
Sore harinya di teras samping, Ratih duduk sendirian sambil mengupas buah yang sudah menjadi kebiasaannya setiap sore. Awan yang melihat ibunya sendirian lalu ikut duduk di sana. Mereka duduk bersisian dengan hanya dibatasi meja kecil tempat Ratih menyimpan piring buah yang sudah terkupas dan terpotong.
Awan memutuskan akan bertanya pada ibunya, tapi dia bingung harus bertanya mulai dari mana. Awan duduk diam, tetapi dalam pikirannya hilir mudik berbagai kalimat tanya.
Akhirnya Awan berhasil mengumpulkan segenap keberanian yang dia miliki untuk mulai bertanya pada Ratih, ibunya.
“Bu, sejak Ibu menikahi ayah, Ibu kenal dengan semua karyawan yang bekerja dengan ayah?”
Ratih menghentikan gerakan tangannya mengupas, agak bingung mengapa tiba-tiba Awan menanyakan hal itu, tapi tetap menjawab dengan biasa. “Oh, iya dong.”
“Semuanya?”
“Ya bisa dibilang semua.”
“Kalau rekan kerja ayah?”
“Hmm … kalau rekan kerja sih ndak semua ya, Wan. Ada juga yang Ibu ndak kenal.”
“Oooh. Kalau sekretarisnya?” Awan sedikit ragu saat menanyakan itu.
“Kalau sekretarisnya ayah, ya Ibu pasti kenal, Wan. Malah sudah seperti saudara sendiri,” jawab Ratih tanpa memahami arah pertanyaan Awan.
“Oh ya? Memangnya Ibu masih berhubungan dengan mereka?” Awan berusaha menghilangkan kegugupannya dengan mengambil potongan buah dari piring di sebelahnya.
“Laaah, sekretaris ayahmu itu dari dulu sampai pensiun cuma empat orang, Wan. Mereka itu rata-rata kerja ikut ayahmu cukup lama. Semua juga Ibu masih tau kabarnya. Ada yang berhenti kerja karena punya anak, ada yang ikut suami, ada yang terakhir itu hampir berhenti karena anaknya gak ada yang bantuin ngasuh. Malah mereka itu dulu juga suka bantuin Ibu, kok.”
Awan diam hanya mengunyah pelan buah di mulutnya. Ratih pun mulai penasaran.
“Kenapa? Kamu nanti mau kerja kantoran saja rupanya?”
Awan berusaha tertawa secara normal mendengar pertanyaan Ibunya. “Enggak kok, Bu.”
Awan kembali terdiam, memikirkan pertanyaan berikutnya yang harus ia tanyakan.
“Masa aku langsung nanya apa ayah nikah lagi sama sekretarisnya? Apa aku langsung nembak aja ya apa Ibu kenal mama Aurora dan tau kabarnya sekarang? Atau aku tanyakan saja soal foto itu?”
Merasa tidak ada pertanyaan yang tepat, Awan malah kemudian berbelok menanyakan hal lain.
“Sejak menikah, bagaimana sih Ibu percaya sama ayah?”
Ratih menoleh ke arah Awan, kembali heran atas pertanyaan anaknya, tapi tetap saja dia menjawab seolah itu pertanyaan biasa.
“Ayahmu itu orangnya bertanggung jawab, ndak hanya lewat omongan tapi juga ada buktinya. Ayahmu juga selalu jujur dan terbuka sama Ibu, persoalan apa pun.”
Awan langsung memotong, “Ibu benar-benar yakin?”
Ratih tertawa ringan. “Ya iya lah, Wan … makanya Ibu dan ayahmu bisa berdua terus sampai sekarang ini. Kamu kan lihat sendiri kalau kami masih awet.”
Jeda sebentar, Ratih tak tahan untuk menanyakan keheranannya.
“Kenapa, Wan? Tadi kamu nanya urusan kantor, nanya soal sekretaris, terus sekarang nanya Ibu percaya atau enggak ke ayah.
Kenapa? Kamu udah punya calon istri, ya? Calonmu itu sekretaris? Kamu sudah ada rencana mau menikah?”
Pertanyaan panjang Ratih tidak segera dijawab Awan. Dia merasa kasihan pada dirinya sendiri mendengar deretan pertanyaan ibunya.
