AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Saling Mendukung


__ADS_3

Dari pintu kamar Aurora yang terbuka lebar, Saras melongok ke dalam kamar berniat menanyakan sesuatu pada Aurora.


“Au!”


Aurora dan Awan sama-sama menoleh ke arah pintu. Aurora mencondongkan badannya sedikit ke depan agar pandangannya ke arah pintu tidak terhalang badan Awan.


“Apa, Ras?”


“Presentasinya bebas ya alurnya?”


“Iya, gak ada ketentuannya.”


Tapi Aurora tiba-tiba teringat. “Etapi, kemarin aku sempat ketemu Jeroen, katanya sih bebas. Dia cuma pesan jangan terlalu banyak, cukup hipotesa, temuan awal dari referensi, sama rencana analisis.”


“Oooh, Jeroen yang bilang?” Saras memastikan kalau Jeroen, dosen yang mendampingi progres thesis mereka, menyampaikan pesan penting itu.


Sudah biasa bagi mahasiswa di tempat mereka memanggil nama dosen tanpa embel-embel, cukup nama saja, bahkan untuk dosen senior bergelar profesor sekalipun.


“Iya.”


“OK kalau gitu. Thanks, Au.”


Saras pun berlalu ke kamarnya, karena sama seperti Aurora dia pun dalam beberapa jam ke depan harus bergulat dengan persiapan presentasi esok hari.


Aurora kembali fokus pada layar laptopnya menyiapkan paparan karena besok mereka harus menyampaikan progres thesis. Awan yang duduk di sampingnya juga tenggelam dalam jurnal yang dibacanya. Sayup-sayup terdengar suara musik dari laptop Aurora, menemani mereka berdua.


Seperti kebiasaan yang sudah mendarah daging, jemari Awan tidak pernah bisa diam bila mereka sedang duduk berdampingan seperti saat ini. Meskipun rambut Aurora dalam kondisi tergulung sekenanya bukanlah terurai, Awan tetap menemukan sesuatu untuk dipermainkan. Ujung-ujung rambut Aurora yang tidak tergulung sempurna pun menjadi sasaran Awan.


Tanpa sadar sesekali tengkuk Aurora yang tak tertutup rambut tersentuh oleh jari Awan yang mampu membuat Aurora merinding dan debaran jantungnya terasa lebih cepat. Setiap kali itu terjadi, Aurora menarik napas panjang dalam diam dan mengembuskannya perlahan.


Konsentrasinya beberapa kali terpecah hingga dia harus berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkannya lagi dan fokus pada pekerjaannya.


Awan yang pandangannya selalu terpusat pada jurnal di depannya tidak menyadari kelakuannya mempersulit Aurora. Dengan santai pula dia mencondongkan badannya ke samping dan melongok ke arah layar laptop Aurora.


Dagunya sempat menyentuh bahu Aurora dan wajah mereka kini menjadi terlalu dekat. Aurora seperti bisa mendengarkan embusan nafas Awan dan dia pun merasakan ketegangan menderanya. Desiran dari bahunya terasa turun hingga ke mata kaki.


“Gimana, Au … bisa?”


Aurora berdehem, bermaksud memberi sinyal pada Awan bahwa wajah mereka terlalu berdekatan. Sinyalnya ternyata tak bisa diterima dengan baik.


Dengan sengaja Aurora menghela napas keras. “Udah kebayang sih alurnya … tapi belum dapat ide yang pas untuk bikin paparan yang ringkas, enak dilihat, tapi tetap gampang dipahami. Jadi masih diubah sana sini.”


“Gak perlu terlalu dipaksakan,” kata Awan sambil tangannya mulai mengambil mouse dan menggeser lembar-lembar paparan yang sudah disusun Aurora.


“Ini udah lumayan …,” matanya membaca secara cepat halaman yang sedang ditayangkan lalu melanjutkan,


“mmm… yang ini kayaknya bisa dibuat diagram biar lebih mudah dibaca.”


Awan terus memberikan masukan pada bahan paparan yang sedang disusun, dengan posisi yang tidak juga berubah.


Di sebelahnya Aurora sedang berusaha berkonsentrasi menangkap apa yang disampaikan Awan dan tidak berani menggerakkan kepalanya satu mili sekalipun.

__ADS_1


Aurora takut sekali kalau dia menoleh ke samping akan terjadi adegan yang sering muncul dalam drama yang ditontonnya. Bukan apa-apa, Aurora tak tahu harus bersikap bagaimana kalau itu benar terjadi.


