AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Merayakan Semesta


__ADS_3

Minggu terakhir sebelum peserta training menyelesaikan latihannya, Awan dan teman-temannya mengajak Bima untuk makan malam bersama di Warung Java. Seperti menjadi kebiasaan, saat kedatangan teman lain dari tanah air yang sama pasti akan ada jamuan, entah untuk penyambutan atau perpisahan, atau malah keduanya. Kali ini mereka memilih makan bersama di Warung Java saja, karena selain Bima semuanya kembali merindukan masakan yang bercita rasa Indonesia.


Awan tetap merasakan adanya usaha pendekatan yang dilakukan Bima pada Aurora, meskipun sebenarnya Aurora sudah mulai membatasi diri saat berbincang dengan Bima. Aurora sendiri juga tidak ingin Bima menganggapnya memberi harapan, hanya saja dia juga belum menemukan saat yang tepat untuk secara langsung mengatakan atau menunjukkan pada Bima kalau dirinya dan Awan adalah sepasang kekasih.


Saat mereka bersama-sama pergi ke Warung Java, sayang sekali Awan harus menyusul karena ada yang harus ia selesaikan terlebih dahulu. Dalam perjalanan dengan trem, Aurora langsung duduk menempatkan dirinya di sebelah Saras yang sudah duduk duluan. Dia khawatir kalau duduk sendirian maka Bima yang nanti akan duduk di sebelahnya. Dugaan Aurora ternyata benar. Bima berusaha mengambil tempat duduk di seberang Aurora, hanya dipisahkan oleh gang, meski di sebelahnya duduk seorang asing dan di bagian lain ada tempat duduk yang masih benar-benar kosong.


Tiba di restoran, beruntung suasana sedang tidak terlalu ramai sehingga mereka bisa dengan mudah mendapat tempat duduk. Namun sayang bagi Bima, dia tidak mendapat kesempatan untuk bisa memilih tempat duduk di dekat Aurora, karena Singgih terus mengajaknya berbincang sehingga dia mau tidak mau terpaksa duduk di sebelah Singgih. Usaha terakhirnya hanya berusaha agar lewat posisinya dia masih bisa memperhatikan Aurora.


Tak terlalu lama, Awan pun datang dan bergabung dengan teman-temannya. Melihat kedatangan Awan, Saras yang semula duduk di sebelah Aurora segera berdiri dan meminta Lukas untuk berpindah agar dia bisa duduk di depan Aurora. Lukas yang sadar diri pun mengalah dan berpindah duduk ke hadapan Singgih. Pertukaran tempat duduk ini sempat dilihat Bima dan menimbulkan sedikit tanda tanya dalam hatinya.


Selama mereka makan dan berbincang, kedekatan Awan dan Aurora tidak bisa ditutupi, bahkan terlalu nyata untuk bisa dibantah ada sesuatu yang intim di antara mereka. Bima hanya memperhatikan dengan sudut matanya bagaimana Awan terlihat bersikap sangat manis dan perhatian pada Aurora, bagaimana Awan mengambil tisu dan melap sisa kuah soto di ujung bibir Aurora, juga bagaimana Awan meletakkan tangannya di sandaran kursi Aurora sambil sesekali jemarinya menyentuh dan mengelus pundak Aurora.


Teman-teman yang lain sudah biasa melihat pemandangan itu sehingga tidak lagi menjadi bahan perhatian atau bahan godaan seperti sebelumnya. Mereka terlihat biasa saja dan dugaan Bima tadi saat Awan baru datang sepertinya mulai mengarah pada satu kesimpulan. Rasa penasaran ingin mengonfirmasi dugaannya membuat Bima bertanya pada Singgih untuk memastikan.


“Nggih, itu mereka, pacaran?” Matanya hanya melirik ke arah Awan dan Aurora untuk memberi tahu Singgih siapa yang dia maksud dengan ‘mereka’.


Lukas yang juga ikut mendengar segera menyambar, “Mereka?” tanyanya sambil mengarahkan jempolnya menunjuk Awan dan Aurora yang duduk di meja sebelahnya. Bima hanya mengangguk mengiyakan.


