
Begitu turun dari mobil Reza langsung berjalan menuju mall yang cukup luas. Sedangkan Nayla mengikuti Reza dari belakang. Keduanya seperti bukan suami istri karena Reza berjalan di depan sedangkan Nayla mengikutinya dari belakang.
“Kita mau ke mana Mas?” tanya Nayla sambil mengejar langkah Reza.
Reza sedikit pun tidak menoleh ke arah istrinya. Reza tetap berjalan ke depan.
“Jangan banyak tanya nanti juga kamu pasti tau.”
Akhirnya Nayla hanya diam saja mengikuti langkah suaminya. Kemudian mereka sampai di lantai lima di stan pakaian wanita. Nayla merasa heran melihat suaminya yang membawanya ke stan pakaian wanita.
Kemudian Reza menjumpai pramuniaga yang merupakan seorang wanita muda dan cantik.
“Mbak tolong carikan pakaian yang cocok buat istri saya ya,” pinta Reza pada pramuniaga itu.
Wanita itu langsung tersenyum ramah pada Nayla. Kemudian wanita tadi yang merupakan pramuniaga membantu Nayla memilihkan gaun untuk pesta.
“Saya rasa ini sangat cocok buat Mbak. Kulit Mbak putih jadi sangat kontras dengan warnanya,” ucap wanita itu sambil memberikan gaun berwarna biru tua dengan bertabur bunga kecil berwarna pink.
Nayla langsung menerima gaun dari tangan wanita itu.
“Ruang gantinya di sana Mbak,” ucap wanita itu sambil menuju ke area sebelah kanan.
Nayla langsung berjalan ke ruang ganti. Begitu masuk ke ruang ganti, saat dia ingin mencobanya dia langsung terkejut ketika melihat harga di pakai itu.
‘Harganya mahal kali, pasti nanti mas Reza marah kalau aku pilih gaun ini,” batin Nayla.
Nayla kembali keluar dari ruang ganti. Mbak yang merupakan pramuniaga tadi langsung mendekatinya.
“Apa udah dicoba Mbak?” tanya wanita itu.
Nayla langsung tersenyum dan merasa malu. “Maaf Mbak rasanya nggak cocok buat saya,” ucap Nayla ragu-ragu.
“Memang kenapa Mbak, bukankah gaun ini cocok di badan Mbak. Apalagi kulit Mbak putih bersih. Pasti warnanya akan kontras karena gaun ini warnanya gelap,” jelas wanita itu.
“Melihat harganya saya nggak pantas memakai gaun ini,” jelas Nayla.
“Oh, maksud Mbak harganya?”
Nayla langsung menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu saya cari yang harganya di atas ini ya Mbak.”
__ADS_1
Pramuniaga itu mengira kalau Nayla kurang cocok karena harga gaun itu terlalu murah sehingga wanita itu ingin menukarnya dengan harga yang lebih mahal lagi.
“Maaf Mbak, bukan itu maksud saya.”
“Jadi maksud Mbak gimana?”
“Gaun ini terlalu mahal bagi saya, Mbak. Saya mau pilih yang murah aja,” jelas Nayla.
Wanita itu tampak bingung mendengar ucapan Nayla.
“Maksud Mbak, Mbak mau cari yang lebih murah dari ini?”
“Benar Mbak. Saya mau cari yang lebih murah aja.”
“Tapi pesan suami Mbak tadi, saya disuruh mencari gaun yang pantas buat Mbak dan harganya seperti yang ada di gaun itu. Suami Mbak tadi mengatakan budgetnya di atas itu, jangan di bawah harga itu,” jelas wanita itu.
Nayla terdiam dan tidak habis pikir melihat harganya yang sangat fantastis. Nayla merasa sayang karena mengeluarkan biaya yang tidak sedikit hanya untuk membeli gaun yang baginya tidak terlalu penting.
Melihat harga gaun itu Nayla langsung membayangkan kehidupannya bersama ibunya. Harga gaun itu senilai dengan biaya hidup mereka selama satu bulan. Tentu hal ini membuat Nayla merasa sayang walaupun yang akan membayar gaun itu adalah suaminya sendiri.
