Aksa Dan Dhea

Aksa Dan Dhea
35


__ADS_3

"Kebetulan saya memiliki sebuah cafe yang sedang kekurangan karyawan, apa kau mau bekerja di sana?"


"Apakah orang ini jujur, atau hanya mau menipu ku?


Jika dia berbohong, awas saja" batin Dhea.


"Baiklah" jawab Dhea.


"Ikutlah dengan ku"


Pemuda tersebut memasuki mobil dan Dhea mengikutinya.


pemuda tersebut mengemudikan mobil nya.


Dhea hanya diam.


Dia terus menatap ke luar jendela mengamati jalanan agar nanti dia bisa tahu jalanan yang harus ia lewati.


Sekitar 15 menit kemudian, pemuda tersebut menghentikan mobil nya di depan sebuah cafe yang terlihat cukup besar.


"Sudah sampai"


Dhea dan pemuda tersebut keluar dari mobil secara bersama'an tetapi dari pintu yang berbeda.


"Ikuti aku".


Mereka berdua berjalan memasuki cafe.


pemuda tersebut berjalan mendahului Dhea, dan Dhea mengikuti nya.


Di dalam cafe, para karyawan menyapa pemuda tersebut.


"Selamat sore mas Ghibran"


"Sore" jawab pemuda tersebut, yang ternyata bernama Ghibran.


Setiap ada yang menyapa Ghibran, dia selalu menjawabnya dengan sangat ramah.


Mereka semua memanggil Ghibran dengan sebutan mas karena itu adalah perminta'an dari Ghibran.


Ghibran merasa tidak enak ketika di panggil dengan sebutan pak.


Para karyawan juga menatap dengan tatapan penasaran ke arah Dhea.


Mereka sedikit canggung ketika melihat ekspresi wajah Dhea yang sangat datar.


"Y**ang di belakang mas Ghibran siapa yah?" batin para karyawan.


Sementara Dhea, dia terus mengikuti langkah Ghibran tanpa melihat atau pun melirik para karyawan yang sedang menatap diri nya.


Di dalam ruangan pemilik cafe.


Ghibran duduk di kursi dan berkata.


"Duduklah" ucapnya dengan senyuman.


Dhea duduk di kursi di depan meja Ghibran.


"Coba ku lihat surat lamaran kerja mu"

__ADS_1


Dhea menaruh surat lamaran kerja yang sedang ia pegang di depan Ghibran.


Ghibran membuka dan membaca nya.


"Di**a masih sekolah?" batin Ghibran.


"Nama Dhea, umur 17 tahun, masih bersekolah kelas tiga SMA.


Apa kau mau bekerja part time?" tanya Ghibran.


"Iya"


"Baiklah, kau ku terima bekerja.


bekerjalah mulai besok dan jangan terlambat" ucap Ghibran tersenyum.


"Terima kasih pak" ucap Dhea.


"Kau bisa memanggil ku mas ataupun kak, seperti yang lain"


"Baik mas"


Ghibran berdiri dari duduknya, dia mengambil sesuatu di dalam lemari.


Ghibran kembali duduk dan memberikan benda yang ia ambil kepada Dhea.


"Ini seragam kerja mu.


dan ingat, nama ku Ghibran"


Dhea menerimanya.


"Ya, permisi"


dia keluar dari cafe.


"A**lhamdulillah, terima kasih ya Allah.


aku sudah mendapatkan pekerja'an" batin Dhea.


Sementara itu, di dalam ruangan Ghibran.


"Entah mengapa aku merasa sangat akrab dengan nya.


jika adik ku masih hidup mungkin seumuran dengan nya" batin Ghibran.


Bibirnya tersenyum, tetapi matanya terlihat sedih.


Setelah dari cafe, Dhea langsung pulang ke kos an nya dengan menaiki angkutan umum.


.


Di rumah Aksa.


Aksa sedang membereskan tas sekolah nya.


Mata nya melihat ada sebuah kalung di dalam tas.


Dia mengambilnya.

__ADS_1


"Ini kan kalung punya Dhea.


karena masalah peneror itu, aku jadi lupa kalau belum mengembalikan kalung ini" gumam Aksa.


Tok tok tok.


"Kak Aksa".


Reva mengetuk pintu kamar Aksa dari luar.


Aksa kembali memasukkan kalung milik Dhea ke dalam tas nya.


"Masuk aja dek, nggak di kunci".


Reva memasuki kamar Aksa dan langsung duduk di samping Aksa.


"Kak, katanya mau beli'in sepeda buat kak Dhea" ucap Reva.


"Besok berangkat ke sekolah dek".


"Nanti pulang sekolah kak" ucap Reva.


"Yaudah, besok pulang dari sekolah kita belikan sepeda untuk kak Dhea" ucap Aksa.


"Makasih ya kak"


"Iya, sekarang kamu balik ke kamar kamu. belajar yang rajin" ucap Aksa.


"Iya deh kak, yang penting besok harus jadi"


"Iya InsyaAllah"


Reva meninggalkan kamar Aksa dan kembali ke kamarnya.


#


Ke esokan harinya, Pulang sekolah.


Dhea pergi menaiki angkutan umum menuju ke arah cafe.


Sedangkan Aksa dan Reva pamit kepada mamah Anggita untuk pergi ke pusat perbelanja'an.


Mereka tidak mengatakan akan membeli sepeda untuk dhea, karena mamah Anggita masih belum percaya kepada Dhea.


Aksa dan Reva menaiki mobil milik Aksa menuju ke sebuah mall yang sangat besar.


Papah Hermawan mempunyai saham di mall tersebut.


Jadi setiap keluarga Aksa datang ke mall tersebut, pasti di sambut dengan hangat dan sangat ramah.


"Silahkan tuan, nona"


"Iya mba, mbanya lanjutin bekerja saja.


saya dan kak Aksa mau liat-liat dulu" ucap Reva.


"Baiklah nona" ucap pegawai mall tersebut, Dia meninggalkan Aksa dan Reva hanya berdua.


"Ayo kak, kita ke tempat sepeda"

__ADS_1


"Iya".


Aksa dan Reva memilih-milih sepeda yang di rasa sangat persis dengan sepeda milik Dhea.


__ADS_2