AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Merenung


__ADS_3

Keluar dari perpustakaan bersama Awan, Aurora yang masih sibuk memasukkan buku ke dalam tasnya merasa terkejut ketika mendengar ada yang memanggil namanya.


“Aurora!”


Menoleh ke arah suara dan mengenali pemiliknya, Aurora pun tersenyum. Awan sempat melirik dengan sudut matanya berusaha menilai makna senyuman Aurora.


Bima melangkah mendekat, sedikit tersenyum dan mengangguk pada Awan yang ada di sebelah Aurora, lalu mengarahkan perhatian pada Aurora yang kini sudah berdiri saling berhadapan dengannya.


“Dari perpustakaan?”


“Iya, Mas. Mas Bima mau ke perpustakaan?”


Senyuman terukir di bibir Bima sambil menatap lekat Aurora. “Mmm, enggak juga sih. Tadinya mau cari kamu.”


Awan kembali melirik ke arah Aurora, hatinya mulai merasa tidak tenang. “Siapa sih dia?”


Aurora yang tidak sadar kalau Awan terganggu malah mengeluarkan tawa membalas ucapan Bima. “Ada apa, Mas… nyariin aku.”


Awan merasa suara tawa Aurora terlalu renyah dan nada ucapannya terlalu manja. “Sabar, Wan. Sabar…,” rapalnya dalam hati mencoba menguasai diri. Sayangnya egonya juga mulai menuntut, beradu dengan usahanya bersikap tenang. “Kamu dicuekin, Wan… kok Aurora gak ngenalin kamu?”


Suara tawa Bima ikut terdengar. “Enggak kok, gak ada apa-apa. Cuma ingin ngobrol saja dengan Aurora.”


Kalimat terakhir Bima mampu menggerakkan tangan Awan menyentuh pelan lengan Aurora, berusaha mengingatkan Aurora kalau saat itu ada dirinya di samping Aurora.


Sentuhan itu tak terlihat oleh Bima, tetapi cukup untuk menyadarkan Aurora. Segera dia pun memperkenalkan Awan pada Bima.

__ADS_1


"Oh ya Mas Bima, kenalkan ini Mas Awan… yang kemarin aku bilang sedang Ph.D.”


Aurora tersenyum tatkala matanya bertemu dengan mata Awan. Di dalam hatinya Awan menambahkan sendiri kalimat Aurora, “… dan dia ini pacarku.”


“Oh hai, aku Bima … lagi ikut training di sini.” Jabatan tangannya hangat dan bersahabat yang membuat Awan merasa tidak enak. Dia pun berusaha membalas dengan kehangatan yang sama sambil menyampaikan salam perkenalan, “Oh ya, aku Awan … tadi Au udah bilang kan ya, aku lagi Ph.D..”


“Asyik juga ya, banyak orang Indonesia ternyata. Tiap tahun begitu?” Bima bertanya pada Awan.


“Ya … lumayan lah, tiap tahun minimal ada 2 orang dari Indonesia. Malah dulu sih katanya pernah sampai puluhan orang.”


“Woow, puluhan … banyak itu.” Bima tersenyum manggut-manggut, lalu memindahkan pandangannya ke arah Aurora. “Ini mau kuliah atau ke mana, Aurora?”


“Mau tau aja!” jawab Awan dalam hatinya sedikit kesal, tetapi di wajahnya senyum tipis tetap tergambar.


“Kuliah, Mas … di bawah.” Aurora melihat jam tangannya, waktu tersisa tinggal 5 menit saja. “Eh udah mau masuk nih, Mas …,” matanya menatap Bima, “aku duluan ya.”


“Oh, oke … selamat kuliah ya.” Bima melempar senyum pada Aurora, yang di mata Awan saat itu terlihat dibuat terlalu manis sehingga begitu mengganggu.


Aurora membalas senyuman Bima dan hanya mengangguk kecil ke arah Awan. Dia lalu mengangkat tangannya melambai ke arah Awan dan Bima sambil melangkahkan kakinya cepat menuju lift.


