
Aksa merasakan sesuatu yang bergetar di dalam saku celana nya.
Dia mengambil benda tersebut.
ternyata hand phone nya bergetar karena Eder menelepon diri nya.
"Selamat siang tuan"
"Siang Eder, ada apa? apa ada yang mencurigakan?" tanya Aksa.
"Ya tuan, dari tadi pagi saya melihat ada seseorang yang mengawasi kos an nona Dhea.
Dia memakai pakaian serba berwarna hitam, dan wajahnya juga tidak terlihat.
Tetapi dari perawakan nya, seperti nya dia seorang laki-laki" ucap Eder menjelaskan.
"*Su*dah ku duga, pasti ada yang mengawasi Dhea" batin Aksa.
"Baiklah, kau teruskan mengawasi di kos an Dhea.
tetapi jangan sampai ada yang mencurigai mu terutama orang yang tadi kau ceritakan dan juga Dhea"
"Iya tuan, saya akan berusaha untuk tidak di curigai oleh siapapun"
Setelah sambungan telepon terputus.
"*Bi*arkan tempat tinggal Dhea yang mengawasi Eder, aku akan mengawasi Dhea dan juga orang-orang yang kemungkinan akan menjadi korban" batin Aksa.
Aksa melanjutkan langkah nya ke arah parkiran sekolah.
.
Sore hari.
Dari waktu sepulang sekolah sampai sore hari, Aksa terus mengawasi Dhea.
Dia mengikuti kemanapun Dhea pergi.
Aksa sekarang sedang duduk di dalam mobilnya.
Ia memangkirkan mobilnya di pinggir jalan, tepat di depan mini market.
dia sedang mengawasi Dhea yang sedang bekerja.
Aksa merasakan hand phone di dalam jaket yang ia kenakan bergetar.
Aksa mengambilnya dan mengangkat telepon nya.
"Ada apa Eder?"
"Tuan, orang yang ku ceritakan tadi siang menaruh sesuatu di depan pintu kos an nona Dhea.
Sebelumnya orang tersebut juga menelepon seseorang.
__ADS_1
saya mendengar orang tersebut memanggil nya dengan kata 'Tuan'.
Saya yakin kalau dia menelepon orang yang menyuruh nya" ucap Eder.
"Aku akan ke sana"
Aksa langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Eder.
dia melajukan mobilnya dengan cepat.
Sesampainya di depan kos an Dhea.
Aksa keluar dari mobilnya tetapi tidak melihat keberada'an Eder.
"Di mana Eder?
dia bersembunyi dengan sangat baik, sampai-sampai aku tidak melihatnya" batin Aksa.
Sa'at Aksa sedang mengamati sekitaran mencari keberada'an Eder, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari belakang.
"Tuan" panggil Eder.
Aksa berbalik badan, dan terlihat lah Eder yang sedang berdiri di hadapan nya.
"Ya, di mana kotak nya?" tanya Aksa.
Karena dia tidak melihat kotak apapun di depan pintu kos an Dhea.
"Kotaknya sudah saya ambil tuan" ucap Eder.
Aksa membuka kotak tersebut.
Setelah membuka kotak yang ia pegang dan mengetahui isi di dalam kotak, ia kembali menutupnya seperti sedia kala.
"Taruh di tempat semula, agar peneror itu tidak curiga" ucap Aksa.
"Baik tuan"
Eder kembali menaruh kotak yang di berikan oleh Aksa ke tempat semula.
.
Sepulang bekerja, Dhea pulang ke kos an nya.
Dia melihat sebuah kotak di depan pintu.
"Apa lagi yang peneror itu mau lakukan?" batin Dhea.
Dhea membuka kotak tersebut.
di dalam nya hanya terlihat sepucuk surat dengan tulisan berwarna merah darah.
Tidak ada benda apapun di samping nya.
__ADS_1
Dhea membacanya.
HAHAHAHAHA..
CEPATLAH DATANG KE JALAN RAYA DI SAMPING TAMAN.
ORANG YANG KAU SAYANG MENUNGGU UNTUK DI SELAMATKAN OLEH MU.
Dhea langsung membuang kertas yang berada di tangan nya dan berlari.
"*A*pa maksudnya? apa dia akan melakukan sesuatu?" batin Dhea.
Fikirannya tidak bisa memikirkan apapun.
Sekarang yang di fikirkan oleh Dhea hanyalah sampai di tempat yang di katakan di dalam surat.
Dhea terus berlari ke arah taman, karena tidak ada kendara'an apapun yang melintas.
Sa'at hampir sampai.
dari kejauhan, Dhea melihat Riri duduk di kursi di tengah jalan dalam keada'an tidak sadarkan diri.
Tangan dan kaki nya terikat.
"*Ri*ri" batin Dhea.
Di depan Riri duduk terdapat sebuah mobil truk yang sedang melaju kencang ke arah nya.
Dengan perasa'an takut dan panik, Dhea terus saja berlari ke arah Riri.
sekarang harapan nya hanyalah bisa menyalamatkan Riri.
"Ya Allah..
Riri tidak bersalah, tolong selamatkan dia" batin Dhea.
Air mata nya sudah mengalir dengan sangat deras.
Ketika Dhea sudah berada di samping jalan, mobil truk tersebut juga sudah sampai di tempat Riri duduk.
Mobil truk tersebut menabrak tubuh Riri tepat di depan Dhea.
"RIRIII" ucap Dhea berteriak.
Dhea melihat kejadian tersebut dengan mata kepala nya sendiri.
Dhea hanya bisa berdiri mematung dan memejamkan mata di tempat nya berada.
"*Y*a Allah, ini pasti hanya mimpi.
ini hanyalah mimpi" batin Dhea.
Dia terus berdo'a di dalam hati, semoga semua ini hanyalah mimpi buruk nya.
__ADS_1
Setelah meyakinkan diri bahwa ini hanyalah mimpi buruk, dia membuka mata nya dan menatap ke arah depan.
Di depan nya, terlihat jalanan yang berlumuran banyak sekali darah.