
Sa'at pintu terbuka, terlihat lah seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian gamis dan berkerudung.
Dia adalah ibu panti.
"Wa'alaikum salam" ucap ibu panti.
Ibu panti sedikit terkejut ketika melihat wajah Dhea, dia merasa kenal dengan wajah itu.
"Dia, wajah nya sangat mirip dengan Dhea" batin ibu panti.
"Buu, aku kangen banget sama ibuu" batin Dhea.
Mereka bertiga mencium punggung tangan ibu panti.
Ketika Dhea memegang tangan ibu panti, dia merasa sangat bahagia.
Karena sudah beberapa tahun dia tidak pernah mencium tangan orang yang sudah dia anggap sebagai ibu nya sendiri.
Jangankan mencium tangan, selama beberapa tahun Dhea tidak pernah bertemu ataupun melihat ibu panti.
"Kalian udah datang, perkenalkan nama ibu adalah bu Rani. ayo silahkan masuk" ucap ibu panti yang ternyata bernama Rani.
"Iya bu" ucap mereka bertiga.
Bu Rani, Cika, Riri dan Dhea memasuki rumah panti asuhan.
"Kak Ririi" ucap semua anak panti asuhan menghampiri Riri.
"Kakak berdua ini siapa kak?" tanya seorang anak perempuan.
"Ooh ini, ini teman-teman kak Riri.
yang ini namanya kak Cika dan yang itu namanya kak Dhea" ucap Riri memperkenalkan Cika dan Dhea.
"Dhea? apakah ini kebetulan? wajahnya sangat mirip, namanya juga sama" batin bu Rani.
"Hallo kak, nama aku Ria" ucap Ria, dia tampak sangat menggemaskan.
"Kau sangat lucu" ucap Cika mencubit pipi Ria.
__ADS_1
Ria yang di cubit pipinya oleh Cika tidak merasa kesakitan, dia malah tertawa.
"Yaudah yuk, kita ke ruang makan. kasian kakak-kakak nya belum makan" ucap bu Rani.
"Ayo kak" ucap Ria.
Mereka semua menuju ke ruang makan.
Di ruang makan, mereka makan malam bersama dengan anak panti asuhan dengan makanan seadanya.
Selesai makan, mereka bermain-main sebentar dengan anak-anak panti.
Dhea juga ikut bermain.
Dhea merasa sangat bahagia karena dapat bertemu lagi dengan orang-orang yang sudah ia anggap sebagai ibu dan adik-adik nya.
Selama bermain, Dhea selalu tersenyum. Cika dan Riri yang melihatnya merasa sangat keheranan.
"Apakah aku tidak salah lihat?" batin Riri dan juga Cika.
Walaupun mereka masih kebingungan, tapi mereka berdua ikut bahagia.
Semua anak memasuki kamar tempat mereka beristirahat, termasuk juga Ria.
Dua asisten dari bu Rani lah yang menemani mereka untuk tidur.
Sekarang hanya ada bu Rani, Riri, Cika dan Dhea yang sedang duduk di ruang tamu.
"Nak Dhea, nak Cika.
Riri sudah bercerita kepada ibu mengenai masalah nya dengan kalian.
Ibu ingin meminta ma'af dan berterimakasih karena kalian sudah mema'afkan kesalahan Riri dan juga memberikan Riri kesempatan kedua" ucap bu Rani.
Sementara Riri, dia menunduk karena dia sangat merasa bersalah.
"Iya bu, sekarang yang terpenting Riri sudah menyadari kesalahan nya" ucap Cika.
Riri mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Makasih yah kak Cika, Dhea. aku nggak akan ngulangin kesalahan yang sama" ucap Riri tersenyum.
"Iya" jawab Cika.
"Ya" jawab Dhea bersama'an dengan ucapan Cika.
"Nak Dhea, apa ibu boleh bertanya?" tanya bu Rani.
"Silahkan bu" ucap Dhea dengan suara yang sangat hangat dan ramah.
Ketika mendengar suara Dhea yang tidak seperti biasanya, Cika dan Riri secara bersama'an langsung menatap ke arah Dhea.
Mereka berdua melihat Dhea sedang tersenyum kepada bu Rani.
"Apakah ini keajaiban?" batin Cika dan Riri.
Bu Rani melihat Cika dan Riri dengan tatapan bingung.
"Kalian kenapa?" tanya bu Rani.
"Keajaiban bu" ucap Riri keceplosan.
"Ternyata kita satu fikiran Ri" batin Cika.
"Maksudnya?" tanya bu Rani.
"Ah.. nggak bu, tadi aku asal ngomong" jawab Riri cengengesan.
Bu Rani melanjutkan bertanya kepada Dhea, sementara Cika dan Riri hanya melihat dan mendengarkan.
"Nak Dhea, apakah nak Dhea pernah bertemu dengan ibu sebelumnya?" tanya bu Rani.
"Pernah bu, aku juga menjadi salah satu anggota keluarga ibu" batin Dhea.
"Se-sepertinya belum pernah bu" jawab Dhea.
Riri yang penasaran bertanya kepada bu Rani.
"Memang ada apa bu?" tanya Riri.
__ADS_1
"Sebenarnya wajah nak Dhea sangat mirip dengan salah satu anak ibu, namanya juga sama. Dhea" jawab bu Rani.