
Ternyata Dhea di bawa oleh kedua penculik tersebut keluar kota.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, penculik yang duduk di kursi kemudi menghentikan mobil nya di depan sebuah kos an yang sangat kecil.
Bahkan pintu nya hanya di kunci menggunakan sebuah gembok yang sudah berkarat.
"Turun" ucap penculik yang duduk di samping Dhea.
Dhea turun dari mobil dengan menggendong tas milik nya.
"Kau akan tinggal di kos an yang ada di belakang mu itu.
dan jika kau akan pergi ke sekolah, kau hanya tinggal berjalan ke arah utara kira-kira 15 menit dari sini jika kau berjalan kaki" ucap sang penculik menjelaskan dari dalam mobil.
"Ba-bagaimana dengan biaya nya?" tanya Dhea.
"Sampai kau lulus sekolah menengah pertama, kau tidak usah memikirkan biaya sekolah dan kos an" ucap sang penculik.
Penculik tersebut melemparkan sebuah kunci ke arah Dhea.
Tanpa menunggu jawaban dari Dhea, mereka meninggalkan Dhea sendirian.
Dhea membuka gembok yang sudah berkarat menggunakan kunci yang tadi di lemparkan oleh penculik.
"Assalamu'alaikum" ucap Dhea memasuki kos an yang sangat kecil.
Ketika Dhea membuka pintu, di dalam kos an hanya ada satu ruangan dan satu kamar mandi kecil.
Di ruangan tersebut, Dhea melihat ada sebuah karpet di sudut ruangan.
Dhea menangis meratapi hidupnya, "Apa salah ku?" Dhea sedang mencoba berfikir di mana letak kesalahan nya.
"Dhea, berhenti menjadi orang yang lemah. mulai sekarang kamu harus mandiri, kamu tidak mempunyai siapa pun di sini.
Aku tidak boleh menjadi anak yang lemah, aku harus kuat untuk melindungi orang-orang yang aku sayang" batin Dhea.
__ADS_1
Dhea meneteskan air mata, tetapi tangan nya langsung mengusap air mata yang menetes dengan gerakan cepat.
"Selamat datang hidup baru.
aku pasti bisa" gumam Dhea.
.
Dhea menjalani hidup nya beberapa tahun ini hanya sebatang kara.
Sudah Dua tahun dia tinggal sendirian.
Di sekolah nya dia selalu menjadi murid yang berprestasi, dia juga mempunyai banyak teman.
Selama bersekolah, Dhea juga bekerja part time.
Sebagian dari gaji nya ia gunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari, dan sebagian lagi dia tabung.
Karena Dhea tidak tahu hidup nya akan kembali seperti sedia kala atau akan terus seperti ini.
.
di tahun tersebut, Dhea selalu di teror oleh orang yang tidak di kenal.
Di tempat kerja nya, Dhea di pecat tanpa ada penyebab yang jelas.
Teman-teman nya juga mulai menjauhi nya satu persatu tanpa Dhea tahu alasan nya.
Setelah lulus sekolah menengah pertama, Dhea berniat untuk pergi.
karena sang pemilik kos an yang Dhea tempati selalu menagih biaya.
dan di tempat tersebut hidup nya tidak bisa tenang.
Sekarang dia sedang membereskan semua barang-barang milik nya dan memasukkan nya ke dalam tas.
__ADS_1
"Di tempat ini hidup ku selalu tidak tenang, lebih baik aku pindah dari sini. semoga saja peneror itu tidak mengganggu hidup ku terus menerus" batin Dhea.
Dhea menggunakan uang yang ia tabung untuk pindah dari kos an kecil tersebut.
Dia kembali ke kota yang dulu ia tempati, kota yang terdapat sebuah panti asuhan yang membesarkan diri nya.
Tetapi Dhea tidak pulang ke panti asuhan.
Karena dia terus memikirkan keselamatan ibu dan semua keluarganya yang ada di panti asuhan.
dia juga memikirkan bagaimana perasa'an ibu nya.
Bu Rani pasti sangat kecewa kepada Dhea karena sudah pergi tanpa kabar.
Dia terus mengingat kata-kata orang yang menculik nya tiga tahun lalu, dan juga surat dari orang yang meneror nya.
Di kota tersebut, Dhea tinggal di kos an yang sampai sekarang ia tempati.
dan juga bekerja di mini market milik Cika.
Dhea kira jika dia pindah dari tempatnya yang dulu, ada kemungkinan sang peneror tidak akan meneror nya.
Tetapi sampai sekarang, dia sudah kelas Tiga SMA, dia selalu di teror.
Flash back off.
Di dalam kamar kos nya.
Dhea menangis terisak-isak, sampai tidak menyadari diri nya tertidur karena lelah menangis sepanjang malam.
Dhea juga tidak membaca do'a sebelum tidur.
Terlihat di wajahnya banyak bekas air mata yang menetes, dan di sudut matanya terdapat air mata yang masih menggenang.
Bantal yang di tiduri oleh Dhea juga terlihat basah karena air mata.
__ADS_1