pada Aurora karena sedari tadi hanya dia dan Awan yang sibuk berbincang. Dia sedang menduga-duga ada hubungan apa antara Aurora dan Awan.
“Aurora aslinya dari mana?”
James membuka percakapan dengan Aurora. Lewat ekor matanya dia melihat Awan terganggu.
“Surabaya, Bang.” Aurora berusaha menjawab ramah.
James mengabaikan reaksi Awan. “Oooh, Surabaya. Dulu S1-nya di mana?”
__ADS_1
Aurora menjawab James kembali dengan menyebutkan nama salah satu kampus di Bandung.
“Oh di sana? Satu kampus dong kalian.” Kali ini tatapannya terarah pada Awan.
Awan hanya mengangguk pelan.
Aurora yang justru bersuara membenarkan James. “Iya, Bang. Saya dulu juniornya Mas Awan. Saya baru masuk, Mas Awan udah mau lulus.”
Kalimat Aurora membuka ingatan James hingga dia pun tersadar sesuatu. “Jangan-jangan ini nih cewek yang dulu diceritain Awan? Adik kelas di kampusnya itu? Dia gak pernah mau cerita sih siapa namanya.”
James menatap Awan mencoba mencari penjelasan, tapi Awan tak mau melihat ke arah James karena hatinya mulai kesal. Dia pura-pura sibuk mengaduk kopi di depannya.
“Huuu, gitu ya! Gua kerjain juga nih…,” batin James melihat sikap Awan.
James melanjutkan pertanyaannya pada Aurora. “Trus gimana, di sini senang?”
Obrolan pun berlanjut antara James dan Aurora dengan Awan yang sudah bersikap dingin, terlebih melihat Aurora banyak tertawa karena celotehan James yang memang mengundang lawan bicaranya untuk spontan mengeluarkan tawa.
Kalau saja itu bukan dengan Aurora, pasti Awan akan ikut tertawa bersama mereka. Sejak dulu James memang paling bisa membuat suasana cair dengan banyolan-banyolannya. Itu juga salah satunya yang membuat Awan senang berteman dengan James, seperti pelepas stres setiap kali bertemu. Tapi kali ini dia seperti melihat James sebagai musuh yang datang merangsek tiba-tiba.
“Ehm,” Awan berdehem dan mencoba mengalihkan pembicaraan, “Loe masih nganter koran, James?”
“Iya, tapi kalo musim dingin gini berat. Pagi-pagi dingin banget…,” James melanjutkan lagi, ”mungkin nganter korannya harus ditemenin Aurora nih, biar tambah semangat.”
Matanya mengerling pada Aurora yang disambut Aurora dengan tawa. Aurora tahu kalau James hanya bercanda.
“Eh apa-apan ini si James? Pake ngerayu segala! Minta dikirim ke Antartika ya dia? Aurora juga malah ketawa, lagi. Senang ya dia dirayu James.” Awan mengetatkan bibirnya dan matanya mengarah tajam menatap James.
James sadar betul Awan tidak senang melihatnya berakrab-akrab dengan Aurora. Sikap Awan justru membuat James makin penasaran ingin menganggu Awan sekaligus menemukan jawaban bentuk hubungan Awan dan Aurora.
Matanya menatap Aurora menggoda. Awan seketika ingin mencolok mata James dengan jarinya.
Aurora tersenyum. “Biasanya sih saya dipanggil ‘Au’, Bang. Tapi mau panggil yang lain juga gakpapa, silakan aja.”
Awan cepat menoleh ke arah Aurora.
“Ha?? Silakan? Ini Aurora kenapa sih?” Awan menggerutu kesal di dalam hatinya.
Melihat reaksi Awan, James pun langsung melanjutkan sambil cengengesan, “Waaah… aku berarti spesial dong. Cuma aku yang panggil Rora.”
Aurora hanya menjawab dengan tawa ringan.