“Ya udah, tinggal diterusin, Au … Kamu pasti bisa,” kata Awan memberi dukungan dan menarik kepalanya kembali ke posisi normal. Aurora seketika merasa lega.


“Makasih, Mas … aku perbaiki dulu.” Setelah menyelesaikan kalimatnya Aurora bangkit dari duduk diiringi pandangan Awan dengan ekspresi bertanya.


Aurora tersenyum ke arah Awan. “Aku mau bikin cappucino. Mas mau?”


Sambil manggut-manggut Awan menjawab, “Oooh, iya boleh.”


Aurora segera keluar dari kamar dan bergegas ke arah dapur. Belum sampai di dapur Aurora sudah menarik lalu mengembuskan napas panjang, tidak lagi diam-diam seperti tadi.


“Astaga … Mas Awan cuek banget, gak nyadar juga tadi udah bikin aku sport jantung!” Aurora menggerutu dalam hatinya sambil menyiapkan dua gelas cappucino untuk mereka berdua.


Aurora sudah terbiasa dipeluk Awan bahkan dikecup keningnya meski hanya sekilas, tapi wajah mereka belum pernah sedekat tadi dalam waktu yang lama. Itu membuat Aurora benar-benar tak tenang.


Dengan mengumpulkan seluruh kekuatan batinnya, Aurora kembali ke kamar dengan dua gelas cappucino di tangannya. Wangi harum cappucino menyeruak masuk, Awan langsung menolehkan kepala ke arah pintu masuk lalu tersenyum. Sebuah khayalan terlintas di benak Awan. “Kalau sudah menikah, apakah kami akan seperti ini juga?”


Kembali ke tempat duduknya Aurora langsung berusaha fokus agar pekerjaannya cepat selesai karena sadar waktu berjalan terus. Dia meyakinkan diri agar mampu mengabaikan ‘gangguan’ Awan, sekecil apa pun itu.


Ternyata Aurora tidak perlu berusaha terlalu kuat karena Awan juga sudah membuka laptop dan itu mampu menghentikan aktivitas tangannya yang bisa mengganggu Aurora. Sesekali Awan tetap memperhatikan hasil pekerjaan Aurora dan memberikan pertanyaan juga masukan bagi Aurora.


Setelah merasa puas dengan hasil pekerjaannya, Aurora menghela napas lega dan bersender pada tempat duduknya.


“Selesai?” tanya Awan sambil masih mengetik di keyboardnya.


Aurora berdiri, merentangkan kedua tangannya sejauh mungkin dan berusaha meluruskan badannya yang mulai terasa pegal terlalu lama duduk.


Awan sempat mengulas hasil pekerjaan Aurora dari awal hingga akhir sebelum kemudian menutup file pekerjaannya sendiri lalu mematikan laptop dan mulai membereskan kabel yang terpasang.


“Gimana, Mas … OK, kan?” tanya Aurora meminta pendapat Awan atas hasil kerjanya.


Awan berdiri dari duduknya, keluar dari kursi dan melangkah ke hadapan Aurora. Sebelah tangannya terangkat dan mendarat di kepala Aurora lalu menepuk-nepuknya pelan seperti pada anak kecil.


“Good job!” katanya sambil tersenyum.


Aurora merasa senang atas pujian dan semangat dari Awan sehingga dia pun membalas senyuman Awan dengan lebar. Sejurus kemudian Aurora sudah menghambur mendekap Awan.


“Terima kasih ya Mas untuk supportnya.” Kepalanya ia senderkan di dada Awan, merasakan kenyamanan dari pelindungnya sambil menikmati mendengar denyut jantung Awan yang berdebar-debar dan wangi tubuh Awan yang memanjakan penciumannya.


Awan membalas dekapan Aurora dan menekan pelan kepala Aurora agar lebih dalam masuk ke dada bidangnya.


“Aku akan selalu dukung kamu, Au ... eh, kita akan selalu saling mendukung.”


Awan mengecup lembut puncak kepala Aurora, lebih lama dari biasanya.


Sore hari keesokan harinya setelah selesai kuliah presentasi, hampir semua mahasiswa bergegas pulang ke apartemen karena sudah merasa terlalu penat. Aurora dan Saras sepakat tidak menggunakan sepeda karena sudah membayangkan kalau kuliah hari ini akan melelahkan dan lebih baik naik trem supaya bisa lebih santai dan cepat sampai.


