Aksa Dan Dhea

Aksa Dan Dhea
37


__ADS_3

Aksa yang mendengar papah Hermawan berucap bahwa Dhea yang mengancam Reva merasa tidak terima, karena dia sudah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.


Dia berdiri dari duduknya dan berkata.


"Tidak pah, yang mengancam Reva bukan Dhea. sebenarnya ada seseorang yang meneror Dhea, Dhea tidak bersalah pah" ucap Aksa dengan keras.


Mendengar jawaban Aksa,


bukannya marah, papah Hermawan malah tertawa.


"Hahaha Aksa, Aksa.


kau tidak teliti ketika mendengarkan ucapan papah, papah akan mengulanginya sekali lagi.


Pa-pah ta-u se-mua-nya" ucap papah Hermawan.


Aksa yang menyadari ucapan papahnya kembali mendudukkan badannya.


dia menundukkan kepala merasa bersalah.


Papah Hermawan menghentikan tawanya.


"Ma'af pah, Aksa sudah berbicara tidak sopan kepada papah" ucap Aksa menyesal.


Papah Hermawan mengangkat tangannya menepuk bahu Aksa.


"Papah bangga kepada mu Aksa, karena kau sudah bersedia menolong orang lain dengan suka rela" ucap papah Hermawan.


Aksa mengangkat kepalanya menghadap ke arah papah Hermawan.


"Terima kasih pah" jawab Aksa tersenyum.


"Tetapi menurut papah, kamu terlalu ikut campur dengan masalah di kehidupan


Dhea.


Kau menolongnya sampai membuang waktu mu, padahal Dhea tidak meminta kau menolongnya.


Oh tidak, bahkan Dhea tidak tau jika kau menolongnya" ucap papah Hermawan.


Aksa kembali menundukkan kepalanya.


"Papah benar, apa mungkin aku terlalu ikut campur?" batin Aksa.


"Aksa juga tidak mengerti pah, Aksa hanya ingin menolong Dhea.


Aksa merasa hidup Dhea sangat menderita" jawab Aksa.


"Jika hidup Dhea menderita, kenapa Dhea tidak meminta bantuan kepada siapapun?" tanya papah Hermawan.


"Maka dari itu pah, Aksa ingin menolong Dhea".


Papah Hermawan tersenyum.

__ADS_1


"Aksa" panggil papah Hermawan.


"Iya pah"


"Lihat ke arah papah"


Aksa tidak menjawab, dia hanya menatap ke arah papah Hermawan.


"Apa kau mencintai Dhea?" tanya papah Hermawan.


Degg.


Aksa sangat terkejut ketika mendengar pertanya'an yang di lontarkan oleh papah Hermawan.


"Apa aku mencintai Dhea?" batin Aksa.


"Aksa tidak tau pah" jawab Aksa.


"Apa hati mu sakit ketika melihatnya menderita?"


Sontak tangan Aksa langsung memegang bagian dadanya yang tertutup oleh pakaian.


"Aku pernah merasa dada ku sesak ketika melihat nya menangis, apa itu artinya aku mencintai nya?" batin Aksa bertanya-tanya.


Aksa tidak menjawab pertanya'an papah Hermawan.


Papah Hermawan yang melihat apa yang di lakukan Aksa kembali tersenyum.


"Aksa, papah yakin kamu memang sudah memiliki rasa untuk gadis yang bernama Dhea.


Setelah suasana hening beberapa sa'at, papah Hermawan kembali berbicara.


"Papah ingin kamu ikut papah ke perusaha'an,


papah ingin kamu belajar bisnis dari sekarang"


Aksa sadar dari fikirannya dan berkata.


"Iya pah..


Apa sudah tidak ada lagi yang ingin papah bicarakan dengan Aksa?"


"Tidak ada"


"Kalau begitu Aksa pamit mau kembali ke kamar" ucap Aksa.


Aksa bangkit dari duduknya.


"Aksa, ingatlah untuk merahasiakan masalah Dhea dari mamah dan Reva.


karena jika mereka tau, bisa jadi keselamatan mereka juga terancam.


dan kau berhati-hatilah" ucap papah Hermawan.

__ADS_1


"Iya pah, selamat malam" ucap Aksa.


"Selamat malam" jawab papah Hermawan.


Papah Hermawan memperhatikan Aksa yang keluar dari ruangan kerjanya.


"Papah akan berusaha membahagiakan kamu Aksa, papah janji kamu akan menikah dengan orang yang kamu cintai dan juga mencintai mu.


Jika perlu, papah akan membatalkan perjodohan yang papah jalin dengan sahabat papah" batin papah Hermawan.


.


Aksa berjalan menuju ke arah kamarnya dengan fikiran yang tidak menentu.


Di dalam kamar, Aksa terus memikirkan ucapan papah Hermawan.


Biasanya jika di tanya tentang perusaha'an, dia akan terus memikirkan alasan agar tidak jadi pergi ke perusaha'an.


dan alasan yang dia berikan juga selalu berhasil.


Tetapi untuk sekarang, dia tidak peduli tentang perusaha'an.


Aksa hanya memikirkan ucapan papah Hermawan yang menanyakan bahwa dia mencintai Dhea.


"Apa aku mencintai Dhea?


apa mungkin itu benar?


Aku hanya ingin menolong Dhea, aku tidak mencintainya" batin Aksa.


Aksa melangkahkan kakinya menuju ke arah balkon rumahnya.


dia menyandarkan tubuhnya di pagar balkon.


Aksa memejamkan matanya membiarkan angin malam menerpa wajahnya.


Rambutnya juga terlihat berterbangan karena tertiup oleh angin.


"Tetapi bagaimana jika aku benar-benar mencintai Dhea?


apa yang membuat ku mencintainya? sifatnya saja sangat dingin.


aku tidak yakin jika aku mencintai Dhea" batin Aksa.


Sepanjang malam, Aksa terus berfikir demikian.


Aksa memasuki kamarnya ketika merasakan udara malam yang mengenai tubuhnya sudah terasa dingin.


Aksa menaiki ranjang tempat tidurnya.


Di atas ranjang, dia terus membolak balikkan badannya mencari posisi yang nyaman.


"Kenapa aku tidak bisa tidur dan terus memikirkan Dhea?"

__ADS_1


Aksa merasa sangat sulit untuk memejamkan matanya menuju ke alam mimpi.


__ADS_2