Aksa Dan Dhea

Aksa Dan Dhea
45


__ADS_3

Setelah selesai membaca Al-Qur'an, Karina menaruhnya kembali didalam lemari.


dari dalam kamar, telinga Karina dan Nira mendengar adanya suara mobil yang datang.


"Tante, kayaknya om Adnan udah pulang" ucap Nira.


"Iya, yuk turun" ajak Karina.


Mereka berdua turun ke lantai bawah dan melihat Adnan yang sedang disambut oleh seorang pelayan.


Nira langsung berlari dan mencium punggung tangan om yang sangat disayanginya, dia juga sudah menganggap Adnan sebagai ayah kedua baginya.


Karina juga mencium punggung tangan Adnan dan mengambil tas yang berada di tangan suaminya tersebut.


"Makasih ya sayang" ucap Adnan kepada Karina.


"Iya mas" jawab Karina tersenyum.


"Nira? kesini sama siapa?" tanya Adnan.


"Sama papah om, mungkin bentar lagi papah jemput aku pulang.


tapi aku pengen liat-liat taman belakang om, sama tante Karina"


Baru saja Nira selesai berucap, terdengar suara mobil yang dinaiki oleh papah Nira memasuki halaman rumah.


"Itu suara mobilnya papah"


Dari pintu masuk, terlihat seorang laki-laki bertubuh tegap dan berwajah datar berjalan memasuki rumah dan disambut oleh pelayan, tetapi dia terlihat tidak peduli.


"Papah, kok papah jemputnya cepet banget sih?" tanya Nira cemberut.


"Karena pekerja'an papah udah selesai dan papah kangen sama Nira, yuk pulang" jawab papah Nira tersenyum lembut kepada anak semata wayang yang sangat disayanginya.


"Tapi Nira mau liat-liat taman belakang dulu, sama tante Karina"


Papah Nira berniat menjawab, tetapi didahului oleh Adnan yang berstatus sebagai kakak tirinya.


"Kakak perlu bicara sama kamu"


Ekspresi wajah papah Nira langsung berubah dingin dan menatap tajam kearah Adnan.


"Gak ada waktu" jawabnya ketus.

__ADS_1


Adnan mengalihkan pandangan menatap Nira dan berkata


"Nira, om ingin berbicara dengan papah mu sebentar ya" ucap Adnan.


"Iya om, lama juga nggak papa.


Papah ngobrol aja sama om Adnan, Nira mau ketaman sama tante Karina" jawab Nira tersenyum, dia menarik tangan Karina menuju kearah taman belakang rumah.


"Kita bicara diruangan kerja ku" ucap Adnan berjalan ke salah satu ruangan dilantai bawah.


Papah Nira mengikuti langkah Adnan dan masih menatapnya dengan tatapan membunuh.


Di dalam ruangan kerja.


Adnan sudah berdiri disamping sofa, sedangkan papah Nira baru saja memasuki ruangan.


"Silahkan duduk" ucap Adnan tersenyum.


"Tidak usah basa-basi, katakan saja apa yang mau anda katakan, saya tidak akan membiarkan waktu yang saya punya terbuang sia-sia hanya karna orang seperti anda" jawabnya dengan tatapan yang penuh kebencian.


"Martin, sudah bertahun-tahun, kenapa kau sangat membenci kakak?"


"Cih, kakak, saya ingin sekali muntah mendengar ucapan anda.


"Apa kau berubah begini karna masalah Nisa bertahun-tahun yang lalu?" tanya Adnan menatap adiknya.


Martin mendadak emosi, dia mengambil sebuah vas bunga diatas meja dan melemparnya kearah dinding.


PYAARRR..


Vas tersebut pecah menjadi serpihan-serpihan kecil.


Wajah Martin terlihat berwarna merah padam karena sangat marah.


Ruangan kerja Adnan kedap suara. jadi dari luar, tidak ada yang mendengar jika ada keributan didalam.


"Jangan sebut nama Nisa dengan menggunakan mulut busuk mu itu" ucapnya berteriak didepan wajah Adnan.


"Martin, aku ini kakak mu. bisakah kau bersikap sedikit sopan padaku?" ucap Adnan yang sudah mulai terpancing emosi.


Mendengar ucapan adnan, Martin langsung tertawa terbahak-bahak


"Sopan kau bilang? 20 tahun yang lalu, sa'at kau menolak Nisa, apa kau bersikap sopan padanya? Kau menghinanya, mencaci maki dia, apa kau tau betapa sakit hatinya yang ia rasakan?"

__ADS_1


Nada suara Martin menjadi pelan dan terdengar menyedihkan.


Dia kembali berucap dengan berteriak dan menunjuk wajah Adnan dengan jari telunjuknya.


"Dia bodoh karena mencintai mu. kau hanyalah seorang laki-laki brengs*k, pengecut, tidak berguna, apa yang bisa dibandingkan dengan ku? aku adalah orang yang mencintainya dengan tulus, jika dia mencintai ku mungkin sekarang kita hidup bahagia.


Tapi semuanya hancur karna dirimu, kenapa kau harus ada diantara aku dan Nisa? hahh!!" ucap Martin.


Adnan menatap adiknya dengan tatapan simpati.


20 tahun lalu.


Nisa, orang yang sangat dicintai oleh adiknya malah mencintainya secara berlebihan yang jelas-jelas sudah akan menikah dengan calon istrinya yaitu Karina.


Kabarnya, Nisa bunuh diri setelah cintanya ditolak oleh Adnan. dan banyak gosip beredar bahwa Adnan bukan hanya menolak cinta Nisa, tetapi juga menghinanya dengan ucapan kasar.


"Martin" ucap Adnan memegang bahu adiknya.


Martin menepis tangan Adnan dengan kasar.


Adnan berdiri membelakangi Martin


"20 tahun yang lalu, aku memang menolak Nisa, tetapi aku sama sekali tidak menghinanya, sedikit pun tidak"


"Cih, kau begitu tidak tahu malu" ucap Martin menatap tajam punggung Adnan.


Adnan membalikkan badannya dan kembali berkata


"Sejujurnya, dulu ketika kita bertiga masih bersahabat dimasa sekolah, aku sempat tertarik padanya"


Martin menggenggam erat tangannya.


Adnan melihat kearah tangan Martin, dia tersenyum karena merasa sifat adiknya yang dulu masih ada dan dia kembali melanjutkan ceritanya.


"Dia adalah orang yang baik, ramah, ceria yang selalu membuat persahabatan kita bertiga lebih berwarna.


Berjalannya waktu, aku mulai yakin bahwa aku menyukai nya. tetapi ketika melihat sikap yang kamu tunjukkan kepada Nisa, aku yakin kalau kau juga suka kepadanya.


Apa kau tau? aku mulai berusaha melupakan dan menjauhinya, aku juga meminta kepada ayah jika aku ingin belajar dipondok pesantren.


Dan pada akhirnya, di pondok pesantren tersebut aku bertemu dengan kakak ipar mu dan mulai mengaguminya.


Waktu berlalu tanpa ada masalah apapun, tetapi sa'at hari pernikahan ku sudah ditetapkan, Nisa datang dan mengatakan kalau dia mencintai ku.

__ADS_1


__ADS_2