“Sebentar ya Mbak, saya akan menemui suami saya dulu.”
Kemudian Nayla mendekati Reza yang sedang duduk di bangku yang tidak jauh dari mereka.
“Mas...” panggil Nayla.
Reza langsung menoleh ke arah istrinya.
“Gimana, udah dicoba?” Reza langsung bertanya pada Nayla.
“Maaf Mas, aku nggak jadi mencobanya.”
“Memangnya kenapa?” tanya Reza heran.
“Aku nggak mau gaun itu Mas.”
“Memangnya kenapa kamu nggak mau.”
“Gaun itu nggak pantas buat aku,” jelas Nayla.
“Nggak pantas gimana?” tanya Reza heran.
__ADS_1
“Gaun itu terlalu mahal bagi aku, Mas. Aku mau cari gaun yang biasa aja yang harganya murah.”
Reza langsung tersenyum sinis pada istrinya.
“Kamu nggak akan pernah berubah ya, masih saja kampungan. Sengaja aku membeli gaun yang mahal buat kamu supaya kamu tidak dipandang rendah oleh orang lain dan supaya gaya kamu tidak terlalu kampungan. Aku malu sebenarnya mengajak kamu ke pesta, tapi karena papi yang menyuruh. Papi menyuruh aku membelikan kamu gaun bagus yang mewah,” jelas Reza sangat marah.
Akhirnya Nayla mengalah saja. Dia menuruti apa kata suaminya. Wanita tadi sempat mendengar pembicaraan Reza dan Nayla merasa sedih ketika mendengar Reza menghina istrinya sendiri.
Setelah Nayla selesai mencoba gaun itu, dia kembali memberikan kepada wanita tadi.
“Ini Mbak gaunnya udah saya coba,” ucap Nayla memberikan gaun pada wanita itu.
“Sebentar ya Mbak, saya buat bukti pembeliannya.”
“Oh ya Mbak, mas itu suami Mbak ya?” tanya wanita itu yang merasa heran dengan sikap Reza.
“Iya Mbak, itu suami saya. Memangnya kenapa Mbak, Mbak kenal ya dengan suami saya,” tanya Nayla.
“Nggak Mbak, saya nggak kenal. Saya hanya kasihan saja pada Mbak,” jelas wanita itu.
“Kasihan gimana maksud Mbak?” tanya Nayla heran.
“Saya kasihan melihat Mbak tadi dimarah-marah sama suami Mbak.”
Nayla langsung tersenyum dan berusaha membela suaminya.
“Maklumlah Mbak, suami saya sedang capek baru pulang kerja dan langsung saya ajak kemari makanya bawaannya marah-marah aja,” jawab Nayla bohong.
Nalya berusaha untuk tersenyum walaupun senyum yang dipaksakan. Padahal dalam hati Nayla, dia merasa sedih mendapat perlakuan dari suaminya yang tidak pernah memperdulikan perasaannya.
***
Selesai Reza membayar gaun itu, Reza langsung mengajak Nayla untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang Nayla kembali ingat akan perkataan wanita tadi. Hatinya sangat sedih dan sakit.
‘Ternyata orang lain yang mendengarkan saja merasa kasihan, apalagi aku yang merasakannya sendiri,’ batin Nayla.
Tanpa terasa air mata Nayla menetes. Dia berusaha untuk menahan tangisnya supaya tidak terdengar oleh suaminya yang sedang menyetir mobil di sampingnya. Kemudian Nayla buru-buru menghapus air matanya dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya sambil memandang ke jalanan yang ada di depannya.
Jalanan tampak ramai oleh pengguna jalan. Disana sini terdengar suara klakson mobil yang saling berlomba untuk saling mendahului.
Walaupun berdua di dalam mobil tetapi tidak terdengar suara karena keduanya asik dengan pikirannya masing-masing. Sebenarnya Reza merasa kasihan dengan Nayla tapi dia berusaha membuat Nayla membencinya dan meninggalkannya agar Reza dapat menikhi Vera. Tapi sedikit pun Reza tidak pernah melihat kalau Nayla merasa sakit hati atau tersinggung dengan ucapan Reza. Tentu hal ini membuat Reza bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1