
"Kak Alvin kenapa sih"?.Aluna terus saja bertanya pada dirinya sendiri saat melihat perubahan sikap Alvin pada dirinya,karna biasanya laki-laki itu akan lembut dan baik padanya, namun tidak untuk hari ini dan entah sampai kapan.Alvin terlihat lebih pendiam dan cuek. bahkan doi tidak mau amenjawab semua pertanyaan darinya.
"Tok...tok..tok".
"Kak Alvin buka pintunya".sudah sedari tadi dirinya berdiri diambang pintu, memanggil-mangil Alvin. namun laki-laki itu tetap tak bergeming didalam kamar miliknya.
"Kak''. Luna salah apa''?. kasi tau Luna Kak".
Tetap tak bergeming.
"Hufh".Aluna menarik nafasnya panjang, kemudian melangkah dengan gontai menuju sofa.dirinya tidak mungkin tidur dikamar tamu karna kamar tamu dikunci.
"Krek"
Pintu kamar terbuka membuat Aluna segera menoleh.terlihat Alvin melangkah menuju dapur tampa mau menoleh pada dirinya.
"Kak"Aluna segera berlari saat melihat sang Kakak.
"Kak Luna salah apa kasi tau Kak"?.
"Bisa diam ngak"?. birisik tau ngak"?.
Aluna langsung tersentak kaget,saat Alvin membentak dirinya dengan suara lantang.membuatnya terlonjak karna terkejut.
Entah kenapa hatinya benar-benar sakit hingga membuat air matanya menetes tampa bisa iya tahan.
"Maaf"?.hanya kata itu yang mampu iya ucapkan ,setelahnya Aluna memilih untuk pergi dari sana, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.entah kenapa semua ini membuatnya binggung, kenapa Alvin tiba-tiba bersikap sperti ini pada dirinya"?.mungkinkah selama ini Alvin hanya pura-pura baik padanya"?.apakah Alvin hanya ingin menghancurkan hidupnya"?.entah lah semua ini membuat hati dan pikirannya menjadi kacau balau.
Diam. bukan berarti baik-baik saja, Aluna hanya bisa melamun dan menagis dalam diam,sakit dan miris sekali hidupnya, dari kecil dirinya dibuang,kemudian dipunggut,dirinya pikir setelah diungut iya akan baik-baik saja. namun nyatanya tidak .dirinya harus dihadapkan dengan sutuasi yang lebih sulit lagi.
"Ya Allah kuatkan Luna ya Allah".pintanya dalam tangisnya yang iya tahan.
"Dret...dret".
Smartpthone yang iya biarkan seharian ini berdering. membuat perhatan Aluna teralihkan.
Tangannya terulur untuk meraih benda pipih yang sedari tadi sudah bergetar.
"Ini siapa"?.lirihnya saat melihat penelfon yang tanpa nama.
"Assalamualaikum".jawab Aluna saat dirinya sudah mengeser tanda hijau dilayar ponsel miliknya.
"Kak"?.
__ADS_1
"Pyar".
Ya Allah''. Aluna sampai mengaga tak percaya dengan apa yang iya lihat didepan matanya sekarang.
"Kenapa kau ini getal sekali hah"?.
"Apa maksud Kakak"?.
"Apa aku masih perlu menjawabnya''?. kenapa kau berhubungan dengan banyak laki-laki''?. berapa banyak laki-laki yang sudah menjamahmu Hah"?.
"Kak"?.hanya itu yang mampu Aluna ucapkan, nafasnya terasa tercekat hingga membuat lidahnya kelu, tak bisa berucap.hanya air mata yang menetes sebagai saksi betapa sakitnya hatinya saat ini.
"Perempuan murahan.pantasan saja Mama selalu bilang kau itu wanita murahan dan hina".
"Door".
Ya Allah entah kenapa rasanya begitu sakit ,saat Alvin suaminya mengatakan kata-kata yang selalu Mamanya ucapkan.namun entah kenapa kali ini rasanya benar-benar sakit.
Sakit sekali.
"Cukup Kak".Kakak boleh marah, tapi jangan berbicara seperti ini Kak.kenapa Kakak bisa semarah ini"?.Luna salah apa Kak"?.laki-laki mana yang Kakak maksud"?.
"Cih".kau bahkan berkencan dengan banyak laki-laki ,disekolah dengan yang lain, sampai dirumah kau masih ditelfon laki-laki".
"Laki-laki mana yang Kakak maksud''?. Luna ngak gerti Kak"?.
