Aksa Dan Dhea

Aksa Dan Dhea
42


__ADS_3

Reva terus memperhatikan penampilan Aksa sampai Aksa duduk di salah satu kursi di meja makan.


"Wow, ini kak Aksa kan?.


habis kemana kak?, kok jadi ganteng?" ucap Reva menggoda kakaknya.


"Apa sih dek, kamu aja yang gak pernah nyadar kalau kakak memang ganteng" jawab Aksa.


"Diih, mendadak narsis" ucap Reva.


Aksa tersenyum karena berhasil membuat adiknya kesal.


"Udah Aksa, Reva, sekarang waktunya sarapan. bukan untuk bercanda" ucap mamah Anggita menengahi Aksa dan Reva.


Sementara papah Hermawan hanya menjadi penonton.


"Kak Aksa yang mulai mah"


"Kok kakak? jelas-jelas kamu yang duluan, iya kan mah? pah?" jawab Aksa.


Entah mengapa menjahili adiknya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan menurut Aksa.


Reva bangun dari duduknya, dia mendatangi Aksa dan memukuli lengan Aksa.


Mamah Anggita dan papah Hermawan tersenyum melihat kedua anaknya yang sangat akrab.


"Udah dek, duduk" ucap mamah Anggita.


Reva tidak mendengarkan ucapan mamah Anggita.


"Reva" ucap papah Hermawan dengan tegas.


"iya pah" jawab Reva.


Reva kembali ke tempat duduknya dan mulai memakan makanannya.


Ketika Reva melirik ke arah Aksa, dia melihat Aksa yang sedang menjulurkan lidah ke arahnya dengan di sertai senyuman kemenangan.


Reva membalasnya dengan memelototkan kedua matanya ke arah Aksa dan kembali memakan makanannya.


"Hahaha kamu lucu banget sih dek" batin Aksa.


Aksa juga memakan makanan miliknya.


Setelah semuanya selesai sarapan, Aksa dan Reva mencium punggung tangan mamah Anggita.


Mamah Anggita juga mencium punggung tangan papah Hermawan.


"Assalamu'alaikum" ucap papah Hermawan, Aksa dan Reva secara bersama'an.


"Wa'alaikum salam" jawab mamah Anggita.


Papah Hermawan, Aksa dan Reva keluar dari rumah.


Papah Hermawan dan Aksa menaiki mobil milik papah Hermawan dan yang menyetir adalah Aksa.


Aksa melajukan mobilnya menuju ke arah perusaha'an milik papahnya.


Sementara Reva menaiki mobil miliknya yang di kemudikan oleh supir keluarganya menuju ke arah sekolah.


.

__ADS_1


Pada sa'at Aksa dan Papah Hermawan memasuki perusaha'an, mereka di sapa oleh karyawan yang berada di sana.


Banyak juga di antara semua karyawan perempuan yang mengagumi ketampanan Aksa.


"Itu anaknya pak Hermawan kan?


jangan-jangan dia mau menggantikan ayahnya bekerja di sini" tanya salah satu karyawan kepada temannya.


"tunggu saja, kalau kita punya pemimpin baru pasti di umumkan"


"iya juga siiih"


Aksa dan Papah Hermawan terus berjalan menuju ke ruangan papah Hermawan.


Di depan pintu ruangan, mereka di sambut oleh seorang wanita yang sepertinya adalah sekertaris dari papah Hermawan.


"Selamat pagi pak"


"pagi"


Aksa hanya menampilkan senyuman sekilas.


Di dalam ruangan, mereka berdua duduk di atas sebuah sofa.


"Sebentar lagi klien papah dateng" ucap papah Hermawan.


"Iya pah".


Tidak berselang lama, ada suara ketukan pintu.


"Masuk" ucap papah Hermawan.


Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah sang sekertaris.


"Persilahkan dia masuk"


"Baik pak, saya permisi" sekertaris tersebut keluar dari ruangan dan menemui tamu.


"Silahkan masuk pak"


"Terima kasih".


Tamu tersebut memasuki ruangan papah Hermawan.


Ketika pintu terbuka, sontak papah Hermawan dan Aksa menatap ke arah seseorang yang membuka pintu tersebut.


Aksa melihat seorang laki-laki paruh baya, yang sepertinya seumuran dengan papahnya.


"Hermawan" ucap tamu.


"Adnan" papah Hermawan bangkit dari duduknya. dia menghampiri dan memeluk orang yang bernama Adnan.


Aksa terus memperhatikan kedua orang yang sedang berpelukan yang berada di dekat pintu.


Papah Hermawan dan Adnan melepaskan pelukan mereka.


Mereka berdua berjalan ke arah sofa yang sedang di duduki oleh Aksa.


Aksa berjabat tangan dengan tamu papahnya di sertai senyuman.


"Silahkan duduk" ucap papah Hermawan.

__ADS_1


"Iya"


Mereka berdua duduk di samping Aksa.


"Hermawan, ini siapa?" tanya Adnan.


"Apa kau tidak mengingatnya?.


dia Aksa, putra ku" jawab papah Hermawan.


"Aksa?, apa maksud mu Adi?" tanya Adnan.


"Iya"


"Wahhh, waktu terakhir om melihat kamu. kamu masih kecil, sekarang tinggi mu lebih tinggi dari ayah mu" ucap Adnan.


Aksa tidak mengingat siapa orang yang berada di depannya, jadi dia hanya tersenyum.


"Mungkin dia tidak mengingat ku Her" ucap Adnan.


"Hahaha, kau sangat mudah di lupakan" jawab papah Hermawan.


"Mungkin kali ini kau benar" jawab Adnan ikut tertawa.


"Aksa" ucap papah Hermawan.


"Iya pah"


"Apa kau mengingat om ini?"


"Ma'af om, pah. Sebenarnya Aksa Tidak mengingatnya"


"Ini om Adnan, sahabat papah sekaligus ayah dari sahabat kamu. Ghibran.


Apa Kau ingat Ghibran?" tanya papah Hermawan.


"Ghibran?"


"Apakah yang papah maksud adalah Ghibran teman ku sewaktu kecil?" tanya Aksa.


"Iya"


"Ma'af om, karena Aksa tidak mengenali om" ucap Aksa.


"Tidak papa Adi, om juga sempat tidak mengenali kamu.


Dari kamu kecil sampai sekarang ketampanan mu selalu melebihi papah mu" ucap om Adnan bercanda.


Keluarga dari om Adnan memang selalu memanggil Aksa dengan sebutan Adi, mereka mengambil nama tersebut dari nama terakhir Aksa. yaitu Adhitama.


"Anak mu juga pasti lebih tampan dari diri mu" jawab papah Hermawan.


Mereka bertiga tertawa bersama.


"Om, bagaimana kabar Ghibran?" tanya Aksa.


"Alhamdulillah kabar Ghibran baik".


Papah Hermawan, Aksa, dan juga om Adnan membicarakan mengenai masalah keluarga.


Mereka memutuskan akan membicarakan mengenai bisnis di lain waktu.

__ADS_1


Om Adnan juga memberi Aksa nomor telepon Ghibran agar mereka bisa berkomunikasi satu sama lain.


__ADS_2