
Acara lamaran yang diselenggarakan dua minggu kemudian berjalan lancar dan sukses. Kedua keluarga bertemu dalam suasana gembira dan sukacita, tetapi sekaligus terharu karena tidak menyangka anak-anak mereka akan berjodoh. Acara lamaran itu sekaligus merupakan pertemuan pelepas rindu, mengingat mereka sudah cukup lama tidak bertemu muka.
Awan dan Aurora terlihat bahagia di antara keluarga masing-masing. Karin dan Angga berulang kali menggoda Aurora, karena mereka senang melihat Aurora tersipu malu dan tersapu rona merah.
Bagi Awan dan Aurora, peristiwa ini memang menjadi langkah penting dalam kelanjutan hubungan mereka. Meski harus menunggu lima tahun lebih, tapi penantian itu terbayar lunas. Perjalanan menuju akhir justru berlangsung cepat dan relatif tanpa kendala.
Persiapan pernikahan pun segera dilakukan oleh masing-masing keluarga sesuai dengan rencana dan kesepakatan bersama. Di antara masa persiapan itu, Aurora tetap harus kembali pada rutinitas pekerjaannya dan Awan harus menyelesaikan melengkapi data untuk disertasinya.
Meski tidak bisa selalu bersama setiap hari dan pertengkaran kecil mewarnai berbagai persiapan, Awan dan Aurora tetap kembali pada komitmen mereka bersama. Mendinginkan hati dan pikiran, memperpanjang sabar, dan meningkatkan stok gairah, agar keinginan hati dapat terwujud dan memberikan kebahagiaan tidak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi keluarga.
Lewat diskusi yang cukup alot, akhirnya diputuskan kalau Aurora akan ikut kembali bersama Awan ke Belanda, meski belum bisa untuk waktu yang lama karena ada urusan administrasi yang harus diselesaikan Awan terlebih dahulu. Kegiatan memproses visa pun memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Aurora. Visa itu mengingatkannya kalau dia akan kembali ke Belanda, bukan lagi dengan status pelajar, tetapi sebagai istri Awan.
Hari besar itu pun tiba. Aurora terlihat anggun dan sangat cantik dengan kebaya panjang berwarna putih gading yang sangat serasi dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Awan pun tak kalah, terlihat gagah dan seperti biasa ketampanannya selalu dapat menambah poin ekstra.
Akad nikah berjalan lancar, dilanjutkan dengan resepsi untuk berbagi kebahagiaan bersama keluarga dan teman. Kedua insan yang sedang berbahagia itu tak henti-hentinya menebarkan senyum ke segala arah, pada seluruh undangan yang hadir memberikan restu bagi mereka.
Perayaan kebahagiaan berlangsung sederhana dan hangat, tercermin dari senyuman, jabatan tangan, pelukan hangat, dan canda tawa yang terdengar. Sebuah area pajang terlihat di pintu masuk yang menarik perhatian para undangan. Terlihat di sana foto-foto Awan dan Aurora yang menjadi saksi kehangatan hubungan mereka.
Foto ketika berwisata maupun menjalani hidup sehari-hari di Belanda, foto ketika mereka di Paris –tentu saja tidak melupakan foto di Menara Eiffel–, hingga foto-foto ketika mereka sudah di Indonesia, termasuk tangkapan layar saat mereka melakukan panggilan video. Ternyata godaan Singgih saat mereka di Museum Louvre menjadi kenyataan. Foto yang mereka buat waktu itu benar-benar menjadi foto pre-wedding yang terlihat di antara foto yang terpajang.
Keempat sahabat Aurora dan Awan selama mereka di Belanda semuanya hadir dengan lengkap. Bahkan tidak hanya mereka saja yang hadir di sana, terlihat pula Nelu yang ternyata mengunjungi Saras di Indonesia, istri Iqbal yang dalam keadaan berbadan dua, dan Singgih bersama pacarnya. Hanya Lukas yang ternyata masih saja betah sendirian.
Dengan bercanda Saras memberi pesan pada Lukas, “Jangan santai kayak di pantai, keburu bangkotan, Kas!”
Mereka tertawa lepas sementara Lukas menekuk bibirnya berpura-pura kesal.