"Lah"?. kenapa malah bertanya padaku''?. bukannya yang ditelfon itu kau"? kenapa malah bertanya padaku"?. ".serkas Alvin sambil melangkah pergi meninggalkan Aluna yang hanya mampu menatap kepergian dengan wajah sendu.
"Hiks...hiks...kenapa Kakak tega memperlakukan Aluna seperti ini"?.lirihnya sambil berjongkok memunguti serpihan smartpthonnya yang sudah tak berbentuk.
"Maafkan Luna Pa"?.ratapnya sendu. karna smartphona yang Aiden hadiahkan untuknya beberapa hari yang lalu, kini hancur tak berbentuk lagi.
Hampir setengah jam Aluna berlimpuh dilantai meratapi nasipnya yang pilu , sambil mendekap smartphone miliknya.
"Krek".
Pukul satu malam Alvin keluar dari kamar miliknya karna merasakan tengorokannya yang kering. kakinya perlahan melangkah menuruni tangga,matanya menyipit sempurna saat melihat sesuatu yang tergolek dilantai.
Aluna''. kini istrinya itu tertidur dilantai dengan posisi meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.
Entah kenapa melihat pemandangan yang menyedihkan seperti ini membuat hatinya sedih dan menyesal.namun entah kenapa sakit hati karna Aluna dekat dengan laki-laki lain membuat rasa ibanya segera iya tepis.
Alvin memalingkan wajahnya dan segera melangkah menuju dapur, untuk mengambil minum. setelahnya doi sama sekali tidak menoleh lagi pada Aluna.
__ADS_1
"Hacim"?.dingin yang mendera membuat seluruh tubuh Aluna mengigil, hinga iya memilih untuk naik keatas sofa ruang tamu.
Namun sayang, rasa dingin ditubuhnya tak kunjung reda, hinga membuatnya mengigil kedinginan.
"Mama,Papa,Luna dinggin".lirihnya lagi sambil meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.
"Ma,Pa kalian dimana"?.kenapa kalian tega meninggalkan Luna"?.entah kenapa disaat terluka dan sakit seperti ini ingatannya hanya tertuju pada kedua orang tuanya.
Entah apa yang kini iya rasakan yang jelas karna rasa dingin dan kepalanya yang pusing, hingga membuat pandangannya menjadi kabur dan gelap gulita.
"Lun''. Luna bangun".Alvin yang ae
awalnya ingin membawa Aluna masuk kekamar,panik saat melihat wajah pucat dan tubuh Aluna yang panas.bahkan istrinya itu kini sudah tidak sadarkan diri.
"Luna sayang, bangun maafkan Abang sayang"?. bangun"?.Aluna tetap tak bergeming. meski pun Alvin sudah berusaha untuk membangunkan dirinya berkali-kali.
"Ya Allah dia kenapa"?.sayang bagun"?.Aluna tetap tidak merespon membuat Alvin semakin panik.
"Gue harus apa sekarang"?.gumamnya saat matanya melihat jam dinding menunjukkan pukul tiga subuh.
"Kompres"?.ya "?.Alvin segera berlari menuruni tangga untuk mengambil perlengkapan untuk mengempres istrinya.
"Sayang". Luna maafkan Abang"?.Alvin terus bergumam pelan. sambil mengempres istrinya yang masih engan membuka mata.
"Luna bangun sayang".Aluna tetap setia menutup matanya, bahkan bibir istrinya itu sudah semakin pucat.
"Kenapa panasnya tidak turun-turun"?lagi-lagi Alvin bergumam pelan, bahkan kini dirinya semaikin panik karna Aluna terus mengigil kedinginan,padahal suhu tubuhnya masih panas.
Entah ide dari mana Alvin dapatkan disaat pikirannya sedang kalut.
Dengan cepat iya membuka kaos oblong yang iya kenakan, menyisakan celana bokser selutut yang iya kenakan.perlahan kakinya melangkah menaiki ranjang.sejurus kemudian iya juga ikut masuk kedalam selimut.perlahan tangannya bergerak membuka pakaian yang Aluna kenakan.setelah berhasil membuka pakaian Aluna hinga menyisakan bra nya saja Alvin menarik tubuh ringkin istrinya itu kedalam dekapan.
Kantuk yang mendera membuat Alvin pun ikut terlelep.
"Jangan pergi Lun ,maafkan Kakak"?.
π₯π₯π₯π₯
Jangan lupa like vote hadiah and komen
Mohon kritik dan saran yang mendukungπππ
Tbc.
__ADS_1