
Ke esokan hari nya, di sekolah.
ketika Dhea baru saja memasuki ruang kelas, tubuh nya di dorong oleh seseorang.
Brukk.
Dhea yang sedang tidak siap, tubuh nya membentur meja dan terjatuh ke lantai.
Murid-murid yang mendengar suara tersebut datang dan menonton.
"Heh, berani nya lo ngadu ke pak Reza" ucap orang yang mendorong Dhea.
dia adalah Siska.
( Aksa kemarin malam mencari tau siapa yang merusak sepeda Dhea.
Dia mengecek cctv di area parkiran sekolah.
Setelah mengetahui yang merusak sepeda Dhea adalah Siska dan temannya yang bernama Lina, dia langsung melaporkan mereka ke kepala sekolah.
Sebelum Dhea sampai di sekolah, Siska dan Lina di panggil oleh pak Reza ke ruangan kepsek.
Pak Reza mengatakan jika Aiska dan Lina mengulangi perbuatan yang sama, mereka akan di beri hukuman skors.
Setelah di ancam oleh pak Reza, Siska tidak terima.
dan sekarang, dia sedang membalas Dhea yang tidak bersalah ).
Dhea bangun dari lantai dan berdiri di hadapan Siska, dia menatap wajah Siska tanpa rasa takut.
"Maksud lo?" ucap Dhea.
"Jangan pura-pura nggak tau deh lo" ucap Siska membentak.
"Lo kan yang bilang sama pak Reza kalau gw yang ngerusakin sepeda lo, dasar tukang ngadu" ucap Siska.
"Jadi dia yang ngerusakin sepeda gw?" batin Dhea.
"Lo yang ngerusak sepeda gw?" tanya Dhea dengan sangat dingin.
__ADS_1
"Iya, emang kenapa hah?" ucap Siska.
"Atas dasar apa lo ngerusakin sepeda gw?" tanya Dhea.
"Atas dasar, gw benciiu banget sama lo" ucap Siska.
Dgea yang sudah di penuhi emosi, mendorong tubuh Siska.
Dhea mendorong tubuh Siska tidak sekeras Siska mendorong Dhea.
Siska yang tidak terima langsung menampar wajah Dhea.
Dhea memegang pipi nya yang di tampar oleh Siska, pipinya terlihat memerah.
"Eh iya, denger-denger lo anak panti asuhan ya?
Hahahaha.. lo nggak di ajarin sopan antun sama nyokap lo di panti?" ucap Siska tertawa dan menghina Dhea.
Dhea yang tidak terima karena Siska menghina ibu nya langsung membalas menampar Siska.
"Lo berani sama gw?" ucap Siska.
tetapi tangan nya di tarik oleh Siska dengan sangat keras, sampai-sampai tubuh Dhea berbalik menghadap ke arah Siska.
Karena Siska menarik Dhea dengan sangat keras, ada sesuatu yang jatuh ke lantai.
Dgea memalikkan tubuhnya, kembali berjalan menuju pintu keluar.
Siska mengambil benda yang terjatuh di lantai.
Benda tersebut ternyata adalah sebuah kalung liontin yang berbentuk huruf A.
"Ini punya siapa yah?" tanya Siska berteriak.
Dhea yang merasa kalung yang selalu ia pakai menghilang langsung berbalik badan menghadap ke arah Siska.
Dhea berjalan mendekati Siska dan berusaha merebut kalung milik nya.
tetapi tidak berhasil karena Siska menyembunyikan kalungnya di balik tubuhnya.
__ADS_1
Siska menduduk kan tubuhnya di atas meja guru.
"Hahaha, kayaknya ada es yang cair cuma gara-gara benda sampah" ucap Siska.
Siska mengamati kalung yang ia pegang.
"Tunggu-tunggu.. kayaknya kalung ini punya inisial huruf A, sementara nama lo ber inisial D.
lo nyuri ya? hahaha" ucap Siska.
"Kembalikan" ucap Dhea.
"Oke, gw akan balikin kalung ini dengan syarat wajah lo harus gw tampar.
gak banyak kok, cuma Tiga kali" ucap Siska.
Dhea tidak terima dan langsung merebut kalung yang berada di tangan Siska.
Siska juga menarik kalung yang sebenarnya milik Dhea.
Mereka berdua berebut kalung sampai menimbulkan keributan.
Beberapa murid memanggil guru untuk memisahkan Dhea dan Siska.
karena di antara mereka tidak ada yang berani.
Bu Ratna datang memisahkan mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan? kalian itu seharusnya memberi contoh yang baik untuk adik kelas, tetapi apa yang kalian lakukan?" ucap bu Ratna berteriak.
"Dhea merebut kalung milik ku bu" ucap Siska.
dia langsung mengubah raut wajah nya menjadi sangat menyedihkan.
"Itu milik ku" ucap Dhea dingin.
Murid yang lain tidak berani membela Dhea, karena keluarga Siska termasuk orang yang cukup berpengaruh.
"Heh tidak tau diri, apa mungkin lo punya kalung yang harusnya di miliki oleh orang kaya. dasar miskin" ucap Siska.
__ADS_1