Perayaan resminya sebuah pernikahan sudah berakhir, kehidupan pernikahan sebenarnya pun baru dimulai. Dari Surabaya mereka menyempatkan diri singgah ke Bandung karena Aurora harus berpamitan dengan rekan-rekan kantornya.
Mereka pun bertemu lagi dengan Naya yang juga telah hadir sebelumnya dalam acara pernikahan mereka. Naya mengungkapkan kecemburuannya melihat pengantin baru yang terus menerus mempertontonkan kemesraan di depannya. Naya tidak tahu saja kalau selama di Belanda pun sebenarnya Awan dan Aurora sudah sering seperti itu.
Sambil menunggu tiba harinya mereka harus kembali ke Belanda, Awan dan Aurora menghabiskan waktu di Jakarta. Tak mau hanya berpangku tangan saja, meski sudah ada asisten rumah tangga di rumah Awan, Aurora tetap mencoba menyiapkan hidangan untuk Awan, suaminya. Ketika mereka berdua sedang di dapur, Awan terlihat ikut membantu Aurora menyiapkan masakan serta mencuci piring dan peralatan yang kotor.
Sambil mengaduk masakan di depannya, Aurora berkata, “Dulu waktu di Belanda Mas Awan ikut bantuin masak, terus ikut nyuci juga, sebenarnya aku penasaran lho, Mas. Kalau sudah menikah, kira-kira Mas Awan masih mau bantu di dapur gak ya?”
Awan yang sedang menyelesaikan mencuci peralatan masak segera menolehkan pandangannya ke arah Aurora.
Dengan mimik heran, dia pun bertanya, “Loh, emangnya kenapa?”
Aurora terkekeh sebentar sebelum menjawab Awan.
“Ya kan banyak yang beranggapan, kalau urusan dapur sama urusan rumah, itu ya urusannya perempuan.”
Dengan cepat Awan membalas, “Ya enggak lah. Itu urusan bersama.”
Sambil mengeringkan tangannya, Awan pun kembali melanjutkan, “Kan rumah tangga itu kita berdua. Saling menolong, lah. Lagipula ….”
Awan melangkah mendekati Aurora, lalu memasukkan tangannya dari belakang memeluk di pinggang, sambil berbisik di telinga Aurora dengan nada menggoda,
“Kan seru bisa mesra-mesraan di dapur.”
Godaan Awan membuat Aurora refleks menyikut Awan yang menempel di belakangnya. Awan tergelak dan sedikit beringsut ke belakang tanpa melepaskan pelukannya. Aurora pun kemudian ikut tersenyum geli bercampur malu mendengar candaan Awan itu.
__ADS_1
Awan menggeser posisinya ke sisi Aurora, melepaskan satu tangan dari pelukannya pada Aurora lalu dengan tangannya yang bebas itu dia menggeser wajah Aurora agar berpaling menghadapnya. Sebuah kecupan singkat hadir di bibir Aurora.
Sambil tersenyum jahil Awan celingak-celinguk melihat situasi dan memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. Aurora yang sadar kalau mereka sedang di dapur pun ikut melirik ke kanan dan ke kiri.
Ketika sudah memastikan tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua, Awan pun mengulang perbuatannya, tetapi kali ini menyesap bibir Aurora lebih dalam. Kalau tidak mengingat bahwa Aurora sedang memasak, ingin rasanya Awan meneruskan hasratnya.
Di malam terakhir sebelum mereka berangkat ke Belanda, Awan dan Aurora duduk berdua dengan bersandar pada kepala tempat tidur. Tangan Awan terlihat merangkul bahu Aurora, sementara Aurora memeluk Awan pada pinggangnya.
Baik Awan maupun Aurora, keduanya masih sering tidak percaya kalau akhirnya sudah menjadi pasangan suami istri. Mereka sangat menikmati saat-saat berdua dalam diam, meresapi kebahagiaan yang mereka harapkan akan terus hadir di antara mereka, dengan rasa cinta yang hadir memberi keintiman dan berpegang pada komitmen yang mengikat hati dan jiwa.
Dari keheningan tiba-tiba terdengar suara Awan. Dia teringat ada sesuatu yang ingin ditanyakannya karena sedikit penasaran.
