
Momen kunjungan Aurora ke kamar Awan menjadi titik lompat bagi hubungan mereka. Awan sungguh berharap sikap malu dan kikuk Aurora sesungguhnya mengungkapkan isi hatinya.
Aurora sendiri membangun harapan akan ungkapan Awan, bahwa Awan senang bersama-sama Aurora karena memang menyukai dirinya.
Pesan-pesan dari Awan setiap hari hadir di HP Aurora. Bagi Awan, itu adalah sinyal yang dikirimkan untuk menunjukkan bahwa ia peduli dan Aurora menempati tempat yang spesial di hatinya. Bagi Aurora, balasannya atas pesan-pesan Awan ingin menunjukkan bahwa ia menikmati perhatian Awan dan menerimanya dengan hati terbuka.
Awan dan Aurora pun semakin sering terlihat bersama. Kehadiran mereka berdua di perpustakaan juga sudah seperti menu harian. Tak pernah waktu di kampus tersia-siakan, mereka selalu berusaha memanfaatkan waktu yang ada untuk bisa bersama. Meski kadang mereka hanya duduk bersisian dan masing-masing sibuk dengan tugasnya, itu sudah membuat hati mereka bahagia.
Kehadiran Aurora di sisi Awan membuatnya bersemangat, demikian pula yang dirasakan Aurora.
Tidak hanya di kampus, Awan juga pernah minta Aurora menemaninya di kamar dikala harus mengerjakan disertasi.
“Au, aku bisa minta tolong?” pinta Awan.
“Tolong apa, Mas?” Raut penasaran jelas terlihat di wajah Aurora. “Ada apa ini sampai minta tolong segala?”
“Besok temenin aku bikin disertasi, ya? Kamu gak sibuk, kan?”
“Heh?” Aurora tak menyangka kalau itu yang dimaksud Awan.
“Iya, temenin aku kerja. Agak suntuk tapi harus beres sebelum Senin. Temenin, ya?” Awan memperjelas permintaannya.
“Maksud Mas Awan, aku bikin dia gak suntuk? Kalo aku nemenin dia, trus dia jadinya bisa kerja? Tapi di mana? Besok kan Sabtu, kampus libur.” Aurora menebak-nebak di dalam pikirannya.
“Di mana, Mas?”
“Di kamarku…” suara Awan menggantung, “gakpapa, kan?”
Aurora terlihat sedikit bimbang. Setelah diam berpikir dan berkesimpulan Awan tak akan melakukan hal-hal di luar kepantasan padanya, dia pun menyetujui permintaan Awan.
Sejak pagi hari Aurora sudah berada di dalam kamar Awan. Terlihat Awan sibuk di meja kerjanya dengan buku dan kertas-kertas berserakan di sekelilingnya, sementara Aurora duduk manis menemani dengan menonton drama lewat laptopnya di meja makan.
Sesekali Aurora menghampiri Awan, entah mengantarkan minuman atau menyodorkan buah untuk santapan. Jelang makan siang, Aurora beralih sibuk menyiapkan makanan yang sudah dimasaknya tadi pagi di unitnya. Kalau tidak ada Aurora sepertinya Awan akan melewatkan makan siang karena terlalu fokus pada pekerjaannya.
Di musim dingin langit memang lebih cepat gelap hingga hari terasa lebih pendek. Saat waktu sudah menunjukkan sore hari, Awan pindah kerja ke meja makan mendekati Aurora. Tulisannya hampir rampung, Awan hanya tinggal membaca ulang dan memperbaiki sedikit di sana sini.
Sambil membaca, beberapa kali Awan menyenderkan punggungnya dan meletakkan tangan kirinya di atas sandaran kursi Aurora. Kali ini Aurora sudah terbiasa. Tindakan Awan tidak lagi membuatnya terkejut meski desir halus tetap terasa.
Aurora masih berada di kamar Awan hingga waktu makan malam tiba.
“Aku masakin mie aja ya, Mas?”
“Hmmm?” Awan mengalihkan pandangan dari layar laptopnya ke arah Aurora, “Iya, boleh. Terserah kamu aja, Au.”
Aurora pun mulai sibuk di dapur hingga akhirnya mie instan yang dilengkapi sayuran dan telur hasil racikan Aurora tersedia.
