AKHIR KISAH KITA

AKHIR KISAH KITA
Cinta dan Komitmen (1)


__ADS_3

Menjalani ibadah puasa sebagai perantau di tempat yang jauh dengan waktu, cuaca, dan suasana sangat berbeda menjadi tantangan tersendiri bagi Awan, Aurora, dan Iqbal. Puasa yang jatuh di musim panas berarti puasa yang panjang hingga sekitar 19 jam dengan waktu berbuka dan sahur yang sangat singkat. Tak ada keramaian panggilan sahur, tak ada keramaian penjaja makanan pembuka, tak ada pula keramaian pergi tarawih bersama.


Namun, pada saat seperti ini mereka akhirnya bisa bertemu dengan banyak teman Indonesia dari kampus lain atau keluarga-keluarga dari satu tanah air yang sama-sama tinggal di Rotterdam. Acara buka bersama, yang dilakukan malam hari mendekati pukul 10 malam tentu berbeda dengan acara yang sama yang biasa dilakukan di Indonesia.


Karena dekatnya jeda antara waktu berbuka dan sahur, beberapa kali Awan, Aurora, dan Iqbal akhirnya sahur bersama dan baru tidur pulas setelah waktu subuh berlalu. Awan pun tak pernah absen menelepon Aurora ketika tiba waktunya sahur agar Aurora tidak kebablasan ketiduran setelah Isya.


Perayaan Idul Fitri yang setelahnya diikuti acara ramah tamah diselenggarakan oleh KBRI di Den Haag memberi kesan tersendiri bagi Aurora dan Iqbal yang biasanya merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Betapa suasana pertemuan dengan sesama warga Indonesia dilengkapi dengan makanan khas Hari Raya, seperti ketupat dan opor, ternyata memang mampu mengurangi kerinduan akan kampung halaman.


Sebelum musim panas berakhir, Aurora bersama Saras dan Singgih serta ditemani Awan merencanakan acara wisata berkeliling Rotterdam dengan menggunakan sepeda. Tujuan kali ini bergerak ke arah Selatan, menyeberangi Sungai Nieuwe Maas yang membelah kota. Aktivitas mereka selama ini memang lebih banyak terpusat di sebelah utara sungai, sehingga bisa dikatakan mereka hampir tak pernah menyeberangi Jembatan Erasmus atau The Swan yang menghubungkan ke bagian selatan.



Setelah melewati jembatan mereka menyempatkan berhenti di area Kop van Zuid dan mengagumi bangunan De Rotterdam yang bentuknya seperti tiga menara saling terkoneksi dan memiliki ketinggian sekitar 150 meter yang menjadi bangunan terbesar di Belanda, tempat berlangsungnya aktivitas perkantoran, hotel, dan apartemen. Di tempat ini pula mereka bisa menemukan Hotel New York, sebuah hotel bersejarah yang dulunya merupakan kantor pusat Holland America Line, perusahaan kapal pesiar yang di masa tahun 1873 sampai 1970 membawa penumpang dari Rotterdam hingga ke Amerika.


Tujuan akhir mereka sebenarnya sesuai permintaan Singgih adalah Stadion Fejeinoord yang dikenal dengan nama De Kuip, markas bagi klub sepak bola Feyenoord. Aurora dan Saras yang bukan penggemar olah raga sepak bola memang lebih sering mendengar klub Ajax dari Amsterdam dan baru kali itu mengetahui nama klub yang berasal dari Rotterdam. Demi memuaskan rasa ingin tahu dan meladeni kemauan Singgih yang memang penggemar berat sepak bola, mereka pun dengan sengaja mengunjungi stadion kebanggaan warga Rotterdam itu.


Pulang dari bersepeda ke Selatan, mereka kembali menyeberangi jembatan Erasmus, tetapi mengarahkan sepeda menuju Markthal di area Blaak Markt. Selain ingin berfoto dengan latar belakang Kubuswoningen atau Cubic Houses yang berwarna kuning cerah dan bentuknya berupa kubus miring itu, mereka juga berniat belanja buah dan sayuran di sore hari, siapa tau beruntung bisa mendapatkan korting atau potongan harga.



Hari sudah malam ketika mereka kembali ke apartemen, tetapi langit masih terlihat cukup terang. Mereka berpisah di depan lift, karena Saras dan Singgih memilih langsung kembali ke kamar mereka, sementara Aurora singgah lebih dulu ke kamar Awan.


Aurora sempat beristirahat sejenak meluruskan kakinya yang baru terasa pegalnya setelah seharian mengayuh sepeda sebelum kemudian membereskan hasil belanjaan. Awan tak terlihat karena dia sudah langsung masuk ke kamar mandi saat Aurora masih sibuk mengurut kaki pegalnya. Sambil menunggu Awan selesai mandi, Aurora mencuci bersih buah yang baru mereka beli dan menyiapkannya untuk disantap bersama Awan.

__ADS_1


Harum sabun dengan aroma maskulin seketika menyeruak dalam penciuman Aurora ketika Awan membuka pintu kamar mandi. Awan terlihat segar dan semakin tampan juga menggoda di mata Aurora dengan rambutnya yang basah dan belum tersisir rapi.