“Au, waktu kita di Belanda, aku kan pernah nunjukin foto orang tuaku ke kamu, kan? Kok kamu gak ngenalin? Kamu pernah beberapa kali bertemu mereka kan sebelumnya.”
Aurora tersenyum mendengar pertanyaan berderet dari Awan.
“Iya, tapi aku memang gak ngenalin.”
Aurora sempat berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Tau sendiri kan Mas, aku sering susah hapal wajah orang. Dulu kalau ketemu, aku cuma salam terus ngumpet di kamar. Lagipula, kayaknya wajahnya beda.”
“Hmm?” Awan meminta penjelasan lebih.
“Om dan Tante Jakarta –begitu biasa Aurora memanggil Pak Hendra dan Bu Ratih–, yang ada di memori aku gak begitu. Di foto itu kan hampir semua rambutnya Ayah sudah putih, terus di foto itu kan Ibu juga tidak pakai jilbab. Setelah ketemu langsung, baru aku nyadar, iya ternyata itu Om dan Tante Jakarta.”
Aurora dan Awan sama-sama terkekeh mendengar penjelasan Aurora. Dalam pikiran Awan tiba-tiba terlintas sesuatu.
“Apa jadinya kalau kecurigaan aku benar, dan ternyata Aurora ini adikku?”
--
Bulan September, Awan dan Aurora kembali tiba di Belanda, tepatnya di Kota Rotterdam. Persis dua tahun sebelumnya, di bulan yang sama, mereka pertama kali bertemu lagi di suatu tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat pertama kali mereka saling mengenal.
Awan dan Aurora sama-sama masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana terkejutnya mereka waktu itu ketika sadar kalau mereka ada di kota yang sama, bahkan berada dalam atmosfer kampus dan apartemen yang sama.
Ketika kenangan itu kembali terulang, hanya rasa manis yang tercecap. Saat ini mereka telah kembali lagi ke tempat yang penuh dengan kesan indah ini. Suasananya, aromanya, semuanya masih sama seperti yang pernah terekam dalam memori ingatan Aurora. Bedanya, dulu dia sendiri, sekarang dua telah menjadi satu, dalam ikatan pernikahan yang suci.
Beristirahat dari perjalanan panjang yang cukup melelahkan, Awan dan Aurora memilih berbaring di kamar Awan ditemani suara musik yang lembut, di atas tempat tidur yang dulu hanya mampu dilirik tanpa berani dinikmati berdua.
Aurora berbaring miring ke arah Awan dengan kakinya yang sudah memeluk Awan seperti bantal guling, kepalanya ia rebahkan di atas dada Awan sambil tangannya mengusap-usap pelan badan Awan di pelukannya.
Awan merangkul Aurora sambil mengelus lembut kepala Aurora. Mata mereka sama-sama terpejam meski keduanya sebenarnya masih terjaga, mencoba meresapi kehangatan tubuh mereka yang rapat.
Kisah Awan dan Aurora di Negeri Kincir Angin diawali ketika musim mulai memasuki musim gugur.
Melewati empat musim penuh kenangan, kini pun mereka kembali berada di tempat ini ketika musim gugur menjelang.
Sungguh membahagiakan, kisah mereka tidak lah berakhir seperti daun kecoklatan yang berjatuhan di musim gugur, tetapi justru seperti tulip berwarna-warni yang mempesona di musim semi.
Sayup-sayup terdengar lagu yang diputar dari HP Awan, salah satu lagu favorit Awan, yang dinyanyikan aktor Adam Sandler dalam film lama akhir tahun 90-an, ‘The Wedding Singer’.
I wanna make you smile
__ADS_1
whenever you're sad
Carry you around
when your arthritis is bad
Oh all I wanna do,
is grow old with you
I'll get your medicine
when your tummy aches
Build you a fire
if the furnace breaks
Oh it could be so nice,
growing old with you
I'll miss you, Kiss you
Give you my coat
when you are cold
Need you, Feed you
Even let ya hold
the remote control
So let me do the dishes
in our kitchen sink
Put you to bed
when you've had too much to drink
I could be the man
who grows old with you
I wanna grow old with you
~Grow Old With You~
🌷💕🌷
__ADS_1