“Eeee … beneran ya, langsung pergi aja.” Awan tak menyangka Aurora akan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya. Hatinya terasa tercubit karena dia merasa Aurora mengabaikan dirinya.


Awan segera menoleh ke arah Bima dan berkata, “Aku juga duluan ya. Sampai ketemu lagi.” Meski hatinya tidak nyaman, dia tetap berusaha bersikap sopan pada Bima.


“Oh iya … sampai ketemu lagi. Kapan-kapan ingin juga ngobrol lebih santai.” Bima menepuk pelan lengan Awan sebelum Awan meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


Awan bergegas menuju lift dan memilih tombol ke atas. Kakinya bergoyang-goyang, menunggu dengan tidak sabar. Raut wajahnya terlihat jelas menunjukkan ada sesuatu yang hilir mudik dipikirannya. Lift yang ditunggu belum tiba, Awan malah sudah berubah pikiran. Kali ini dia memencet tombol ke bawah. Niatnya akan ke Social Room dibatalkan, hatinya memilih langsung pulang ke apartemen.


Di dalam lift Awan menuliskan pesan teks melalui HP-nya.


‘Aku enggak nunggu ya… langsung pulang.’


Dengan sekali sentuhan, pesannya terkirim kepada Aurora.


Awan tiba di apartemennya lebih cepat dari biasa karena sepanjang jalan dia berusaha mengayuh sepedanya dalam kecepatan tinggi. Untung saja semesta mendukung usahanya itu, jalanan cukup lowong sehingga dia bisa bersepeda dengan lancar. Meski tiba dengan terengah-engah tapi Awan justru merasa lega, bebannya terasa hilang. Adrenalinnya yang di kampus tadi sempat meningkat kini berangsur normal, diganti dengan napas tersengal karena kelelahan.


Setelah mandi dan kesegarannya kembali, Awan berbaring santai di sofa dan pikirannya pun kembali ke perisitiwa di kampus tadi. Dalam keadaan tenang dia baru sadar betapa lemahnya dia ketika melihat Aurora terlihat akrab dengan pria lain yang tidak dia kenal.


“Mungkin seperti itu juga ya perasaan Aurora kalau melihat aku lagi ngobrol dengan Samantha.”


Dia pun kembali mengulas berusaha mencari jawaban, apa yang menyebabkannya begitu tidak terima melihat kedekatan Aurora dan Bima.


“Pertama, mungkin karena aku gak kenal siapa dia. Kalau Aurora akrab dengan Singgih, Lukas, atau Iqbal, atau bahkan dengan teman negara lain sekalipun yang sudah ku kenal, mungkin aku gak akan sesewot ini. Kedua, mungkin karena Aurora tidak cerita padaku soal pertemuannya dengan Bima. Apakah karena tidak penting bagi Aurora, atau karena dia tidak mau aku tahu? Aku memang belum tahu jawabannya.”


Ketiga, mungkin ini yang paling berpengaruh, apa karena aku takut kehilangan Aurora ya? Aku tidak percaya diri atau aku tidak percaya Aurora?”


Awan cepat-cepat menghilangkan pikiran buruk yang terlintas di benaknya. “Tidak. Aku percaya penuh pada Aurora.”


Suara hatinya pun mulai ikut berbicara, “Kamu takut kehilangan dia karena sudah menunggu terlalu lama, Wan ….” Menyadari itu bibir Awan pun tertarik membentuk senyuman. “Iya juga ya, bertahun-tahun ku pendam … sekarang sudah dapat, rasanya gak rela kalau harus terlepas.”


Tring. Suara pesan masuk memutus lamunan Awan. Dia membuka HP-nya, melihat pesan masuk yang ternyata dari Aurora.

__ADS_1


Aurora: Baru selesai kuliah, Mas. Nanti aku ke tempat Mas Awan ya.


Awan kembali tersenyum, kali ini semakin lebar. Seketika dia merindukan Aurora. Awan pun segera bangkit, merapikan kamarnya, dan bersiap-siap menunggu kedatangan Aurora. Dia tak sabar ingin segera menyelesaikan kegundahan hatinya.


__ADS_2