“Oooh, mereka sih kembar dempet.” Kedua jari telunjuknya bersisian menempel memberikan gestur yang dia sebut dengan kembar dempet, lalu terkekeh yang kemudian diikuti Singgih yang malah terbahak mendengar komentar Lukas. Bima hanya tersenyum miris.


Tawa Singgih membuat Saras langsung mengarahkan pandangannya pada Lukas dengan mimik bertanya. “Ada apa?”


Lukas hanya cengar-cengir dan berusaha menutupi apa yang tadi dikatakannya. “Enggak … gak ada apa-apa. Itu si Singgih lagi ngetawain gua. Gak penting!”


Jawaban Lukas sebenarnya tidak memuaskan Saras, tetapi dia tidak mau bertanya lebih lanjut dan kembali pada pembicaraan dengan teman semejanya.

__ADS_1


Singgih yang sejak pertemuan pertamanya di depan mesin kopi dengan Bima sempat punya kecurigaan, sesungguhnya tahu kenapa kini Bima mengeluarkan pertanyaan soal Aurora dan Awan. Dengan santai Singgih menambahkan informasi meskipun tidak diminta Bima. Suaranya dipelankan supaya tidak terdengar hingga ke meja sebelah.


“Iya, mereka pacaran sejak akhir tahun kemarin. Emang dasar tuh Awan, pintar sekali dia cari momen. Lain memang kalau yang S3. Ngomong suka ke Aurora saja musti nunggu naik Eiffel dulu.”


Lukas hanya tersenyum mendengar kalimat pelan Singgih, mengakui apa yang disampaikan Singgih benar adanya – Awan sungguh pintar mencari momen. Sementara Bima hanya manggut-manggut dengan berusaha tersenyum, meski tak bisa disembunyikan kalau senyuman itu terlihat terpaksa. Harapan yang sempat ia bangun, pupus sudah. Untung saja minggu depan dia sudah kembali ke Indonesia, bisa melupakan asanya yang ternyata tidak akan bisa terwujud.


Pulang dari Warung Java Bima tidak lagi punya keinginan untuk berdekatan dengan Aurora. Selain karena sadar sudah tidak ada harapan baginya, memang tidak ada kesempatan yang memungkinkan karena Awan selalu menempel Aurora. Persis seperti yang tadi dikatakan Lukas, mereka seperti kembar dempet.


Awan memang sengaja hari ini sedikit berlebihan mendemonstrasikan kedekatannya dengan Aurora, meski teman-temannya tidak menyadari. Awan hanya ingin menunjukkan dengan jelas pada Bima bahwa Aurora sudah ada yang punya dan tidak ada peluang bagi Bima untuk mendekati Aurora. Saat mereka berpisah di stasiun, Awan tahu kalau pesan yang dia sampaikan bisa ditangkap dengan benar oleh Bima, terlihat dari gerak-geriknya saat berpamitan pada Aurora.


--


Sebelum bulan Februari berakhir, Awan dan teman-temannya tidak menyia-nyiakan ‘National Stargazing Days’ yang diadakan oleh Sonnenborgh Museum and Observatory yang berlokasi di Kota Utrecth. Tersedia dua hari bagi siapa saja untuk bisa menikmati planet dan bintang di malam hari dengan tiket masuk yang lebih murah dari biasanya. Selain itu ada acara tambahan seperti sebuah kuliah yang bisa mereka ikuti untuk mendapat pengetahuan lebih banyak tentang semesta.


Sebagaimana biasanya kalau mengunjungi kota yang lain, tak lupa Awan dan teman-temannya melakukan eksplorasi, minimal bisa memanjakan mata dan hati dengan pemandangan dan suasana yang berbeda. Dari stasiun mereka menikmati pusat kota Utrecht sambil berjalan kaki santai hingga lebur dalam atmosfer sore hari di tepi kanal yang ramai dengan jajaran restoran dan café. Berbeda dengan kanal di Amsterdam, kanal-kanal di Utrecht sudah dibendung sehingga tepian kanal yang persis di tepi air dan berada di bawah jalan bisa digunakan sebagai tempat duduk bagi pengunjung restoran.



