
"Tetapi, kau ada hubungan apa dengan Dhea?" tanya Riri.
"Aku adalah teman sekelasnya" jawab Aksa.
"Saya punya sebuah rencana, tetapi harus melibatkan kamu" ucap Aksa.
"Libatkan saya, saya akan membantu rencana mas Aksa".
"Sepertinya, sepulang mba dari sini akan ada seseorang yang menculik mba Riri"
"Saya? kenapa saya?" tanya Riri.
"Karena korban yang mereka katakan di dalam surat kemungkinan besar adalah mba Riri" ucap Aksa.
"Jadi apa yang harus ku lakukan?" tanya Riri.
"Kau hanya tinggal mengikuti semua rencana mereka.
aku yang akan mengatur semuanya"
"Baiklah"
"Terima kasih atas kerja samanya mba"
"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih kepada mu.
Aku sangat yakin jika Dhea adalah anak dari ibu, jadi dia adalah adik ku.
Kau yang bukan siapa-siapa dari Dhea saja rela membantunya, bagaimana aku yang sebagai kakaknya" ucap Riri.
Riri sebenarnya memancing Aksa, dia merasa kepedulian Aksa kepada Dhea tidak seperti seorang teman.
"*Ya, dia benar.
aku memang bukan siapa-siapa Dhea.
Dhea tidak pernah mengatakan jika dia mau berteman dengan ku" batin Aksa*.
Riri yang melihat ekspresi wajah Aksa berubah, menjadi semakin yakin kalau Aksa menganggap Dhea lebih dari teman.
tetapi dia belum menyadarinya.
"Sudah ku duga" batin Riri.
Wajahnya tersenyum.
"Mas Aksa, saya keluar dulu ya.
mungkin penculiknya sudah menunggu".
"Iya"
Riri turun dari mobil Aksa dan pergi.
Drett drettt.
Hand phone Aksa kembali bergetar, Eder meneleponnya.
"Hallo, ada apa?"
"Tuan, disini ada sesuatu yang mencurigakan" ucap Eder.
__ADS_1
"Kau tidak perlu menjelaskannya, aku akan datang ke sana".
Aksa melajukan mobilnya menuju ke arah taman.
.
Sesampainya di sana.
dia menghentikan mobilnya, tetapi tidak keluar dari mobil.
Aksa melihat ada dua orang yang sedang berbicara di samping sebuah truk.
"Apa mungkin rencana mereka untuk menabrak Riri?" batin Aksa.
Salah satu orang yang Aksa amati pergi,
tersisa satu orang.
Aksa menelepon Eder.
"Eder, kau culik orang yang berdiri di samping truk dan bawa ke dalam mobil mu"
Setelah mengatakannya, Aksa langsung mematikan sambungan telepon.
Setelah Eder menculik orang tersebut dan
membawanya ke dalam mobil, Aksa langsung mendatangi mobil Eder.
Di dalam mobil Eder.
"Lepaskan, apa yang kalian lakukan!" ucap supir truk.
"DIAM" ucap Eder.
"Apa yang kau rencanakan?"
Supir truk tersebut bukannya takut malah tersenyum.
"Heh, kau bisa memberi ku uang berapa untuk jawaban ku yang sangat berharga"
"20 juta" ucap Aksa.
"Hehehe, mereka menyuruh ku untuk menabrak seseorang"
"*L*ebih baik aku bekerja sama dengannya" batin Aksa.
"Apa kau mau bekerja sama dengan ku?" tanya Aksa.
"Berapa kau akan membayar ku?, mereka membayar ku 60 juta"
Eder yang sudah sangat marah langsung memukul wajah sang supir truk.
"Eder, bersabarlah" ucap Aksa.
"Hehehe apa kau mendengar perintah bos mu? diam E D E R, Eder".
supir truk tersebut mengejek Eder.
Eder sangat ingin meluapkan emosinya, tetapi dia menahan nya.
"aku akan membayar mu 80 juta, tetapi kau harus bekerja sama dengan ku"
__ADS_1
"100 juta, dan deal" ucap supir truk.
"Baiklah, setelah pekerja'an mu selesai. aku akan membayar mu"
"Apa yang harus ku lakukan?"
"Kau jalankan mobil mu seolah-olah kau menabrak orang.
Ketika kau lewat di samping orang yang mau kau tabrak, pelankan sedikit kecepatan mu.
Setelah itu, kau harus langsung pergi dari tempat kejadian.
dan jangan sampai ada yang mencurigai mu".
"Pekerja'an yang sangat mudah"
Supir truk tersebut keluar dari mobil Eder dan masuk ke dalam mobil truk nya.
"Eder, ketika truk tersebut sedikit melambat. kau tarik Riri dan sembunyikan dia.
aku akan melempar darah hewan ke jalanan agar mereka percaya kalau Riri tertabrak dan jazad nya menghilang" ucap Aksa.
"Baik tuan".
Mereka melakukan rencana mereka dengan sangat baik, sampai-sanpai Dhea dan peneror percaya kepada semua rekayasa yang di rencanakan oleh Aksa.
Flash back off.
.
.
Dhea sudah mencari jazad Riri dengan sangat teliti. tetapi dia tidak menemukannya.
Dan pada akhirnya dia pulang ke rumahnya.
di perjalanan pulang, Dhea berjalan kaki dengan sangat lesu dan terus menangis.
Sesampainya di kos an, tujuan pertama Dhea yaitu kamarnya.
Dia langsung duduk di pojok dinding kamarnya, dia menangis dengan memeluk lututnya.
Dia merasa sangat frustasi.
Dhea juga tidak membersihkan dirinya, dia hanya terus menangis.
#
Ke esokan harinya.
Hari ini, cuaca juga mendukung perasa'an Dhea.
Di pagi hari yang biasanya cerah, hari ini banyak air yang turun dari awan di langit.
Langit yang cerah juga tertutup oleh awan berwarna hitam.
Di pojok kamar kos, terlihat seorang perempuan yang masih saja menangis sejak kemarin malam.
Dhea tidak bisa menghentikan tangisannya, dia tidak tidur sama sekali.
dia juga melupakan jika hari ini dia harus pergi ke sekolah.
__ADS_1
"Hiks. hiks. ma'af Ri" gumam Dhea.
Dhea terus mengulang kata tersebut dari semalam tanpa henti, dia sangat merasa bersalah kepada Riri.