__ADS_1
Sambil makan malam mereka mengobrol santai agar Awan dapat mengendurkan syarafnya dari tenggat deadline. Senyum dan tawa Aurora yang dihiasi lesung pipi di wajahnya selalu mampu membuat Awan tenang dan lelahnya menguap.
Hari itu, Awan ingin sekali melewati malam bersama Aurora. Meski sudah sedari pagi bersama Aurora, dia tak puas karena waktu yang ada lebih banyak terpakai untuknya bekerja. Namun, dia juga sadar tak mungkin mengajak Aurora menginap saat ini. Bukannya mendapatkan hati Aurora, bisa-bisa Aurora malah membencinya. Awan belum sempat mengatakan isi hatinya pada Aurora. Dia benar-benar ingin menunggu saat yang tepat, yang tak akan terlupakan bagi mereka berdua.
Malam itu, Aurora pamit dari kamar Awan dengan dihantar oleh usapan pelan dari tangan Awan di punggungnya.
“Terima kasih, ya,” kata Awan. Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman.
Senyum manis terukir di wajah Aurora, bertahan hingga dia tiba di kamarnya. Kupu-kupu di perutnya pun masih terasa menggelitik, dinikmatinya dengan penuh kebahagiaan.
--
“Tring!”
Bunyi pesan masuk di HP Aurora pagi ini. Hari Minggu di musim dingin yang malas, Aurora sudah kembali bergulung di balik selimutnya setelah sarapan. Tangannya menggapai-gapai berusaha menemukan HP yang dia tempatkan di lantai. Ternyata itu pesan masuk dari Awan.
Awan: Pagi Aurora 😊 Tadi malam tidur nyenyak? Mimpiin aku nggak? hehehe, ngarep… Hari ini udah punya rencana apa? Kalo belum ada, temenin aku belanja yok.. Please…..
Bibir Aurora spontan membentuk senyuman saat membaca pesan Awan.
“Mas Awan ini ngegodain mlulu tapi kok gak ada action ya? Sengaja ngegantung apa gimana sih? Apa aku kurang kuat ya ngasih sinyal?” Aurora malah jadi melamun bukannya segera membalas pesan Awan.
Aurora: Pagi Mas… tidurnya nyenyak banget, ini juga masih di tempat tidur… wkwkwkwk.. soalnya gak ada rencana apa2 hari ini. Mau belanja jam berapa, Mas?
Awan: Pukul 10 ya, aku jemput ke unit. Tot straks (sampai ketemu nanti)!
Aurora heran, ”Kenapa Mas Awan musti ke sini ya? Kami kan bisa ketemuan aja di bawah.” Berpikir sebentar, Aurora pun meninggalkan keheranannya. “Paling-paling kalo Mas Awan jemput, ntar Saras yang ribut ngegodain.” Dia pun segera mengambil handuk dan bersiap-siap mandi.
Pukul 10 kurang sedikit, bunyi bel sudah terdengar di unit Aurora. Saras yang kamarnya paling dekat pintu sudah akan keluar ketika kemudian didengarnya suara pintu sudah terbuka dari dalam. Aurora ternyata bergerak lebih cepat karena memang sudah menunggu kedatangan Awan.
Aurora sudah pamit sebelumnya pada Saras kalau dia akan pergi menemani Awan belanja pagi ini. Saras dan semua teman-teman Indonesia sudah maklum melihat kedekatan Awan dan Aurora, sama seperti mereka semua paham melihat dirinya dan Nelu.
Sesampainya di lantai dasar dan keluar dari apartemen, Awan tidak menuju tempat parkir sepeda. “Kita naik trem aja ya, Au. Dingin soalnya.”
“Oh iya Mas, gakpapa. Iya memang agak lebih dingin ya pagi ini,” jawab Aurora sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jaket, mencoba menghalau angin dingin yang menerpa.
Di supermarket, mereka berkeliling pelan dari lorong ke lorong memilih barang-barang yang Awan perlukan. Giliran memilih bahan makanan, Awan selalu minta pendapat Aurora, apa yang harus dia beli.
“Ini kan Mas Awan yang belanja, kok aku yang disuruh milih?” rajuk Aurora.