“Nanti pacarnya marah gak kalo ada yang punya panggilan spesial?” James memancing.
Sambil tertawa Aurora menjawab, ”Enggak kok, Bang… belum punya pacar.”
“Ha? Bener nih?” James pura-pura terkejut, “bisa dong!”
Buk! James merasa kakinya ditendang Awan.
James tertawa dalam hati. “Rasain loe, gua kerjain. Berarti bener ini ada apa-apanya si Awan sama Aurora.”
__ADS_1
Berpura-pura tak merasakan tendangan Awan, James masih melanjutkan godaannya pada Aurora dan tidak memberikan kesempatan pada Awan untuk menyela di antara mereka.
Awan merasa dongkol bercampur marah. Hari ini dia bermaksud bertemu sahabat lama sambil berdua-duaan dengan Aurora. Maksud hati ingin bersenang-senang, tapi tak disangkanya James malah bermain api membakar hati dan pikirannya.
“Tenang, Awan… sabar. Gak mungkin kan kamu ngamuk ke James di depan Aurora?”
Suara hatinya mencoba menenangkan. Awan pun berusaha menguasai dirinya. Dia juga tak mau terlihat seperti orang bodoh yang termakan emosi di depan Aurora.
Hari sudah gelap, mereka pun menghabiskan minuman masing-masing dan membayar. James berdiri lebih dulu yang diikuti Awan, dan mereka kembali berpelukan seperti saat pertama bertemu.
“Oke, bro! Sampe ketemu lagi ya. Sukses, loe!” ucap James yang dibalas Awan dengan kalimat yang hampir sama, “Oke, thanks. Loe juga sukses.”
Beralih pada Aurora, James mengulurkan tangannya yang disambut Aurora, tetapi kemudian James menutup tangan Aurora itu dengan tangan kirinya hingga seluruhnya berada dalam genggaman James.
“Sampai ketemu lagi ya Rora. Main-main ke sini lagi, gak usah bawa dia,” kata James sambil melirik Awan, campuran antara sinis dan canda.
James melanjutkan dengan tangan Aurora yang masih digenggamnya.
“Kapan-kapan aku juga main lah ke tempat kalian. Temani aku nanti ya….“
Senyumnya lebar dengan kerlingan mata menggoda.
Awan menepuk lengan Aurora pelan.
“Udaaah…,” katanya berharap tangan Aurora segera dilepas.
James pun menyeringai, paham akan maksud Awan.
Dilepaskannya tangan Aurora, berpindah merangkul Awan di bahunya sambil mereka berjalan keluar café.
“Jangan kelamaan, ntar keburu kabur,” bisiknya pelan pada Awan sambil menepuk-nepuk punggung Awan seolah memberikan semangat. Awan menatap bingung, tapi James tidak memberikan jawaban.
“Dag….” Lambaian tangan James pun memisahkan mereka di depan café.
Baru saja berjalan beberapa langkah menuju halte, HP Awan bergetar. Pesan masuk dari James.
“Heh, kenapa nih?”
Awan membuka pesan tersebut dengan penasaran karena mereka baru saja berpisah.
James PS: Aurora tuh cewek yang loe ceritain dulu ya? Yang loe suka itu? Buruan deh loe! Kalo pake lama ntar gua tikung 😎
Awan tersenyum menyadari kebodohannya yang tadi hampir meluapkan emosinya pada James. Dia lalu membalas cepat pesan James.
Awan: Sialan! Loe ngerjain gua ya tadi.
James: 😂😂
Memasukkan HP kembali ke kantongnya, Awan menatap Aurora yang berdiri di sampingnya. “Sabar ya, Au. Bentaaaar lagi. Jangan kabur dulu.”
“Terasa dingin lagi, nggak?”
__ADS_1
Aurora sedikit tersentak, bingung mau menjawab apa.
“Kalau bilang dingin trus Mas Awan mau ngapain? Tapi kalau bilang enggak, kok ya pingiiiinn….”