__ADS_1
“Kok diam?” Kembali terdengar pertanyaan dari Ratih.
Dalam diamnya Awan menimbang-nimbang sebentar dan akhirnya memutuskan untuk nekat saja, apa pun yang terjadi.
“Iya, Bu … sudah ada calon,” jawab Awan lalu memalingkan pandangannya ke bawah. Hatinya terasa sedih.
Ratih tak bisa menyembunyikan rasa terkejut sekaligus gembiranya mendengar jawaban singkat Awan.
“Ha? Serius kamu Wan, sudah ada calon?” Ratih bertanya dengan suara hampir berteriak sangkin senangnya.
Awan tersenyum di luar, tetapi tersayat di dalam hatinya melihat ekspresi ibunya. Awan berusaha menutupi isi hatinya dan hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Ratih.
Tiba-tiba Ratih berhenti tersenyum, lalu diam.
Dengan raut wajah cemas tapi penasaran, Ratih pelan-pelan bertanya dengan volume suara rendah sambil menyentuh lengan Awan, “Dengan bule, Wan? Ketemu di Belanda?”
Nadanya terdengar khawatir.
Awan tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi ibunya yang begitu was-was. “Bukan, Bu … bukan bule, tapi iya ketemu lagi pas di Belanda.”
Ratih langsung mengembuskan napas lega mendengar jawaban Awan.
“Oh, orang Indonesia,” katanya lalu tersenyum senang pada Awan.
Melihat respon ibunya, Awan pun ikut tersenyum meski hatinya tetap saja gundah.
“Kalau begitu, siapa namanya, Wan? Orang mana? Jakarta juga? Tinggalnya di mana? Kerja, Wan? Di mana kerjanya? Usianya berapa?”
Rentetan panjang pertanyaan meluncur dengan cepat dari mulut Ratih karena tak sabar ingin segera tahu seperti apa calon istri yang akan diperkenalkan Awan.
“Ini tuh sangkin senengnya, Wan,” kata Ratih masih tidak sabar.
“Kamu itu kelamaan sendirian. Sampai usia segini ndak ada tanda-tanda mau menikah, punya pacar juga enggak.”
Ratih mengambil jeda lalu kembali melanjutkan, “Ibu sampai curiga loh, Wan … jangan-jangan kamu itu ndak seneng perempuan atau memang ndak mau nikah, gitu ya.”
Bibir Ratih membentuk kerutan, mengingat betapa khawatirnya dia melihat Awan yang belum punya pasangan sampai usianya hampir menuju tiga puluh tahun.
Awan tersenyum walau merasa miris melihat ibunya yang terlihat senang sekali ketika mendengarnya sudah punya pasangan. Awan tak tahu apa yang akan dirasakan dan dikatakan ibunya kalau ternyata semua itu hanyalah harapan palsu. Kegembiraan ibunya tentu tak akan berbekas malah berubah menjadi sakit hati karena kecewa bila harapan besarnya melihat Awan menikah ternyata harus kandas.
Dengan tekad menemukan jawaban segera agar semuanya tak berlarut-larut dan membuatnya semakin terpuruk, Awan memantapkan hatinya dan mulai mengeluarkan pertanyaan untuk memancing ibunya.
“Mmm … tapi, Bu …,” Awan berhenti sebentar mengusap tengkuknya lalu melanjutkan, “Dia ini dari kecil tidak pernah bertemu ayahnya. Bagaimana menurut Ibu?”
Dengan agak terkejut, Ratih menjawab dengan cepat. “Lah emang kenapa, Wan? Ayahnya meninggal waktu dia kecil? Atau ibunya ditinggal pergi?”
Awan menunduk sebentar lalu menoleh ke arah Ratih. “Kata dia sih ibunya ditinggal.”
Ekspresi Ratih berubah menunjukkan raut wajah sedih dan prihatin. “Aduh, kalau yang begitu malah kasihan sama dia, Wan. Anak itu harus dapat pasangan yang bener-bener baik dan sayang sama dia.”
Keheningan terjadi di antara mereka berdua. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Awan memikirkan langkah selanjutnya, sementara Ratih memikirkan betapa memprihatinkan hidup calon menantunya itu. Ratih mengunyah pelan buah yang tadi dipotongnya, Awan duduk tegang dengan melipat tangannya.