Aurora mengalihkan perhatiannya dari Awan dengan berpura-pura sibuk dengan buah yang tadi disiapkannya. “Astaga Aurora … kamu mikir apaan? Hush!” Aurora menghardik dirinya sendiri yang mulai berpikir kemana-mana hanya karena melihat Awan dengan rambut basahnya.


Awan menyalakan televisi sekadar untuk menambah suara latar bagi kehadiran mereka di kamar Awan. Dia pun duduk di sofa, melihat ke arah televisi dan tidak berkata apa-apa hanya menunggu Aurora selesai dan menghampirinya. Aurora mendekat lalu duduk di samping Awan dengan sebuah piring berisikan potongan buah yang dia simpan di atas pangkuannya.


Obrolan ringan seputar perjalanan mereka sebelumnya menemani saat istirahat mereka menjelang berlalunya matahari terbenam. Tidak hanya menikmati buah sendirian, Aurora juga menyuapi Awan agar mereka sama-sama bisa menikmati buah yang tadi berhasil mereka dapatkan dengan potongan harga. Perbincangan mereka terhenti ketika Aurora bangkit berdiri membawa piring kosong dan bergerak menuju bak cuci piring.


Kembali duduk di samping Awan, mereka sama-sama duduk dalam diam dengan pandangan yang terarah ke televisi. Ada adegan film Hollywood dengan teks bahasa Belanda yang sedang ditayangkan di sana.


Tiba-tiba dari tengah keheningan di antara mereka, terdengar suara Awan.


“Au…,” dia berhenti sebentar, Aurora pun menolehkan kepalanya ke arah Awan, “kalau menurut kamu, pernikahan itu cinta atau komitmen?”


“Maksudnya?” Aurora ingin meyakinkan arah pertanyaan Awan.


Awan mengulang pertanyaannya. “Iya, kalau menurut kamu, pernikahan itu landasannya cinta, atau pernikahan itu sebenarnya komitmen?”


Aurora terdiam. Dengan memiringkan kepala, mata dan raut wajahnya menunjukkan kalau dia sedang berpikir keras di dalam benaknya. Suasana pun hening. Awan hanya tersenyum tipis menanti jawaban Aurora.


Setelah beberapa saat, Aurora pun akhirnya membuka mulutnya. “Hmm … sejujurnya aku bingung, Mas.” Matanya polos menatap Awan.


Melihat tatapan Aurora, Awan melebarkan senyumannya. “Perlu waktu tambahan untuk berpikir?” Senyumnya kini mulai terlihat jahil dan seperti terlihat puas karena Aurora tak bisa segera memberikan jawaban.

__ADS_1


Aurora tertawa. Bibirnya kemudian dikerutkan dan bertanya, “Mmm … PR nih?”


Giliran Awan yang kini mengeluarkan tawanya. “Terserah … boleh juga kalau dianggap PR. Siap gak siap, besok dikumpul!” katanya seperti perintah seorang guru.


Aurora cemberut. “Ngasih PR kok susah-susah amat sih, Mas!”


Awan mengacak lembut poni Aurora sambil tersenyum geli. “Ya udah, pikirkan aja dulu. Besok kita lanjut.”


Awan melihat jam digital di HP-nya lalu melanjutkan, “Udah malam juga ternyata. Kita istirahat, ya?”Awan memberi isyarat agar Aurora kembali ke kamarnya.


Aurora mengeluarkan suara protesnya sambil bangkit berdiri. “Mana bisa istirahat kalau dikasih PR!”


Tapi sejurus kemudian dia tertawa dan membungkukkan badannya di hadapan Awan. “Baik Pak Guru, saya akan beristirahat dan memikirkan PR besok pagi saja.”


Awan yang gemas pada tingkah Aurora segera berdiri dan meraih kepala Aurora dan membawanya ke dalam pelukannya. Dia pun berbisik di telinga Aurora, “Pikirkan PR-nya ya, untuk bekal masa depan kita.”


Begitu bisikannya selesai dia melepaskan Aurora dan mendapati Aurora memandangnya dengan mimik penuh tanya.


Sejak meninggalkan pintu kamar Awan di belakangnya hingga tiba di kamarnya sendiri, Aurora terus memikirkan pertanyaan Awan tadi. “Pernikahan itu cinta, atau komitmen? Kenapa Mas Awan tiba-tiba nanya itu ya? Kok aku jadi keder ya, berasa mau sidang.”


Sambil menyiapkan diri untuk tidur beristirahat, pertanyaan Awan masih terngiang-ngiang di kepala Aurora. Pikirannya sibuk menimbang-nimbang dan dia pun berusaha mengorek dari lubuk hatinya yang terdalam, apa sebenarnya yang dia pikirkan tentang pernikahan.


Di usianya yang sudah memasuki angka 25, sesungguhnya dia tidak pernah benar-benar memikirkan soal itu. Seumur hidupnya, pengalaman melihat kehidupan pernikahan juga sangatlah terbatas. Sejak kecil Aurora tidak pernah bertemu ayahnya, hingga dia tak bisa belajar dari kehidupan pernikahan orang tuanya. Satu-satunya yang dia kenali benar hanyalah kehidupan pernikahan Om Heru, adik mamanya, beserta istrinya. Selebihnya sepertinya tidak ada.

__ADS_1


Lelah berpikir, tanpa sadar Aurora sudah tenggelam dalam tidur nyenyaknya.


__ADS_2