Masih terus berjalan kaki mereka menuju Dom Tower, menara gereja dengan banyak lonceng yang menjadi landmark utama Kota Utrecht. Tingginya 112 meter dengan 465 anak tangga untuk mencapai puncak, membuatnya mudah dikenali bahkan dari jarak jauh. Jumlah anak tangga yang ratusan menyurutkan niat mereka untuk bisa naik ke puncak tertinggi dan menikmati pemandangan dari atas. “Boro-boro bisa lihat pemandangan … sampai atas langsung pingsan!” komentar Saras.


Meskipun merupakan menara gereja, tetapi sebenarnya Dom Tower terpisah dari bangunan induknya, Gereja St. Martin, akibat badai. Bangunan gereja dengan style gothic ini memang indah dan juga menarik karena di sana terdapat sebuah taman kecil yang tertata rapi, Pandhof Domkerk. Sayang mereka di sana saat hari sudah terlalu sore untuk bisa masuk dan menikmati taman.



Aktivitas mereka malam itu, menikmati gugusan bintang, bulan, planet, dan kehidupan di luar Bumi di Sonnenborgh Museum and Observatory menjadi pengalaman berharga sekaligus tak kan terlupakan bagi Awan dan teman-temannya. Gedung Sonnenborgh juga memberi kesan tersendiri karena pada Abad ke-16 bangunan ini sebenarnya merupakan sebuah benteng. Keindahan semesta mengingatkan mereka akan kebesaran Sang Pencipta dan diri mereka sebagai makhluk kecil yang sesungguhnya tak punya kekuatan apa-apa kalau bukan karena kehendak-Nya.

__ADS_1



Hari sudah sangat larut saat mereka kembali ke Rotterdam. Begitu duduk di kereta Aurora langsung memanfaatkan bahu Awan untuk mengistirahatkan badannya. Di antara suara kereta yang terdengar, Awan mulai berbicara mengisi obrolan dengan Aurora. “Gimana pendapat kamu pengalaman tadi, Au?”


“Hmm … sangat menyenangkan, Mas. Keren banget … gak nyangka bisa punya pengalaman seperti tadi, ini pertama kalinya aku pergi ke observatorium,” jawab Aurora sambil memejamkan matanya.


“Iya, menyenangkan ya,” balas Awan singkat lalu terdiam. Setelah hening sebentar, suara Awan kembali terdengar.


“Aku beruntung ya, Au.”


“Kenapa, Mas?”


“Aku sebenarnya gak perlu susah-susah ke observatorium kalau mau lihat bintang.” Awan tersenyum, tapi Aurora tak melihatnya. Dia hanya menjawab dengan gumaman pernyataan Awan. “Hmm?”


“Aku kan bisa lihat bintang tiap hari … bisa pagi, siang, atau sore malah, gak perlu nunggu malam.” Awan menolehkan kepalanya ke arah Aurora yang masih terus memejamkan matanya. Pikirannya belum menangkap arah pembicaraan Awan.


“Tapi bintangnya sekarang lagi tidur, cahayanya meredup.”


Mendengar kata ‘tidur’ barulah Aurora paham kalau yang dimaksud Awan sebagai ‘bintang’ adalah dirinya. Aurora segera menegakkan badannya dan memandang Awan yang juga masih menatapnya.


Mata mereka bertemu, Aurora mengembangkan senyumnya. Selama beberapa detik mereka tidak melepaskan kontak mata yang terjadi, seolah ada medan magnet yang saling tarik menarik di antara mereka.


Aurora kemudian bersuara tetapi sambil tersenyum geli. “Aku aurora, Mas … bukan bintang.”


Mendengar kalimat Aurora, Awan langsung tertawa pelan dan menarik kepala Aurora kembali ke bahunya. Senyuman tersungging di kedua wajah mereka, sama-sama memejamkan mata, dan tangan Awan sudah turun meraih tangan Aurora untuk digenggamnya, hingga mereka tiba di tempat tujuan.

__ADS_1


__ADS_2