Mata Awan terpejam sebentar, lalu mulai mengeluarkan suaranya lagi.
“Mmm …,” ada keraguan hadir sehingga Awan merasa perlu berdoa sebelum melanjutkan kalimatnya. “Ya Allah, kuatkan aku.”
__ADS_1
“Mmm, Ibu kenal dengan bu Mirna?” Suara Awan terdengar sedikit tersangkut di tenggorokannya.
Mirna terlihat bingung. “Bu Mirna? Bu Mirna siapa, Wan?”
Pertanyaan Ibunya membuat Awan menjadi ragu kembali.
“Jangan-jangan Ibu memang gak tau apa-apa?”
“Mmm, Ibu tau ada teman kerja ayah yang namanya bu Mirna?” Awan berharap cemas pada jawaban ibunya.
“Teman kerja ayah? Kok kayaknya Ibu gak pernah dengar ada yang namanya Mirna ya … atau Ibu mungkin memang ndak kenal?” Ratih terlihat mengeryitkan dahinya berpikir mengingat-ingat nama Mirna di antara teman kerja suaminya.
Awan mengganti pertanyaannya meski semakin ragu. “Kalau sekretaris ayah?”
Masih dengan raut wajah bingung berpikir, Ratih malah kembali bertanya, “Sekretaris? Mirna …?”
Pertanyaannya menggantung karena Ratih kembali mencoba mengingat-ingat nama Mirna.
“Ndak ada tuh, Wan.”
Deg! Seketika Awan merasa tubuhnya lemas lunglai.
Baru saja Awan berusaha menguasai perubahan emosi dan fisik tubuhnya, tiba-tiba Ratih kembali berbicara dengan nada terdengar puas mengetahui sesuatu.
“Oooh … maksud kamu dek Asih, Wan?” Ratih tersenyum.
Kali ini berganti Awan yang terlihat bingung. Tapi tidak lama karena dia pun tiba-tiba teringat kalau Aurora pernah mengatakan nama lengkap mamanya, Mirna Asih.
“Oh iya, Bu. Bu Mirna Asih,” ujar Awan memastikan jawaban pertanyaan Ibunya.
Suara Ratih terdengar senang. “Ooh, kalau itu ya Ibu kenal dong. Ibu manggilnya Asih, bukan Mirna. Makanya Ibu tadi bingung.”
Penjelasan ibunya justru membuat jantung Awan berdetak sangat cepat dan napasnya terasa memburu karena didorong rasa penasaran.
“Memangnya kenapa dengan dek Asih?” Ratih masih belum bisa menangkap apa hubungan pembicaraannya dengan Asih, mantan sekretaris suaminya.
Setelah berhasil menguasai diri dan mengatur pernapasannya, Awan menjawab ibunya dengan perlahan dalam tempo bicara yang lambat.
“Calon istri yang Awan bilang tadi itu, putrinya bu Mirna Asih, Bu.”
Awan menyiapkan diri untuk mendengar apa pun yang dikatakan ibunya dan menguatkan hati dengan reaksi yang mungkin dia terima.
“Ha?? Awan?? Kamu serius??” Ratih berteriak sambil memegang tangan Awan yang bersandar pada pegangan kursi di seberang meja.
Melihat reaksi ibunya, hati Awan semakin menciut dan takut kalau kecurigaannya tentang siapa Aurora ternyata benar adanya. Meskipun tadi dia sudah berusaha siap, tetapi kini dia merasa sangat tidak percaya diri.
Awan hanya diam saja tak berani menjawab pertanyaan ibunya.
Ratih menjadi tidak sabar. Dengan mimik wajah masih penuh keterkejutan, Ratih kembali memastikan semuanya pada Awan.
“Serius, Wan? Calon yang kamu maksud itu anaknya dek Asih?”
Ratih bertanya sambil menggoncang-goncangkan tangan Awan, tetapi Awan tetap tak bereaksi, dia masih bergeming.
“Jawab Ibu, Wan … Ibu ndak salah dengar, kan?” Nada suara Ratih mulai terdengar frustasi.
__ADS_1
Awan tak berani menatap ibunya dan hanya menunduk, bahkan semakin lama semakin dalam. Sambil mengangguk pelan, Awan menjawab dengan suara lirih, “Iya, Bu.”