Awan tertawa tergelak. “Ya gakpapa… kan kamu juga nanti yang memasaknya,” jawab Awan sambil tersenyum menggoda.
Mendengar jawaban Awan, Aurora menghentikan langkah. Kepalanya langsung menoleh ke Awan, dengan mimik tak percaya dan dahi berkerut Aurora hanya mengeluarkan satu kata. “Ha??”
Melihat eskpresi Aurora yang justru menggemaskan bagi Awan, dia hanya tertawa sambil tangannya mengacak pelan rambut Aurora, lalu lanjut mendorong trolinya.
__ADS_1
Aurora masih terdiam di tempatnya berdiri. “Iiiiih, ngeselin deh! Ambigu banget bikin galau!” Dalam hatinya dia menggerutu atas perkataan dan sikap Awan yang seperti memberi petunjuk tapi tak pernah tuntas.
Aurora kemudian bergerak dengan langkah cepat, berusaha mensejajarkan dirinya dengan Awan. Mengikuti saran dan petunjuk Aurora, urusan bahan makanan pun akhirnya selesai.
Di acara belanja ini Aurora sebenarnya jadi lebih bisa memahami Awan. Dia bisa tahu apa yang Awan suka dan tidak dari pilihan barang-barang yang dibeli Awan.
Khayalan Aurora sempat melayang jauh, ”Kalau jadi suami istri, ntar gini juga kali ya belanja bareng. Mau milih barang aja pake diskusi dulu.” Aurora pun tersenyum lebar membayangkan khayalannya menjadi nyata.
Sepulang dari supermarket Awan tidak mengizinkan Aurora langsung kembali ke kamarnya. Dia malah meminta Aurora membantunya membereskan barang belanjaan, khususnya bahan makanan yang harus disimpan di dalam kulkas. Alasannya lagi-lagi membuat Aurora kesal sekaligus bahagia di dalam hati. “Kamu yang masukin ke kulkas ya, biar entar kalau mau masak udah tahu ada apa aja di mana nyimpennya.”
Setelah merasa tugasnya beres, Aurora berniat pamit pada Awan. Belum sempat dia mengutarakan niatnya, suara Awan terdengar. “Au, ini udah siang. Kita makan siang bareng aja ya?”
“Emm? Makan apa, Mas?”
Aurora bertanya karena mereka belum punya makanan dan rasanya enggan kalau harus pergi ke luar lagi untuk mencari makan.
“Di sini aja, kita masak dulu.”
“Huuuu, bilang aja nyuruh aku masak!”
Aurora merajuk sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi makan dan memalingkan mukanya menghindari Awan.
Awan tak bisa menutupi tawanya. “Kan aku bilang ‘kita’, bukan ‘kamu’, Au,” ujar Awan membela diri.
Aurora masih bertahan dalam diam tidak merespon Awan, bibirnya sudah maju beberapa mili.
Takut Aurora benar-benar marah, Awan pun langsung mendekat dan bersimpuh di depan Aurora. Matanya berusaha mencari jawaban dari mata Aurora. Perbuatan Awan justru membuat Aurora kaget dan refleks memegang lengan Awan menyuruhnya bangkit.
“Eh Mas, jangan gini!”
Awan tersenyum lega. Sambil tetap bersimpuh diambilnya tangan Aurora masuk dalam genggamannya. Aurora tersentak.
“Habis, kamu bikin aku takut. Tadi aku pikir kamu beneran marah.”
Aurora mengalihkan wajahnya, tak ingin Awan melihat warna mukanya yang berubah. Dia sungguh merasa malu, tak menyangka pura-pura marah malah berujung seperti ini.
“Ni orang emang punya hobby bikin aku jantungan ya…,” batinnya.
Aurora menarik pelan tangannya keluar dari genggaman Awan. Tersendat dia berucap, ”E-enggak kok, Mas. Aku gak marah. Gakpapa kok kalau aku sekarang masak.”
Awan pun berdiri dan mengulurkan tangan kanannya pada Aurora.
“Yuk, kita masak bareng ya. Beneran, tadi aku maksud ‘kita’ kok….”
Aurora menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, lalu memandang Awan dan menerima uluran tangannya.
__ADS_1
“Yuk,” katanya.