
Setelah sampai di sekolah, Dhea langsung masuk ke dalam kelasnya.
Sejak Dhea berjalan menuju tempat duduknya sampai dia duduk di kursinya, dia melihat Siska yang terus menatapnya. tetapi Dhea tidak menghiraukannya.
Dhea mengambil buku yang ada di dalam tas nya dan membaca buku tersebut.
"Dhea, lo berani gangguin gw pas lagi ngasih pelajaran si Reva. jadi, lo yang harus ganti'in Reva jadi korban gw" batin Siska menatap Dhea kesal.
Dhea menyadari bahwa Siska sedang menatap dirinya, tetapi tidak sadar kalau sebenarnya Aksa juga sedang menatapnya.
"Kemarin Reva cerita sama aku kalau kamu menolongnya, tetapi sebelumnya kau mengancam Reva.
Aku semakin penasaran tentang kehidupan mu? sebenarnya apa tujuan mu Dhea?" batin Aksa bertanya-tanya.
Guru yang mengajar kelas mereka datang dan pelajaran pun di mulai.
Selama guru mengajarkan materi pelajaran, Aksa tidak bisa konsentrasi sama sekali.
Dia merasa gelisah, entah mengapa dia sangat penasaran dengan kehidupan Dhea.
"nanti pada sa'at jam pulang sekolah, aku akan mencoba mengajaknya berbicara" batin Aksa.
.
Bell pulang sekolah berbunyi.
Dhea menggendong tasnya dan berjalan keluar kelas menuju parkiran.
Aksa mengikuti Dhea dari belakang dengan jarak cukup jauh, dia belum mengumpulkan keberanian untuk mengajak Dhea berbicara.
"Bagaimana ini? aku sudah mempersiapkan apa yang akan aku katakan, tapi gimana yah.. aku tidak pernah berbicara dengannya" batin Aksa kebingungan.
Keika batin Aksa masih kebingungan, matanya melihat Dhea berhenti di depan sebuah sepeda rusak.
"Apakah itu sepedanya? kenapa rusak?" gumam Aksa.
Sementara Dhea, dia sedang menahan amarah. dia mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Siapa sih yang ngerusakin sepeda gw?" gumam Dhea.
Aksa menghampiri Dhea yang sedang berdiri mematung. dia berdiri di samping Dhea.
"Apa ada yang merusak sepedanya?" batin Aksa.
Dhea yang melihat Aksa berdiri di sampingnya hanya melirik sekilas.
"Ada apa?" ucap Aksa.
"kakaknya Reva mau apa sih? lebih baik gw pergi" batin Dhea.
Dhea hanya diam tidak menjawab, dia berbalik badan dan berjalan meninggalkan Aksa dan sepeda miliknya.
"Huh, apa dia tidak bisa melihat ku? tapi kali ini aku harus berhasil berbicara dengannya" batin Aksa kesal.
Aksa berjalan menghampiri Dhea dan berkata.
"Dhea" ucap Aksa.
Dhea menghentikan langkahnya.
Tidak ada kata yang keluar dari bibir Dhea, dia hanya mengangkat alisnya tanda bahwa dia bertanya.
"Apa dia tidak bisa menjawab ucapan ku dengan kata-kata? dia sangat menjengkelkan" batin Aksa menggerutu.
"Apa itu sepeda milik mu?" tanya Aksa.
"Ya" jawab Dhea.
"Akhirnya dia bersuara" batin Aksa.
"Kenapa rusak? apa kau tau siapa yang merusaknya?" tanya Aksa.
"Tidak" jawab Dhea.
"Ikut dengan ku, aku akan bicara dengan mu di dalam mobil dan mengantarkan mu pulang" ucap Aksa.
__ADS_1
"Tidak usah" jawab Dhea.
"Ikut saja dengan ku, sepeda mu rusak dan aku ingin berbicara" ucap Aksa.
"Sepeda gw rusak, terus gw nggak bawa uang buat naik angkutan umum. terima aja lah" batin Dhea.
"Baiklah" ucap Dhea.
"Aku akan mengambil mobil ku" ucap Aksa, pergi mengambil mobilnya.
.
Aksa menghentikan mobilnya di samping Dhea.
"Masuk" ucap Aksa.
Dhea memasuki mobil dan duduk di kursi di samping Aksa.
Aksa menjalankan mobilnya, tetapi dia kembali menghentikan mobilnya di gerbang sekolah di samping pak satpam.
"Pak, saya nitip sepeda itu.
saya udah nyuruh orang ngambil sepedanya, nanti akan ada orang yang akan mengambilnya" ucap Aksa menunjuk sepeda Dhea.
"Oke mas Aksa" jawab pak satpam.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya pergi dulu. Assalamu'alaikum" ucap Aksa.
"Wa'alaikum salam" jawab pak satpam.
Aksa menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah.
"Terima kasih" ucap Dhea.
"Iya, aku juga ingin berterima kasih karena kemarin kamu telah menolong Reva" ucap Aksa.
Dhea tidak menjawab.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut, Aksa juga terdiam.
Hanya ada keheningan di dalam mobil.