Tiba di kamarnya Aurora cepat-cepat mandi dan kemudian bersiap diri untuk turun ke kamar Awan. James yang sedang ada keperluan di Rotterdam sudah menghubungi Awan kalau dia akan mampir sebentar berkunjung ke tempat Awan.


Seluruh teman Indonesia sebenarnya diajak Awan untuk berkumpul di kamarnya sambil berkenalan dengan James. Namun, semua menolak –tentu saja kecuali Aurora– karena memilih beristirahat akibat harus terjaga hingga tengah malam bahkan lebih saat menyiapkan paparan masing-masing.

__ADS_1


Begitu wajah Aurora terlihat di pintu masuk kamar, Awan langsung memberondong Aurora dengan pertanyaan-pertanyaan.


“Gimana tadi presentasinya? Lancar, kan? Gak gugup, kan? Hasilnya apa?”


Aurora tertawa geli mendengar pertanyaan Awan yang meluncur dengan cepat itu.


“Tenang, Mas … tenang. Semua aman terkendali. Tinggal lanjuuuut ….”


Awan menjawab dengan mengacungkan kedua jempolnya dan berkata dengan nada bangga. “Ck, Hebat!”


Aurora melihat di atas meja makan sudah terhidang kentang goreng dan cumi tepung, juga beberapa jenis makanan ringan. Semula Aurora menawarkan diri untuk membuatkan makan malam sebagai jamuan untuk James. Awan melarang dengan alasan tidak perlu menyiapkan makan malam karena James hanya sebentar dan lagipula Awan tidak tega kalau Aurora masih harus memasak setelah lelah menyusun paparan dan kuliah seharian.


Belum sempat Aurora duduk, bel interkom di kamar Awan berbunyi dan terdengar suara James di sana. Awan membuka pintu kamarnya lebar menunggu kedatangan James.


Begitu melihat sosok James berjalan ke arah Awan, senyum lebar langsung terkembang di wajahnya. Seperti biasa, mereka berpelukan hangat sambil saling menepuk punggung.


“Cerah banget loe sekarang!” kalimat pertama keluar dari mulut James, langsung dengan nada sinis menggoda.


“Emangnya petromaks,” jawab Awan sambil terkekeh membalas godaan James.


Mata James langsung melihat Aurora berdiri di dekat meja makan dengan senyuman yang sudah terpasang di wajahnya.


“Pantesan aja loe cerah, ada Rora ternyata di sini.”


James kembali menggoda Awan.


Langkahnya mendekati Aurora lalu mengulurkan tangan menjabat Aurora sambil melakukan gerakan berpura-pura mencium pipi kanan-kiri-kanan seperti yang biasa dilakukan orang Belanda pada sahabat dan saudara.


Aurora hanya tertawa melihat tingkah James, sementara Awan spontan menepuk punggung James. “Heh!”


James tertawa menyeringai ke arah Awan lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Aurora.


“Cemburuan emang dia, payah!”


Suara tawa mereka terdengar memenuhi kamar.


Awan dan Aurora duduk bersisian di meja makan sementara James duduk di seberang mereka. Mereka berbincang akrab dan santai sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia. Seperti biasa, James yang senang berkelakar selalu menghadirkan keceriaan di mana pun dia berada. Sore itu kamar Awan terasa meriah meski hanya mereka bertiga yang ada di sana.


Karena memang tidak bisa lama-lama, James pun pamit meninggalkan Awan dan Aurora setelah satu jam lebih berada di kamar Awan. Aurora merasa rahangnya pegal karena terlalu banyak tertawa meski beberapa kali juga harus tersipu malu ketika James menggoda hubungannya dengan Awan.


Awan dan Aurora menghantar James pulang hingga pintu apartemen. James berjalan sambil merangkul Awan diikuti Aurora di belakang mereka.


Dengan suara berbisik takut terdengar Aurora, James berbicara mendekat ke arah Awan.


“Udah sampai ngapain aja loe sama Aurora di kamar?”


Mendengar bisikan James spontan Awan menyikut keras pinggang James yang diikuti dengan suara mengaduh disambung dengan tawa yang lepas.


“Heh, dasar mesum!” ucap Awan berbisik tetapi sambil membelalakkan matanya.


“Boro-boro! Nyium bibirnya aja belum!”

__ADS_1


Awan cukup menggerutu dalam hatinya karena tak bisa membalas pertanyaan James dengan suaranya.


__ADS_2