
"Ini model sepeda nya sama, tapi warna nya beda kak.
Dan itu warna nya yang sama, tapi model sepeda nya yang beda" ucap Reva sedikit kesal.
"Kita tanya sama pegawai nya dulu ya dek, siapa tau ada sepeda yang model dan warnanya sama persis" ucap Aksa.
"Yaudah, kak Aksa yang tanya"
"Kamu tunggu di sini sebentar"
Aksa meninggalkan Reva, dia berjalan ke arah pegawai mall.
"Mas, bisa ikut saya sebentar?"
"Iya tuan"
Mereka berdua menghampiri Reva.
"Mas, apa ada sepeda yang modelnya seperti ini tapi warnanya berwarna nila?" tanya Aksa.
"Warna nila sekarang di sini lagi kosong tuan, tapi nanti malam akan ada pengiriman"
"*Hu*h, gimana sih" batin Reva.
Dia sudah sangat kesal.
"Kalau nanti malam ada pengiriman model dan warna yang sama simpan dulu ya mas, besok saya ambil" ucap Aksa.
"Iya tuan".
"Pulang yuk kak" ucap Reva, menarik tangan Aksa.
Aksa hanya diam mengikuti langkah adiknya sampai ke parkiran mall.
Di dalam mobil.
"Nyebelin banget tau kak, masa iya mall sebesar itu barang nya bisa kosong" ucap Reva menggebu-gebu.
Aksa tersenyum melihat adiknya yang sedang kesal.
"Udah dek, sabar ajah.
mungkin memang lagi kosong" ucap Aksa menenangkan Reva.
"Iya kak" jawab Reva.
Aksa melajukan mobilnya meninggalkan parkiran mall.
Sa'at perjalanan pulang, Reva berkata.
"Kak, mampir ke cafe itu dulu yuk" ucap Reva menunjuk sebuah cafe di pinggir jalan.
"Oke dek".
Aksa menghentikan mobilnya di tempat parkir cafe.
Aksa dan Reva memasuki cafe dan duduk di kursi yang berada di tengah-tengah cafe.
Sa'at mereka sedang melihat dan memilih menu, ada seorang pelayan yang menghampiri meja di mana mereka duduk.
"Mau pesan apa?" tanya pelayan.
__ADS_1
Aksa dan Reva merasa familiar dengan suara pelayan tersebut, mereka berdua menatap ke arah pelayan.
"*Ka*k Dhea?" batin Reva.
"*K*enapa dia di sini? bukannya tempat kerjanya di mini market?" batin Aksa.
Sementara Dhea yang melihat Aksa dan Reva tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Americano satu, latte satu" jawab Aksa.
Setelah mencatat pesanan Aksa dan Reva, Dhea pergi dari meja yang di tempati Aksa dan Reva.
"Kak, itu tadi kak Dhea atau aku yang salah lihat?" tanya Reva sedikit berbisik.
"Iya, itu kak Dhea" jawab Aksa.
Tidak lama kemudian ada seorang pelayan yang mengantarkan pesanan ke meja Aksa dan Reva, tetapi bukan Dhea.
Aksa dan Reva menikmati minuman yang mereka pesan.
Setelah mereka menghabiskan minuman, Aksa membayarnya dan mereka berdua pergi dari cafe.
Di perjalanan.
"*A*ku akan menanyakan hal ini kepada mba Cika langsung, tetapi sebelum itu aku harus mengantarkan Reva pulang ke rumah terlebih dahulu" batin Aksa.
Sesampainya di depan gerbang rumah.
Aksa menghentikan mobilnya dan berkata.
"Dek, kamu pulang duluan ya.
kakak masih ada urusan"
Pak satpam membukakan gerbang dan Reva masuk ke dalam halaman rumah.
Sementara Aksa, dia pergi menuju ke mini market.
.
Aksa menghentikan mobilnya di parkiran mini market.
Dia melihat Cika yang baru saja keluar dari pintu mini market.
Aksa menghampirinya.
"Mba Cika"
Cika melihat ke arah suara yang memanggilnya.
"*D*ia pasti mau menanyakan tentang Dhea" batin Cika.
"Oh mas Aksa..
apa kau mau menanyakan tentang Dhea?" tanya Cika.
"*K*enapa dia bisa tau?" batin Aksa.
"Iya"
"Kemarin Dhea mengundurkan diri tanpa sebab"
__ADS_1
"*M*engundurkan diri?"
"Saya duluan ya mas, saya buru-buru.
permisi..
Assalamu'alaikum" ucap Cika.
"Wa'alaikum salam".
Cika pergi manaiki mobilnya.
Aksa juga pergi, melajukan mobilnya pulang ke rumah.
.
Malam hari.
Setelah makan malam bersama, Aksa di panggil oleh papah Hermawan ke ruang kerjanya.
Karena ada sesuatu yang ingin papah Hermawan bicarakan.
Di dalam ruangan kerja, Aksa duduk di atas sofa di samping papah Hermawan duduk.
"Ada apa pah?" tanya Aksa.
Bukannya menjawab, papah Hermawan malah balik bertanya kepada Aksa.
"Kapan kamu mau melanjutkan bisnis keluarga?"
"*Ke*napa papah tiba-tiba ngomongin bisnis?" batin Aksa.
"Tapi Aksa masih harus mikirin tugas-tugas sekolah pah, Aksa juga belum kuliah" ucap Aksa.
Selama ini Aksa tidak mau menjalankan perusaha'an.
Walaupun di paksa, dia selalu menolak jika di suruh untuk belajar tentang bisnis.
Aksa berfikir bahwa untuk sekarang dia hanya ingin menikmati waktu sekolahnya.
Dia berniat akan belajar tentang bisnis pada sa'at sudah masuk ke jenjang perkuliahan.
Papah Hermawan menghadap ke arah Aksa dan menatap mata Aksa.
"Tugas sekolah?..
tetapi kenapa selama ini kamu berbohong?.
Kamu mengatakan ada tugas kelompok, ternyata tidak ada.
kamu juga pernah membolos" ucap papah Hermawan.
"*K*e-kenapa papah tau?
apa Reva yang memberitahu papah?" batin Aksa.
Wajah Aksa terlihat panik.
"I-itu pah.." ucap Aksa gugup.
"Papah tau semuanya.
__ADS_1
kamu fikir papah tidak tau apa yang selama ini kamu lakukan?.
kamu selalu menolong orang yang sudah mengancam Reva!" ucap papah Hermawan.